Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
154 : Es Gepluk Cap Gajah Duduk


__ADS_3

“Ya Alloh, kalau ada yang bilang aku gendut, tolong cabut saja nyawanya. Kasih rezeki sekaligus warisannya buat aku, aku ikhlas ya Alloh! ” ucap Septi tak lama setelah ada pembeli yang sampai mengatainya gendut.


“Kalau warisannya berupa tumpukan hutang, yang ada kamu mrongos!” balas ibu Fatimah masih dengan kesibukannya dagang.


Berbeda dengan hari kemarin, hari ini Septi sengaja memakai cadar untuk menyamarkan penampilannya agar ketika ada Fajar, ia bisa jaga-jaga.


“Es gepluk, es gepluk. Es gepluk aneka rasa. Yang beli masuk surga yang enggak beli berarti main ke rumah tetangga!” seru Septi mulai terdengar berisik dan sampai ditegur sang mamah.


“Mau bilang, yang enggak beli masuk neraka, takut ditabok mulutku, Mah!” lanjut Septi.


“Oh ya jelas, ditabok sampai miring tuh mulut! Bisa-bisa, mulut kamu sampai ke rumah pak Haji!” jawab bu Fatimah yang baru saja istirahat setelah mengurus sederet pesanan. Di sebelahnya, Septi yang baru menerima orderan langsung tertawa.


“Jangan sama Pak Gede lah, Mah. Gitu-gitu orangnya serba paham. Malahan aku percaya, andai cuma mulutku yang sampai ke rumahnya, dia tetap bisa ngenalin! Hahahahahaha!” ucap Septi.


Ibu Fatimah langsung menggeleng tak habis pikir. Begitulah Septi, yang kadang memang mirip orang yang tidak mikir.


“Es Gepluk cap Gajah Duduk! Es Gepluk cap Gajah Duduk. Di gepluk dadakan, tiga ribuan!” ucap pak Haji yang baru datang dan kali ini berjalan kaki.


Efek gaya ucapan pak Haji yang dilakukan layaknya bakso bulat, Septi langsung tertawa.


“Es gepluk apa es seruduk sih, ini Sep?” lanjut pak Haji sambil melihat-lihat meja dagang Septi.


“Yang penting beli lah Pak Gede. Tapi harusnya ini ya es gepluk, kan aku gepluk-gepluk, bukan aku seruduk!” jelas Septi sambil memasukkan remukkan es hasil gepluknya ke blender untuk dihaluskan agar lebih halus.

__ADS_1


“Ya sudah, coba saya beli yang diseruduk. Biar pecah kepalamu nyeruduk es batu, hahahaha!” balas pak Haji dan membuat ibu Fatimah yang memakai cadar hitam, diam-diam menjadi menahan senyum.


“Kalau kepala saya pecah, ya saya enggak jadi jualan, Pak Gede!” balas Septi yang juga tertawa dan langsung disambut tawa lepas oleh pak Haji hingga mereka mencuri perhatian. Beberapa orang sampai berdatangan.


“Ayo dibeli-dibeli es gepluknya. Yang enggak beli masuk neraka yang beli masuk surga!” teriak pak Haji kemudian berhubung sudah banyak yang mendekat, selain mereka yang kompak terlihat penasaran.


Septi yang dibantu dipromosikan menjadi terpingkal-pingkal. Apalagi biar bagaimanapun, kalimat pak Haji yang untuk promosi barusan merupakan kalimat yang sangat ingin Septi katakan. Namun efek menahan tawa berlebihan, Septi menjadi tak ada tenaga untuk menggepluk es batunya menggunakan palu. Malahan, Septi berakhir terduduk.


“Nah, kan. Benar-benar es gepluk cap gajah duduk!” ledek pak Haji kembali tertawa. Kali ini, sebagian orang di sekitar mereka juga ikut tertawa dan tentu saja menertawakan Septi.


Di pagi menjelang siang karena kini sudah sekitar pukul sepuluh, suasana pasar yang sudah panas sekaligus ramai, menjadi makin ramai efek lawakan pak Haji dan Septi. Namun karena itu juga, jadi banyak yang penasaran kemudian silih berganti beli.


***


“Duh, mencair enggak ini? Kalau mencair berarti mirip hati saya, mencair hingga menjadi seorang musafir cinta!” lanjut pak Haji yang pada akhirnya kembali tertawa.


Arum dan ibu Kalsum tidak begitu terusik dengan pak Haji, sebelum akhirnya pria itu menyebut es tersebut sebagai jualan Septi.


“Kemarin itu habis dari sini, si Septi langsung bikin ini. Berasa kena mukjizat, kan?” lanjut pak Haji. “Nih, saya ada fotonya pas dia jualan. Saya bikin status WA juga biar makin banyak yang tahu syukur-syukur beli juga!”


Arum langsung menatap serius layar ponsel pak Haji. Selain ada sosok yang diduga memang Septi, di sebelahnya juga ada ibu Fatimah yang jualan gorengan sambil mengemban Sepri.


“Mbah, itu si Sepri, kan? Sehat, kan, dia?” tanya Arum yang sudah mulai menikmati es buatan Septi.

__ADS_1


“Oh, Supret jun-nior? Sehat dia, digepluk sama Septi saja tetap sehat. Tapi emang lebih sama ibu Fatimah janda kesayangan sih! Dekat sama neneknya!” balas pak Haji.


“Alah, semua janda jadi kesayangan!” sindir ibu Kalsum mulai menikmati esnya juga.


Pak Haji langsung tertawa dan mendadak teringat Widy, hanya karena mereka tengah membahas janda.


“Ini enak. Kapan-kapan kalau jalan ke sana, aku mampir Mbah. Mau beli langsung ajak mas Kala!” ucap Arum masih menikmati esnya sambil terus mengawasi langkah sang putra yang sibuk mondar-mandir di sekitar sana.


“Iya, mampir saja. Lokasinya di dekat pasar biasa ibu Fatimah janda kesayangan jualan!” ucap pak Haji yang kemudian memberikan satu kantong gorengan jualan ibu Fatimah. “Ini gorengannya. Ada semprul, ada ...,”


“Sempol, Mbah ... bukan semprul. Kalau yang semprul itu situ!” ucap ibu Kalsum sengaja mengoreksi kemudian meminta pak Haji untuk duduk agar tidak sibuk mondar-mandir tak jelas mirip Aidan.


Setelah duduk, pak Haji langsung tanya-tanya tentang Widy kepada Arum.


“Hah? Mbah tahu dari siapa, kalau saya punya adik perempuan janda?” Arum sampai tersedak es yang baru akan ia telan. Sang mamah mertua langsung khawatir kemudian buru-buru memberinya sebotol bekal air minumnya.


“Bahaya kalau pak Haji sampai kenal Widy! Yang ada hidup Widy langsung enggak tenang!” batin Arum langsung was-was dan sebisa mungkin berusaha mengamankan privasi sang adik. Masa iya, bukan dirinya tapi malah Widy yang dijadikan istri ketiga pak Haji? Miris amat nasib Widy.


“Adiknya Arum yang laki-lakinya, Mbah. Yang perempuannya ya sudah ke Jawa Timur karena rumahnya di sana!” ucap ibu Kalsum.


“Lah, kok gitu?” pak Haji mendadak sedih lantaran janda incarannya terkesan hanya khayalan. “Tapi kata si Septi, adiknya Arum yang perempuan. Dia mirip Arum, cantik, pekerja keras, dan agak bohay!” pikirnya yang kemudian berniat mencari tahu lagi. “Nanti coba aku cari tahu ke Angga. Awalnya beli nugget, tapi sekalian kepo tentang Widy!” pikirnya yang akhirnya kembali merasa bersemangat.


“Kalau Mbah mau itu ada mamake Arum. Mamake Arum juga janda. Tapi kayaknya juga enggak bakalan mau sama pak Haji soalnya mamake Arum mau jadi janda sejati! Beneran sudah enggak mau musafir cinta dia!” ucap ibu Kalsum.

__ADS_1


Namun, otak musafir cinta pak Haji langsung gesit, meminta alamat mamake Arum yang pak Haji yakini tinggal satu rumah dengan adik Arum yang janda dan pak Haji ketahui, bernama Widy.


__ADS_2