Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
202 : Ibarat Lilin


__ADS_3

“Khusus kali ini, biarkan aku yang urus orang tua Resty, yah, Dy. Besok-besok kan, aku udah enggak bisa lagi,” ucap ibu Aleya yang langsung mendekati Widy.


Widy yang baru akan mengambilkan piring nasi untuk ibu Ripah yang duduk di sebelahnya, langsung tersenyum canggung kepada ibu Aleya. Senyum canggung yang perlahan menjadi tak kalah hangat dari senyum ibu Aleya kepadanya.


“Mulai besok, katanya mereka mau tinggal sama kamu?” tanya ibu Aleya.


Walau masih merasa canggung, Widy berangsur mengangguk-angguk. “Iya, Bu. Mereka mintanya gitu, biar saya juga bisa urus dengan leluasa.”


“Duh, kok masih panggil Ibu, sih? Lim saja panggil aku langsung nama,” ucap ibu Aleya yang baru meraih piring ibu Ripah.


Balasan tersebut langsung membuat Widy kikuk seiring pipinya yang menjadi bersemu mirip tomat matang.


“Suamiku dan Lim, sama-sama pendiam, tapi Lim masih lebih parah. Tapi ya enggak tahu juga kalau Lim sudah sama kamu. Beda ke orang kan biasanya beda sikap. Bisa jadi ke yang lain termasuk ke kakak sendiri pendiam, ke pasangan apalagi kalau sudah menikah, jadi cerewet bahkan lebih,” ucap ibu Aleya.


Widy mengangguk-angguk seiring ia yang tetap menunduk. “Sejauh ini sih masih diem.”


“Paling bentar lagi,” ucap ibu Aleya masih mempertahankan senyum hangatnya.


Widy kembali tersipu bersama hatinya yang lagi-lagi seperti dipenuhi bunga setaman. Apalagi ketika ketiga anaknya tengah mengerumuni Sekretaris Lim. Salwa tetap jadi kesayangan dan berada di pangkuan. Adelio yang paling bontot baru saja diboyong duduk di paha kanan, sementara Adrian yang usianya sudah lima tahun, duduk di sebelah Sekretaris Lim, di tempat duduk berbeda. Ketiganya tengah menunggu Sekretaris Lim memutarkan video di ponsel canggih milik Sekretaris Lim.


Acara pertemuan kali ini memang sekalian untuk buka puasa bersama. Mereka baru saja berbuka dan kini tengah sibuk bersama keluarga masing-masing, walau mereka tengah menghadap meja yang sama. Kalandra yang lagi-lagi disuapi Arum, pak Sana dan ibu Kalsum yang masih dengan penuh sayang mengasuh Aidan yang tidak mau diam. Si kembar yang sudah kembali masuk troli, juga Tuan Maheza yang sedang berbuka puasa sambil sesekali menyuapi Cikho dan Cinta. Sementara ibu Aleya, tampak tengah melakukan pendekatan kepada ibunya Resty. Sementara untuk pasangan dadakan yaitu pak Haji dan ibu Rusmini, keduanya sudah langsung pisah, duduk berjarak walau masih menjadi bagian dari mereka.

__ADS_1


Jadi, Widy juga tidak memiliki pilihan lain selain langsung menyiapkan anak-anaknya makan. Daripada ia keki bingung mau bagaimana karena ia tak mungkin meniru jejak Arum yang menyuapi Kalandra. Walau jika dilihat dari kesibukan Sekretaris Lim dengan ketiga anaknya, pria itu baru bisa makan kalau ada yang menyuapi. Namun, masa iya, ia menyuapi Sekretaris Lim yang beberapa saat lalu baru saja memintanya secara resmi kepada pihak keluarganya?


“Mas, ... Mas makan dulu,” ucap Widy setelah kembali membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk, untuk anak-anaknya.


Sekretaris Lim langsung menatap Widy. “Aku makannya nanti saja, toh besok juga sudah enggak bisa gini. Yang penting anak-anak makan dulu.”


Balasan dari Sekretaris Lim langsung membuat hati Widy meleleh. Susah payah Widy menahan diri karena biar bagaimanapun, ia sudah langsung tersipu. Bisa ia pastikan, pipinya sudah merah menahan kebahagiaan yang bercampur rasa gugup.


“Kalau gitu aku ambilin Mas makan juga, ya,” lanjut Widy yang tak bisa banyak bicara kepada Sekretaris Lim lantaran ia terlalu gugup. Segera ia menuju meja belakang dan meraih setiap menu dari sana.


“Dek Widy, saya juga mau diambilin makan juga,” rengek pak Haji yang juga duduk di hadapan Sekretaris Lim, persis di sebelah ibu Kalsum dan pak Sana.


“Lah, piring Mbah saja masih penuh!” tegur ibu Kalsum yang kemudian sengaja berkata, “Lamar ibunya, dapat ibunya saja!”


Sontak, balasan ibu Rusmini barusan yang terdengar ketakutan, langsung membuat ibu Kalsum terbahak.


“Mbah enggak mau nyumbangin lagu?” tegur Kalandra yang kemudian menerima suapan Arum lagi.


“Serius ini mau nyumbang lagu mas Denny Cagur, yang judulnya Kali Welasku!” balas pak Haji serius dan buru-buru berdiri. Sayangnya, Widy yang jelas ia beri kode keras sama sekali tidak peduli. Wanita berhijab batik dan menjadikan jilbab keemasan itu tetap anteng makan di sebelah Sekretaris Lim.


“Masakan di sini enak semua,” ucap Sekretaris Lim sambil menikmati makanan di piringnya.

__ADS_1


“Ini khas orang sini, tapi sengaja dikurangi level pedasnya, soalnya Mas dan pak Maheza, kurang suka ke pedas, kan?” balas Widy yang walau tengah menyuapi anak-anaknya, masih kerap menatap sekaligus membalas tatapan Sekretaris Lim.


“Bukannya kurang suka, tapi memang enggak bisa. Ya kayak kemarin, makan pedas dikit langsung muntaber. Sebenarnya aku termasuk Koko, suka makanan pedas, tapi lambung kami yang enggak kuat,” jelas Sekretaris Lim.


“Efek enggak biasa kayaknya sih, ya,” balas Widy, dan Sekretaris Lim yang ada di sebelahnya, mengangguk-angguk.


“Kalau ini buat besok, basi, enggak?” tanya Sekretaris Lim.


“Buat besok, buat sahur, apa buka puasa, Mas?” tanya Widy.


“Mmm, sahur!” ucap Sekretaris Lim yang kemudian mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan sangat santai.


“Sahur? Sahur harusnya enggak basi sih karena sampai buka puasa apa lagi yang kering, juga enggak basi,” ucap Widy yang kemudian berkata, “Tapi kalau mau buat sahur, selama bulan puasa, di jam sahur di sini juga buka. Dari pukul dua pagi di sini sudah buka.”


“Ya sudah, berarti sahur nanti kita bisa ketemu lagi?” balas Sekretaris Lim yang langsung tersenyum ceria.


Senyum ceria yang sukses membuat Widy tersipu seiring hati wanita itu yang seolah langsung meleleh.


“Tolong dong, jangan cueki aku!” rengek pak Haji tak rela Widy malah sibuk tersenyum sambil bertatapan dengan Sekretaris Lim.


“Ibaratnya, saya ini lilin yang rela terbakar hanya untuk keseriusan cintanya,” ucap pak Haji putus asa. “Tapi enggak apa-apa. Karena walau janur kuning sampai melengkung, bakalan saya rebonding biar belok ke saya!” yakinnya lagi, tapi semuanya hanya menertawakannya.

__ADS_1


Dalam kebersamaan tersebut, ada satu kenyataan yang mengusik Widy. Ini mengenai ibu Aleya yang begitu baik, sangat peduli kepada orang tua Resty. Malahan, alasan hubungan Widy dan Sekretaris Lim ada, awalnya karena keinginan ibu Aleya untuk memboyong orang tua Resty ke Jakarta. Walau pada akhirnya, mereka malah sepakat menjalin hubungan tanpa adanya embel-embel orang tua Resty. Hubungan yang akhirnya ada karena Sekretaris Lim yang merasa keputusan Widy menjadi ibu tunggal dan sangat bekerja keras, sangat istimewa. Juga, Widy yang akhirnya luluh lantaran selain menghargainya, Sekretaris Lim juga sangat menyayangi ketiga anaknya.


__ADS_2