
Malam makin larut dan gerimis juga kembali menyapa, Kalandra memutuskan untuk memboyong keluarga kecilnya kembali ke hotel.
Suasana hotel juga sudah sangat sepi ketika mereka kembali. Ditambah Aidan yang sudah lelap dalam dekapan Kalandra. Seperti biasa, tangan kanan Kalandra mendekap hangat tubuh sang bayi, sementara tangan kiri menggandeng erat tangan kanan Arum.
Sampai di kamar pun, Kalandra yang membaringkan Aidan dengan hati-hati tak lantas meninggalkannya begitu saja. Kalandra membuka jaket hangat yang topinya sampai membungkus kepala Aidan. Menahan tawa, Kalandra memberikan setiap sisa biskuit dan puft yang sempat Aidan konsumsi. Ia memberikannya kepada Arum yang baru datang sambil membawa handuk seka. Kedua sejoli itu bekerja sama mengurus Aidan. Kenyataan tersebut pula yang membuat Arum siap hamil lagi apalagi orang tua Kalandra yang jelas turut mengurus juga sangat mendukung.
Sambil menatap Aidan yang lelap di seberang, Arum dan Kalandra memulai rutinitas malam mereka sebagai suami istri. Kalandra yang awalnya mendekap hangat tubuh Arum perlahan mengabsen tubuh wanita itu dengan ci-uman sekaligus sentuhan intens. Tidak ada yang tidak terjamah oleh ci-uman maupun sentuhan Kalandra. Baik Kalandra maupun Arum sama-sama menikmati kebersamaan mereka, tentu saja. Apalagi selain saling mencintai, rasa nyaman juga menjadi warna utama dari kebersamaan mereka.
Malahan Arum mendadak ingin berterima kasih kepada pak Haji. Karena tanpa serangan dan juga luka-luka dari pak Haji, bisa jadi mereka tidak akan bersama sekaligus sebahagia sekarang. Bisa jadi hubungan mereka hanya sebatas kenalan, dan mereka tetap bertahan dengan luka-luka dari masa lalu mereka.
“Mungkin ini yang dinamakan keindahan takdir sekaligus keindahan rencana Tuhan. Karena meski sebelumnya kami sama-sama menikah, kami pernah sama-sama menjalin rumah tangga dengan orang lain, nyatanya kami tetap mendapatkan kebahagiaan dari hubungan kami yang sekarang. Malahan kami jauh lebih bahagia,” batin Arum.
Di tempat berbeda, Angga yang baru pulang bekerja, melangkah lemas memasuki rumah orang tua Septi. Demi mendapatkan rezeki lebih, Angga yang belum memiliki pekerjaan tetap karena lamarannya ke bank dulu dirinya sempat bekerja langsung ditolak, memang terpaksa kembali nyemplung menjadi tukang pembuat batu bata. Pekerjaan yang tentu saja harus membuatnya ko-tor-kootoran. Awalnya Septi tidak memberi izin, wanita berisik itu berdalih tidak sudi. Namun demi bisa mendapatkan uang, akhirnya Septi luluh.
Di tengah kesunyian malam, suara rintih Septi kerap terdengar. Angga menjalani hari-hari bahkan setiap detik waktunya dengan sangat tersiksa. Karena walau tidak harus berurusan dengan Anggun yang selalu menuntutnya memberi lebih, nyatanya kini istrinya malah tidak kalah garang dari kakak perempuannya itu.
Mendadak setelah beres mandi sekaligus membersihkan diri, Angga yang memilih tidur di sofa panjang di ruang tamu, malah tidak bisa tidur. Kedua mata Angga yang sempat terpejam berangsur terbuka.
“Arum ... dia lagi ngapain, ya? Duh, ... jangan-jangan, dia sama Kalandra benar-benar lagi bikin adiknya Aidan.”
“Rasanya kok enggak enak gini, ... enggak rela banget kalau Arum sama laki-laki lain, bahkan meski laki-laki itu Kalandra yang juga sangat menyayangi kamu dan Aidan.”
“Gimana, yah? Bukannya bermaksud jahat, tapi kalau Arum sudah sampai campur sama laki-laki lain kan, kesempatan aku sama Arum kembali bisa bersama, jauh lebih besar.”
“Ya sudahlah, semoga rumah tangga mereka beneran enggak jadi. Biar aku sama Arum juga bisa jadi orang tua utuh buat Aidan.”
__ADS_1
Angga yang awalnya sibuk berbicara dalam hati, langsung terkejut oleh teriakan Septi.
“Mas Angga mbudeg banget, sih! Jahat banget kamu Mas! Aku beneran sakit ini. Badan aku panas banget, kakiku juga masih belum bisa digerakkin!”
“Innalilahi wainnalilahi rojiun, kapan sih tuh almarhum tewas. Ada manusia kayak gitu,” keluh Angga. Namun baru ia sadari, hidupnya dikelilingi manusia-manusia egois sekelas Septi. Karena dari pihak keluarganya saja, ada Anggun yang sekarang entah seperti apa keadaannya, setelah terakhir kalinya ia ketahu menjadi pengemiss.
Angga yang awalnya malas mengurusi Septi, langsung tercengang ketika memastikan. Kedua kaki Septi bengkak. Ukurannya menjadi dua kali lipat, terlepas dari suhu tubuh wanita itu yang sangat tinggi. Kendati demikian, si Sepri malah tidur sangat pulas. Beda dari biasanya hingga Angga tak harus menjaga dan memilih tidur di sofa panjang ruang tamu.
“Nah, kan ... aku beneran sakit! Dikiranya aku ini pembohong apa. Ini salahmu, loh, Mas Angga! Jangan-jangan kamu memang sengaja bikin aku begini, biar kamu menguasai harta aku kayak yang di sinetron aazaab itu!” oceh Septi sambil berlinang air mata.
“Menguasai harta gimana, sih? Memangnya kamu punya apa? Mau kondangan saja kamu sampai jual tivi?” balas Angga masih sabar.
“Ya pokoknya logikanya begitu!” kesal Septi.
“Logika gimana, otak kamu aja jelas enggak jalan!” balas Angga mulai emosional.
“Besok kita mantai lagi, ya?” lirih Kalandra. Kedua tangannya masih membingkai wajah Arum yang basah oleh keringat.
Di tengah suasana remang dan hanya menjadikan cahaya lampu meja di sebelah Aidan. Arum mengangguk-angguk.
“Mau yang di Cilacap, apa yang di Pangandaran?” tawar Kalandra.
Arum langsung mengerjap. “Katanya sekarang di Cilacap, di jalan sekitar hutan pinus, banyak begall, Mas?”
Kalandra mengernyit serius. “Hubungannya sama mantai, apa?”
__ADS_1
“Ya takutnya kita wajib mendadak pulang malam-malam terus ketemu begall, ya mending Pangandaran saja sih, Mas. Lagian, aku juga sudah betah di sana!” Arum mengakhiri ucapannya dengan senyum tak berdosa.
Kalandra menahan tawanya, menertawakan Arum. “Betah? Kamu mau ngontrak di sana?”
Arum menahan senyumnya. “Oh iya, Mas ... aku baru kepikiran. Si ibu Elia yang sama suami Resty, kok aku enggak lihat dia di pernikahan kita, ya?”
“Oh iya ... aku baru ngeh kalau dia enggak kelihatan di pernikahan kita. Nanti kita cek buku tamu buat pastiin,” balas Kalandra yang menjadi curiga, jangan-jangan, istri muda dari kliennya itu malah lebih memilih bersenang-senang dengan sang sopir yang tidak lain suami Resty, ketimbang hadir di pernikahannya dan Arum.
“Kita bersih-bersih dulu,” lanjut Kalandra yang berangsur beranjak. Ia membimbing Arum untuk bangun, membimbing istrinya itu untuk membersihkan diri di kamar mandi dari bekas percintaan mereka.
“Yang, tadi kamu merhatiin orang-orang di pasar malam, enggak?” tanya Kalandra yang langsung masuk kamar mandi untuk mandi.
Arum langsung mengernyit dan memang merenung serius. “Enggak, Mas. Aku enggak lihat-lihat, sih. Memangnya, kenapa?”
“Aku kayak lihat Supri, lagi nge-mis di sebelah penjual telur gulung,” balas Kalandra dari dalam sana.
“Hah? Bukannya harusnya, dia baru keluar dari tempat penampungan terus dapat arahan-arahan gitu, yah, Mas?”
“Semuanya balik ke orangnya, Yang. Kalau memang niat kerja bener, tanpa harus dapat bimbingan juga kerja bener.”
“Ah Mas Kala enggak seru! Tadi kalau Mas bilang di sana, aku pasti beli petasan terus ditaruh di wadah uang Supri, biar dia merasa dapat kejutan!” protes Arum kesal.
Balasan Arum barusan, malah membuat Kalandra tertawa lemas. “Ya jangan gitu, Yang. Kalau si Supri jantungan gimana?”
“Lah salah siapa, dibilangin baik-baik enggak mau. Malahan aku juga jadi penasaran. Itu kabar istri sama anak-anaknya gimana?” Arum menyalakan keran di wastafel. Ia mencuci tangan kemudian membasuh wajahnya. Sementara di dalam sana, Kalandra sudah langsung keramas.
__ADS_1
“Sudah Yang, jangan mikirin mereka. Nanti yang ada beban hidup kamu jadi tambah,” ucap Kalandra mengakhiri obrolan mereka terlepas dari Arum yang memang beranjak mengambilkan pakaian ganti untuknya maupun Kalandra. Karena niatnya, mereka juga akan menunaikan salat malam bersama.