
Pak Haji benar-benar nyasar atau itu tersesat. Suasana sudah mulai senja, dan kebetulan Angga juga baru pulang dari rumah Widy setelah selesai menenangkan Wawa. Di panjatan yang menjadi lokasi terakhir pak Haji melihat jejak Angga, mereka nyaris berpapasan. Hanya saja ketika Angga datang dari kiri kemudian melewati panjatan irigasi arah pulang, pak Haji sudah belok ke kanan lurus.
Kanan kiri sepanjang jalan yang pak Haji lalui di sebelah irigasi merupakan sawah siap panen. Sementara Angga yang sudah jauh menuju arah pulang, juga nyaris berpapasan dengan dokter Andri di perempatan jalan. Harusnya dokter Andri belok kiri dari arahnya, tapi pria itu dan kali ini memakai mobil, malah lurus terus.
“Kol aku enggak yakin kalau ini jalannya, ya?” lirih dokter Andri ragu. Ia masih aktif melirik ponsel yang tengah membantunya mencari alamat Widy sesuai berbagi lokasi yang ia dapatkan dari Widy.
“Belok kiri ...,” ucap GPS dan sampai saat ini masih dokter Andri turuti.
“Ini harusnya tinggal sepuluh menit lagi, tapi aku yakin kemarin pas sama Kala, aku enggak lewat jalan sini. Duh, mana sudah gelap. Nyasar ini.” Dokter Andri juga menjadi menyetir dengan kecepatan lebih pelan. Namun sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya ia bertemu yang dituju dan tentu saja itu Widy. Hanya saja, alasan pertemuan mereka karena ia disusul oleh Widy.
“Dokter diputer-puterin tuh sama GPS Map-nya. Belok kiri, belok kanan, diputer-puter sampai pusing, padahal cuma tinggal belok kiri dua kali lagi terus manjat irigasi,” jelas Widy yang menertawakan dokter Andri apalagi pria itu juga sudah tertawa dan terlihat sangat pasrah di depan mobil bagian depannya.
“Dari tadi saya cari-cari irigasi kok enggak nemu-nemu. Nah ujung-ujungnya sawah dan di sebelah malah sungai gede,” ucap dokter Andri.
“Kalau Dokter ambil arah ke sungai, yang ada Dokter balik lagi nanti ke jalan raya meski memang jauh, tapi jalannya cuma satu,” jelas Widy.
Dokter Andri yang masih sulit mengakhiri senyumnya dan itu karena tengah mengasihani dirinya sendiri, berangsur mengangguk-angguk. “Ya sudah, ayo sekarang kamu yang di depan, biar saya enggak nyasar. Lagian ini sudah mau magrib!” ucapnya.
__ADS_1
Kali ini giliran Widy yang langsung mengangguk-angguk. Ia segera putar balik dan memang memimpin perjalanan.
Tak lama dari kepergian Widy dan dokter Andri, sekitar dua menit kemudian, pak Haji yang masih nyasar dengan motor matic merahnya. Pak Haji masih bisa melihat motor Widy maupun mobil dokter Andri yang mengikuti. Sosok Widy terlihat sangat jelas dan langsung mencuri perhatian kedua mata pak Haji. Hanya saja, pak Haji belum tahu Widy seperti Arum.
“Tapi walau dari kejauhan, yang pakai matic putih itu kelihatan cantik sih. Ya lumayan lah ya dan harusnya itu wanita tulen. Soalnya enggak mungkin juga kan, di pelosok kayak gini dan sebelah saja sungai apa kali, adan bancee?” ucap pak Haji seiring laju motornya yang sengaja ia buat pelan nyaris berhenti.
“Okelah, ayo gas saja! Enggak dapat Widy, dia juga boleh!” ucap pak Haji beneran langsung tancap gas meninggalkan sekitar yang lagi-lagi tidak ada pemukiman. Keadaan di sana lebih parah dari jalanan sebelah irigasi yang baru ia tinggalkan. Sebab di sana sampai ada sungai dan juga kesunyian yang jujur saja sukses membuat pak Haji merinding sepanjang jalan.
Tet, tet, tet ....
Pak Haji terdiam kebingungan menatap motor bagian depannya. Motor yang selama ini menjadi saksi perjuangannya sebagai musafir cinta, mendadak berhenti setelah sebelumnya mirip sakratulmaut yang dicabut secara paksa.
Pak Haji sampai turun dari motor, mengelilinginya secara perlahan sambil melafalkan ayat kursi. Adzan maghrib sudah terdengar dari desa sebelah, tapi pak Haji yang masih merukiyah motornya masih bertahan di sana. Malahan kini aki-aki itu baru menyadari, bensin motornya kering. Ia sampai membuka tutup tankinya, dan di sana benar-benar kering. Suaranya sampai menggema saking nyaringnya masuk ke dalam penampung bensin tersebut.
“Kol serem banget suaranya? Itu beneran suaraku?” keluh pak Haji menjadi ketakutan sendiri.
“Serius ini, aku cuma sendirian di sini. Beneran enggak ada yang lewat bahkan ODGJ sekalipun!” Setelah berkeluh kesah demikian sambil jongkok dan berpegangan pada motornya, pak Haji merengek ketakutan dan benar-benar sedih.
__ADS_1
“Woiiiii, siapa yang jual bensin? Sini aku beli. Seliter dua ratus ribu juga enggak apa-apa. Enggak apa-apa juga walau lebih mahal dari yang harga di Papua.”
Meninggalkan pak Haji yang benar-benar nyasar, di rumah Widy, dokter Andri sudah mulai mengecek kesehatan anak-anak Widy. Semuanya kompak demam padahal kemarin malam ketiganya kompak ceria terus main dengan Aidan.
“Nanti vitaminnya diminum, ya. Ini enak kok, rasanya mirip es krim. Nah, besok kalau kalian sudah sembuh, Pakde bawain eskrim yang banyak! Atau kalau enggak, kita jalan-jalan pakai mobil, terus kita beli es krim sama mainan yang banyak! Oke?” bujuk dokter Andri dan langsung membuat ketiga anak Widy ceria. Ketiganya kompak tersenyum, kemudian membalas tos yang ia tuntun.
“Kok jadi gini, ya?” batin Widy yang turut ada di pinggir kasur karena ia tengah memangku sang dan yang usianya hanya tiga bulan lebih tua dari Aidan. Sampai sekarang, kening bocah bernama Saka itu masih dihiasi plester kompres peredam demam. “Berasa jadi enggak beres. Kok dokter Andri sampai deket sama anak-anak sih?” batin Widy lagi. Namun jika ia menegur dokter Andri, yang ada ia yang menjadi tak enak hati.
“Ya sudah, sekarang kita makan bakso.” Dokter Andri menuntun kedua anak Widy termasuk itu Wawa, untuk duduk di tikar yang ada di sebelah kasur.
Di tikar dan sampai sudah ada putri dari dokter Andri yang duduk menyimak dan hanya sesekali senyum, dokter Andri menuntun kedua anak Widy untuk memakan bakso bawaannya.
“Ini baksonya enak banget loh! Ini bakso favoritnya Mbak Nissa! Yuk kita makan bareng-bareng! Mbak Nissa, ajak adik-adiknya makan baksonya ya! Oh, iya ... di dalam baksonya ada telur, ada baksonya juga. Ini namanya bakso telur sama bakso beranak! Coba kita potong-potong, ya!”
“Wa, kamu kan cewek, sini sama aku!” lirih Nissa yang pada akhirnya mau berbicara karena telanjur larut dalam kebahagiaan kebersamaan hangat di sana.
Dokter Andri tersenyum bahagia menikmati perubahan sikap sang putri. Sebab alasannya mengajak Nissa ke sana pun juga agar putrinya itu tak kesepian lagi. Agar Nissa tak terus larut dengan kepergian sang mamah. Juga, agar sang sang putri memiliki tempat untuk berbagi layaknya sekarang ini.
__ADS_1
Widy memindahkan mangkuk Wawa ke dekat Nissa. Kebersamaan kini membuat mereka layaknya keluarga bahagia. Karena hadirnya dokter Andri dan Nissa, telah menjadi pelipur lara anak-anak Widy yang tengah sangat merindukan Agus. Walau selalu canggung di setiap tatapan mereka sengaja bertemu, demi anak-anak mereka tetap bersikap hangat.