
“Masih belum ada keputusan juga?” tanya pak Haji lirih tapi efek terlalu marah. Ia menatap saksama kedua istrinya yang memang jauh lebih muda dari ibu Fatimah.
Kedua istri pak Haji duduk bersama anak masing-masing di sofa berbeda. Masing-masing dari istri pak Haji memiliki dua anak dan semuanya perempuan. Dua di antaranya berusia sebaya Nissa, duanya lagi berusia enam tahun. Usia kedua anak istri pak Haji nyaris serempak karena istri kedua memang agak susah mendapat keturunan.
Pak Haji pernah menyampaikannya kepada dokter Andri yang kini masih mendampingi, menyidang kedua istrinya. Jadi, selain sudah sangat ingin memiliki anak laki-laki, nyatanya setelah menunggu lama pun yang keluar masih perempuan. Alasan yang juga membuat pak Haji bersemangat menikah sekaligus memiliki anak lagi bahkan hingga sekarang. Walau sejak anak terakhir dari kedua istrinya lahir, keduanya tak kunjung hamil lagi secara serempak. Entah sengaja, atau memang belum rezeki hingga keduanya juga kompak tak memiliki anak lagi.
“Kalau kalian tetap tidak mau mengaku, berarti kalian siap berurusan dengan polisi. Atau, ... sekarang kita cerai saja. Urusan anak-anak biar mereka ikut saya! Saya memang tidak membatasi pertemuan kalian, tapi demi kebaikan bersama, lebih baik mereka ikut saya saja. Tak rela rasanya membiarkan anak-anak saya diasuh oleh penjahat sekelas kalian.” Pak Haji mantap dengan keputusannya.
“Papah enggak mungkin tega menghancurkan keluarga kita. Keputusan Papah hanya akan melukai kita khususnya anak-anak!” tegas ibu Yasmine selaku istri kedua pak Haji.
Pak Haji menghela napas pelan sambil menatap kesal yang bersangkutan. “Memangnya saya masih kurang serius? Tega bagaimana? Yang tega itu kamu, masih saja melukai Ojan padahal kalian mendapat jatah yang jauh lebih besar. Jadi memang lebih baik sudah saja. Kita cerai. Mulai sekarang, kalian berdua bukan istri saya lagi. Sementara anak-anak, biar jadi urusan saya!”
“Enggak kurang-kurang saya urus kalian hingga ke akar, saya angkat derajat keluarga kalian, tapi begini balasannya!” kesal pak Haji lagi sampai menggebrak meja.
Alasan pak Haji memilih mengurus keempat anaknya karena ia tak mau ambil risiko. Toh setelah semua yang terjadi, ia yakin, didikan ibu Fatimah jauh lebih waras. Walau tak bisa dipungkiri, orang tua kandung selalu jauh lebih baik untuk anak-anaknya dari orang tua mana pun. Masalahnya, kasus kedua istrinya berbeda. Selain ini, pak Haji juga tidak membatasi interaksi kedua istrinya dengan anak-anak. Meski tentu saja, semuanya akan ada aturannya agar kedua istrinya tak semena-mena.
“Pah ....”
“Pah ....”
Kedua istri pak Haji kompak memohon. Keduanya silih berganti bersimpuh dan masing-masing memegang sebelah kaki pak Haji.
“Nia, kamu ngaku dong! Kan kamu yang ngajarin!” kesal Yasmine kepada madunya.
Ibu Nia yang dimaksud dan memang jauh lebih muda, langsung kebingungan. Wanita cantik yang berdandan necis layaknya artis itu tampak sangat berat untuk mengakunya.
“Ya sudah ....” Pak Haji juga berat menyudahi keadaan di sana karena biar bagaimanapun, kedua wanita yang bersimpuh kepadanya merupakan ibu dari anak-anaknya.
“Kemasi barang-barang kalian. Karena selain kita cerai, kalian juga wajib merasakan dinginnya tinggal di balik jeruji besi meski hanya beberapa minggu!” ucap pak Haji. Keputusan yang langsung membuat kedua istrinya sibuk memohon. Keduanya meraung-raung memohon ampun.
__ADS_1
“Nia yang ngajarin, Pah. Biar Ojan idioot, biar nasib anak-anak kami lebih terjamin dan enggak tergeser oleh Ojan!” ucap ibu Yasmine masih memohon.
“Maaf, Pah. Kami hanya terlalu iri karena yang pak Haji sayangi hanya anak laki-laki!” ucap Nia.
Kesal, pak Haji mengambil segelas teh di hadapannya yang sudah tak sepanas ketika baru disajikan dan itu sekitar dua puluh menit lalu. Pak Haji menyiramkan semuanya ke wajah Nia.
“Lambemuuu! Bisa-bisanya Ibu bilang begitu sementara selama ini, apa pun yang Ojan dapat juga semuanya dapat. Ojan beli baju, semuanya juga dapat. Ojan beli peci, anak perempuan dapat kerudung. Jatah kalian sama saja. Masih merasa saya berat sebelah? Coba kamu ngaca! Kamu yang sekarang jauh lebih glamor dari kamu yang dulu! Masih saja kamu enggak bersyukur?” marah pak Haji.
Keempat anak pak Haji yang ada di sana sudah langsung menangis. Membuat suasana menjadi kacau terlebih bagi dokter Andri yang selalu menjadi sensit1f di setiap dirinya berurusan dengan anak-anak.
“Saya akan memaafkan kalian kalau kalian bisa membuat keadaan Ojan kembali normal! Karena kalaupun Ojan menjalani pengobatan rutin, kemungkinannya bisa hidup normal sangat kecil!” tegas pak Haji.
Keesokan paginya, bersama Kalandra yang masih sibuk menguap, beberapa polisi datang menggunakan mobil. Kalandra sengaja memarkir mobilnya di depan kontrakan dokter Andri dan langsung menjadi bahan mainan Ojan. Bocah itu naik ke atapnya dan membuat ibu Fatimah berisik.
“Asal jangan dipukul-pukul pakai benda tumpul atau yang bikin baret dan penyok parah, aman, Bu. Sudah, seenaknya Ojan saja,” ujar Kalandra.
“Enggak lah, Mas. Tuman kalau dibiarin. Ini saja lagi sering-seringnya bohong,” ucap ibu Fatimah.
“Sep, ini si Ojan, Sep. Mamah enggak kuat!” seru ibu Fatimah tapi yang keluar malah dokter Andri dari kontrakan sebelah.
“Jan, ... sini. Kita main hape! Belajar berhitung sama Upin-Ipin!” bujuk dokter Andri lembut.
Ojan yang langsung tertarik dan memang masih di atap mobil, segera mengulurkan kedua tangannya kepada dokter Andri yang memang sudah rapi siap pergi kerja. “Gendong!”
“Heh, kakinya dokter Andri masih sakit!” omel ibu Fatimah yang kemudian memanggil Septi sambil berseru.
Septi yang masih memegang pisau segera keluar. “Eh, Jan. Itu mobil orang! Turun kamu kalau enggak Mbak sunat lagi sampai habis!”
Ojan yang tak mau ditindas Septi sengaja teriak, “Tolonggggg ... maling ... malinggggg!”
__ADS_1
Septi sudah langsung kalang kabut. Beberapa pintu kontrakan akhirnya terbuka disusul penghuninya yang keluar.
“Maling apa, Umi? Tadi Ojan yang teriak, kan?” tanya pemuda dari kontrakan depan paling ujung.
“Bu, kalau ke Ojan harus benar-benar lembut. Kalau enggak yang ada dia memberontaak!” yakin dokter Andri lirih kepada Septi.
Ibu Fatimah langsung menjelaskan bahwa Ojan hanya sedang main-main. Lain dengan Septi yang langsung berusaha lebih lembut.
“Kalau nih anak jadi enggak beres dan kehilangan kesadaran, harusnya enggak sepenuhnya. Buktinya dia bisa ngerjain orang. Mungkin lebih tepatnya, pikiran baik dan bermanfaatnya hilang makanya tinggal pikiran dakjalnya!” lirih Septi sambil menggendong Ojan setelah ia memberikan pisaunya kepada dokter Andri. Parahnya, Ojan malah berpegangan ke lehernya dengan mencek3k.
“Ya Alloh, ini anak!” Septi kewalahan. “Lebih menggila dari wariyem!”
“Ojan ... jangan gitu Jan. Nanti enggak diajak jalan-jalan loh. Nanti enggak dikasih es gepluk enak buatan Mbak Septi. Ojan harus sopan ke Mbak Septi kalau enggak, Mas Dokter juga enggak mau main sama Ojan lagi!” yakin dokter Andri masih bertutur lembut.
Kepada dokter Andri, Ojan memang menurut. Ojan yang juga langsung menyimak, berangsur menyudahi ulahnya. Ia bahkan sampai meminta maaf kepada Septi sesuai tuntunan dokter Andri.
“Belajar jadi Ojan yang penter, ya?” ucap Septi.
Dengan santainya, Ojan menjawab, “Oyeeee!”
“Innalilahi ...,” lirih Septi sambil geleng-geleng.
Kemudian, bersama tetangga yang masih terjaga di depan kontrakan masing-masing, mereka menyaksikan penangkapan kedua istri pak Haji. Keduanya sama-sama diborgol, menunduk sambil tersedu-sedu.
“Kalau aku jadi Pak Gede juga pasti marah banget sih. Wong jadi begini, hidup tapi enggak mikir. Sembuhnya pun susah,” ucap Septi masih menggendong Ojan.
“Wah ... itu main penjahat-penjahatan, ya?” Ojan heboh, berpikir adegan penangkapan kedua nenek mudanya yang dikawal polisi hanya main-main.
“Kok, aku jadi keingat mamahnya Mas, yah, Mas? Itu mamah Mas, apa kabar?” ucap Septi refleks kemudian menatap dokter Andri.
__ADS_1
Awalnya dokter Andri bingung, tapi perlahan ia menoleh, membuat tatapannya bertemu dengan Septi yang masih menatapnya. “Mungkin mamahku butuh jurus seruduk bant1ngmu!” ucapnya.
“Ah, siiiaap!” ucap Septi bersemangat. Terlebih sejauh ini, orang seperti ibu Muji memang wajib diberi peringatan keras.