Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
56 : Sambutan yang Membuat Tercengang


__ADS_3

Baru mengetuk pintu kemudian mengucapkan salam, kedatangan Arum kali ini langsung mendapatkan tanggapan, benar-benar beda dari biasanya yang sekadar dibukakan pintu saja tidak pernah.


Pintu langsung dibukakan dari dalam lengkap dengan sambutan lain yang sukses membuat seorang Arum tercengang. Arum tak bisa berkata-kata. Wanita yang penampilannya menjadi jauh berkelas itu sampai lupa bernapas. Ulah sang mamak yang langsung mengguyurnya menggunakan satu ember air, tak hanya membuatnya kuyup karena Aidan yang Arum emban juga sampai tersedak kemudian batuk-batuk dan berakhir menangis kejer.


Benar-benar seperti yang Arum takutkan, Aidan sungguh harus merasakan kebencian yang ia dapatkan dan itu dari orang yang harusnya memberi Aidan kasih sayang.


Setelah pihak Kalandra sengaja menggunakan mobil agar Arum dan Aidan tidak kehujanan atau sekadar merasakan efek tidak nyaman dalam perjalanan, kini semua usaha itu malah sia-sia. Keluarga Arum kembali berulah. Seolah mereka manusia suci dan Arum yang kehadirannya menorehkan riwayat melukai, tanpa peduli sebanyak apa pengorbanan yang Arum lakukan, memang wajib dibasmi.


Arum benar-benar marah apalagi dalam embanannya, Aidan yang awalnya sedang tersenyum kepadanya menjadi tak hentinya menangis. Bisa ia pastikan, Aidan sampai meminum air yang sang nenek guyurkan.


Di tengah tubuhnya yang menjadi gemetaran karena menahan amarah, Arum merebut embernya dari tangan kanan ibu Rusmini. Ia menghan-tamkannya ke wajah sang mamak sekuat tenaga persis seperti han-taman yang sering Arum dapatkan di masa kecilnya. Arum yakin, sebelum ia datang, sang mamak sudah menyiapkan sambutan itu.


“Bocah gemblung! Bocah ra mikir. Ra due utek!” ma-ki ibu Rusmini yang artinya sangatlah ka-sar sembari memegangi wajah bekas hanta-mannya menggunakan kedua tangan.


Arum tak memedulikan sang mamak yang sampai balas menghan-tamnya menggunakan ember sekuat tenaga. Hantaman yang langsung mengenai punggung Arum. Sebab Arum yang tengah mengeluarkan Aidan dari embanan, langsung memunggunginya.


“Bisa-bisanya kamu hitung-hitungan. Bisa-bisanya kamu sekasar itu ke adik kamu! WA-WA begitu ke adik kamu, kalau suaminya sampai baca bagaimana? Kalau suami dan keluarganya sampai tahu, bagaimana?!”

__ADS_1


“KALAU SUAMINYA SAMPAI TAHU KENAPA? KALAU KELUARGANYA SAMPAI TAHU JUGA KENAPA? BIAR SEMUANYA TAHU, BIAR MEREKA MIKIR. YANG ENGGAK MIKIR ITU MEREKA. YANG ENGGAK MIKIR DAN ENGGAK PUNYA OTAK ITU KALIAN KARENA ENGGAK MUNGKIN JUGA KALIAN TERMASUK MEREKA ENGGAK TAHU! KARENA KALAU MEREKA MEMANG MIKIR, ... MEREKA ENGGAK MUNGKIN IKUT NUMPANG DI SINI! TOLONG DIGARIS BAWAHI, MAK. NUMPANG! MEREKA NUMPANG! DI MANA-MANA YANG NUMPANG ITU PIHAK WANITA, INI MALAH ...?” Tegas Arum. Sang mamak yang masih menatapnya dengan tatapan murka, langsung menggeleng tak habis pikir. “Kalian yang bikin aku hitung-hitungan seperti ini. Kalian yang sudah kebangetan!”


“Kalau kamu memang enggak ikhlas, sudah mending rumah ini robohin saja!” tegas ibu Rusmini.


Arum yang makin miris dengan watak sang ibu segera mengangguk. “Ya, robohin!” tegasnya. “Mau tinggal di mana kalian kalau bukan di rumah ini. Heran, bisa-bisanya ada manusia kayak kalian!”


“BISA-BISANYA KAMU NGOMONG BEGITU! Dasar kamu enggak punya otak! Enggak mikir, tanpa aku lahirkan, kamu enggak hidup!” sewot ibu Rusmini.


“Aku enggak pernah minta mamak lahirkan. Bahkan andai boleh milih, aku enggak bakalan mau dilahirkan oleh wanita enggak tahu diri kayak Mamak! Siapa yang diselingkuhi, siapa yang disalahkan? Hanya ibu gi-la saja yang melam-piaskan penderitaannya kepada anaknya. Iya kalau hanya dibenci dan dija-hati, lah Mamak saja doyan duit dan hasil keringatku!” Arum memang tidak mau menangisi manusia jahat sekelas mamaknya walau ia tahu, wanita itu yang telah melahirkannya. Masalahnya, perlakuan sang mamak sangat melukainya.


Baru saja, ibu Rusmini kembali memungut embernya kemudian menghan-tamkannya ke kepala Arum. Tetangga yang sudah datang sampai memarahi ibu Rusmini. Salah satu dari ibu-ibu yang datang langsung berusaha mengambil Aidan tapi Arum tak mengizinkannya.


“Kamu masih mengeluh begitu padahal maksud kamu ke sini mau izin menikah sekalian mau ambil rumah ini lagi? Kamu bahkan mau menitipkan anak kamu ke aku karena pernikahan barumu. Begitu, kan? Na-jis ... Na-jis, dasar ra ngutek! Hobi kok kawin ya wong ra mikir. Tahu gini pas kamu masih di perut, udah aku gugurin!” keluh ibu Rusmini yang sampai beberapa kali berlud-dah di depan Arum sambil berkecak pinggang.


Arum menyeringai. Buru-buru ia menyeka tuntas air matanya. Air matanya terlalu berharga untuk orang seperti ibu Rusmini walau wanita itu juga yang telah melahirkannya. Lain dengan tetangga yang sudah berkerumun, mereka sibuk membujuk ibu Rusmini untuk beristigfar.


“Kapan aku bilang begitu, Mak? Mana tolong buktikan, jangan asal fitnah!” tegas Arum walau kini, ia tak meledak-ledak lagi seperti sebelumnya.

__ADS_1


Mendengar itu, ibu Rusmini langsung terbelalak, tak bisa berkata-kata saking syok sekaligus marahnya. “Ngomong apa tadi kamu? Fitnah?” ucapnya memastikan. “LAMBEMUU! Pantes uripmu susah wong kerjaanmu tukang fitnah! Ji-jik aku pernah melahirkan kamu!”


“CUKUP BUKTIKAN, ENGGAK USAH BANYAK DRAMA! WIDY YANG BILANG GITU? GURU STRRES ITU YANG NGADU-NGADU? DY, METU KOE NGGER RA PENGIN UMAH KIYE TEK RUBUHNYA!” Kali ini Arum yang kembali berlinang air mata, tak main-main. Karena andai kecurigaannya terbukti, Widy yang selama ini mengadu-domba mereka, ia sungguh akan merobohkan rumah yang pernah ia bangun susah payah menggunakan hasil keringatnya.


Bukannya memberi Arum kesempatan bertemu Widy secara langsung, ibu Rusmini malah mendorong-dorong Arum sekuat tenaga. Agar wanita yang dulu ia lahirkan tanpa ia harapkan itu pergi dari sana.


“Sebelum aku bertemu Widy dan dia mengatakan semuanya secara langsung berikut semua buktinya dan bagi Mamak itu karena aku yang tukang fitnah, aku enggak akan pergi, Mak!” tegas Arum yang sudah sampai turun dari teras rumah. “Aku mau Widy jelasin. Suaminya juga di rumah, kan? Termasuk keluarganya juga di rumah? Mereka dengar kalau aku ngamuk begini. Bahkan aku tahu kalau suami Widy sudah tiga bulan enggak kerja karena dia dipecat?” Arum mengakhiri ucapannya dengan tawa geli. “Kebanggaanmu, bo-brok semua!”


Kemudian Arum sengaja meminta warga di sana menjadi saksi. Arum ingin sidang agar ia tidak dicap sebagai tukang fitnah.


“Satu lagi, ... jangankan menitipkan Aidan kepada Mamak, izinin Mamak menyentuh Aidan saja aku berat. Aku enggak akan lupa, hidupku sudah Mamak buat sangat sengsara. Mamak jahat banget ke aku bahkan sampai sekarang. Anehnya, sejahat apa pun kalian, kalian doyan uang dan semua hasil keringatku!” tegas Arum. “Mamak dan kalian enggak usah khawatir, bahkan walau aku enggak nikah, kehidupanku tetap lebih bahagia dari kalian apalagi aku enggak numpang. Dan perlu Mamak sekaligus semuanya tahu juga, aku menikah pun Aidan tetap sama aku karena calon suamiku dan keluarganya mikir. Mereka tulus sayang ke Aku apalagi ke Aidan!”


“Ya sudah, bu Rus, tolong Widy dipanggil karena Arum juga sudah bilang dan kami di sini menjadi saksi. Ibu Rus jangan keterlaluan begitu, kasihan Arumnya karena Arum saja sudah datang baik-baik,” ucap pak Kaswan yang kebetulan pak RT di sana.


“ARUM YANG KEBANGETAN. KETERLALUAN BANGET DIA!” tegas ibu Rusmini tak mau disalahkan.


“Yang kebangetan itu ibu Rusmini, baru datang Arum sudah diguyur dan bayinya juga sampai kena begini. Heran, nenek kok setega itu ke cucunya! Bener kata Arum, Ibu Rus ini keterlaluan banget. Jahat sejahat-jahatnya, tapi ke duit sama hasil keringatnya doyan!” ucap salah satu ibu-ibu di sana yang sering menolong Arum. Arum bahkan masih ingat, saat dirinya masih kecil dan dipu-kuli menggunakan papah pohon kelapa sampai tak berdaya, wanita tersebut yang akan menyomot sekaligus menggendong Arum, kemudian membawanya pulang ke rumah. Wanita itu juga yang akan mengobati luka-luka Arum, termasuk memberi Arum makan.

__ADS_1


Kehadiran mobil Kalandra yang akhirnya datang langsung mengusik kebersamaan di sana. Mereka belum tahu siapa Kalandra, dan tentu saja, mereka juga belum tahu siapa Kalandra dalam hidup Arum.


Kalandra membiarkan mobilnya di jalan. Pria itu keluar dengan buru-buru lantaran Aidan masih menangis ditambah suasana yang tampak ramai.


__ADS_2