Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
145 : Hujan yang Masih Berlangsung


__ADS_3

“Menerima lamaran Pak Gede? Kamu minta Mamah buat menerima lamaran uwa bapak kamu sendiri?” Ibu Fatimah menatap heran sang putri yang baru pulang dan sampai hujan-hujanan. Walau sudah memakai payung, hujan angin yang berlangsung tetap membuat Septi kuyup.


Demi memulai dietnya, Septi memang sengaja jalan kaki. Septi berjalan sekitar lima belas menit karena jarak kontrakannya dengan rumah pak Haji terbilang dekat.


Septi yang melepas jilbabnya kemudian mengeringkan kepalanya, berangsur mengangguk-angguk. “Daripada Mamah capek-capek kerja enggak kenal waktu dan kesehatan Mamah juga jadi terganggu.” Septi menunduk sedih. “Nanti kalau Mamah kenapa-kenapa, aku sama siapa?”


Kali ini, Septi benar-benar menangis. “Lagian daripada papah, Pak Gede jauh lebih bertanggung jawab. Dalam artian, meski istrinya banyak, dia tetap tanggung jawab dan apa-apa serba dibagi rata.”


“Daripada papah, Pak Gede juga lebih mau urusin aku. Besok saja, aku mau ke Magelang diantar Pak Gede. Aku mau ngamuk ke Papah. Aku remuk kepalanya, atau aku siram pakai garam tuh otaknya biar dia ingat kita lagi.”


“Syukur-syukur, nanti aku sama mas Fajar beneran sukses. Pasti Mamah orang pertama yang bakalan aku ajak.”


“Kalau Pak Gede meninggal, gimana? Bukankah lebih baik kalau Mamah tetap jadi wanita mandiri dan hebat?” tanggap ibu Fatimah.


“Ya jangan meninggal dulu, Mah. Lagian Mamah mau cari yang kayak apa? Kalau Mamah mau cari yang kayak Nicolas Syaputra, enggak bakalan ada. Dia tuh cowok dengan cetakan terbatas ibaratnya, Mah!”


Ibu Fatimah mengembuskan napas pelan sekaligus panjang dari mulutnya. “Begini saja lah, Sep. Mamah lebih nyaman. Enggak apa-apa capek, asal enggak dimadu apalagi sampai dicakar madu. Masih bisa makan, masih bisa urus Sepri dan sedikit-sedikit masih bisa urus kamu juga alhamdullilah banget.”


“Intinya, kalau kamu beneran sayang Mamah, tolong mulai belajar jadi lebih baik lagi. Jangan cuman tidur apalagi lihat penampilanmu, nanti kebayamu enggak muat!” lanjut ibu Fatimah.


“Masalah nikah, kayaknya kami mau ijab kabul di KUA saja Mah, biar uangnya bisa buat modal masa depan,” ucap Septi sambil menunduk pasrah .


“Alah, taii kucing kamu. Dikiranya Mamah enggak paham watak kamu! Kamu itu kalau sudah bucin beneran sudah enggak bisa dikendaliin. Ibaratnya, taii kucing saja jadi kelihatan sekaligus rasa cokelat buat kamu! Sekarang kamu bisa saja bilang gitu, besok bahkan sebentar lagi bisa-bisa kamu minta nikahannya di depan pantai Pangandaran, di hotel Paradise, apa malah di Jatijajar dan sekalian Benteng Pendem!” Kali ini ibu Fatimah benar-benar mengomel. Sementara sang putri yang dimaksud, langsung tersenyum dan memasang wajah tak berdosa.


“Mah, mulai sekarang jangan masak enak-enak, ya. Soalnya aku lagi diet, takut tergoda!” lanjut Septi.


“Lah, memangnya kapan Mamah masak enak? Paling banter ya telur dadar rasa masako apa royco! Yang sering makan enak kan kamu, jalan sama Fajar lupa sama Mamah, makannya tubuh kamu makin melar. Kamu ingat istrinya Supret, mbaknya si Angga? Tuh, kalian tuh mirip banget. Andai kalian ketabrak motor atau mobil, yang ada mereka yang ringsek!”


“Ya makanya, Mah. Ini aku niat banget buat diet. Alohuma diet, cepatlah kurus, biar bisa pakai baju-baju bagus!”

__ADS_1


“Ya sudah, semoga dietnya berhasil. Malu sama Arum yang lagi hamil besar saja masih good looking, lah kamu ....”


“Aku, ... aku guda lumping, Mah!”


“Kuda lumping apa? Reog saja masih kebagusan!”


“Ya sudah kalau gitu aku mandi dulu, Mah!”


“Tumben?”


“Kan mau jadi pengantin baru, Mah! Memper cantik diri lah!” balas Septi sengaja pamer kemudian tertawa.


Ibu Fatimah yang masih mengemban Sepri langsung menggeleng tak habis pikir. Satu hal yang paling menonjol dari Sepri sang cucu. Karena meski bocah itu tidak memiliki kaki kanan, Sepri tipikal yang aktif. Bahkan walau baru tujuh bulan, Sepri sudah aktif merangkak sekaligus duduk dengan cekatan.


***


Di kasur busa yang digelar di lantai ruang depan yang juga menjadi satu-satunya ruangan di sana, Kalandra sudah memangku kepala Arum, sedangkan Aidan sudah pulas dalam dekapan sang mamah.


“Berasa sedang kemah,” ucap Kalandra. Agan kanan mengelus perut Arum, tangan kiri ada di perut yang terus tidak mau diam karena aktivitas kedua janin di dalamnya.


“Kayaknya kemah seru, Mas! Ayo, diatur jadwalnya!” lirih Arum langsung menatap Kalandra dengan memohon.


Kalandra langsung mesem. “Kemah di depan rumah dulu, gimana? Pasang tenda, panggang-panggang buat makannya sekalian masak nasi liwet, terus malamnya bikin api unggun juga. Itu paling aman sih apalagi kamu lagi hamil,” tawarnya dan Arum langsung mengangguk ceria.


“Kapan?” ucap Arum langsung menagih.


“Besok habis USG di klinik Andri, kita pergi cari tenda!” yakin Kalandra.


"Tenda kemah, kan, bukan tenda terpal apalagi yang warna biru?” balas Arum.

__ADS_1


“Tenda kemah lah, masa tenda biru? Nanti yang ada gerbang rumah dikasih janur kuning sama pak Haji, dan dia langsung dangdutan nyanyi kandas, bojo loro, rungkad, sama apa itu sekarang lagu andalannya? Senangnya dalam hati kalau punya banyak bini,” ucap Kalandra yang kemudian tertawa geli.


Arum sibuk berucap “Amit-amit.” sambil mengelus perutnya menggunakan tangan kiri yang tidak mendekap Aidan.


“Lama-lama ngantuk juga dan ternyata sudah mau pukul sebelas malam,” ucap Kalandra.


“Mas di belakang aku. Kalau hujan gini aku ngeri, enggak bisa tidur juga kalau bukan karena lupa,” ucap Arum yang membiarkan kepalanya dipindahkan dengan hati-hati ke bantal, oleh Kalandra.


“Bilang saja pengin dipeluk dari belakang,” goda Kalandra yang langsung mengambil posisi tidur di belakang punggung Arum.


“Ya tentu, aku pengin dipeluk juga, tapi aku juga beneran takut,” balas Arum langsung diam karena detik itu juga ada petir yang menyambar sangat keras. Aidan sampai bangun selain listrik yang detik itu juga padam.


Kalandra buru-buru meraih ponselnya kemudian menyalakan senter di ponselnya sebagai penerang di sana.


“Sudah, ayo tidur lagi,” bisik Kalandra sambil melongok dari atas tubuh Arum, mengelus-elus kepala Aidan agar bocah itu kembali tidur.


“Yang di perut juga heboh terus,” keluh Arum.


“Kayaknya mereka aktifnya melebihi pak Haji yang walau sudah tua, tetap berstamina,” ucap Kalandra pasrah setelah ia juga sampai menyemayamkan wajahnya di sebelah wajah Arum. Setelah Aidan tidur, tangan kanannya berangsur mengelus-elus perut Arum.


“Ini beneran enggak mau diem. Coba besok kita lihat kalian cewek apa cowok!” lanjut Kalandra refleks mencubit perut Arum saking gemasnya karena yang di dalam perut tidak mau diam.


“Sakit ih, Mas!”


“Gemes banget, Yang!”


“Gemes ya jangan cubit sekeras tadi. Takutnya ngefek juga ke yang di perut. Kalau kulit mereka sampai ikut gosong efek cubitan gimana? Kamu ya!”


Kalandra hanya memasang wajah tak berdosa menyikapi omelan sang istri sambil mengelus-elus bagian perut Arum yang ia cubit.

__ADS_1


__ADS_2