
“Tukang kantiiiiin! Kasih saya makanan termahal!”
Arum yang sedang mengangkat mendoan dari wajan, refleks merinding hanya karena mendengar suara barusan. Suara yang Arum kenal sebagai suara Septi. Benar saja ketika ia melongok untuk memastikannya, perempuan muda yang kini berhijab itu memang Septi. Lebih kebetulannya lagi, Septi menjadi satu-satunya pengunjung di kantinnya.
Segera Arum mematikan api kompornya, menyisihkan mendoan yang baru digoreng sebelum akhirnya dirinya menghampiri Septi yang kali ini datang sendiri.
“Kirain siapa?” ucap Arum sambil melongok wajah Septi. Terlebih biasanya, Septi selalu dikawal ibu Fatimah yang maha sok suci.
Penuh ceria, Septi yang awalnya sudah duduk sengaja berdiri memamerkan penampilan barunya. “Honey Angga bilang, aku makin cantik gara-gara berhijab! Menurutmu, aku juga jadi makin cantik, kan?”
Ini anak makin hari makin aneh. Merasa tersaingi banget apa gimana sih? Kok apa-apa kesannya wajib dipamerin ke aku, pikir Arum.
Bukannya cemburu, yang ada aku malah geli sama kelakuan kalian, batin Arum lagi. Ia memasang senyum terbaiknya, meski karenanya, Septi malah menjadi menatap aneh kepadanya.
“Situ kayaknya juga jadi dandan,” sinis Septi mengawasi penampilan Arum yang makin glowing saja.
Arum mengernyit. “Kenapa? Biasa saja.” Arum hanya memakai lip balm warna merah muda. Selebihnya, ia sengaja rutin cuci wajah dengan sabun khusus karena di dapur dan sering masak membuat wajahnya selalu berminyak.
“Sengaja, ya, buat persiapan tiga bulan besok? Tiga bulan lagi, kan ... suamiku bebas. Orang tuaku sudah melakukan banyak usaha untuk membebaskannya, jadi kamu jangan mimpi goda-goda apalagi pengin balikan lagi!” sinis Septi sambil bersedekap.
Arum menghela napas dalam. “Bukannya kamu berasal dari keluarga yang paham agama, ya? Sekarang bahkan kamu sudah menutup aurat kamu. Memangnya kamu enggak tahu, syarat rujuk bagi suami istri yang sudah resmi bercerai?”
Menghela napas dalam lagi, Arum yang meninggalkan Septi untuk meraih gelas bekas kopi, teh, dan juga es di setiap meja yang kosong, berkata, “Lagian sebelum suami kamu bebas, aku sudah menikah. Dua bulan lagi, aku akan menikah. Dan dua minggu lagi, aku lamaran.”
Septi langsung panik. “Nah, itu ... kamu mau menikah lagi. Itu syarat agar kamu bisa menikah lagi sama suamiku, kan? No, no, no!”
Arum yang memenuhi tangannya dengan banyak gelas, berangsur menatap sekaligus menghadap Septi. “Kamu takut banget ke aku, apa bagaimana, sih? Memangnya di mata kamu, aku masih ngarep ke suami tercinta kamu? Atau jangan-jangan, sebenarnya kamu sangat takut, suamimu masih cinta ke aku?” Arum mendapati wajah berhias rias tebal Septi yang langsung ketar-ketir. Ia meninggalkannya ke dalam untuk mencuci gelas yang ia bawa.
“Ya sudah, kasih aku makanan termahal biar aku enggak capek-capek banget mau USG!” seru Septi kemudian masih sewot.
__ADS_1
“Bentar,” jawab Arum masih tenang. Apalagi selain di sana kebetulan sedang tidak ada pembeli lain, di ranjang bayi sebelahnya, Aidan juga tengah tidur. Aidan tidur sangat lelap.
Kedatangan Arum yang membawa ransel, membuat Septi bingung. “Apa itu?” tanya Septi yang sampai berdiri dari duduknya.
Arum sengaja agak melempar ransel miliknya. Ia membiarkan Septi sibuk bertanya-tanya hingga wanita itu dengan tidak sabar membuka ranselnya.
“Duit, ini ...? Duit siapa? Banyak banget!” Septi terheran-heran dan tetap begitu walau Arum sudah mengambil ranselnya dari meja. Wanita pendiam itu buru-buru mengunci ritsleting ranselnya, tak mengizinkannya melihat kumpulan uang di sana dan jumlahnya memang banyak.
“Kamu bilang, kamu mau makanan paling mahal. Memangnya kamu bawa uang berapa? Coba aku lihat dompet kamu!” sergah Arum sengaja mengulurkan telapak tangan kanannya. Ia dapati, Septi yang langsung kebingungan dan perlahan menurunkan tas bahu warna hijau tua selaras dengan hijabnya.
“Uang kamu lebih dari yang aku punya, enggak?!” Kali ini, Arum sengaja mengancam.
“Yang cash sih enggak banyak amat. Cuma enam lembar,” ucap Septi ragu.
“Berarti sisanya di ATM, ya?” sergah Arum.
Mendengar itu, Septi langsung bersemangat. “Nah, tumben Mbak pinter! Orang kaya mana betah pegang uang banyak. Kan memang lebih simpel ATM atau kartu kredit karena belanjanya pun aku enggak mungkin ke tempat ecek-ecek. Ini saja aku terpaksa masuk kantin kamu gara-gara aku ingat, kamu yang sudah janda wajib cari nafkah sendiri! Enggak tega aku lihat janda sekelas kamu!” Septi terus mengoceh, meski ketika akhirnya Arum malah mengeluarkan mesin EDC, ia mendadak bengong bahkan lemas. Hah? Mbak Arum punya mesin EDC? Keren banget, batin Septi refleks menelan ludah.
“Nanti pas aku punya restoran, aku juga enggak akan menciptakan kasta-kasta seperti yang sudah jadi kebiasaan kamu sekeluarga. Karena bagiku semua orang sama saja. Semua orang bisa baik maupun sebaliknya, tergantung sikap kita kepada mereka. Coba sekarang mana ATM kamu. Aku mau tahu isi saldonya. Dan andaipun kamu mau tarik tunai, aku ada asal enggak lewat seratus juta karena aku belum ada kalau sampai sebesar itu.” Arum memamerkan senyum terbaiknya karena bisa ia pastikan, orang seperti Septi hanya berat di omongan.
“Mbak Arum, saya mau beli token. Ini anak saya WA katanya listrik rumah mati. Bisa?” sergah seorang perawat yang kebetulan baru datang.
“Bisa, Bu. Bisa. Bentar. Mau yang berapa? Ke nomor yang biasa, kan?” sergah Arum hangat pada wanita bertubuh semok yang baru datang.
Arum mengeluarkan ponselnya dari saku sisi kanan celana kulot warna abu-abu yang dikenakan. Mendapati kesibukan Arum, Septi sengaja meraih tasnya, memasukan ponsel dan juga dompet yang sebelumnya sempat ia keluarkan untuk dipamerkan kepada Arum.
Mumpung Mbak Arum lagi sibuk. Mending aku kabur karena uangku di ATM pun dikit. Gilaa saja uang Mbak Arum ada seransel, sementara di ATMku paling mentok dua juti! Batin Septi berusaha tenang kemudian minggat.
“Kamu mau ke mana? Katanya mau beli makanan paling mahal buatan aku?” ucap Arum sengaja menahan Septi.
__ADS_1
Septi langsung panas dingin. Ia menoleh sambil meringis, menatap Arum dengan tatapan tak berdosa. “Bentar ah, Mbak. Aku mau USG dulu, itu mamahku lagi antre di depan. Takutnya sudah giliranku. Nanti habis USG, aku pasti mampir ke sini lagi, kok.” Di depannya, Arum menatapnya penuh ketenangan. Ekspresi Arum teramat sulit ia artikan hingga ia menjadi takut sendiri. Mbak Arum ibarat game-nya, dia ini udah level suhu. Lama-lama aku ngeri sendiri ke dia jadinya, batin Septi.
“USG-nya pakai yang bagus, ya. Kamu kan orang kaya, pasti serba VIP!” ucap Arum.
“Tentu! Mau pakai yang paling MAHAL pokoknya!” sergah Septi sengaja pongah.
Perawat yang ada di sebelah Arum sampai meringis menatap Septi karena kesombongan wanita berhijab dan perutnya sudah besar tersebut.
“Bukan perkara mahal enggaknya. Pokoknya pilih yang terbaik. Kalau bisa jangan hanya yang empat dimensi. Kalau bisa kamu pilih USG yang beribu-ribu dimensi! Biar meski masih di perut, tuh bayi sudah kelihatan mirip Supri!” jelas Arum yang langsung menyulut emosi Septi.
“Sueeee, kamu, Mbak!” ucap Septi emosi. Ia bahkan sengaja menodongkan jari tengah tangan kanannya kepada Arum.
“Loh, penampilan sudah bersahaja kok kelakuan innallilahi?” ucap perawat yang ada di sebelah Arum. Wanita itu sampai mengelus dada, tapi Septi yang telanjur kesal, tidak peduli.
Sekitar setengah jam kemudian, Septi yang telah ditemani sang Mamah, dibuat tidak nyaman dengan dokter yang melakukan USG kepadanya.
“Dok, gimana sih? Dari tadi saya diminta miring sana miring sini. Memangnya ada yang belum kelihatan apa bagaimana? Ibu hamil loh ini, Dok. Susah gerak,” rengek Septi.
Ibu Fatimah yang begitu mendewakan Septi juga sampai menegur si dokter. Matanya yang berlindung di balik cadar, melirik marah wanita baya yang menangani sang putri.
Sang dokter gelagapan. Ia menelan ludahnya beberapa kali, tampak ragu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena setiap akan menjelaskan, ucapannya seolah tertahan di tenggorokan.
Kok kesannya ada masalah, ya? Pikir Septi mulai waswas.
“Sudah, Dok. Katakan saja. Jenis kelaminn cucu saya kata dokter laki-laki. Udah kelihatan jelas dan bayi pun sehat dengan bobot normal. Detak jantung juga aman,” ucap ibu Fatimah tak sabar.
Sang dokter mengangguk-angguk. “Punten, Bu. Boleh saya bicara dengan Ibu? Bicara empat mata.”
Kenyataan sang dokter yang malah membawa sang mamah pergi dan berdalih akan berbicara empat mata, membuat Septi makin khawatir.
__ADS_1
“Kenapa sih, ya? Bayiku bermasalah apa bagaimana? Tapi katanya tadi sehat. Laki-laki, sehat, berat normal,” lirih Septi yang kemudian memandangi layar monitor hasil USG-nya. Jantung Septi seolah lepas ketika kedua matanya menyadari, di layar yang menampilkan hasil USG-nya itu, sang bayi hanya memiliki satu kaki. Kaki kanan bayi itu sungguh tidak ada.
Innalilahi, ... ini beneran mirip Supri! Batin Septi benar-benar syok. Ia sampai lupa bernapas. Ia menggunakan kedua tangannya untuk membekap mulut di tengah air matanya yang menjadi sibuk berjatuhan.