Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
229 : Pergi!


__ADS_3

“Sudah ... pak Haji si biang kerok sudah pergi. Harusnya semuanya aman, enggak sibuk ketawa lagi!” ucap ibu Kalsum sesaat setelah menutup pintu masuk di kediamannya.


Rombongan pak Haji termasuk dokter Andri, memang sudah pergi. Tinggal keluarga besar mereka yang dilengkapi keluarga Tuan Maheza, di ruang keluarga. Ruang keluarga yang sudah tak berupa karena sebagian bantal sofa saja sampai terserak di lantai.


“Widy mau ke klinik apa rumah sakit, buat cek kehamilan?” lanjut ibu Kalsum sembari bergabung dengan kebersamaan. Ia duduk di sofa sebelah sang suami yang masih memangku Aidan.


“Besok saja, Bu. Paling sekarang mau pamit istirahat saja,” balas Widy.


“Istirahatnya enggak usah ke hotel-hotel. Di sini saja, sudah banyak kamar juga. Itu di belakang juga lagi dibangun kamar lagi,” yakin ibu Kalsum yang kemudian berkata, “Kemarin ... bahkan mungkin sampai sekarang, mbak kamu galau sering diam-diam nangis kalau lihatin kamar tamu! Mungkin mbak kamu, ingat kalian. Jadi selagi di sini, dipuas-puaskanlah.”


Apa yang baru saja ibu Kalsum sampaikan sukses membuat Arum menjadi pusat perhatian. Arum refleks bersembunyi di bawah ketek sang suami.


“Kapan-kapan gantian, kalian yang ke Jakarta!” ucap Widy sengaja memohon.


“Nah, iya ... biar adil. Kalian juga menginap di rumah kita!” timpal Aleya yang kemudian saling berkode mata dengan Widy, apalagi mereka duduk di sofa yang berhadapan.


“Diatur saja waktunya. Pasti seru!” timpal Sekretaris Lim.


Mendengar Sekretaris Lim berbicara, Arum langsung keluar dari persembunyiannya. “Besok tunggu Widy apa Aleya lahiran, sekalian kondangan!” yakinnya.


“Masa iya, main ke Jakarta nunggu selama itu, Mbak!” balas Sekretaris Lim yang kemudian berkata, “Kalau enggak, besok pas kami balik ke Jakarta, kalian langsung ikut. Bagaimana?”


“Boleh-boleh! Nanti pas kami pulang, kalian ikut lagi, ya!” sanggup Arum yang kemudian tertawa. Tawa yang kemudian menular ke semuanya.

__ADS_1


“Nanti si Pak Haji dibawa juga, biar rame!” balas Aleya yang kemudian menyikut sang suami. Di sebelahnya, Tuan Maheza sudah sibuk menahan tawa, benar-benar tak karuan hanya karena mendengar nama pak Haji disebut.


Sementara itu, di tempat berbeda, Angga baru saja merapikan lemari beku penampung dagangannya, ketika seseorang mengetuk pintu dari luar sana.


“Dika, itu coba dilihat siapa yang datang. Pintunya dibuka saja, takutnya pembeli masih banyak, atau malah memang ada yang mau lahiran!” seru Angga. Karena sejak pagi sebelum salat Idul fitri, pembeli masih berdatangan, sekalian halalbihalal.


Lantaran Dika sedang makan opor ayam di dapur, ibu Sumini yang awalnya sedang memotong-motong ketupat dan memang menyiapkan untuk Angga, sengaja mengambil alih. “Biar Mamah saja yang buka pintunya! Mas, itu ketupatnya sudah Mamah siapin di mangkuk, ya. Tinggal disiram pakai opor saja!”


“Iya, Mah. Habis ini biar bisa langsung ke mas Aidan. Mamah juga siap-siap, ya. Mamah sama Dika karena aku bawa sepeda buat mas Aidan!” balas Angga bersemangat.


Ibu Sumini yang sempat berhenti melangkah, segera mengangguk sanggup. “Oke ... oke. Nanti Mamah sekalian mau bawa ketuat sama opor juga ke sana. Ada pecel juga, kan Mamah memang niat bikin banyak, buat dibawa ke sana juga.”


Angga yang balas menatap sang mamah, langsung tersenyum semringah sembari mengangguk-angguk.


“Mas mau pakai sambal?” tanya Dika yang kini memang menjadi adik patuh sekaligus anak tanggung jawab. Sekadar Angga mau makan saja, Dika akan segera menyiapkannya. Bahkan walau awalnya pemuda itu tengah lahap makan, Dika akan dengan sigap menyiapkannya juga untuk Angga yang sudah menjadi tulang punggung keluarga.


“Bentar, Dek,” balas Angga yang kemudian membuat Dika ikut mengawasi mamah mereka. Perubahan ekspresi ibu Sumini membuat mereka khawatir.


“Ibu, kenapa?” tanya Dika yang kemudian menyisihkan mangkuk berisi ketupat dan opor ayam milik Angga.


Dika langsung pergi ke depan untuk memastikan. Namun, baru di ruang depan yang juga menjadi ruang dagangan mereka dan di sana dihiasi empat lemari beku sekaligus, Dika sudah tidak bisa melanjutkan langkahnya.


“Ada apa, sih, Mah?” tanya Angga yang makin penasaran karena tampang ibu Sumini benar-benar syok, mirip orang yang baru saja melihat penampakan hantu.

__ADS_1


Tak mau makin penasaran, Angga segera keluar menyusul sang adik. Dan tak beda dengan Dika, hal yang sama juga menimpanya. Ia tak mampu melanjutkan langkah ketika ia sampai di ruang depan kontrakan petak berisi tiga ruangan yang ia pilih sebagai tempat tinggal sekaligus tempat usaha.


“Kalian tega, yah! Sudah hidup enak, sengaja enggak ajak-ajak!” seru seorang wanita bertubuh gendut dan kiranya bobotnya sekitar seratus sepuluh hingga seratus dua puluh kilo. Wanita yang tak lain Anggun.


Anggun yang penampilannya masih kumal khas pengemi*s, datang bersama keempat anak laki-lakinya yang tak kalah kumal. Kelimanya datang dalam formasi lengkap bersama Supri yang masih memakai tongkat bantu jalan.


Marah, itulah yang Angga rasakan. Apalagi cara Anggun sekeluarga yang tidak mengalami perubahan. Keenamnya begitu haus hidup enak tanpa ada sedikit pun rasa sungkan.


“Kalian mau ngapain?!” tegas Angga.


“Apa-apaan kamu tanya begitu? Mau kurang aj*ar kamu? Mau durhaka kamu berani larang-larang kami?!” kesal Anggun tak mau diusik.


“Pergi!” tegas Angga sengaja mengusir.


Dika langsung menatap takut Angga. Ia memilih melipir, mundur dan berdiri di belakang Angga. Karena tentu saja, jika ia diminta untuk berpihak kepada siapa, ia akan memilih Angga. Terlebih jika ia sampai memilih Anggun, yang ada ia hanya dijadikan sapi perah dan harus menghidupi kakaknya itu dengan suka rela.


Lain dengan Dika, ibu Sumini hanya bisa menangis di depan pintu. Ibu Sumini tak berani bergabung karena ia sudah bisa mengira apa yang terjadi jika keadaannya sudah seperti sekarang. Ibu Sumini sungguh tidak berharap, pertemuan yang diliputi ketidaknyamanan layaknya kini malah terjadi di hari yang fitri dan awalnya sudah dihiasi rencana indah karena mereka akan berkunjung ke Aidan.


“As*u emang kamu, Ngga! Enggak ada tanggung jawabnya blas! Hidup enak enggak ingat keluarga, aku sumpahi kamu bangkrut jadi gembel di jalanan!” kesal Anggun.


Angga menggeleng tak habis pikir menatap Anggun penuh kebencian. “Gara-gara mengikuti ego kamu, keluargaku hancur! Gara-gara kamu, ... semuanya benar-benar keluarga kamu! Dan jangan pernah ke sini, jangan pernah menjadi bagian dari keluarga ini lagi kalau niat kalian hanya untuk menjadi parasit!” tegas Angga yang kemudian berkata, “Aku bukan parasit. Maafkan aku yang dulu karena dulu aku terlalu gobl*ok membiarkanmu menjadikanku sapi perah!”


“Mbak Anggun!” teriak Dika ketika Anggun nekat menyeruduk Angga yang detik itu juga langsung mental dan berakhir di lantai setelah sebelumnya sampai terban*ting.

__ADS_1


__ADS_2