Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
51 : Arum Bukan Panti Sosial


__ADS_3

“Rum ...?” Masih berlinang air mata, ibu Sumini terisak pedih. Tak kalah pedih dari nasib kehidupannya yang langsung memaksanya bekerja rodi tak lama setelah Arum pergi.


Arum menahan napas dan menatap tatapan melas dari ibu Sumini yang sudah langsung ia ketahu maksudnya. Wanita itu masih mendekapnya walau tak seerat sebelumnya. Kini, ia berangsur menghela napas pelan seiring ia yang mengakhiri dekapan kedua tangan ibu Sumini dari tubuhnya, dengan sangat hati-hati. Arum paham ulahnya langsung membuat mantan mertuanya itu bingung. Yang mana Arum juga yakin, wanita yang tak segemuk saat ia masih turut mengurus itu mulai menduga-duga, maksud dari keputusannya mengakhiri dekapan. Tentunya bukan maksud baik dan pastinya tidak sesuai yang ibu Sumini harapkan.


“Sepertinya kabar Ibu, sangat tidak baik. Ibu bahakan sampai ada di sini. Ibu enggak di rumah ibu dan berbaur dengan cucu-cucu kebanggaan ibu yang selama ini selalu memperlakukanku lebih dari pembantu,” ucap Arum sesaat setelah melepaskan kedua tangan ibu Sumini dari tubuhnya. Seperti yang kalian duga, wanita di hadapan Arum langsung kebingungan, tapi juga sibuk mencari cara bagaimana caranya meminta maaf.


“Apa pun itu, Rum. I-bu benar-benar minta maaf. I-bu yakin, tanpa harus Ibu jelaskan, kamu pasti tahu!” mohon ibu Sumini, tapi Arum yang masih serius menyimaknya berangsur menggeleng pelan.


“Enggak, Bu. Saya enggak mau tahu, dan memang enggak mau tahu! Bukankah ini yang Ibu mau? Bukankah menyingkir-kan aku dari kehidupan Ibu sekeluarga, termasuk menyingkirkan Aidan yang selalu ibu katai anak se-tan, merupakan impian terbesar ibu?” Arum masih berucap lirih sekaligus halus.


Ibu Sumini makin tersudut pada wajah sekaligus tatapan sendu Arum yang jelas-jelas tengah menghakiminya secara halus.


“Lima tahun mengabdi, ... aku memperjuangkan kalian mati-matian. Aku sampai keguguran tiga kali. Saat hamil Aidan pun aku tetap full kerja demi Ibu sekeluarga yang berulang kali meng-hina bahkan mengamuk kepadaku. Terakhir saat aku pulang dari puskesmas setelah melahirkan Aidan juga langsung Ibu dan keluarga Ibu perlakukan jauh dari manusiawi.”


“Melahirkan sendiri, kasih biaya hidup termasuk mengurus penuh Ibu sekeluarga nyaris dua puluh empat jam. Terakhir di hari tiga aku setelah melahirkan Aidan, Ibu dan keluarga Ibu dengan bangga mengan-camku dengan talak dan perceraian hanya karena aku enggak mau nurut. Hanya karena aku, ... enggak mau dimadu dan menerima pernikahan Angga dengan Septi.”


“Ingat yah, Bu. Yang parasit rumah tangga itu kalian. Yang parasit rumah tangga itu benar-benar bukan aku, apalagi Aidan. Termasuk ketiga kakak Aidan yang walau masih di perut, sudah ibu dan Anggun anak kesayangan sekaligus kebanggaan Ibu sibuk sumpahi agar ma-ti. Yang parasit rumah tangga itu kalian! Coba lihat sekarang kalian seperti apa?” Walau Arum masih berucap sangat lirih, tapi ucapannya ini sampai sangat menusuk.


Ibu Sumini yang makin gelisah, berangsur meraih kedua tangan Arum. Ia kembali memohon. “Ibu mohon, Rum. Ibu mohon maafin Ibu!”


Arum mengangguk-angguk. “Aku memang sudah memaafkan Ibu. Bahkan sebelum Ibu meminta maaf. Buat apa juga berurusan dengan orang pi-cik seperti kalian. Nambah beban hidup saja!” balasnya masih berucap lirih dan kini tak sudi untuk sekadar melirik ibu Sumini. “Ya sudah, Bu. Aku harus pulang karena ini sudah malam dan Aidan juga sudah menunggu.”


“I-ibu ikut, yah, Rum. I-bu ikut kamu. Ibu mau kok bantu-bantu. Ibu mau bantu kamu jagain Aidan!” sergah ibu Sumini kian mengeratkan genggaman kedua tangannya terhadap kedua tangan Arum.


“Enggak, Bu. Enggak usah. Aku sudah punya tukang bantu-bantu. Yang mau bantu jaga Aidan dengan suka rela juga banyak.”

__ADS_1


“Ayolah Rummmm Ibu mohon. Kamu tahu, kan, Anggun jahat banget? Ibu sama Supri dan anak-anak saja sering digebu-gin sama dia.”


“Cukup, Bu. Tolong jangan dilanjutkan. Karena membahas Ibu sekeluarga termasuk menantu kesayangan Ibu sama saja mengo-rek luka lama. Terlalu menyakitkan, Bu. Tolong hargai aku yang sudah menjalani lembaran baru tanpa lagi dihantui masa lalu. Kalian yang membuangku, tapi kalian juga yang kesurupan sibuk meminta bantuan.”


“Urusan Anggun dan keluarga Ibu, itu urusan Ibu karena Ibu ibu. Ibu orang tuanya karena Ibu yang melahirkannya. Ini kan, didikan terbaik dari Ibu? Ibu enggak lupa kan, pas aku bilang baik-baik, minta Angga dan Ibu termasuk Anggun buat belajar hidup mandiri, belajar bekerja, ... bukannya didengar apalagi dihargai, Ibu sama Anggun malah langsung mengeroyok aku. Kalian gebu-gin aku, dan dengan bijaknya Angga yang ada di sana juga menyalahkanku.” Kali ini Arum menggeleng tak habis pikir. Ia menarik pak-sa kedua tangannya dari kedua tangan ibu Sumini.


“Aku sudah capek, ... aku sudah muak berurusan dengan Ibu sekeluarga. Ini sudah malam dan harusnya Ibu juga pulang! Cara Ibu sibuk meminta bantuan sekaligus pertolongan hanya bikin Ibu sekeluarga malu! Kalau Ibu beneran manusia, ... kalau Ibu beneran ibu, pulang dan didik keluarga Ibu! Bukan malah mengemis pertolongan dari satu orang atau dari satu rumah ke rumah lain!”


“Tapi Rum, kamu kan tahu, Anggun sekeras itu. Ngeri banget apalagi kalau dia lagi ngamuk!”


“Itu urusan Ibu! Sudah jadi risiko Ibu! Itu hasil didikan Ibu! Kebanggaan Ibu!” Saking kesalnya, Arum yang harus tetap menahan diri termasuk menahan suaranya, malah menjadi menangis.


“Sudah ... sudah, ayo kita pulang!” sergah Kalandra yang tentu saja tidak rela Arum berurusan dengan orang semacam ibu Sumini. Ia merangkul Arum, membawanya pergi dari hadapan ibu Sumini.


Ibu Sumini yang yakin dirinya akan diajak juga langsung membuntuti. Ia mengikuti Kalandra yang sudah membantu Arum duduk di sebelah setir. Namun karena pria gagah itu tak jua membukakan pintu penumpang di belakang Arum, ibu Sumini berinisiatif tetap mengikuti. Namun hingga akhirnya pajero hitam itu mesinnya dinyalakan dan perlahan pergi, ia tetap tidak diajak.


Setelah ada sepuluh meter melaju, Kalandra sengaja menghentikan laju mobilnya. Ia menurunkan kaca jendela di sebelahnya kemudian melongok dari sana. Ia menunggu ibu Sumini yang langsung makin bersemangat setelah ia menunggu di sana.


“Maaf, maaf, bentar, ya!” ucap ibu Sumini masih bersemangat, seolah dirinya memang akan diajak.


“Bu, maaf banget, ya. Kami minta maaf kalau kami salah, tapi maaf, enggak ada yang mau ajak Ibu. Saya enggak rela kalau Arum dan Aidan harus berurusan dengan orang seperti Ibu dan juga keluarga Ibu. NGERI!” tegas Kalandra.


Ibu Sumini yang sudah ada di hadapan Kalandra langsung terbengong-bengong saking syoknya pada apa yang baru saja Kalandra sampaikan.


“Sekarang Ibu pulang, ikuti arahan Arum sebelum keluarga Ibu benar-benar han-cur!” lanjut Kalandra. “Mulai sekarang enggak usah cari-cari Arum lagi karena itu hanya akan kembali melukainya. Arum akan menikah dengan saya, jadi sudah jelas, Ibu sekeluarga enggak ada alasan buat minta bantuan ke Arum lagi, apalagi ke Aidan saja kalian enggak peduli! Arum bukan panti sosial!”

__ADS_1


Walau Kalandra masih berucap lirih, tapi ucapan pria beraura kalem itu sangat menusuk. Kini, mobil Kalandra benar-benar pergi. Dan ibu Sumini yang ditinggalkan yakin seyakin-yakinnya, mobil itu tak akan kembali berhenti apalagi sampai menampungnya.


“Aku dan keluargaku memang sudah jahat banget ke Arum, tapi masa iya sekadar minta bantuan saja enggak boleh. Apa ya enggak jauh lebih jahat si Arum? Ada orang susah kok enggak mau nolong,” sedih ibu Sumini.


Menghela napas dalam, Ibu Sumini tak memiliki pilihan lain selain pergi karena ia tak mungkin kembali masuk ke rumah Septi. Walau Anggun tak kalah menyeramkan dari ibu Fatimah, setidaknya Anggun anaknya dan harusnya tak akan sekejam ibu Fatimah yang tega meng-hajar Septi anaknya sendiri.


“Besok kamu bisa ambil waktu buat libur, kan?” lirih Kalandra membuka obrolan dalam kebersamaan mereka karena jujur saja, melihat Arum yang semurung sekarang, ia sangat tidak tega.


Arum berangsur menoleh kemudian menatap pria di sebelahnya. “Ya enggak bisa Mas. Kalau aku libur, siapa yang masak buat pasien.”


“Tapi kamu butuh waktu buat istirahat lebih,” lanjut Kalandra.


“Enggak apa-apa, Mas. Aku malah bisa stres kalau enggak sibuk,” balas Arum.


“Nanti, ... kalau sudah menikah, ... kamu harus ambil banyak waktu buat istirahat. Kamu tahu maksudku, aku enggak bermaksud membatasi gerak kamu karena kalau kamu mau buka rumah makan skala besar pun aku akan dukung dengan senang hati,” lanjut Kalandra.


“Iya, Mas, aku ngerti. Paling nanti aku hanya urus masakan buat pasien dan orang rumah sakit, enggak sampai di kantin,” balas Arum. “Sambil nunggu yang punya lapak jualan lagi.”


“Nah, gitu saja. Nanti sambil cari lokasi buat rumah makannya. Itu pun nanti kamu jangan yang kerja full. Kamu cukup pantau dan sebelumnya cukup diajari, pelan-pelan dilepas biar kamu enggak capek sendiri.”


Obrolan Kalandra dan Arum kali ini benar-benar berbobot. Keduanya langsung membahas masa depan dan segala rencana yang akan mereka jalani. Dari sebelum menikah, hingga mereka menikah.


Berbeda dengan Arum dan Kalandra yang justru menemukan ketenangan dalam obrolan mereka, ibu Sumini yang tak sengaja memergoki gelandangan tengah meringkuk di teras ruko sembako sebelah gang menuju kontrakannya berada, menjadi bergidik.


“Yang benar saja? Ini kok mirip Anggun, ... ini Dafa, ... nah, Cantik pun sampai ada? Apa-apaan ini? Kok jadi begini?” lirih ibu Sumini benar-benar panik. Baru saja, Cantik yang ada di pangkuan Dafa karena Anggun malah asyik meringkuk sendiri, menangis.

__ADS_1


Miris! Ibu Sumini langsung terduduk lemas. Dari kedua matanya yang sibuk bergetar dan sudah sangat sembam, kini kembali melahirkan banyak butiran bening. “Apakah ini artinya, Anggun jauh lebih memilih menjadi pengemmis? Mereka enggak tinggal di kontrakan lagi? Ah, tinggal di kontrakan, memangnya siapa yang bayar?” Ibu Sumini berakhir dengan terisak pedih. Tak kalah pedih dari nasibnya sekeluarga setelah Angga justru menceraikan Arum.


__ADS_2