Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
246 : Penangkapan Supri


__ADS_3

Penangkapan kepada Supri dilakukan di keesokan harinya karena laporan yang Kalandra buat memang langsung diproses. Di sore menjelang petang dan Septi pun baru pulang jualan bersama Sepri.


Septi mendadak tidak bisa berkomentar ketika mengetahuinya. Dengan kepala dan kedua matanya, Septi melihat Supri dikawal oleh dua orang polisi, sementara seorang polisi sudah langsung menghampiri Septi, meminta keterangan dan semacamnya. Terhitung, ada tiga polisi yang datang ke sana dan ketiganya menggunakan mobil yang sama.


“Ternyata masih bisa dihukum,” batin Septi antara tak percaya, tapi juga bahagia lantaran pada akhirnya, Supri akan mendapatkan balasan. “Semoga dia mendapat balasan setimpal!”


Kalandra mendampingi Septi. Membantu Septi yang jadi kerap kebingungan, menjawab segala pertanyaan. Di depan sana, Anggun terus menyusul polisi yang memboyong Supri.


“Kembalikan suamiku!” kesal Anggun, tapi polisi yang sedari awal memberi tanggapan halus, kini tak segan membentak karena Anggun tidak bisa diajak kompromi.


Warga yang ada di sana kompak menonton penangkapan terhadap Supri, termasuk juga pak Haji yang baru pulang bulan madu bersama ibu Fatimah sekaligus Ojan. Tolatnya, pak Haji dan ibu Fatimah menambah dua hari dari jatah yang Kalandra beri. Namun sebelum mengetahui apa yang menimpa Supri, keduanya tampak sangat bahagia walau ada Ojan dalam kebersamaan mereka.


“Kamu ngapain lagi?” tegur pak Haji. Sementara ibu Fatimah yang ia gandeng dan kompak memakai setelan putih, pamit menemui Septi yang masih di teras depan kontrakan sambil mengemban Sepri. Ojan masih ibu Fatimah bawa sekaligus urus. Alasan yang membuat pak Haji makin mncintainya hingga m4mpus!


“Kamu bikin ulah apa lagi, sih?” tanya pak Haji heran. Namun setelah mengetahui penangkapan yang meninpa Supri karena kasus pemerkos44n yang Supri lakukan kepada Septi hingga lahir Sepri, pak Haji tak lagi peduli.


“Sudah, Pak. Lanjutkan! Taruh di Nusa Kambang juga enggak apa-apa, biar kalau dia coba kabur, bisa langsung buat pakan buaya putih yang ada di lautan sekitarnya!” tegas pak Haji.


Kemudian, tatapan pak Haji tertuju kepada Anggun. “Sudah, kamu juga jangan nangis! Sekarang kamu fokus berubah saja jadi bener karena kali ini, Supri pasti dipenjara sangat lama!” Di hadapannya, Anggun hanya mrengut sambil menatap sebal kepadanya.

__ADS_1


Baru semuanya ketahui, Anggun benar-benar cinta kepada Supri. Anggun cinta mati segalak apa pun wanita itu kepada Supri. Iya, Anggun telanjur bucin kepada Supri, bagaimanapun keadaan Supri. Dari segi fisik yang sudah tak memiliki kaki kanan, juga kelakuan bej4t Supri kepada Septi, Arum, maupun wanita lainnya.


Walau terlihat tidak rela, Anggun dipaks4 masuk kembali ke kontrakan oleh pak Haji. Supri sudah benar-benar pergi, tak ada lagi yang tersisa termasuk itu bunyi sirinenya. “Siap-siap shalat!”


Anggun menunduk lemas, dan berangsur minggir karena ada mobil yang memasuki area sana. Begitupun dengan pak Haji yang mendadak menyebut kedatangan mobil tersebut sebagai Ibu Pengacara dan ternyata malah Arum. Arum mengemudi sendiri. Tampak Aidan duduk di sebelahnya menggunakan sabuk pengaman. Arum menghentikan mobilnya tepat di hadapan Anggun. Arum sengaja memotong langkah Anggun.


Penuh emosi, Arum turun sambil menatap marah Anggun. Menutup pintu pun, Arum melakukannya dengan agak memb4nting di tengah tatapan marahnya yang terus tertuju kepada Anggun.


“Kamu ngapain? Mau pamer?!” kesal Anggun.


“Urusan kita memang belum selesai!” tegas Arum yang sudah langsung membuat Anggun bingung. “Dasar otak beb4l, ditegur berulang kali masih saja enggak paham!” kesal Arum masih menatap kesal kedua mata Anggun.


“MANA ANAKMU?” itulah yang Arum tanyakan sambil memamerkan Aidan. Aidan yang bersih, sehat, sangat terawat.


“Bayi merah yang dulu kamu anggap anak silum4n, anak dari laki-laki lain, kini sudah besar. Lihat, dia sangat sehat, sangat terawat! Bayangkan jika kamu masih menjadi bagian dari kami. Mungkin dia sudah terbunuuh olehmu!” lanjut Arum masih berkeluh kesah. “Sangat mirip Angga!” tegas Arum lagi. “Kalau kamu masih asal menuduh, aku enggak segan buat kasih kamu pelajaran!”


Kalandra berangsur menghela napas dalam, kemudian mengambil alih Aidan dari Arum.


“Sekarang, kamu benar-benar akan merasakan, bagaimana rasanya janda yang harus mengurus banyak anak. Banyak anak yang selalu kamu andalkan untuk mendapatkan simpati lebih!” tegas Arum makin sinis. “Yang bikin anak siapa, yang bayar buat keperluan lahiran siapa? Yang punya anak siapa, yang diwajibkan urus biaya hidupnya, termasuk merawatnya siapa? Memang pancen ot4k keropos!” Namun jujur, Arum ingin meng4muk. Hingga ketika Anggun tak terima, langsung berusaha menerk4mnya, ia langsung membuka tempat duduk penumpang belakang bekas Aidan duduk.

__ADS_1


Sebuah taflon berat Arum ambil dari sana. Arum menggunakanya sekuat tenaga untuk men4mpar pipi kiri Anggun. Tubuh Anggun sudah langsung oleng dan berakhir terbanting.


“Lagi, Mbak ... lagi. Biar sadar. Sudah puluhan purnama berlalu, masih enggak sadar juga!” Septi benar-benar bersemangat menyaksikannya.


“Ya kamu juga ikut, Sep! Sekalian diserudug b4nting, Sep!” ucap pak Haji paling girang jika melihat Septi mengeluarkan jurus andalan yaitu seruduk banteeng.


Septi tertawa puas termasuk itu ketika sekali lagi, Arum menggunakan taflonnya untuk menghant4m punggung Anggun hingga wanita bertubuh sangat besar itu refleks berucap “Hek!”.


“Kamu beneran masih mau begini? Enggak malu itu dilihatin orang!” kesal Arum lagi. Ia sungguh geregetan, kenapa Anggun tetap saja tidak mau belajar?


“Kamu yang enggak punya apa-apa saja begitu sombong. Apa kabar kalau kamu sampai dikasih rezeki?” lanjut Arum. “Sekali lagi aku ucapkan, ... SELAMAT! SELAMAT KARENA MULAI SEKARANG, KAMU BENAR-BENAR MENJADI JANDA YANG MEMILIKI BANYAK TANGGUNGAN ANAK!” tegas Arum masih menatap Anggun penuh peringatan.


“Seperti yang Arum katakan, selamat karena akhirnya cita-citamu jadi janda punya banyak anak dan juga banyak tanggungan, terwujud. Padahal di luar sana, banyak janda yang benar-benar tangguh. Urus anak, urus keluarga. Semuanya sungguh diurus. Lah kamu, urus diri kamu saja kamu malas! Emang dasar pemalas kamu!” tegas Kalandra. Ia memboyong Arum untuk mempir ke kontrakan Septi, bersiap shalat berjamaah di masjid sebelah.


“Sakitnya benar-benar berkali lipat!” batin Anggun yang sekadar bangun saja jadi kesakitan gara-gara tampolan taflon Arum.


“Kamu dengar, kan, anak-anak kamu masih sangat butuh kamu! Sudah bangun!” tegas pak Haji. Ia masih bersabar menunggu Anggun bangkit lantaran takut wanita itu minggat. “Namun andai dia berani minggat, harusnya dia kembali karena dia enggak punya tempat tinggal lagi,” batinnya.


“Urus anak-anak sendiri? Bagaimana bisa? Si Angga bakalan tetap bantu, kan?” batin Anggun belum apa-apa sudah stres padahal baru memikirkannya saja.

__ADS_1


__ADS_2