Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
242 : Pawangnya Pak Haji


__ADS_3

Acara ijab kabul pak Haji dan ibu Fatimah akan segera dilangsungkan di masjid milik pak Haji. Acaranya disaksikan oleh ketua RT maupun ketua RW.


Kedua istri pak Haji juga turut hadir bersama anak dan cucu masing-masing. Sementara dari pihak ibu Fatimah diwakili oleh Septi dan Sepri, selain pak Yusuf yang masih duduk di kursi roda. Septi sengaja memaksa papah kandungnya itu untuk hadir mengingat mereka memang tak lagi memiliki sanak saudara. Wali nikah untuk ibu Fatimah saja, wali hakim.


Belum apa-apa, rombongan Kalandra yang datang dengan formasi lengkap, sudah sibuk menahan tawa. Apalagi ketika kedatangan Ojan yang memakai pakaian lengkap dengan aksesori serba pink, malah mengambil mikrofon dari tengah meja ijab kabul.


“Maboook jandaaaa ... mabooook jandaaa. Istri banyak sampai lupa!” nyanyi Ojan dengan cengkok dangdut yang sangat pas. Ia melakukannya sambil bergoyang ria hingga sebagian dari mereka yang melihat tak hanya heran, tapi juga tertawa.


“S-sayang,” bisik Arum yang diam-diam memerhatikan Ojan dengan saksama. Namun sesekali, ia juga menatap Kalandra yang sedari awal acara, menjadi orang paling sulit mengendalikan tawa.


Sambil menahan senyumnya, Kalandra menatap sang istri. “Kenapa, Yang?”


“Itu ... aku perhatikan si Ojan kok kayak, kurang, ya? Kelakuannya enggak kayak anak sebayanya.” Arum masih berbisik-bisik.


Kalandra yang memangku Azzura, segera mengawasi tingkah Ojan. Kedua mata bocah itu memang juling, sementara kedua tangannya sangat jarang diam. Selain itu, tubuh Ojan juga kurus ceking. Mungkin semua kenyataan tersebut pula yang membuat Arum berpikir, Ojan kurang normal. Ditambah lagi, bocah itu juga tak mau diam. Tak hentinya lari ke sana ke mari dan kerap bicara sendiri.


“Semacam indigo kayaknya sih tuh anak,” bisik Kalandra.


“Efek kurang urus, kurang kasih sayang kayaknya, yah, Pah. Lihat, setiap keluarga dari istri pak Haji saja, kayak yang sengaja jaga jarak. Berasa kubu-kubu di drama,” balas Arum.


“Ambil positifnya, tapi kalau isinya memang hanya negatif, ... jangan,” balas Kalandra yang kemudian langsung tersenyum ceria hanya karena ia menatap wajah sang putri. Karena untuk pertama kalinya Azzura memakai gamis lengkap dengan jilbab.


“S-sayang ...,” lirih Kalandra yang kembali mengusik Arum.

__ADS_1


Arum yang tengah memperhatikan usaha ibu Fatimah dalam menenangkan Ojan agar bocah itu mau duduk di sebelahnya, langsung terusik. Ibu Fatimah meminjam ponsel Septi untuk memutar video lagu anak, agar Ojan mau diam.


“Kenapa, Pah?” Arum berbisik-bisik sembari menatap Kalandra. Namun baru saja, ia menimang Aidan yang merengek terbangun di pangkuannya.


“Mau yang begini lagi,” bisik Kalandra sambil memamerkan Azzura dan menatapnya penuh harap.


Arum langsung tersipu bersama hatinya yang sudah langsung berbunga-bunga. “Tap kayaknya, walau hamil lagi, keluarnya cowok, Pah.”


Kalandra langsung mengerjap serius. “Kata siapa? Kok Mamah tahu?”


“Lihat lipatan di paha mas Azzam sama mbak Azzura. Cuma ada satu. Kata orang tua, kalau satu artinya adiknya laki-laki. Tapi kalau ada dua, katanya perempuan,” balas Arum sambil menahan senyumnya.


Kalandra langsung cemberut memasang wajah manja. “Yah, ... pengin perempuan lagi padahal. Soalnya lihat yang begini lucu banget. Gemes banget.”


“Kalaupun enggak punya anak perempuan lagi, nantinya kan kita punya menantu perempuan. Contoh orang tua Mas. Yang enggak membeda-bedakan mau menantu atau anak,” balas Arum mencoba memberi sang suami pengertian.


“Papah merasa tersindir karena Papah terlalu fokus ke mbak Azzura,” ucap Kalandra menyesal.


“Nah itu ... memang belum ada orang tua yang lebih baik dari orang tua Papah. Karena aku pun belum bisa seadil mereka. Lihat mas Aidan. Sampai sekarang mas Aidan masih dibawa dinas ke sana kemari. Sampai dibawa ke kampanye. Gara-gara itu juga, mas Aidan sampai dikira adiknya Pak Kalandra!” balas Arum semringah dan memang sengaja menyindir. Di sebelahnya, Kalandra langsung mengangguk-angguk paham, menyesali kenyataannya yang belum bisa menjadi papah sekaligus orang tua baik.


Kalandra berangsur merangkul pundak Arum menggunakan tangannya yang tak menyangga kepala Azzura. Azzura masih anteng tidur, walau suasana di sana sudah tidak bersahabat. Terlebih Ojan saja masih membuat ibu Fatimah sibuk menenangkan. Beruntung, segelap apa pun masa lalu ibu Fatimah, wanita itu terlihat paling waras sekaligus sabar menghadapi Ojan. Daripada kedua istri pak Haji dan juga keluarganya yang terlihat jelas tidak bersimpati.


Lima belas menit kemudian, setelah suasana menjadi lebih kondusif dan Ojan juga sampai tidur di pangkuan ibu Fatimah, pak Haji siap melangsungkan janji sucinya dengan ibu Fatimah.

__ADS_1


“Si Ojan hoki banget. Belum apa-apa sudah bisa bobo di pangkuan Umi Fatimah,” keluh pak Haji yang kemudian melepas kacamata Ojan. Dalam hatinya ia berujar, keputusannya memilih ibu Fatimah memang tepat.


“Ternyata alasan Alloh enggak izinin saya dapat janda incaran yang lain karena memang hanya Umi Fatimah yang paling pas buat saya maupun Ojan!” batin pak Haji. Dadanya menjadi berdebar-debar, selain di dalam sana yang seolah mendadak dihiasi taman penuh bunga warna-warni yang begitu indah.


Kemudian, yang pak Haji rasakan adalah deg-degan. Walau bukan ijab kabul pertama, rasanya tetap beda. Sensasi gugup sekaligus tegang, sampai membuat pak Haji panas dingin. Keringat dingin mengalir dan perlahan membuat pria itu kebelet pipis.


“Jangan sampai salah, Mbah. Kalau salah, wajib bayar denda tujuh ekor sapi!” ucap Angga yang memang turut hadir di sana bersama sang ibu.


Pak Haji langsung tertawa tak berdosa apalagi ketika Angga sampai bilang, andai pak Haji salah dalam ijab kabulnya, pak Haji wajib menikahi ibu Sumini.


“Saya terima, nikah dan kawinnya Siti Fatimah Azzahra binti Abdulah Ar Rahman, dengan mas kawin dua belas kontrakan berikut tanah sekaligus sertifikat, dibayar ... TUNAI!” ucap pak Haji pada akhirnya dan memang langsung berhasil hingga kata SAH! Dari saksi di sana, langsung pak Haji dapatkan.


Anehnya, pak Haji langsung kalem dan tak sampai melakukan hal-hal aneh untuk merayakan kesuksesannya yang akhirnya sah memper istri ibu Fatimah. Namun setelah diselidiki, ternyata tangan kiri ibu Fatimah sudah mencubit keras perut pak Haji.


Rombongan Kalandra yang diam-diam mengetahui jurus jitu ibu Fatimah, langsung berkerumun. Mereka kompak menahan tawa, yakin jika ibu Fatimah memang pawangnya pak Haji.


“Sudah tua, jangan pecicilan terus. Kasih contoh yang baik. Lihat, anak sama cucu saja sudah banyak!” omel ibu Fatimah.


Pak Haji hanya mengangguk-angguk pasrah dan tak bisa berhenti meringis lantaran lipatan di perutnya masih ditahan oleh ibu Fatimah dalam cubitan keji.


“Memang pawangnya pak Haji!” ucap dokter Andri sambil menahan senyumnya.


“Ya jadi enggak bikin gemes lagi!” timpal Sekretaris Lim hingga kebersamaan mereka kembali diwarnai tawa walau lagi-lagi, mereka harus menahannya.

__ADS_1


__ADS_2