
“Kasih kesempatan, ya ... tolong. Sekali saja.” Dokter Andri tidak tahu, kenapa lidahnya mendadak kelu. Malahan, makin ia menatap kedua mata Widy, makin tak karuan juga kewarasannya. Ia menjadi merasa sangat tegang sekaligus gugup, selain jantungnya yang sudah mirip genderang perang. Berisik, benar-benar tak karuan.
“Aku yakin mamahku sudah bikin kamu sakit banget, dan aku benar-benar minta maaf. Namun juga, tolong beri aku kesempatan, apalagi Nissa juga sudah langsung cocok sama kamu.” dokter Andri yang masih berucap lirih, benar-benar memohon pada Widy yang menjadi membeku dan terus saja menunduk.
“Rasa-rasanya, sinyal janda saya jadi eror deh gara-gara puasa. Biar lebih fokus beribadah apa gimana ini? Harusnya ini dek Widy, apalagi ini ada pak Dokter,” ucap pak Haji yang tak segan melongok wajah Widy maupun dokter Andri.
Pak Haji langsung tersenyum tak berdosa setelah yakin, bahwa wanita yang ada di hadapan dokter Andri memang Widy.
“Apaan sih, Mbah?” tegur Widy, tapi sebelum pergi, ia menerima sapu tangan pemberian dokter Andri untuk mengeringkan matanya. Malahan, ia sampai ganti masker lantaran ulah Septi membuat sebagian maskernya basah.
Tak lama kemudian, bersama dokter Andri, Widy membantu Septi. Terkadang ikut menyiapkan jualan, tapi tak jarang juga memposting foto maupun video es Septi. Sementara yang dilakukan pak Haji, pria itu mendadak sholawatan, dan Widy berpikir kenyataan tersebut terjadi lantaran waktu buka puasa sudah semakin dekat.
“Maaf yah, Sep. Aku enggak bisa lama-lama, soalnya anak-anak sudah nunggu. Apalagi yang pertama kan sudah belajar puasa setengah hari, dan aku sudah janji bakalan buka bareng mereka.” Widy pamit setelah membantu Septi. Baik bantu jualan secara langsung, maupun mempromosikannya di sosial medianya.
“Ya sudah, enggak apa-apa. Kamu mau datang, dan sampai bantu begini, aku juga sudah senang banget. Ini, sekalian.” Septi mengambil satu kantong gorengan yang disiapkan oleh ibu Fatimah kemudian memberikannya kepada Widy bersama satu kantong es gepluk dan sudah ia siapkan secara khusus.
Widy kebingungan. “Enggak usah, Sep. Kamu kan dagang. Sudah enggak apa-apa, lagian aku sudah ada nih.” Karena Widy juga sudah beli, dibelikan oleh dokter Andri. Dokter Andri membeli es maupun gorengannya untuk mereka bawa pulang. Yang dengan kata lain, Widy memberi dokter Andri kesempatan. Namun andai mamah dokter Andri tetap tidak bisa menerima, tentu Widy akan langsung mundur.
“Issssh, jangan gitu. Ini bawa buat yang di rumah, jangan nolak rezeki. Kalau kamu nolak, aku tersinggung! Ngamuk aku!” ucap Septi sengaja mengancam.
__ADS_1
“Nih anak beneran sudah baik, ya?” pikir Widy yang tidak memiliki pilihan lain, selain menerima.
“Dek Widy, ... kalau saya antar Dek Widy pakai mobil, mobil saya kandas enggak? Tapi asal jangan cinta saya yang kandas, sih. Oke-oke saja. Mobil kan bisa dibenerin, kalau hati kan urusannya susah!” ucap pak Haji bersemangat. “Apa harus pakai kereta kencana? Kalau iya, takut kudanya encok soalnya jalan ke sana beneran mirip badannya Septi. Penuh terjal dan menantang!”
“Ih, Pak Gede apa-apaan! Masa iya jalannya disamakan dengan badan aku? Gini-gini, sudah turun satu kilo lagi, loh!” protes Septi.
Widy sudah langsung sibuk menahan tawa, terlepas dari Widy yang yakin, sebentar saja ia bertahan di sana, ia bisa ngompol karena pak Haji sangat cocok jika berdebat dengan Septi.
“Enggak apa-apalah, Sep. Toh, kamu belum langsing. Biar pahalamu juga enggak kalah gede dari badan kamu!” yakin pak Haji buru-buru jadi satelit Widy yang sudah langsung pamit.
“Ini saya mau ngojek ke siapa? Kalau ke rumah kamu, saya enggak berani jalan sendiri karena jalan ke sana beneran bikin istighfar. Takut stroke apalagi gegar otak kalau saya sampai jatuh. Kalau jatuhnya di hati apalagi cinta kamu sih enggak masalah. Lah kalau jatuhnya di jalanan yang mirip tubuhnya Septi? Koid iya, pensiun jadi musafir cinta. Iya kalau di akhirat juga ada komunitas peduli janda. Lah, kalau di akhirat isinya cuma timbangan amal ibadah sewaktu masih hidup jadi manusia?” Pak Haji heboh, tak rela ditinggal Widy yang sudah bersiap di motornya.
“Itu bisa-bisa, bentar lagi si Fajar pamer test pack, tapi dia yang hamil, bukan wariyemnya!” lanjut pak Haji yang memang sudah duduk cantik di boncengan motor dokter Andri. “Ini dokter mau antar Widy pujaan hati saya, kan, Dok? Kalaupun enggak, tolong antar saya, saya ngojek gitu kayak pas ke Angga kemarin, tapi pas adegan bayar, kamu jangan mau dibayar! Oke?” lanjutnya.
Dokter Andri yang diam-diam menyimak, sudah sampai menangis karena tawa yang ia tahan. “Pas adegan dibayar, jangan mau dibayar? Ya Allah, Mbah satu ini kok lucu banget. Gemes banget, lama-lama jadi pengin cubit dia pakai gunting bedah! Bisa-bisanya ada orang kayak gini!” batin dokter Andri.
Demi keamanan Widy, walau adzan magrib juga akan segera tiba, dokter Andri sengaja mengawal hingga jalan depan rumah wanita itu. Layaknya saat Angga, dokter Andri juga langsung putar balik tanpa pamit bahkan sekadar menekan klakson demi jaga-jaga ke tetangga yang biasanya jadi gudang gosip.
“Kamu enggak mau dibayar, kan?” todong pak Haji setelah dokter Andri mengantarnya hingga depan lapak Septi yang sudah sepi.
__ADS_1
“Saya ikhlas, Mbah. Dan saya langsung pamit, ya,” balas dokter Andri.
“Ya ... ya. Semoga kamu masuk surga, ya!” ucap pak Haji sengaja mengusir karena takut dokter Andri minta bayaran.
“Alhamdullilah, Mbah. Tapi jangan sekarang karena saya belum mau meninggal,” balas dokter Andri sambil mesem, tapi malah membuat pak Haji terbahak.
“Diam-diam kamu lucu, ya?”
“Ya sudah, Mbah. Assalamualaikum!”
Perpisahan dengan pak Haji, membuat dokter Andri ngebut apalagi jalanan yang awalnya sempat macet efek ngabuburit, sudah sangat sepi. Hanya beberapa pengendara motor saja yang lewat hingga ia juga sampai rumah dengan cepat. Membawa empat kantong hasilnya ngabuburit bersama Widy, dokter Andri masuk rumah dan langsung disambut antusias oleh sang putri yang sedang berbuka puasa. Di ruang makan megah kediaman mereka, putri semata wayangnya itu berbuka sendiri.
“Papah bawa banyak jajan buat Nissa. Nih, ada es enak.” Dokter Andri langsung menyuguhkan es gepluk Septi dan langsung dipuji enak oleh sang putri.
“Nissa suka? Kalau suka, besok Papah beliin lagi,” ucap dokter Andri dan langsung disambut senyum girang oleh sang putri yang juga langsung memakan es gepluknya sendiri tanpa lagi disuapi.
“Jam segini baru pulang? Bukannya kamu pulang dari puskesmas sekitar pukul tiga sore?” ucap ibu Muji sambil melepas mukenanya dan menatap dokter Andri dengan tatapan marah.
Dokter Andri balas menatap sang mamah dengan tatapan tak kalah marah. “Aku mau bicara serius sama Mamah. Tapi bentar, aku batalin puasa dulu sekalian shalat maghrib.” Seolah sudah tahu arah pembicaraan yang ia inginkan, ibu Muji langsung melengos, memasang wajah menyebalkan. Wanita itu tampak tak sudi berurusan dengannya hanya karena ia meminta waktu dan itu untuk membahas hal serius dan tampaknya sudah langsung bisa ibu Muji tebak.
__ADS_1