
Dokter Andri : Selamat pagi, Mbak. Mbak, kalau ada keluhan langsung WA saja. Kalau memang ada yang mendesak, nanti saya ke rumah Mbak.
Pagi-pagi sekali, Widy sudah mendapat WA dari dokter Andri. Widy yang memang baru membuka ponselnya refleks menghela napas dalam. Ia yakin, dokter Andri masih sangat merasa bersalah. Atau malah, pria itu juga takut diperkarakan ke polisi.
Mbak Widy : Pagi juga, Dok. Alhamdullilah, Dok. Nanti jika ada apa-apa pasti saya kabari. Harusnya sih jangan ada apa-apa lagi dan obat yang Dokter kasih, semoga jadi obat terakhir yang harus saya konsumsi.
Dokter Andri : Lekas sembuh, Mbak.
Widy agak terkejut lantaran dokter Andri begitu cekatan membalas pesannya. Pria itu seolah memang sengaja menunggu balasannya.
“Ya sudahlah, ... semoga saja beneran cepat sembuh karena sakit sama ngilunya sungguh luar biasa,” ucap Widy yang kemudian membangunkan setiap anaknya. Ia harus segera memandikan ketiganya bahkan walau hanya dengan satu tangan karena sang mamak tidak sepenuhnya bisa ia andalkan.
Suasana rumahnya sudah ramai oleh pembeli yang sebagian besar tengah membeli sayur sebelum mereka pergi ke sawah. Widy pun walau merasakan sakit luar biasa di luka-lukanya, tetap menjalani aktivitas seperti biasanya. Dagang, mengurus anak, bahkan juga tetap pergi ke sekolah untuk mengajar.
Pulang sekolah Widy sengaja tidak ke pasar maupun ke rumah makan Arum karena ternyata rasa sakit di tangannya makin terasa kuat. Widy mengambil kesempatan tersebut untuk istirahat, meski nyatanya tetap tidak bisa karena ketiga anaknya terus mencuri perhatiannya dan sebisa mungkin berlomba mendapatkan perhatiannya.
Status WA Widy : Hari ini saya libur dulu, ya. Semua orderan akan kembali dibuka hari besok atau lusa. Slow respons juga, lagi kurang enak badan. Termasuk semua les, untuk sementara baru bisa lanjut lusa 🙏
Mas Angga : Kamu sakit apa?
Widy : Kemarin habis kecelakaan, Mas.
Widy tidak menyangka status WA yang ia pasang tersebut malah membuat ponselnya dihiasi banyak pesan yang mempertanyakan keadaannya dan salah satunya pesan dari Angga.
“Duh, padahal biar enggak ada yang nunggu-nunggu. Apa hapus saja, ya?” pikir Widy sambil memangku putranya yang berusia nyaris genap dua tahun dan memang sedang aktif-aktifnya hingga tidak bisa diam.
__ADS_1
Ketika Widy mengecek status WA yang ia pasang, ternyata yang melihatnya sudah langsung lebih dari lima puluh akun. Akun dokter Andri bahkan Pongah, menjadi yang turut melihatnya.
“Si Fajar ngapain sih masih ngintip-ngintip? Padahal alasanku enggak hapus nomornya biar dia tetap bisa lihat tanpa dia, aku tetap bahagia,” batin Widy.
Mbak Arum : Pesanan bebek apa ayamnya enggak usah dicancel. Nanti Mbak yang antar langsung ke sana sama mas Kala. Paling kamu minta yang beli untuk sementara enggak bisa antar COD.
Mbak Arum : Terus sekalian, kamu butuh sayuran apa saja? Mbak yang belanjakan, nanti tinggal hitung di rumah. Nanti aku belanjanya ke tempat kamu biasa, kamu kabari penjualnya saja.
Mas Angga : Kalau banyak yang pesen nugget, terima saja. Nanti aku antar, Dy. Paling kamu bilang ke yang beli enggak bisa COD karena kamunya lagi sakit dan enggak memungkinkan antar-antar.
Pongah : Stiker menangis.
Widy terbengong-bengong membaca semua pesan tersebut. Terakhir, Pongah yang tak lain kontak WA Fajar mendadak memberinya stiker menangis, tapi buru-buru dihapus lagi.
“Ketahuan banget masih belum move on!” Widy tersenyum jahat menatap ruang obrolan WA-nya dengan Fajar yang terakhirnya berisi pesan-pesan penagihan pinjaman darinya.
“Ayang! Kok Ayang kelihatan sedih banget?!” sapa Septi manda dan berangsur berdiri meninggalkan tempat duduknya. Ia langsung mendekap manja sebelah lengan Fajar, tapi ia memergoki kedua tangan calon suaminya tengah memegang ponsel.
“Jar, ... Jar. Habis dapat yang mirip model, kamu malah mau nikahnya sama model gajah duduk!” ucap bapak-bapak tukang parkir di depan bank Fajar bekerja telanjur jujur.
Fajar yang masih galau karena yakin Widy masih sakit, hanya kebingungan karena tadi ia tidak fokus dan tidak sepenuhnya dengar apa yang pak tukang parkir katakan.
“Model cap gajah duduk? Itu maksudnya, aku?!” kesal Septi tapi hanya dibalas tawa renyah oleh tukang parkir yang memilih menyapu area parkir sekaligus sekitar jalannya.
“Ayang mau datang kok enggak bilang-bilang?” tanya Fajar yang mulai mencoba fokus ke Septi.
__ADS_1
“Nah, iya ... soalnya bosen di rumah terus!” jawab Septi masih mendekap erat sebelah lengan Fajar menggunakan kedua tangannya.
“Ya elah Yang ... Yang, enggak bersyukur banget sih kamu. Di rumah sebagus itu saja bosen, apalagi kalau jadi mereka yang tinggal di kontrakan sempit bahkan kumuh?” balas Fajar yang kemudian meminta Septi untuk jauh lebih sabar sekaligus bersyukur.
Ketar-ketir, itulah yang langsung Septi rasakan. “Lah memang kenyataannya begitu,” ucapnya. Padahal maksudnya, memang kenyataannya ia tinggal di kontrakan sempit bahkan kumuh.
“Ya yang sabar. Nanti kalau sudah tinggal bareng pasti beda. Enggak bosen terus!” balas Fajar yang dalam hatinya langsung berkata, “Sumpah lah, aku pengin cepat-cepat nikah sama Septi, biar secepatnya pensiun dari kehidupan susah!”
“Iya, aku juga sabar kok walau sebenarnya beneran sudah pingin banget tinggal jadi keluarga samawa sama Ayang!” ucap Septi yang dalam hatinya malah berkata, “Bosen tahu, hidup susah terus. Aku beneran pengin cepat-cepat nikah sama Ayang, biar bisa hidup enak dan enggak usah capek-capek kerja!”
Suasana memang sudah sore, sekitar pukul tiga sore dan kini menjadi waktunya pulang untuk karyawan bank termasuk itu pak Mukmin. Namun lantaran Septi dan Fajar masih di depan pintu, bos dari Fajar itu tidak bisa lewat.
Pak Mukmin sengaja menggedor pintu kaca di hadapannya. Namun karena tetap tidak bisa mengusik keromantisan Fajar dan Septi yang kalau sudah bertemu bak dunia hanya milik berdua, pak Mukmin sengaja melepas sepatu sebelah kanannya dan melemparnya ke punggung Fajar.
Satu sepatu tidak mempan, membuat pak Mukmin melanjutkan dengan sepatu kirinya. Sudah melepas kedua sepatunya tetap tidak ada perubahan, pria bertubuh gempal itu teriak marah-marah. Bak anak kecil yang kepergok, Fajar dan Septi langsung kocar-kacir. Fajar langsung mengambilkan kedua sepatu bosnya bahkan berusaha memakaikannya.
“Ya Alloh, kaget banget!” batin Septi yang memang sampai gemetaran.
Di rumah makan, Arum tengah menyiapkan semua pesanan Widy. Ia menyiapkannya sambil memantau Aidan yang sibuk jalan ke sana kemari di sekitar dapur.
“Mas, ayo ikut Mbah Uti, jangan di dapur. Bahaya!” tegur ibu Kalsum terus mengawasi. “Ayo kita nonton Mbah Haji itu lagi nyanyi.”
“Senangnya dalam hati, bila tambah istri lagi. Dunia ini serasa hanya aku yang memiliki!” lantun pak Haji di luar sana.
Setelah dua hari kemarin absen dan memang tidak datang ke rumah makan, dari siang ini pria itu datang. Langsung makan, bayar, curhat ke Arum kalau lamarannya ke ibu Fatimah ditolak lagi. Dan kini, pria itu masih sibuk karaokean.
__ADS_1
Jadi, bukan hanya Fajar yang belum move on dari Widy. Karena pak Haji juga merasakannya pada Arum dan ibu Fatimah.