
Di teras kontrakan, Dafa yang baru keluar dari tempat tinggalnya, tak sengaja memergoki sang nenek. Wanita tua yang kini menjadi tak segemuk saat Arum masih menjadi bagian mereka itu duduk di teras, menyandar pada tembok bercat hijau yang penuh coretan pulpen. Selain tampak sangat lesu, tatapan ibu Sumini juga kosong.
“Mbah, ... Mbah lagi ngapain? Daripada bingung karena hari ini enggak ada yang bisa dimasak buat dimakan, yuk aku tabrakin Mbah ke mobil, biar Mbah dapat banyak bantuan dan aku pun bisa makan enak!” ucap Dafa bersemangat dan buru-buru jongkok di depan sang nenek.
Ibu Sumini yang masih bisa mendengar dengan baik walau ia tengah merenung, langsung menatap kesal sang putra. “Daripada kamu nabrakin Mbah, mending kamu tabrakin saja tuh mamah kamu yang enggak berguna.”
Dafa menyimak dengan serius.
“Sampai sekarang, mamah kamu enggak pernah urusin kamu sama adik-adik, kan? Kalau bukan Mbah yang urus kalian termasuk urus bapakmu, kalian pasti sudah ngemis di jalanan!” lanjut ibu Sumini meledak-ledak saking geramnya. Kedua tangan yang awalnya mendekap kedua lututnya, berangsur menekap wajah. Ia menangis, berlinang air mata dan tak mau sang cucu menyaksikannya.
“Ya sudah, Mbah. Sekarang Mbah jangan nangis. Nanti kalau mamah tetap enggak berguna, aku bakalan beneran tabrakin dia, biar dia berguna dan kita juga bisa makan enak!” janji Dafa sambil mendekap erat sang nenek. “Aku sayang Mbah karena setelah enggak ada Lik Arum dan Lik Angga pun dipenjara, hanya Mbah yang masih mau mengurus aku!” Alasannya mendekap erat sang nenek dan memintanya untuk tidak bersedih, memang seperti yang ia katakan. Sebab setelah Arum dan Angga tidak lagi menjadi penghuni kontrakan, satu-satunya yang mau mengurusnya hanya sang mbah.
Ibu Sumini tetap mengurus, memasak, membereskan segala sesuatunya di tengah keterbatasan wanita tua itu. Meski ibu Sumini tidak secekatan Arum, ibu Sumini bahkan kerap lupa dan parahnya tidak bisa membedakan mana yang micin, garam, dan juga gula, bagi Dafa usaha sang nenek jauh lebih harus dihargai. Tak apa, gara-gara sang nenek, teh yang harusnya manis malah rasa micin. Tak apa walau gara-gara nenek, sayur yang ia makan hanya berasa garam. Karena di tengah keterbatasan yang kadang nyaris membuat orang serumah keracunan itu, ibu Sumini sudah mencurahkan kepeduliannya dengan sungguh-sungguh. Daripada Anggun yang hobinya hanya tiduran dan Cantik saja sampai kurus tak terawat walau bayi itu disanding oleh Anggun yang sibuk menonton drakor.
“Mah, aku lapar lho. Bagi duit kenapa, itu Mbah enggak masak gara-gara enggak ada yang buat dimasak.” Dafa sungguh mendatangi sang mamah yang masih rebahan di kasur.
“Berisik ah, sudah sana pergi, jangan ganggu. Nanti Mamah kalah!” usir Anggun tetap fokus pada layar ponsel yang turut tengah ia sentuh pelan. Ia menyentuh layar ponselnya dengan sangat hati-hati.
Dafa merengut, menatap sebal ulah sang mamah yang makin hari makin menyebalkan. Makin lama, Anggun sungguh makin tidak manusiawi bahkan kepada anak-anaknya sendiri.
“Menang gimana, sih, Mah? Kamu enggak macam-macam, kan? Kamu enggak judi online?” sergah Supri yang untuk bisa berjalan wajib menggunakan dua tongkat bantu.
__ADS_1
“Kamu enggak usah ikut campur deh, Mas. Sudah bunttung, berisik, ... enggak guna banget! Mending sekarang kalian ke pasar apa ke jalanan buat ngamen biar dapat uang. Kalian lapar, kan?” cibir Anggun masih serius dengan kesibukannya memainkan ponsel
Supri yang sudah berdiri di sebelah Dafa, menggeleng tak habis pikir. Ia menatap kesal wanita di tengah kasur itu. Sudah tubuhnya memenuhi kasur meski kasurnya terbilang besar, dekil dan bau pula si Anggun efek kejorokannya sudah makin naik level.
Dafa yang makin benci kepada sang mamah berkata, “Mamah emang dasar pemalas, enggak berguna. Dasar gajah bengkak, dekil, burrik, bau, hidup lagi, ... enggak guna banget! Kita tabrakin aja yuk, Pah, si Mama ke truk. Biar Mamah bunttung juga kayak Papah, biar kita jadi dapat banyak uang sama banyak bantuan!” Dafa yakin dengan keputusannya.
Anggun yang tersinggung langsung menatap marah Dafa. “Kamu yah, kecil-kecil kurang ajar!”
“Daripada Mamah, sudah tua enggak berguna. Hidup enggak berguna, mati pun enggak diterima!” balas Dafa.
Anggun nyaris menghantam bantal lepek yang wanita itu ambil dari sebelah tangan kanannya kepada Dafa. Namun, pertanyaan Supri yang menanyakan uang santunan dari jasa Raharja, sukses mematahkan ulahnya.
“Harusnya uangnya masih banyak. Harusnya lusa aku juga kontrol lagi, kan? Nanti kalau pas ambil uang, ambil dikit buat beli keperluan,” ujar Supri.
“Kenapa kamu kebingungan begitu? Jangan-jangan duitnya beneran sudah habis?” lirih Supri waswas.
Tak mau disalahkan, Anggun pun menatap kesal suaminya sambil berkata, “Kebutuhan kita kan memang banyak, Mas. Anak kita banyak, makan enggak cukup sedikit. Sementara sekarang, kita urus semuanya sendiri. Aku banting tulang banget demi kelangsungan keluarga kita!”
“Banting tulang apa? Kamu beneran judi lagi?” sergah Supri yang tak kuasa menahan emosinya.
Setelah sempat gelagapan, Anggun kembali menghela napas dalam sekaligus kasar. “Kemarin sempat menang dan lumayan.”
__ADS_1
“Namun sekarang kamu kalah bandar?” sergah Supri memotong penjelasan sang istri. Kali ini, wanita tak sedap dipandang maupun dihirup aromanya itu kembali tak bisa menjawab.
Diamnya Anggun membuat Supri menyimpulkan, apa yang ia tudingkan memang benar. “Kebangetan kamu Nggun!” Ia menatap sang istri penuh kecewa sembari menggeleng tak habis pikir.
“Biasa saja kenapa sih? Salah sendiri, kenapa kamu bunttung, Mas!” sergah Anggun tetap tidak mau disalahkan.
“Sisa uang kemarin itu banyaaaaaak banget, Nggun. Belum yang dari sumbangan warga sama aparat desa!” sergah Supri makin meledak-ledak.
“Ya sudah, tenang saja. Ini aku lagi usaha lagi, mana tahu menang. Doakan saja agar aku menang. Kalau memang tetap zong, nanti aku minta ke Septi,” ujar Anggun.
Ketika nama Septi disebut, detik itu juga Supri batuk akibat tersedak ludahnya sendiri. Septi ... andai saat itu aku mau tanggung jawab ke Septi dan meninggalkan Anggun dengan segala nerakanya, pasti hidupku jauh lebih enak. Enggak kek gini. Buktinya, Angga saja diurusin total sama Septi dan keluarganya, batin Supri. Selain itu, ia juga menjadi berpikir keras. Karena andai ia terus bertahan di sana, ia sungguh tidak punya masa depan. Anggun enggak bisa diajak kompromi. Selalunya ingin menang sendiri. Kalau gini caranya, mending aku pergi. Ngemis di luar sana, dan aku nikmati sendiri hasilnya. Daripada di sini, ada duit dikit langsung Anggun sikat buat judii! Batin Supri.
Seperti niatnya, Supri sungguh Pergi. Pria itu tertatih mengandalkan kedua tongkatnya meninggalkan kontrakan yang kini terasa kumuh semenjak ditinggal Arum. Kontrakan yang membuatnya merasakan kehidupan neraka terlalu dini, meski ia belum mati, hanya karena Arum dan Angga yang biasanya mengurus segala sesuatunya di sana, tak lagi ada.
“Kamu mau ke mana, Pri?” sergah ibu Sumini yang masih bertahan duduk di teras sambil bersandar pada dinding, menahan rasa lapar. Rasa lapar yang makin lama makin terasa kuat. Namun, kenyataan Supri yang terus pergi meninggalkan gang selaku pelataran kontrakan, membuatnya penasaran.
Ibu Sumini berpikir, apakah menantunya itu akan mencari makanan untuk mereka yang memang sudah kelaparan?
“Mau cari makan sekalian beli suusu buat Cantik, Bu!” Dari depan sana, Supri yang sampai agak balik badan, berseru. Balasan yang langsung membuat ibu Sumini merasa lega bahkan diam-diam mengucap syukur jauh di dalam lubuk hatinya sana.
“Ya sudah, hati-hati.” Saking bahagianya, ibu Sumini sampai mendoakan sang menantu.
__ADS_1
“Iya, Bu!” seru Supri yang segera melanjutkan langkahnya. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia sudah sibuk meminta maaf pada ibu Sumini. Karena bisa ia pastikan, wanita itu pasti akan menjadi kactung abadi seorang Anggun yang super pemalas.