
“Enggak ada, Mas. Aku beneran enggak ada uang. Kemarin aku pulang belum waktunya gajian, makanya bulan ini, aku blas enggak dapat gaji!” tegas Dika atau itu, Andika. Adik laki-laki Angga, mantan pacar Septi, alasan Angga terpaksa menikahi Septi.
Karena andai dulu Andika tidak pacaran dengan Septi dan malah kabur ketika dituntut tanggung jawab, tentu kehidupan seorang Angga tidak semerawut layaknya sekarang.
Angga yang berkecak pinggang, menatap kesal sang adik sambil menggeleng tak habis pikir. Kemudian ia menghela napas, merasakan sakit luar biasa di dadanya akibat rasa sesak yang tumbuh di sana disertai rasa panas.
“Dan kamu, sama sekali enggak ada usaha buat bantu, Mas, Dik?” tegas Angga kecewa. Di hadapannya, Angga yang ada di teras kontrakan dulu Angga sempat tinggal, langsung menunduk dalam.
“Buat sehari-hari sendiri, urus mamak sama Cantik saja, susah, Mas. Apalagi kalau harus buat yang lain termasuk bantu Mas!” keluh Dika hanya berani berucap lirih.
“Kamu sadar, tadi kamu ngomong apa? Kalau kamu enggak berulah, kamu sampai pacaran sama Septi dan kalian ngelakuin yang tidak-tidak sampai Septi hamil, keluarga kita enggak sehancur ini, Dik!” sergah Angga untuk pertama kalinya meluapkan unek-uneknya.
Dika balas menatap sang kakak dengan tatapan tak kalah marah. “Dari awal kan aku sudah bilang ke Mas, sudah Septi dan orang tuanya biarin saja karena aku yakin itu bukan anakku. Aku ke Septi cuman buat iseng, seneng-seneng anak muda. Mas saja yang beggo mau-maunya nikahin Septi—”
Dika langsung bungkam setelah tinju tangan kanan Angga menghantam wajahnya. Dika yang memiliki kulit jauh lebih putih dari Angga itu langsung sempoyongan, menggunakan kedua tangannya untuk memegangi bekas tinju Angga.
“Aku manjain kamu bukan buat bikin kamu jadi sam-pah! Ngotak kamu! Mana mungkin aku tega biarin kamu dipenjara setelah kamu sampai menjadi buron!” Ma-ki Angga.
__ADS_1
“Dikuliahin mahal-mahal malah enggak lebih dari kewan! Sekarang kamu bilang enggak ada uang blas dan buat sehari-hari saja susah, gimana enggak susah kalau kerjaan kamu saja cuman tiduran sama mainan hape enggak kalah enggak jelas dari mbak kamu?”
“Lama-lama kamu pun pasti jadi pengemmis kalau gini caranya!” Setelah berucap panjang lebar, Angga berkata, “Tega kamu makan keringat mamak yang sudah tua! Kamu masih bisa bisanya santai, sementara di rumah orang, mamak kerja jadi pembantu sambil bawa Cantik yang jelas-jelas kena gizi buruuk! Daripada hidup cuman jadi sampah, mending kamu mati saja!”
“Alasan Arum dan suaminya minta kamu buat balik, bukan untuk bikin kamu numpang hidup ke mamak! Alasan Arum dan suaminya minta kamu pulang urus mamak sama Cantik, biar kamu tanggung jawab ke keluarga ini!”
Kini, di benak Angga hanya dihiasi setiap ucapan Arum mengenai cara didik Angga kepada keluarganya. Dari Arum yang awalnya bertutur halus, tapi malah Angga abaikan. Ucapan Arum yang menjadi tegas dan masih tetap Angga abaikan. Terakhir ketika Arum sampai melakukannya dengan emosional dan malah langsung Angga tam-par.
Di masa lalu, melalui tam-paran yang dilakukan, Angga melampiaskan kekesalan sekaligus beban hidupnya selama ini karena harus mengurus semuanya sendiri. Mengurus keluarga besarnya termasuk suami sang kakak berikut anak-anaknya.
“Kebiasaan Mas melestarikan pemalas hanya akan menciptakan budaya malas, Mas. Ke depannya pun bakalan masih Mas yang susah.”
“Bayangkan kalau bukan Mas yang usaha dan cari uang buat semuanya. Bayangkan kalau Mas sakit atau malah sudah meninggal!”
“Mau jadi apa, keluarga Mas? Ngemis ke siapa kalau bukan Mas yang minta? Siapa yang mau menolong cuma-cuma sementara yang lain, kerja hari sekarang belum tentu dibayar. Sekadar makan sehari-hari saja kadang harus hutang!”
Itulah ucapan Arum yang masih sangat Angga ingat karena kini, Angga tengah mengalaminya. Ucapan yang Arum katakan dengan emosional di kamar mereka, tak lama setelah Angga pulang kerja membuat batu bata. Ucapan yang juga membuat Angga gelap mata.
__ADS_1
Angga yang merasa sangat lelah sekaligus benar-benar pusing lantaran semua beban satu keluarga harus dirinya yang urus, kembali menjadikan Arum sebagai pelampiasan.
Dua tam-paran sekaligus Angga lakukan di malam itu kepada Arum yang sampai ia ma-ki. “Kamu harusnya mikir, harusnya kamu berterima kasih karena aku mau menikahimu! Mamakmu sampai mengemis-ngemis kepadaku agar aku mau menikahimu. Agar kamu tidak jadi perawan tua bahkan sampai dilangkahi adikmu!” ucap Angga saat itu.
Arum yang tengah hamil Aidan, perutnya sudah terbilang besar karena usia kandungan istrinya itu sudah masuk usia tujuh bulan, bungkam menatap Angga penuh kemarahan.
Saat itu, air mata Arum terus berlinang. Jelas Arum menyimpan dendam. Bekas tangan Angga di kedua pipi Arum yang begitu merah menjadi saksinya.
“Salahku apa, sih, Mas? Aku sudah ikut bantu Mas urus keluarga Mas. Aku bahkan sudah kasih semua uang hasil kerjaku buat keperluan keluarga Mas. Sekarang, hanya sekedar mengingatkan Mas saja, balasan Mas gini. Aku hanya meminta pengertian, usia kandunganku sudah memasuki bulan ke tujuh. Aku ingin selametan kandungan karena sebelumnya pun, Mas janji akan menyisihkan uang untuk selametan.”
“Namun apa? Keluarga Mas terus yang Mas urusin! Pokoknya aku enggak mau tahu.” Arum yang sebelumnya nyaris terduduk di lantai akibat tam-paran yang Angga lakukan, berangsur berdiri. “Pokoknya aku mau selametan. Walau hanya sederhana dan hanya mengundang perwakilan warga, aku ingin ada semacam doa bersama. Dari hamil, termasuk keguguran tiga kali enggak ada yang diselameti atau seenggaknya diadakan doa bersama, yasinan apa gimana. Padahal semua anak mbak Anggun Mas urusin, dan itu pakai uang aku!”
“Aku tiga kali keguguran dan sekarang hamil besar hanya terima ke puskesmas dan itu ngandelin BPJS! Sekadar mau USG dan beli kebutuhan sendiri pakai uang sendiri saja, uangnya Mas ambil terus buat urus keluarga Mas. Sumpah yah, Mas. Sudah belasan juta uangku buat urus semua kebutuhan mbak Anggun dan anak-anaknya. Itu yang dihitung dari aku keguguran anak kedua, belum yang lain!”
“Anak-anakku pada nangis di akhirat sana, Mas! Mereka beneran nunggu dikirimi doa bersama, bukan hanya doa dariku!”
“Bahkan Mas sebagai bapaknya pasti enggak pernah doain. Jangankan doain, ingat saja enggak, kan? Aku pastikan tangisan mereka akan membuat rezeki Mas sempit!”
__ADS_1
“Sudah Mas, tampar saja. Tampar lagi! Sekalian, sekarang talak aku. Talak aku sekarang juga, Mas! Lebih baik aku jadi janda daripada punya suami tapi cuma jadi sapi perah selalu ditipu begini!”
Arum dan semua emosi sekaligus keberaniannya. Sebenarnya wanita itu sudah beberapa kali meminta talak kepada Angga, tapi Angga yang tidak mungkin melakukannya karena tanpa Arum, Angga yakin hidupnya akan makin berat. Terlepas dari semuanya, Angga yakin. Rencana pernikahannya dengan Septi kala itu sengaja Arum manfaatkan untuk lepas darinya