Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
121 : Mengenai Maaf Dan Memaafkan


__ADS_3

“Jangan kecapaian,” pesan Kalandra sebelum ia benar-benar masuk ke ruang sebelah, membiarkan Arum pergi meninggalkannya.


Semua pesanan di ruangan Kalandra sudah disajikan dan urusan Arum di sana juga sudah selesai. Tadi, Arum sampai mengobrol cukup lama menemani Kalandra sekaligus orang kantor di sana. Kini, perhatian Arum kembali tertuju kepada keluarga besar pak Haji. Suasana makan yang ramai dan para wanita tampak repot mengurus anak dan cucu.


“Ini sih namanya makan rasa tawuran. Kasihan jadinya. Namun mau bagaimana lagi, mereka menikmati dan mau-mau saja menjalani.” Arum yang berbicara dalam hati, berangsur menghela napas dalam sekaligus pelan. “Kalau aku sih ogah yah, sampai dimadu berkali-kali gitu. Kalaupun sampai rame gini, ya karena aku dan suamiku banyak anak dan cucu. Bukan karena aku punya banyak madu.” Setelah berpikir demikian, Arun juga menjadi mengoreksi anggapannya. “Tapi memang balik ke yang menjalani sih. Kalau mereka oke dan ngerasa nyaman, itu hak mereka. Aku enggak boleh memaksa mereka mengikuti cara pikirku karena yang menurut aku benar sekaligus nyaman, belum tentu juga akan begitu buat orang lain,” batin Arum lagi. Ia menghampiri sang mamah mertua yang tengah menyuapi Aidan.


“Enak, Mas?” Arum berangsur duduk di sebelah Aidan.


“Mamah sudah pinter urus bocah. Dikasih dua apa tiga lagi, masih oke lah!” ucap ibu Kalsum fokus menyuapi Aidan.


Arum yang diminta istirahat oleh sang mamah mertua dan baru akan merebahkan punggungnya, langsung tertawa.


“Kalau tahu gini, tadi Mamah enggak ikut. Malu, sumpah!” bisik ibu Fatimah yang walau sajian di sana lezat semua, tetap merasa tidak nyaman. Ia bahkan tidak bisa menikmatinya karena pemilik tempat ia tengah makan malah wanita yang dulu pernah sangat ia hina.


“Aku ke Arum sudah biasa saja sih, Mah!” bisik Septi nyaman-nyaman saja. Ia tengah makan ayam goreng balado tulang lunak bagian sayap.


Ibu Fatimah menggeleng tak habis pikir. Ia merasa, harus segera minta maaf agar rasa tak nyaman yang membuatnya merasa hinaa di mata Arum sekeluarga, segera berakhir atau setidaknya berkurang.


Sambil membawa Sepri, Bu Fatimah pamit pergi kepada Septi.

__ADS_1


“Mau ke mana, Mah?” tanya Septi kebingungan.


“Mau minta maaf!” balas bu Fatimah masih berbisik-bisik.


“Hah? Si Mamah beneran mau minta maaf ke jandes Arum?” batin Septi bengong tak percaya melepas kepergian ibu Fatimah. Wanita itu sungguh menghampiri Arum. Septi sampai tersedak saking tak percayanya. Istri pak Haji membantunya mengambilkan ninum.


Dihampiri ibu Fatimah, Arum yang baru menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa di sana langsung waswas. Walau canggung, ia berangsur duduk dengan benar, menegakkan punggungnya dan perlahan menatap ibu Fatimah penuh keseriusan. Mata tajam ibu Fatimah menatapnya penuh kegundahan. Tatapan yang sarat menahan rasa malu, menyesal, tapi juga takut.


“Enten nopo, Bu?” tanya ibu Kalsum basa-basi dan tentu saja sengaja. Ia tahu siapa ibu Fatimah sekaligus bagaimana sikap wanita itu kepada sang menantu.


Ibu Fatimah langsung menatap ibu Kalsum yang sampai jongkok di depan sofa Arum dan Aidan duduk demi mengimbangi Aidan yang memang sudah mulai aktif.


“Ada perlunya dengan siapa, Bu?” Ibu Kalsum masih mengomentari.


Sungkan, Ibu Fatimah yang menjadi kerap menunduk karena sekadar menatap Arum secara terang-terangan jadi tidak berani, berkata, “Sama ... sama ....” Kedua matanya berangsur menatap kedua mata Arum. Mata yang juga sudah menatapnya penuh tanya. Namun ia yakin, Arum sudah tahu maksud kedatangannya.


“Saya mau minta maaf,” ucap ibu Fatimah masih lirih dan belum berani menatap Arum.


“HAH? MINTA MAAAF? MEMANGNYA ADA APA?” ibu Kalsum sengaja berseru hingga semua mata di sana, khususnya dari pihak keluarga pak Haji, perlahan memperhatikan mereka.

__ADS_1


Ibu Fatimah sangat menyesalkan tanggapan ibu Kalsum. Nyalinya langsung mati, membuatnya lemas dan berakhir merunduk, jongkok di hadapan Arum.


“Gimana rasanya dimadu, Bu? Madu yang tidak pernah Ibu inginkan, tapi bagi suami ibu, dia madu idaman? Cita-cita Ibu memang punya madu idaman, kan?” ucap Arum.


Ibu Fatimah menunduk dalam bersama air matanya yang pecah. Dari ruang sebelah, Septi buru-buru keluar sekaligus menghampiri.


“Ya ampun, kok jadi gini, ya?” batin Septi panik.


“Untuk urusan maaf memaafkan, jujur, ... aku memang bisa melakukannya, tapi aku enggak bisa langsung apalagi spontan. Terlebih yang Ibu sekeluarga lakukan ke aku dan Aidan, sakitnya beneran ngena. Aku enggak balas dendam atau bunuhh diri saja, untung. Sudah suamiku dirampaas, masih juga aku yang jadi olok-olokkan. Aku terus disalahkan padahal aku sudah langsung beresin semuanya tanpa nuntut apa pun. Aku beneran sudah ngalah dan aku pun fokus urus hidupku sama anakku. Ibaratnya, aku sudah jadiin kepala buat kaki dan kaki kepala. Aku tanpa kenal waktu, tanpa kenal lelah, bahkan aku enggak kenal malu hanya buat bisa tetap kerja kasih makan anakku. Namun saat itu, ... kalian tetap cari gara-gara.” Arum yang awalnya berkaca-kaca juga perlahan menjadi berlinang air mata.


“Sekarang, kita sudah sama-sama merasakan. Aku pun enggak mau kolot, mengurung diriku dengan masa laluku yang jauh dari layak. Aku ingin move on, aku ingin jadi orang lebih baik. Dan aku yakin, karma yang memang ada, juga kita sendiri yang membuatnya. Bahwa apa yang kita lakukan, juga akan kembali kepada kita.” Menahan sesak di dada, Arum tetap menuangkan unek-uneknya.


“Kalau Ibu memang tulus minta maaf, tolong buktikan. Tolong jadilah orang yang memang layak dimaafkan dengan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Karena andai kata maaf bisa menyelesaikan masalah, kenapa Ibu sampai pernah dipenjara? Kalau sekadar mengatakan kata maaf beneran bisa membuat semua keadaan baik-baik saja, aku yakin keluarga ibu juga akan baik-baik saja.” Arum mengakhiri ucapannya dengan berdeham. “Aku harap setelah aku bicara panjang lebar seperti tadi, aku harap Ibu paham. Apalagi jujur, aku turut prihatin pada keadaan keluarga Ibu.”


“Saya benar-benar minta maaf, Rum. Saya, mewakili keluarga saya, benar-benar minta maaf karena sudah sangat kejaam ke kamu.” Ibu Fatimah kian menunduk dalam.


Walau tak sepenuhnya menatap ibu Fatimah, Arum memergoki butiran bening silih berganti jatuh dari kedua mata wanita itu.


“Jawabannya masih sama, Bu. Seperti yang baru saja saya jelaskan karena saya yakin, andai Ibu ada di posisi saya, hal yang sama juga akan Ibu lakukan,“ jawab Arum masih belum mau sepenuhnya menatap ibu Fatimah. Karena berurusan dengan wanita itu saja sudah langsung membuatnya teringat semua sikap semena-mena yang ia dapat di masa lalu.

__ADS_1


Kini, Arum membiarkan sang mamah mertua memeluknya dari samping. Ibu Kalsum menenangkannya walau tanpa kata. Sebab memang ada saat di mana diam tanpa kata menjadi cara termujarab mengurangi beban orang yang kita tenangkan.


__ADS_2