Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
53 : Kembali Jatuh Cinta


__ADS_3

Bertepatan dengan masa iddahnya yang selesai, Arum akan membawa Kalandra ke rumah orang tuanya yang kini tinggal ibu Rusmini. Rumah yang dulunya Arum renovasi besar-besaran, tapi malah menjadi tempat ter-larang untung Arum dekati apalagi tempati.


Khusus hari ini, Arum hanya memasak untuk pasien sekaligus pekerja di rumah sakit. Hari ini Arum tidak sampai jualan di kantin. Untuk menu siang harinya pun sudah Arum siapkan dan serahkan kepada petugas. Arum sengaja melakukannya lantaran takut tidak sempat jika harus serba mendadak mengingat selain jarak ke rumah orang tuanya dari rumah orang tua Kalandra jauh, jalan yang harus ditempuh juga jauh dari kata baik.


Jalanan menuju rumah orang tua Arum belum tersentuh aspal atau sekadar cor-coran. Jalan di sana penuh lobang dan bebatuan yang belum diratakan. Hingga ketika musim hujan layaknya sekarang, selain lubang-lubangnya menjadi digenangi air dan sekitarnya juga licin, kadang jika tidak hati-hati dan malah menabrak bebatuan yang tidak rata, kemungkinan jatuhnya akan jauh lebih besar.


“Kalau gitu kita naik mobil saja. Mendung juga ini kan. Kalau kamu mau motoran, kita bisa melakukannya sorenya apa besoknya,” ucap Kalandra setelah memastikan keadaan jalan ke rumah orang tua Arum, kepada Arum. Ia masih asyik mengemban Aidan di depan dadanya. Bocah itu sudah membuat sebagian kemeja lengan panjang warna biru mudanya basah akibat kegigihan Aidan dalam belajar koloh.


“Mas, kan aku sudah bilang keadaan keluargaku ke Mas,” ucap Arum.


“Ya enggak apa-apa. Kamu enggak usah khawatir, aku kan sudah terbiasa urus banyak masalah,” balas Kalandra meyakinkan. Kemudian ia mengangkat Aidan, menghadapkan bayi yang sedang menggemaskan-menggemaskannya itu kepadanya. “Wah ... banjir?” Ia sengaja meng-goda Aidan, dan ia tidak bisa untuk tidak terbahak ketika Aidan yang baju bagian dadanya sampai basah oleh air liur, langsung terbahak karena goda-annya.


Arum yang juga sudah rapi layaknya Kalandra dan Aidan yang kini juga memakai nuansa biru muda layaknya dirinya, menjadi terusik atas kehadiran ibu Kalsum yang mendadak keluar dari rumah. Ibu Kalsum membawa satu dus besar yang sudah dilakban bagian atasnya, selain dua kantong karton berukuran besar. Wanita itu meletakannya di lantai teras rumah persis sebelah Arum berdiri.


“Apa ini, Mah?” sergah Arum langsung waswas lantaran ia yakin, semua yang ibu Kalsum taruh du dekat kakinya itu merupakan bawaan yang akan Kalandra dan Arum bawa menemui ibu Rusmini.


“Itu nanti dibawa, Mbak. Taruh bagasi apa tempat duduk tengah saja,” sergah ibu Kalsum yang kemudian buru-buru masuk ke dalam rumah lagi.


Arum langsung mendelik kepada Kalandra, memberi pria itu kode agar membantunya membuat sang mamah tidak melakukan hal yang terlalu berlebihan apalagi kunjungan kali ini baru akan Arum lakukan bersama Kalandra.


“Mbak kalau yang ini makanan basah. Ada Ayam ungkep rumah makan sebelah sama kue ....” Suara lantang terbilang cempreng dari ibu Kalsum terdengar mendekat. Membuat Arum makin panik.


“Mas, ini saja sudah banyak!” bisik Arum pada Kalandra yang sampai ia dekati.


“Jangan ditolak, nanti yang ada Mamah marah karena bawaan semacam ini, ibarat wujud dari harga diri dari keluarga kami.” Kalandra juga membalas dengan berbisik, wanti-wanti kepada Arum yang detik itu juga langsung diam.


Arum langsung tidak bisa berkomentar yang mana ia juga berangsur menunduk.


“Mbak ... Mamah sampai lupa. Itu di kulkas kemarin ada panen kacang panjang sama cabe! Ambilin ya, takut malah enggak kebawa!” seru ibu Kalsum lagi.


Detik itu juga Arum kembali menatap Kalandra. Kalandra balas menatapnya kemudian mengangguk-angguk.

__ADS_1


“Sudah diikuti aja, nanti yang ada Mamah marah. Papah saja enggak berani larang apalagi menolak kemauan Mamah. Gitu-gitu walau cerewet dan kesannya ka-sar, Mamah orangnya baik kok. Kamu juga sudah tahu kan?” bisik Kalandra.


Arum langsung mengangguk-angguk paham kemudian pamit untuk membantu ibu Kalsum yang baru saja sampai di hadapannya. Tak terbayang bawaan yang dibawa ibu Kalsum.


“Beli ayam ungkep di rumah makan sebelah, besok stok ayam dari peternakannya buat rumah makan Arum saja,” ujar Kalandra sengaja meng-goda sang mamah.


Ibu Kalsum yang sampai jongkok untuk menyusun bawaannya ke dalam kardus terbilang besar, langsung bilang, “Oh jelas! Besok tinggal diatur karena rencananya Mamah memang mau buka peternakan baru khusus buat ke rumah makan Arum.”


Arum yang sudah datang, langsung membantu ibu Kalsum menyusun bawaan di kardus.


“Besok Mamah mau buka peternakan bebek juga. Besok di rumah makannya ada masakan bebek juga, kan?” tanya ibu Kalsum siap melakban dusnya.


“Iya, Mah. Ayam kampung, ayam biasa, bebek, entok sama basur juga,” jelas Arum.


Ibu Kalsum yang menyimak sambil menatap wajah Arum langsung mengangguk-angguk. “Oke ... oke, nanti mamah atur buat ayam kampungnya juga, sekalian entok sama basurnya.” Ibu Kalsum benar-benar bersemangat.


Lagi-lagi yang berperan penting sekaligus mendukung Arum justru dari orang lain, bukan keluarga atau mereka yang masih memiliki ikatan darah. “Jangan lupa, Rum. Kalandra dan keluarganya bukan lagi orang lain apalagi setelah nanti kalian menikah.” Hati kecil Arum mendadak berbisik dan detik itu juga hati Arum menjadi diselimuti rasa hangat.


“E-enggak, Mah. Jangan, ... aku enggak tega, kasihan kelincinya.” Arum langsung ketakutan sekaligus bergidik.


“Loh kenapa? Laris loh, Mbak! Akhir-akhir ini banyak yang cari!” yakin ibu Kalsum, tapi calon menantunya malah seperti anti, takut, seolah memiliki fobia tersendiri. Arum sampai mendadak geser berlindung di balik punggung Kalandra sembari membekap kedua telinganya.


“Heh, Mbak. Kamu kenapa? Kambing sama sapi saja boleh, masa kelinci enggak?” tegur ibu Kalsum yang menganggap reaksi calon menantunya lucu.


“Enggak, Mah. Kasihan, geli, seimut itu masa disate. Jangan ih,” balas Arum memang tak tega, merasa sangat kasihan andai makhluk seimut kelinci sampai dikonsumsi termasuk itu disate, walau Arum juga tahu semacam itu memang ada.


Ibu Kalsum menertawakan reaksi Arum. Ia me-mukul asal lutut kanan Kalandra saking gemasnya kepada Arum yang sampai berlindung, bersembunyi kepada Kalandra. “Mas ... kelakuan calon istrimu lucu banget!”


Walau tidak tega, kali ini Kalandra juga merasa anggapan sang mamah benar. Ia bahkan sudah turut sibuk menahan tawa gara-gara reaksi ketakutan Arum yang begitu spontanitas.


Setelah semuanya sudah Kalandra susun di bagasi atas arahan ibu Kalsum, kedua sejoli itu pun langsung pamit kepada ibu Kalsum, menyalaminya dengan takzim.

__ADS_1


“Salam buat mamah sama keluarga, yah, Mbak!” seru ibu Kalsum dari depan gerbang kediamannya karena sampai hari ini, selain Arum dan Aidan yang tinggal di rumahnya, Kalandra juga jadi lebih sering di sana.


Arum langsung tersenyum kemudian mengangguk-angguk. Di sebelahnya, Kalandra baru memanasi mesin mobil.


“Eh, foto, yuk!” ucap Kalandra tiba-tiba, dan itu langsung mengejutkan Arum.


Selama bersama dan itu nyaris satu bulan, mereka memang belum pernah foto bertiga, atau foto berdua antara Kalandra dan Arum. Paling kalau Kalandra tidak memfoto Aidan dan di beberapa foto yang diambil sampai ada Arum, Kalandra sengaja hanya foto berdua bersama Aidan tanpa Arum.


Gugup, Arum sungguh merasakan itu. Arum yang kini sudah sangat menjaga penampilannya apalagi semacam pakaian dan produk perawatan juga sampai disediakan oleh Kalandra atau malah ibu Kalsum, menyadari jantungnya berdetak lebih kencang sekaligus keras.


Arum mendapati, Kalandra yang mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana levis panjang warna biru tua. Berpenampilan sesimpel itu saja, Kalandra sudah sangat tampan. Belum lagi sikap sekaligus cara pikirnya. Bagi Arum bahkan semua yang mengenal Kalandra, pria itu suami idaman.


“Lah, batrenya sekarat. Pakai hape kamu lah, nanti dikirim lewat WA. Aku cas hpku dulu,” ucap Kalandra.


Arum mengangguk-angguk patuh, sengaja berdeham karena kegugupannya juga telah membuatnya tegang hingga ia juga berakhir dengan agak sesak napas. Terlebih ketika Kalandra sudah langsung mendekat dan siap berswafoto dengannya. Kalandra memegang agak merangkul sebelah bahu Arum. Walau sangat gugup, Arum tetap berusaha sebiasa mungkin. Mereka kompak tersenyum ke arah kamera, termasuk bayi menggemaskan di antara mereka yang malah mendadak tertawa. Membuat foto ketiga mereka menangkap ekspresi terkejut dari Kalandra dan Arum yang memastikan Aidan.


Kini, suasana dalam mobil mendadak ramai lantaran mereka kompak tertawa. Tawa yang didominani oleh tawa Kalandra dan Aidan akibat ketidak sengajaan dari reaksi tawa Aidan. Ibu Sulis sampai mendekat, melongok dari kaca sebelah Kalandra yang ditutup sempurna.


“Mas Kala sebahagia itu. Dia ketawa sampai terbahak seperti itu. Baguslah, ... alhamdullilah adanya Arum sama Aidan bisa jadi sumber kebahagiaannya,” batin ibu Kalsum sambil melepas kepergian mobil Kalandra yang telah melaju meninggalkan jalan aspal di depan rumahnya.


Ibu Kalsum merasa sangat bersyukur karena sebelum ada Arum dan Aidan, Kalandra sudah menunjukkan tanda-tanda minim kewarasan.


“Coba pilih foto tadi, terus,” ucap Kalandra.


“Aku sudah kirim ke WA Mas. Tuh ada notifnya,” balas Arum yang melirik ponsel Kalandra. Di hadapannya, ponsel Kalandra yang sedang disisi batrenya, layarnya menyala disertai dering sekaligus getar karena pesan WA masuk darinya. Itu merupakan sederet foto mereka yang Kalandra minta.


“Jadiin status WA,” ucap Kalandra mendadak tegang kemudian melirik Arum.


Tak kalah tegang, Arum juga melirik Kalandra.


“Enggak apa-apa, sih. Ibaratnya, mulai go publik. Paling yang sekelas Septi yang kebakaran,” lanjut Kalandra.

__ADS_1


Mendengar itu, Arum refleks mesem. “Bentar, Mas,” sanggupnya. Kalandra sungguh ingin membagikan kabar hubungan mereka kepada semuanya. Baiklah, bismilah, batin Arum yang menjadi berbunga-bunga. Ia kembali merasa jatuh cinta setelah sekian lama lupa bagaimana rasanya jatuh cinta karena hidupnya terlalu sibuk bekerja.


__ADS_2