Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
128 : Sudah Sampai Rumah


__ADS_3

Bunga-bunga di hati Arum seolah berguguran bersama duka yang bersemayam akibat kematian Resty. Sambil menunggu hasil autopsi Resty, keduanya memutuskan untuk menginap di salah satu hotel terdekat hingga keesokan harinya. Barulah di sorenya, setelah urusan selesai dan jenazah Resty dipulangkan menggunakan ambulans, Kalandra dan Arum juga ikut pulang.


Dari hasil pemeriksaan, alasan utama Resty meninggal akibat pendarahan hebat di kepala dan sampai mengenai otak. Sementara luka-luka lain, hampir semua persendian termasuk tulang punggung Resty, patah. Sungguh kematian yang mengenaskan apalagi penyebabnya tak hanya karena jatuh dari ketinggian kemudian masuk ke dasar jurang. Namun juga mengenai alasan itu sampai terjadi, yaitu dikhianati kemudian dibunuh dengan kejii. Sedangkan untuk Tomi, pria itu sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk mendalami motif sekaligus hukuman yang pas.


Dalam diamnya, dihadapkan dalam situasi layaknya sekarang Arum menjadi makin bersyukur. Wanita itu merasa sangat beruntung memiliki suami sebaik Kalandra. Sudah tampang dan fisik di atas rata-rata, mapan dan sangat bertanggung jawab, alhamdullilah bukan tipikal suami dakjal juga.


“Mas, pulang-pulang sudah jadi jenazah, pasti orang tuanya syok banget, ya?” lirih Arum masih menatap nanar ambulans di hadapannya dan memang membawa Resty.


Malam sudah makin sunyi, tapi lalu lalang pengemudi masih memadati jalan.


“Pasti. Makanya kita harus selalu sehat, agar orang-orang yang menyayangi kita enggak pernah syok karena hal fatal yang mendadak menimpa kita.” Kalandra tetap fokus dengan kemudinya.


Perjalanan masih terbilang panjang. Masih sekitar tiga jam lagi untuk sampai di kampung halaman mereka. Selain itu, Arum dan Kalandra juga akan langsung ikut ke kediaman orang tua Resty untuk mengikuti proses pemakaman, memberikan semacam penghormatan terakhir kepada almarhumah sekaligus keluarga yang ditinggalkan.


“Mas ...?” panggil Arum lirih dan memang dari dalam hati. Panggilan yang benar-benar dipenuhi rasa sayang. Terdengar lirih, manja, tapi juga masih berhias rasa sungkan.


Arum berangsur menoleh, menatap Kalandra. Pria itu baru saja bergumam kemudian menoleh balas menatapnya. Tatapan yang tentu saja masih sangat penuh cinta walau kedua mata itu sudah sangat sayu. Lingkar mata Kalandra tampak hitam dan juga agak cekung.


Yang Arum rasa, kematian Resty yang tragis, membuat sang suami makin lembut, makin peduli sekaligus sayang kepadanya. Selain itu Arum juga yakin, sang suami khawatir ia jatuh sakit karena kesedihan akibat kematian sang sahabat yang pernah sangat berjasa kepadanya.


“Aku sayang banget ke Mas. Mas juga harus sehat-sehat karena aku selalu ingin bareng-bareng Mas,” lirih Arum berkaca menatap sang suami. “Aku beneran pengin terus-terus bareng, paling enggak sampai kita gendong buyut-buyut kita.”

__ADS_1


Kalandra yang langsung tersipu juga menjadi berkaca-kaca bersama hatinya yang terenyuh. Ia berangsur mengangguk-angguk, menggunakan tangan kirinya untuk membingkai pipi kiri sang istri.


“Aku pasti akan selalu melakukan yang terbaik buat kamu, kita, anak-anak, dan juga keluarga kita!” yakin Kalandra setelah tangan kirinya merangkul kepala sang istri, menyandarkannya ke bahunya. Kemudian, tangan kiri itu tetap menahan wajah kiri Arum, mengelus di sana penuh sayang.


“Amin!” ucap Arum yang kemudian mendekap pinggang suaminya dari samping sambil tetap bersandar pada bahu kiri sang suami.


***


“Sudah kalian tidur, istirahat. Kalian kelihatan enggak enak badan gitu. Apa ke klinik Mas, cek. Enggak apa-apa kalau nantinya difitnah kurang gizi lagi. Paling enggak kan dapat obat. Efek perjalanan jauh dan kurang tidur sama istirahat juga kayaknya.” ibu Kalsum langsung heboh menghampiri Arum dan Kalandra.


Di kamar, Kalandra dan Arum baru beres mandi. Arum sudah meminum teh hangat buatan sang mamah mertua, Kalandra masih sibuk mengeringkan kepala.


“Tidur sengaja isi bensin buat malam. Sejak ditinggal kalian, tiap malam kan Aidan wajib main ke pasar malam!” cerita ibu Kalsum.


Kalandra dan Arum kompak mesem mendengarnya.


“Itu sih gara-gara ada yang ngajarin. Ya paling gara-gara Papah sama Mamah!” ujar Kalandra yang kemudian duduk di sebelah Arum. Sang istri yang masih mesem-mesem memberikan segelas teh hangat yang awalnya tengah diminum. Tentu ia langsung meminumnya, membiarkan sang istri membantunya.


Ibu Kalsum juga menjadi senyum-senyum sendiri dan perlahan tertawa. “Sebenarnya awalnya kan kasihan Aidan ditinggal gitu, jadi Mamah ajak si mbah kakung buat motoran ke pasar malam, eh si Aidan girang bareng. Mau naik wahana juga. Beli balon terus jajan aromanis!”


Kalandra dan Arum menjadi tertawa mendengarnya.

__ADS_1


“Eh, Mbak. Tuh tukang pijatnya sudah datang. Mamah ngundang tukang pijat buat Mbak, biar cepat enakan,” ucap Ibu Kalsum yang kemudian pamit untuk menyiapkan keperluan pijat.


“Ini yang diundangin tukang pijat cuman Arum?” tanya Kalandra cemburu.


Ibu Kalsum yang sudah keluar dari kamar, menatap heran sang putra. “Kalau Mas mau ya sudah sekalian. Kayaknya enggak usah ke klinik pun enggak apa-apa. Ya sudah gantian, siapa dulu yang mau pijat? Pijatnya di kamar tamu saja. Nanti Mamah siapin kasur lantai dulu. Jangan ngambek, sudah mau punya dua anak, masa iya kalah sama Aidan!” Ia sengaja menegur sekaligus menggoda sang putra yang untuk pertama kalinya mendadak manja kepadanya.


“Sana Mas dulu yang pijat. Mas kan bolak balik nyetir, Mas pasti capek banget,” ucap Arum kemudian meminum tehnya lagi.


“Temenin ih, ... bareng-bareng di sana. Yang mijat kan ibu-ibu, malu.” Kalandra masih merengek.


Ibu Kalsum yang masih menyimak sengaja berkata, “Gendong sekalian, Mbak. Biar manjanya terbayar!”


Kalandra langsung tersipu melepas kepergian sang mamah. Kemudian yang ia lakukan adalah menghabiskan tehnya, membantu Arum turun dari tempat tidur dan mereka bersiap ke kamar tamu. Arum membawa gunting kuku. Istrinya itu dengan telaten mengurus kuku-kuku Kalandra sepanjang Kalandra dipijat.


“Kaki kamu aman, Mbak? Kata ibunya lagi hamil?” tanya tukang pijatnya yang sedang memijat punggung Kalandra.


“Aman, Bu. Saya memang aman-aman saja kalau hamil. Kalaupun semacam tawaran, dibawa jalan-jalan sama minum air hangat, biasanya langsung normal. Tapi paling itu, kalau hamil janinnya sering turun kadang sakit kalau buat jalan,” jawab Arum yang masih duduk di sana dan sampai memangku tangan kiri Kalandra karena sang suami sama sekali tidak mau ditinggal. Tentunya, tangan tersebut tak sekadar dipangku karena sesekali, tangan kiri Kalandra tersebut juga mengelus perut Arum.


“Mbaknya kalau lagi hamil jangan naik turun terus. Kayak semacam naik turun tangga, apa angkat-angkat berat, jangan. Itu berisiko banget, sih. Jangan dipaksa juga kalau keadaannya sudah begitu. Kalau sampai sakit lagi langsung bawa istirahat terus panggil saya,” balas tukang pijatnya wanti-wanti.


Arum mengangguk-angguk paham. Merasa hambatan hidupnya termasuk hambatan hamilnya tidak akan begitu berarti karena Kalandra sekeluarga sangat peduli. Buktinya tanpa diminta, baru pulang perjalanan jauh, mamah mertuanya sudah langsung menyiapkan minum bahkan mengundangkan tukang pijat layaknya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2