
Arum langsung melirik iri pada Kalandra yang baru pulang, tapi sibuk menahan senyuman.
“Enggak usah iri, Yang. Soalnya kalau kamu ikut, kamu pasti sibuk ngeluhin jahitan. Soalnya di sana, asli bisa jadi kontrakan lenong kalau sudah ada pak Haji sama si Septi,” ucap Kalandra sambil terus membimbing istrinya memasuki kamar mereka. Ia juga sengaja mengunci pintu kamar dengan hati-hati apalagi ketiga anaknya dikata Arum sudah tidur semua.
“Tapi Nissa sehat, kan? Gimana keadaannya? Kelihatan lebih bahagia, enggak?” balas Arum. Di sebelahnya, Kalandra langsung mengangguk-angguk.
“Sehat banget. Dia kelihatan bahagia banget. Tadi aku juga sempat ajak dia ngobrol, sekolahnya dekat, mau beli apa-apa juga dekat. Sudah langsung punya banyak teman juga katanya,” cerita Kalandra.
“Syukurlah kalau gitu. Soalnya kasihan, masih kecil sudah harus menghadapi nenek seperti ibu Muji yang kalau bicara enggak disaring,” balas Arum yang kemudian juga menanyakan kabar terbaru Muji, kepada Kalandra. “Hah? Pak Erdi sampai diusir dari rumah? Berarti sekarang, ibu Muji sendirian, dong? Innalilahi kok ada orang sekeras kepala itu! Aku pikir keluargaku sudah keras-keras, eh ini ada yang lebih. Mirip si Duta Warisan!”
Kali ini, Kalandra hanya tersenyum simpul. “Ayo, duduk!” lirihnya sengaja mengajak Arum duduk di pinggir tempat tidur mereka. Di tengah-tengah sana, Aidan sudah lelap.
Melihat Kalandra yang terus menatap lekat kedua matanya, pria itu tak hentinya tersenyum penuh hangat kepadanya, Arum yakin ada kabar bahagia yang ingin Kalandra bagikan.
“Kenapa, Pah?” tanya Arum kali ini berucap lirih.
“Tolong doakan, yah ... doakan, semoga niat baik Papah dilancarkan karena niatnya, Papah ingin bangun kontrakan juga kayak pak Haji,” ucap Kalandra. Di hadapannya, sang istri langsung tersenyum semringah, sementara kedua matanya berkaca-kaca.
“Amin, Mas! Mau, pilih lokasi di mana?” balas Arum. Kedua tangannya berangsur menggenggam kedua tangan sang suami.
“Di dekat rumah makan. Biar pas mereka lapar, mampirnya ke rumah makan kita!” yakin Kalandra dan lagi-lagi membuat sang istri sibuk tersenyum.
“Itu di sebelah rumah makan, tanah punya ibu Rohimah kabarnya mau dijual, yah, Yang?” lanjut Kalandra dan kali ini sengaja memastikan.
Walau tersenyum, kali ini Arum sampai mengerling, sebelum akhirnya ia mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Lumayan luas itu. Soalnya ahli waris sepakat buat jual saja.”
__ADS_1
“Nah!” ucap Kalandra bersemangat sembari menipiskan jarak duduk mereka. Kedua lutut mereka sampai menyentuh satu sama lain. “Kalian terbilang sangat dekat, kan? Jadi tolong bantu, yah, Yang. Bilang, kita mau tanahnya, kalau boleh diDP dulu, sisanya aku angsur beberapa kali!” ucapnya dan kali ini merengek.
Arum berangsur mengangguk-angguk seiring senyumnya yang kian lepas. “Pasti! Besok, ya! Besok Mamah urus! Pokoknya sebisa mungkin semoga bisa diangsur!” yakinnya.
Kalandra nyaris tertawa. Mereka memang selalu kompak, termasuk itu untuk urusan bisnis sekaligus mencari uang. Jadi, Kalandra merasa sangat marah jika hasil kerja keras mereka sampai diusik layaknya ketika kejadian ibu Lasmi. Kalandra juga tidak terima jika orang-orang menganggap Arum hanya menumpang hidup kepadanya. Karena tanpa adanya Arum di rumah makan pun, rumah makan itu tidak mungkin semaju sekarang. Ibaratnya, Arum sudah jadi nyawa untuk Kalandra sekeluarga, termasuk usaha mereka.
***
“Memangnya kalian ada tabungan berapa? Nanti kalau kurang, pasti Papah Mamah bantu!” ucap pak Sana ketika di acara sahur mereka, Kalandra dan Arum mengutarakan keinginannya.
Kalandra dan Arum kompak saling menoleh hingga membuat keduanya juga sampai bertatapan.
“Pelan-pelan sih, Pah. Buat modal bangunnya juga,” ucap Kalandra.
“Ya enggak apa-apa. Andai sampai harus mengangsur tiga kali, kalau Papah sama Mamah bantu kan, cukup diangsur sekali. Sisanya tinggal urus pembangunannya!” yakin pak Sana.
“Tadinya sih mamahnya anak-anak, mau jual sawahnya, tapi aku bilang jangan,” ucap Kalandra.
“Jangan, Mbak!” omel ibu Kalsum yang kemudian ceramah panjang lebar.
“Itu sawah ditanami saja. Bisa juga nanti berasnya buat stok di rumah makan. Pakai beras sendiri kan lebih gereget,” lanjut ibu Kalsum.
“Oh, iya ... di kecamatannya Mbak, di pasarnya, semalam ada ribut-ribut para laki-laki cantik. Papah dapat kabar dari orang Papah. Tapi Papah kayak kenal sama mereka. Ada Fajar, terus wanita gendut yang bant*ing-banti*ng wari*a-nya, kok mirip Septi!” ucap pak Sana.
Belum apa-apa, Kalandra sudah langsung tertawa. Karena kemarin malam pun, itu menjadi salah satu obrolan utama kebersamaannya dengan pak Haji dan dokter Andri.
__ADS_1
Lebih gokilnya lagi, ternyata sampai ada video dari keributan yang dimaksud dan bahkan sampai viral. Tampak jelas, Septi yang menyeruduk kemudian membanti*ng setiap wari*anya yang beberapa di antaranya berusaha saling bunu*h. Sebagian dari mereka menggunakan batu besar, dan sebagiannya lagi tak segan menggunakan pecahan kaca dari gerobak lapaknya Septi.
“Si Septi mirip sumo! Kuat banget! Padahal kalau sekelas wari*a kan kekuatannya tiada dua!” komentar ibu Kalsum terheran-heran melihat rekaman videonya di ponsel sang suami.
“Ini lapak dagangnya hancur, ya? Duh, kasihan si Septi,” komentar Arum ikut menonton dan berdiri di sebelah ibu Kalsum.
“Untungnya Septi dapat ganti rugi. Kemarin setelah kejadian kan kebetulan kami bertemu di kontrakan. Ya lucu, ya kasihan, ya takjub juga. Dia sampai bikin para wariyem K.O!” komentar Kalandra yang juga mengabarkan, bahwa Septi yang sekarang sudah sangat berubah.
Septi yang sekarang sangat pekerja keras. Selain itu, Septi yang sekarang juga sudah peduli kepada Sepri. Tak kalah harus dikabarkan, Septi yang sekarang bertetangga dengan dokter Andri. Keduanya tetangga sebelah di kontrakan.
“Lihat komentarnya, ... netizen pada minta Septi buat diangkat jadi duta keamanan setempat! Hahaha!” ibu Kalsum ngakak. “Duta seruduk banti*ng, pantas nama esnya es gepluk cap gajah duduk!”
Membaca komentar para netizen yang benar-benar lucu mengenai aksi berani Septi memisahkan para wari*a yang sibuk berusaha saling bun*uh, kebersamaan di sana menjadi mirip menonton film aksi.
“Berasa nonton film mafia!” lirih Kalandra dan membuat ketiga orang dewasa yang bersamanya, kompak membenarkan. Ketiganya masih tertawa, dan langsung syok lantaran lantunan imsak yang berkumandang padahal mereka baru menyentuh sedikit menu sahur mereka.
“Kebanyakan ngobrol ini!” ucap ibu Kalsum di sisa tawanya.
Tak beda dengan keluarga Kalandra, di Jakarta, Widy yang telah menjelma menjadi nyonya Lim, juga tengah tertawa bersama sang suami gara-gara video Septi yang ternyata viral.
“Serame ini. Aku beneran enggak nyangka sih, kenal kamu jadi kenal orang-orang ajaib!” ucap Sekretaris Lim masih melongok layar ponsel sang istri yang berisi video Septi.
Widy yang sampai sesak napas menahan tawa, berangsur menatap wajah suaminya.
“Tapi aku kecewa, kenapa Septi enggak banti*ng si Fajar juga!” keluh Sekretaris Lim.
__ADS_1
“Kalau tuh orang masih kecewa, pasti bakalan ngerasain serudukan sekaligus banti*ngan si Septi kok, Pah!” yakin Widy yang kemudian sengaja mengirimkan video tersebut kepada Arum.
Kalian, dapat videonya juga, enggak?