Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
TAMAT


__ADS_3

“Nanti, emas kawinnya juga wajib disebutin ‘sapi satu ekor yang akan dikorbankan’, yah, Mas Andri!” ucap pak Haji begitu bersemangat.


Malam lebaran haji yang begitu syahdu dengan takbir kali ini benar-benar berbeda. Karena di malam lebaran haji kali ini, mereka tengah sibuk mempersiapkan ijab kabul dokter Andri dan Septi. Pasangan kalem dan super bar-bar itu sungguh akan meresmikan hubungan, malam ini juga. Menjadikan satu ekor sapi yang dokter Andri siapkan khusus, sebagai penebus. Yang mana baru saja, pak Haji meminta sapi tersebut untuk dimasukkan ke daftar emas kawin yang akan dokter Andri berikan kepada Septi.


Di rumah besar milik pak Haji, di ruang keluarga yang ada di lantai atas, ibu Fatimah tampak begitu sibuk mendandani, mempersiapkan penampilan terbaik keempat anak perempuan pak Haji. Tampak juga Ojan dan Sepri yang sudah terlihat tampan dengan koko putihnya. Keduanya tak hentinya menabuh bedug kecil sambil melantunkan takbir. Seolah bersama Sepri yang sampai Ojan gendong di punggung, keduanya sedang takbir keliling.


“Eyang, nanti setelah mbak Septi nikahan, kita keliling dunia kan, buat takbiran?” tanya Ojan yang memang mulai agak normal semenjak menjalani pengobatan rutin. Walau dari segi ucapan, Ojan terbilang asal keluar.


“Keliling dunia bagaimana? Keliling kecamatan,” ujar ibu Fatimah. Ia menikmati kesibukannya mendandani anak-anak pak Haji. Kali ini, mereka memang kompak memakai nuansa putih. Namun dari semuanya, hanya dirinya satu-satunya wanita yang bercadar di sana.


Sementara itu, di kamar kontrakan Septi, wanita itu tengah menjalani rias dibantu seorang perias. Septi tersenyum ceria memandangi proses riasnya. Ia mengagumi penampilannya yang dirias. Sudah sangat lama ia tak merias wajah hingga ia sampai pangling pada penampilannya jika dipoles. Terhitung semenjak ia putus dari Fajar, ia memang tak lagi merias wajah.


“Akhirnya aku akan menjalani pernikahan yang sesungguhnya. Enggak ada keterpaksaan lagi. Enggak ada surat perjanjian lagi. Mas Andri benar-benar akan menjadikanku istri. Beliau bilang, beliau sayang dan cinta aku walau berat badanku masih enam puluh sembilan. Berasa mau menyaingi usia kemerdekaan negara tercinta,” batin Septi yang kemudian menunduk dalam. Ada kesedihan yang sempat hinggap di hatinya dan itu gara-gara berat badannya yang sulit turun, tapi sangat mudah bertambah.


“Sudahlah, Sep. Bahagia enggak melulu tentang fisik termasuk juga berat badan. Yang penting tetap merawat diri, enggak malu-maluin, dan yang pastinya banyak duit. Toh, mas Andri juga sudah sampai membawamu ke klinik kecantikan. Lihat saja sekarang, wajah kusam sudah ibarat mantan. Say good bye, pokoknya!” Septi yang masih berbicara dalam hati menjadi bersemangat.


“Ibu cantik banget!” puji Nissa yang duduk menunggu di pinggir kasur Septi.


Tak beda dengan Septi, Nissa yang memakai jilbab instan warna putih juga sampai dirias wajahnya. Senyum ceria tak hentinya mengembang dari bibir Nissa terlebih ketika Septi juga balas memujinya.

__ADS_1


Sementara itu, di luar kontrakan Septi tinggal sudah sampai dihiasi tratag atau itu dekorasi tenda khas ketika menggelar hajatan. Di sana juga sudah dihiasi meja dan bangku dan semuanya bernuansa putih. Mereka yang dari Jakarta juga sudah duduk menunggu bersama Kalandra sekeluarga. Kado dan bingkisan menghiasi setiap meja di hadapan tamu undangan yang sebenarnya masih orang-orang itu saja dan juga sudah seperti keluarga.


Dokter Andri dan pak Haji juga sudah ada di sana bersama orang tua dokter Andri termasuk itu ibu Muji. Walau ibu Muji yang masih duduk di kursi roda juga masih jutek, tapi ibu Muji yang kali ini jauh lebih manusiawi. Keempatnya sengaja duduk di sana untuk menemani setiap tamu undangan yang hadir. Sederet hidangan juga sudah disajikan oleh mereka yang rewang atau membantu secara khusus.


“Itu sapinya dikasih nama Septi aja! Bisa-bisanya, sapi pun mirip yang punya yah. Lihat tuh wajahnya, mirip banget kan?” ucap pak Haji sambil memperhatikan wajah sapi putih yang memiliki tubuh putih segar.


Semuanya sudah langsung tertawa. Tak semata karena pak Haji memberi saran untuk menamai sapinya Septi, tapi juga kenyataan wajah si sapi yang memang mirip Septi. Namun dari semuanya, dokter Andri yang walau tertawa, tetap keberatan dengan anggapan pak Haji.


“Jangan lah Pak Gede. Masa iya dikasih nama Septi. Apalagi wajahnya, ya Alloh,” ucap dokter Andri. Namun tanpa sengaja, ia juga memergoki sang mamah yang diam-diam menunduk hanya untuk menahan tawa.


Sekitar sepuluh menit kemudian, keluarnya Septi langsung menjadi bahan lawak sasaran pak Haji. Suasana yang awalnya sudah ramai oleh obrolan dari kebersamaan, menjadi makin ramai.


“Saya pikir, kamu mau nekat sewa wanita cantik dan seksi buat kamu jadikan mempelai pengganti macam di novel-novel, Sep!” goda pak Haji yang memang pangling pada penampilan Septi.


“Cantik lah Pak Gede. Mamahnya saja cantik. Termasuk papahku juga sebenarnya ganteng banget. Tapi kelakuannya memang enggak ganteng! Nah, tuh orangnya datang, malah datangnya sama mas Angga si mantan suami paksaan. Hahahaha!” ucap Septi langsung mendapat semprot ibu Muji.


“Ketawa kok enggak dijaga,” tegur ibu Muji.


“Yang patut dijaga kan lidah sama hati, Bu. Jangan melarang orang ketawa karena yang enggak bisa ketawa saja diberobatin!” balas Septi yang masih saja ngakak.

__ADS_1


“Terus Pak Gede juga. Jangan menyamakan aku dengan wanita cantik dan seksi. Karena yang Mas Andri butuhkan hanya Septi!” lanjut Septi tak segan mendekap mesra sebelah lengan dokter Andri menggunakan kedua tangannya.


Dokter Andri tak hanya ikut tertawa. Karena kali ini, ia yang duduk di sebelah Septi juga sampai tersipu malu.


Pak Haji geleng-geleng. “Septi ... Septi. Beneran deh, kamu. Tuh si Anggun sampai nangis kerikil di pojokan. Bentar lagi dia pasti masuk tipi gara-gara nangisnya keluar kerikil!” ucapnya.


Anggun yang sudah kembali di sana setelah diberi kesempatan lagi oleh pak Haji dan ibu Fatimah, memang menjadi bagian dari tamu undangan juga. Berbeda dari sebelumnya, kini Anggun agak jauh lebih waras, walau di beberapa kesempatan, wanita itu masih gampang emosi.


Anggun melirik sinis kebersamaan calon pengantin di belakang sana. Anggun memilih fokus memakan makanan enak di mejanya karena tak setiap hari ia bisa memakan banyak makanan enak, dan itu dalam jumlah banyak.


Sekitar dua puluh menit kemudian, kata Sah sudah langsung dokter Andri dapatkan setelah lafal ijab kabul ia lafalkan dalam satu kali tarikan napas.


“Alhamdullilah, semuanya sudah menjadi mantan janda dan mantan duda. Tinggal Angga yang mau jadi ketua duda karena dia enggak mau nikah lagi. Alohuma duda, semoga Angga tetap bahagia walau dia enggak mau nikah lagi. Amin,” ucap pak Haji menutup doa dalam kebersamaan mereka.


Acara selanjutnya merupakan acara pemberian kado dan amplop. Suasana mendadak heboh lantaran pak Haji sudah langsung membuka kadonya dan itu berisi beberapa kodok bangkong yang langsung loncat. Beberapa wanita termasuk itu dokter Andri dan Angga sudah langsung loncat naik ke kursi bahkan meja.


“Mbah ... bisa-bisanya!” omel ibu Fatimah sambil menjewer pak Haji.


“Jewer sampai putus, ... jewer sampai putus!” ucap ibu Kalsum yang masih bertahan berdiri di kursi karena ia juga menjadi salah satu orang yang takut ke kodok.

__ADS_1


Dari jalan depan, Fajar yang diam-diam mengintip, berangsur menunduk dalam. “Kalian semua sudah bahagia, sementara aku masih sibuk dengan mimpiku hidup enak tanpa capek. Sekarang malah begini. Setelah dipecat dari bank, dan aku sampai terlibat banyak konflik dengan wariyem, sekarang aku malah jadi tukang cilok keliling,” batinnya sampai berlinang air mata padahal di depan sana, semuanya sudah kembali tertawa bahagia gara-gara pak Haji sudah dihukum oleh pawangnya.


🌿TAMAT🌿


__ADS_2