Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga

Pembalasan Seorang Istri Yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga
172 : Azzura Dan Azzam


__ADS_3

“Selamat pagi Mamah, selamat pagi Mas Aidan, selamat pagi Mbak Azzura, selamat pagi juga si kalem Mas Azzam!” Baru membuka mata, Kalandra yang rela tidur di kasur lantai hanya untuk bisa menjadi suami sekaligus papah siaga, tersenyum ceria memandangi wajah-wajah orang terkasihnya. Sebab di klinik Andri memang tidak ada ruang VIP layaknya di rumah sakit mahal. Membuat Kalandra menerima sokongan kasur lantai baru dari sang papah.


Arum yang tengah memberi Azzura anak perempuan mereka ASI sambil duduk, balas tersenyum kepada sang suami yang masih duduk di kasur lantai. Kalandra masih tampak terkantuk-kantuk dan sesekali menguap.


“Alhamdulilah, anteng semua,” ucap Kalandra.


“Anteng semua? Papah saja kali!” Arum menahan senyumnya.


“Hah? Gimana maksudnya?” Kalandra kebingungan dan berangsur bangun menghampiri sang istri yang ada di hadapannya karena ia memang sengaja menggelar kasur lantainya di sebelah ranjang rawat keberadaan Arum.


“Semalam nangis semua, termasuk Mas Aidan, tapi Mas pulas banget. Tanya sama dokter Andri yang sering kontrol.”


“Ya ampun, Yang ... maaf, maaf banget!”


“Iya, enggak apa-apa. Aku tahu Mas capek banget, makanya aku enggak bangunin Mas. Malahan lihat Mas tidur sepulas itu di kasur lantai, aku jadi merasa bersalah.”


“Enggak apa-apa, enggak apa-apa. Pagi ini kita sudah boleh pulang, kok. Di rumah sendiri pasti jauh lebih nyaman.”


“Ya sudah, sekarang Mas wudhu, terus subuhan.” Arum menatap Kalandra sambil menahan senyum. Di hadapannya, Kalandra yang baru duduk langsung mencium keningnya sangat lama.


“Payah banget, ya?” ucap Kalandra menertawakan dirinya sendiri. Ia tak lantas pergi menunaikan saran sang istri. Sebab yang ia lakukan malah mendekap wanitanya itu erat sambil sesekali mengelus pipi Azzura.


Nama Azzura dan Azzam memang sengaja mereka pilih agar nama anak kembar mereka tidak begitu berbeda dengan Aidan, selain arti namanya sendiri yang memang cocok untuk keduanya.


“Semalam siapa yang rajin nyanyi?” tanya Kalandra sambil tetap mendekap hangat tubuh sang istri, apalagi suasana pagi di sana benar-benar dingin, ditambah semalam ini, ia tidur di lantai dan hanya beralas kasur lantai tipis.


“Ya ini, yang ***** terus!” lirih Arum sambil mengelus gemas pipi Azzura.

__ADS_1


“Wah, Mbak Azzura jagoan, yah, enggak mau kalah dari Mamah!” ucap Kalandra sambil menahan tawanya apalagi Arum sudah langsung menahan tawa juga.


“Mas Azzam gimana, Mas Azzam? Mas Azzam pasti kalem mirip Papah!” lanjut Kalandra dengan bangganya memuji dirinya sendiri.


Arum sampai gemas dan menghadiahi sang suami ciuman di pipi kiri.


“Mas Aidan masih anteng bobonya enggak kalah dari Mas Azzam. Ya sudah, Papah wudhu dulu, biar langsung cari makan buat Mamah, kasihan Mamah ASI-nya dirampok terus sama Mbak Azzura.” Kalandra mengelus-elus gemas kedua lengan Arum.


“Sayang, Mamah sudah lagi masak dan katanya mau langsung diantar ke sini, tiga puluh menit lalu Mamah sudah telepon. Paling nunggu Papah beres subuhan ke masjid dulu, baru diantar ke sini,” ucap Arum mengingatkan.


Kalandra langsung menghela napas dalam kemudian tersenyum penuh syukur.


Sekitar dua puluh menit kemudian, suasana ruang rawat inap Arum sudah ramai karena ibu Kalsum dan pak Sana sudah datang. Ibu Kalsum sudah langsung mengemban Aidan yang memang langsung bangun ketika ia datang, sementara pak Sana bertugas mengemban Azzam. Lain dengan Kalandra yang langsung memilih menyuapi Arum terlebih Azzura masih menempel dan tak mau berhenti menyusu.


“Mbak Azzura, Mas Azzam beneran enggak dikasih?” tegur pak Sana yang menggoda cucu perempuannya.


“Mas Aidan juga makan, ya. Mbah Uti suapin,” sergah ibu Kalsum yang langsung bersemangat menyuapi Aidan karena yang bersangkutan pun langsung menurut.


Satu hal yang membuat Arum merasa sangat bersyukur di tengah kesibukan barunya memiliki anak kembar. Semuanya kompak bekerja sama membantu. Bayangkan jika Arum masih hidup di masa lalu, bersama keluarga Angga yang kebangetan. Bisa-bisa, anak-anak Arum juga terkena busung lapar layaknya Cantik anak Anggun, yang sekarang entah bagaimana kabarnya.


***


Di balik kebahagiaannya, ada satu yang mengganjal dan menjadi pemikiran serius Arum. Ini mengenai status Widy sang adik yang masih menjadi sasaran empuk pak Haji, tapi sang suami berdalih akan menjodohkannya dengan dokter Andri.


Malamnya, Widy memboyong ketiga anaknya maupun sang mamak mengunjungi Arum di kediaman orang tua Kalandra. Widy memboyong mereka semua dalam dua kali jalan karena ia juga masih tetap mengurus dagangan. Namun pulangnya, Kalandra telah mengutus sopir pak Sana untuk mengantar ibu Rusmini dan juga ketiga anak Widy, mengingat Widy masih harus mengangkut dagangan.


“Hah? Dokter Andri? Aku, sama beliau?” mendengar pertanyaan sang kakak, hati Widy sudah langsung sangat nyeri. Seolah banyak sembilu maupun benda tajam yang sibuk menyayat di sana.

__ADS_1


Mendapati tanggapan getir Widy yang sebelumnya sempat terlihat sangat syok, Arum langsung heran.


“Enggak, Mbak. Aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang.”


Balasan Widy barusan dengan suara yang terdengar berat, malah menjadi tanda tanya sendiri untuk Arum. “Ada masalah?”


“Ya tentu saja masalah. Aku siapa, dia siapa? Beneran enggak cocok intinya. Malahan kalau tetap dipaksain, takutnya jadi bikin hubungan kalian enggak baik.” Sambil menghela napas dalam demi meredam rasa sesak di dada yang juga telah sukses membuat kehidupannya memanas tanpa terkecuali kedua matanya yang basah, Widy berusaha menyudahi rasa sakit yang terasa sangat menyiksa itu.


“Sekalian aku juga mau minta tolong ke Mbak, tolong minta Mas Kala jangan jodoh-jodohin kami.” Widy sengaja makin menjaga ucapannya takut ada orang lain yang mendengar, walau kini, ia dan Arum hanya berempat dengan si kembar di kamar Arum. Hanya saja, pintu kamar dalam keadaan tidak tertutup sempurna dan otomatis, mereka yang ada di dekat pintu, akan bisa dengan mudah mendengar obrolan mereka, andai mereka tidak menjaga suara mereka.


“Ada apa, sih? Ada masalah?” Arum yang tengah memangku Azzam juga menjadi berbisik, menatap sang adik penuh kekhawatiran.


Widy tak langsung menjawab dan memang merenung serius. Ia memilih menatap wajah cantik Azzura yang sangat mirip Arum tapi mata dan hidungnya sangat mirip Kalandra.


“Gini yah, Mbak. Ini aku juga kurang paham, tapi kemarin pas antar Nissa ke rumah, ....” Widy tak kuasa melanjutkan ucapannya, tapi belum apa-apa, kedua matanya sudah langsung basah.


Melihat perubahan emosi Widy yang menjadi diselimuti kesedihan, Arum makin yakin memang ada yang tidak beres dan itu berkaitan dengan agenda Widy mengantar Nissa.


“Kemarin tiba-tiba, mamahnya dokter Andri nahan aku. Aku yang awalnya sudah sampai masuk ruang tamu, diajak ngobrol. Ya aku pikir, ngobrol selayaknya. Tapi karena dia keluar rumah, ya aku ikuti. Ngobrolnya beneran di luar rumah, Mbak. Mbak tahu kalimat pertama yang mamahnya Dokter Andri katakan?” berlinang air mata bahkan sampai ingusan, Widy mengatakannya.


“Dy ...?” lirih Arum yang sudah langsung ikut berlinang air mata.


“Seneng yah, masuk ke rumah gedong, adem, saking ademnya kamu berharap tinggal juga. Mamahnya dokter Andri beneran ngomong gitu! Potong lidah aku kalau aku sampai bohong, Mbak. Ya pas itu aku langsung minta maaf. Awalnya aku mikir, memang aku yang salah, walau alasanku ikut masuk rumah murni karena Nissa yang memaksa. Tapi sumpah beneran baru dua langkah, alhamdullilahnya, beneran baru dua langkah. Tapi setelah aku minta maaf, mamahnya dokter Andri juga sampai bilang, agar aku membatasi hubunganku dengan dokter Andri. Ya sudah, aku sudah langsung tahu, dan mikir jangan-jangan masih berkaitan dengan celotehan Mas Kala yang jodoh-jodohin aku.”


“Jadi, seperti yang tadi aku bilang, ... aku sudah sangat bahagia dengan kehidupanku yang sekarang. Dan, ... andai Mbak dan Mas Kala benar-benar peduli sekaligus sayang aku, ... udah jangan jodoh-jodohin. Karena memang enggak semua orang sebaik mertua Mbak, meski yang aku tahu, orang tua Mas Kala sama dokter Andri dekat. Ya gitu saja, sih. Ngeri aku! Lihat, sampai merinding!”


“Mbak beneran minta maaf, Dy ....”

__ADS_1


“Sudah, Mbak. Enggak apa-apa, enggak usah dibahas juga. Masalah yang tadi, yang mamahnya dokter Andri itu, sudah, ditutup saja.” Widy memaksa seulas senyuman hadir dari bibirnya di tengah sebelah tangannya yang sudah langsung sibuk menyeka air matanya menggunakan tisu kering yang ada di nakas sebelah mereka.


__ADS_2