
Pandangan mereka langsung bertemu, dan seketika, dan itu langsung membuat Zula sadar seketika
" Iyyuuuuuuh....." ucap zula risih kalau sedekat itu sama Ryan dan langsung beranjak bangun dari pertolongan Ryan barusan
" Loe pikir gue apa semenjijikkan itu?" ucap Ryan gak terima
" Ya udah kalau sadar diri" jawab Zula langsung pergi sambil menarik Ucup dari hadapan Ryan
Tapi setelah jarak 2 meter Zula membalikkan tubuhnya, dan
" Herkk..." ucap Zula sambil menyolok kedua jarinya menghadap ke mata, dan menarik tangannya kebagian lehernya untuk kode ancaman dan lanjut berjalan
" Weh..... Gila tuh bocah" ucap Ke empat teman Ryan melihat ekspresi Zula yang sama sekali jauh dari sikap cewek
Karena biasanya cerita di film langsung dag dig dug duuerr saat pandangan keduanya bertemu, dan langsung salah tingkah, lah ini zula sama sekali gak ada rasa atau kelakuan seperti itu, dan justru sebaliknya mengancam
" Loe apain sih tuh anak, " ucap Ryan baru tersadar akan masalah temannya
" Cuman gue ajak kenalan aja lho Yan" jawab Kenzy santai
" loe cari gara gara, singa betina lagi ngantuk jangan di bangunin, lihat tuh ekspresi dia, makin hati makin gak waras aja " jawab Ryan sudah pasrah dan bodo amat serta lanjut duduk
" Eleh.. Elo aja, mau kerja lama bareng sama dia" banrah Akbar
" Ya mau gak mau, karena dia yang bisa di andelin" jawab Ryan gak meragukan kinerja Zula
" Udah gak usah bahas dia, kira ngopi yuk" ajak Ryan sudah bosen membahas Zula
Lanjut dan kembali ke Zula dan Ucup
Ucup gak tau harus apa, dia sebenarnya pengwn banget manjain dan nyenengin Zula kali ini, tapi seolah berubah tak sesuai ekspektasinya, hanya gara gara adanya Musuh Zula
" Elo kok diem aja sih Cup, kenapa?" tanya Zula pada Yusuf yang sedari tadi melamun
" Ck.... Gue merasa salah Il, bawa Elo ke sini" jawab Ucup menghadap Zula
" Kok gitu"
__ADS_1
" Elo seharusnya di sini bahagia sama gue, bukan berantem sama musuh elo, sepertinya ini bukan tempat yang tepat deh untuk kita" jawab Ucup terus terang
" Sorry gue gak tau kalau musuh loe juga ada di sini" ucap Ucup merasa bersalah
" Ck.. Elo apaan sih Cup kok malah merasa bersalah gitu, ya jelas elo gak tau orang Elo gak kenal tuh orang" jawab Zula santai dan bersender di pundak Ucup
" Udah gak usah di pikir, itu bukan orang kira nikmati aja liburan kita ini, sebelum sama sama Melepas masa lajang masing masing " jawab Zula santai dan Ucup mengelus kepala Zula
Beberapa jam lalu Zula sudah menghubungi Zain dan Jihan, yang mana Zain gak henti.hentinya menelfonnya, bahkan terus menanyakan keberadaannya
Sampai sampai Zain di marah oleh Jihan karena dengan sikapnya seperti itu justru mengnggu waktu liburan Zula
Dan sampai saat ini mereka berdua Zain dan Jihan yang masih gak singkron gara gara Zula
" Ya Maaf Mi, kan abah gak maksud, abah cuman khawatir sama anak kita" jawab Zain masih menjawab omelan Jihan
" Iya bah, tau, tapi dengan cara Abah terus menghubungi Zula, itu abah seolah gak percaya sama Zula, apa lagi sama Ucup, kan gak enak, nanti apa coba yang di pikiran Ucup, ternyata Abah Zain gak sepenuhnya percaya sama saya, padahal dulu juga sebelum bertemu Zula sudah baik baik saja sama saya, " ucap Jihan mengurarakan isi hatinya tentang Ucup
" Sana sekalian susul Zula sama Ucup" tambah Jihan karena jengkel
Zain yang mendapat Omelan cukup terdiam dan memerhatikan istrinya yang sedang berceramah di depannya
" Khawatir Mi... Khawatir" jawab Zain pelan
" Coba dulu, saat Umi sama anak anak hidup sendiri, Abah Khawatir gak? " tanya Jihan masih sering menyangkutkan masalahnya dulu
" Ah... Mana, di kata katai ya iya" tambah Jihan sebelum Zain menjawab
" Maaf, Abah kan Udah Minta maaf Mi, Abah menyesal" jawab Zain lirih dan memerhatikan Jihan dengan wajah sok polos
Jihan yang melihat wajah tua Zain yang sok polos justru ingin rertawa karena cukup imut dan lucu
" Masyaallah.....Abah Ih.. " ucap Jihan mendekat ke arah Zain dan duduk di sebelah Zain dengan muka yang masih sama
" Jangan gitu, jelek lho" ucap Jihan lagi dan Zain tersenyum dan merangkul pinggang Jihan serta mengelus perut Jihan lembut
" Sayangnya Abah.... Ini cowok apa cewek sih ? Kalau di priksa abang gak pernah mau di lihatkan" ucap Zain sambil mengelus perut Jihan yang sudah buncit
__ADS_1
Jihan tersenyum dan sangat bahagia dengan sikap Zain kali ini, mwngi gat di kehamilan Jihan di Usia yang sama seperti ini, saat Hamil Al, Jihan sudah celaka dan hampir mati, di Hamil El habis di kata katai oleh Zain sampai akhirnya harus lahir prematur kecil dan harapan hidup harua perlu perjuangan
Dan kali ini dia merasakan kebahagiaan karena Zain yang dari awal gak mau jauh dari dirinya
Zain dan Jihan belum tau jenis kelamin anak yang ada di dalam kandinagn Jihan, setiap kali di USG, bahkan memakai 5 dimensi, baby Jihan selalu menutup jenis kelaminnya
" Baby kan Malu bah, nutup aurot" jawab Jihan mewakili baby yang di kandungnya
" Baby gak mau di tengokin Abah?" tanya Abah Mulai jahil
" Widih.... Abahnya modus" ucap Jihan sadar dan Zain tertawa .
" Ya Mi.... Buat jalan lahir, biar gak ke sasar" jawab Zain merayu Jihan
" Ke sasar kemana? Udel apa silit?" jawab Jihan ngasal dan Zain terus memegangi perut Jihan
" Ya Mi ya.... Umi tau kan Abah gimana?" tanya Zain lagi
" Mumpung lagi sepi, gak ada yang ganggu, kita matiin aja nanti ponselnya, kayak Al" jawab Zain masih merayu Jihan
Jihan pun mengangguk dan tersenyum, dia tau kebutuhan Zain, dan Jihan juga gak munafik dan butuh hal itu
" Tapi Umi males gerak bah, Umi males jalan ke kamar Bah, " jawab Jihan yang sudah hamil tua dan enggan untuk berjalan dan banyak gerak
" Di sini aja" Zain cepat
Jihan dan Zain tentu sudah hafal satu persatu apa yang mereka miliki satu sama lain
" Jangan lama lama ya Bah, Umi udah capek banget" jawab Jihan yang oengen tapi gak mau capek
" Ya udah Umi duduk sambil bersandar dan tiduran aja di sini, biar Abah yang bekerja" Jawab Zain membenahkan sofa yang bisa di atur senyaman mungkin
Dan menaikkan pakaian Jihan, yang ternyata tidak menggunakan penutup le istimewaannya
" Istimewa" ucap Zain dan langsung melanjutkan aksinya yang membuat Jihan harus berteriak hebat
Selamat malam Jum'at dan sunah Rosul
__ADS_1