Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Sedarah


__ADS_3

" Insyaallah Abah, trimaksih sudah hadir malam ini" jawab El sambilencium tangan Abah Tasim


" Ya udah pak Yai, saya pamit dulu, anak anak di rumah sama mbaknya, monggo Bu Nyai, " ucap Tasim pamit sudah deg degan dengan istrinya yang pastinya akan diam di sepanjang jalan nanti


" Iya Trimakasih gus, " jawab Jihan sopan dan tetap santai walaupun perasaannya gak enak


Di lanjut Irfan dan Ryan juga ikut pamit dan akhirnya semua sudah pada pulang ke rumah masing masing


Setelah kepergian mereka Zain langsung menatap Jihan sendu, ada raut cemburu dan sedih di muka Zain yang di tahan sedari tadi


" Ciieee laah... Maaf cemburu pak?" goda Zula yang ikut mengantar sampai gerbang tadi


Ya mereka semua ikut mengantar Para tamunya sampai gerbang, dan kini kembali lagi ke rumah dan jalan bersamaan


" Sorry Bah.... " ucap Al seolah masih meledek


Zain masih terdiam dan tidak menjawab, ya tau sendiri lah gimana rasanya jadi Zain, yang sudah berkali kali kehilangan istri dan dia sangat takut dan sangat posesif banget kalau sama istrinya


" Mi..." Panggil Zain


" Iya abah... Umi selalu sama Abah, Umi gak akan berpaling sama Abah" jawab Jihan yang langsung faham


" Kwkwkwkwkwkwkwkw " Tawa ketiga anaknya meledak mendengar sikap Abah Uminya


" Ini bayi gerang Umi" jawab Zula dan mereka makin tertawa


Ke esokan harinya....


Pagi ini Hamzah dan Fani, Baha' dan Cirana sudah di jemput oleh supir supir nya masing masing


2 minggu sudah mereka berada di sana, dan sudah 2 minggu lebih mereka merepotkan Zain, makanya kali ini mereka gak mau merepotkan lagi dan minta langsung di jemput


Kini mereka sudah siap siap dan dan sudah mau pamit sama Zain


Zaon sedang di bawah, dan melihat kedua mobil yang datang secara bergantian


Dan Zain tau itu mobil kedua kakaknya


Zain berhenti dan memerhatikan mobil tersebut sampai sopirnya turun dan bersalaman sama Zain


" Assalamualaikum Abah" Ucap mereka saat bersalaman


" Waalaikumsalam.. Lho kalian kok sampe sini, gimana?" tanya Zain cukup kaget


Padahal dia bisa saja mengantar kwdua kakaknya tanpa harus mereka jemput

__ADS_1


" Di minta Abah Untuk menjemput Bah" jawabnya sopan,


" Iya kami juga Bah" tambah lainnya mereka 4 orang karena 2 mobil dan bisa bergantian


" Ya Allah.. Di sini banyak mobil Kang, nanti bisa kami jemput, sampean malah jauh jauhan dari sana" jawab Zain cukup kaget banget


" Monggo silahkan masuk dulu, puasa puasa lagi" tambah Zain mempersilahkan masuk


" Pinarak dulu kang, duduk dulu, ini macem macem abah kalian" ucap Zain gak terima dan pamit ke atas menemui kakak kakaknya


Zain buru buru menaiki tangga dan menuju lantai dua ke kamar kakak kakaknya


" Lho Mas Baha' Mbak Fani " panggil Zain pada keduanya


" Woy... Piye?" jawab mereka di kamar masing masing


" Kalian kok getunu minta di jenput kayak di sini gak ada mobil aja lho, kasian supir kalian jauh jauh, puasa lagi" ucap Zain sudah makin peduli sama Mereka


Dulu pas muda sikap egois memang ada, tali semenjak hidup bersama Jihan, Zain makin banyak belajar pada Jihan, betapa pentingnya saudara


Di tambah Zain juga sadar mereka yang ada untuk Jihan di saat dulu musibah datang menghampirinya


Makanya Zain dan Jihan gak pernah merasa di repotkan oleh saudara sendiri


" Ya udah kenapa? Biar supirmu juga istirahat Zain, sudah seminggu mereka juga kerja, mereka ikut menyiapkan acara di sini, kamu kan juga capek, udah biar kami di jemput aja" jawab Baha' denga suara tenang


" Iya mbak panas panas puasa, nanti paling kan ya perjalanan dan buka puasa di jalan jadinya, jauh lho" Ucap Jihan lagi dan ikut gabung dengan menggendong baby Bibi


" Kita kan Musafir Han, kalau gak tahan boleh batal" gurau Baha'


" Eleh tapi juga gak pernah begitu kan, mbok beberapa hari lagi di sini, sampe lebaran gak apa apa lho, jangan buru buru pulang" ucap Jihan lagi pada Mereka


" Ya kalau masih kuat kan gak apa apa Han, lagian cuman duduk tidur gak ada capeknya" jawab Baha' lagi


Zain terdiam dan akhirnya mereka semua berkumpul di ruang tengah lantai atas


" Zain.... Mas dan yang lain pamit, lestarikan budaya peninggalan keluarga kita, jaga baik baik istri dan anak anakmu, jangan di sakiti lagi, nanti tak minta lho" Ucap Baha' berpesan dan sambil bergurau


Dia gak mau sedih sedih lagi, karena kehilangan kedua orang tuanya, apa lagi sama Adeknya yang harus meneruskan perjuangan Abah Uminya


" Ya Han... Kalau di sakiti Zain lagi, bilang sama Mas, nanti di jemput " ucap Baha' membuat Jihan tersenyum tapi tidak untuk Zain yang masih agak kebawa perasaan atas kehilangnya Abah Uminya


" Mas Baha' mbak Fani, walaupun Abah Umi sudah gak ada, ya sesekali main ke sini lah, ziarah apa gimana, jangan terus hidup sendiri sendiri Zain hanya punya kalian, " ucap Zain mulai serius


" Ya udah lah.. Umi gak Punyanya Abah" ucap Jihan yang tau wajah Fani sama sekali gak ada senyumnya sejak pertama kehilangan Abah Umi makanya Jihan berusaha mengalihkan

__ADS_1


Zain tersenyum dan membawa Jihan dalam dekapannya


Fani gak mejawab dan langsung mendekat dan memeluk Mas dan adeknya itu


Ya Baha' dan Zain duduk berdampingan sedangkan Fani di sebrang mereka


" Hiks.... Hiks... Kalian yang sedarah sama aku, mas Baha' kamu Zain, kita sudah tidak punya orang tua, kita berjauhan, tapi setelah ini jangan, kita tetap dekat saling kasih kabar, sebut namaku di doa kalian " Ucap Fani dengan tangisannya


Zain yang sudah menahan, dan juga Baha' ikut menangis dan memeluk satu sama lain


Walau mereka berumah tangga sudah punya keluarga dan cucu masing masing, tapi yang namanya saudara apa lagi saudara kandung sedarah itu pasti beda kedekatannya


Walaupun sudah pernah bermusuhan, tapi darah mereka bersatu dan tidak bisa di pisahkan


Jihan dan Cirana juga ikut menangis, secara seorang perempuan, dan Cirana sudah pernah merasakan hal itu, karena Umi dan Abah nya juga sudah pergi beberapa tahun lalu,


Tapi saudara mereka tetap berdekatan, tidak seperti Baha' dan Fani, serta Zain yang berjauhan karena perjuangan mereka di tempat yang berbeda


Sampai akhirnya mereka saling pamit, cuman sama Jihan dan Zain saja, karena anak anaknya pada pergi kerja, dan Aliza juga ikut Al berangkat ke kampus, karena takut kalau Yasmin kembali berdrama, karena kemaren cuman kontraksi palsu saja sudah menghebohkan warga kampus yang cukup sepi tanpa respon


" Nyuwun tulung geh kang" Ucap Jihan pada kang sopir untuk membantu memasukkan barang barang Fani atau Baha' ke mobil masing masing


Dan ada juga beberapa oleh oleh yang sebelumnya di siapkan, cukup banyak


" Bah Maaf.." Ucap Jihan sambil memberikan aplop untuk uang saku kakaknya dan juga supirnya


Zain menerima dan dipengangnya


" Sudah kang?" tanya Zain pada sang supir


" Ini untuk beli bensin ya kang, sama beli Minum pas buka puasa" Ucap Zain sambil menyelipkan amplop di masing masing saku mereka


" Masyaallah makasih Bah" ucap Mereka menyalami Zain


" Mas... Untuk beli bukaan ya, " ucap Zain juga memasukkan amplop coklat untuk Baha'


" Gak usah, Mas gak bisa bantu apa apa, semua biaya Abah sama Umi, udah loe cover Zain, udah untuk beli popok Bibi Aja" Jawab Baha' menolak


" Bibi Sudah punya pabriknha sendiri" jawab Zain ngasal dan terus memaksa


" Sehat sehat ya mas, jaga kesehatan, telfon kami kalau udah sampai" ucap Zain kembali memeluk Baha'


Kemudian Zain berpindah ke Fani dan melakukan hal yang sama, Fani pun juga menolak, tapi Zain memaksa


Dan Fani kembali menangis, entah kesedihannya belum begitu tuntas, dan cukup bahagia punya adek yang sat set seperti Zain

__ADS_1


" Zain... Zain..." Tangisan Fani kembali pecah dan di peluk oleh adeknya Dan Baha' juga kembali mendekat dan kembali memeluknya lagi


__ADS_2