Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Menghabiskan Waktu


__ADS_3

Zula masuk kerja pagi ini itu tanpa izin, dia bolos dan tidak mengabari Ryan lagi,


Dan benar sesaat kemudian ponselnya berdering tanda panggilan masuk dari Ryan,


" Nih orang pasti mau ngomel" ucap Zula saat melihat nama kontak yang menelfonnya


" Siapa? Ryan? Kamu keluar aja gih, ganggu adeknya bobok nanti malah, angkatnya di luar aja" ucap Zain lembut dan Zula menurut


Seperginya Zula, Zain kembali mabil kesempatan untuk mendekap Jihan, lagi


Sambil mengkhawatirkan tempat keluarnya baby Bibi tadi


" Kenapa sih? Masih Khawatir sakit atau enggak? Apa lebar dan langsung blong besok?" tanya Jihan sudah bisa menebak


" Iya mih, Abah sampe kaget sebesar itukan kalau melahirkan" jawab Zain apa adanya


" Coba kalau tadi lahiran di RS, Abah gak bakalan bisa melihat" ucap Jihan dan Zain tersenyum


" Kalau Umi tadi lahiran di Rumah sakit, peran abah tuh gak guna, cuman megangi Umi doang, senyamangati doang, enakan di rumah kan berkesan, pertama kali menangkap anaknya, menyambut anaknya yang baru keluar dari rahim umi, membersihkan, serta memotong tali pusarnya, bersihin ari ari dan juga perlak lainnya, ngubur sendiri, menemani Umi saat kesakitan, sampai ikut ngejan juga lho" ucap Jihan panjang memperluhatkan betapa berharganya kalau di rumah


" Iya juga sih, jadi berkesan banget rasanya, dan tau pengorbanan Umi yang sebenarnya, mau bikin harus mau bersihin juga dong Mi" jawab Zain langsung mendapat acungan jempol dari Zain


" Ya udah.... Umi kembali ke kamar, Abah temani baby ya, Umi ngauntuk poll Abah yang jaga" ucap Jihan bangkit dari duduknya dan berdiri melambaikan tangannya untuk OTW ke kamar


" Mii..... Kalau nangis gimana?" tanya Zain bingung


" Kasih ASI dong, nanti Umi pompakan dulu" jawab Jihan santai


Jihan yang melihat Zula sedang gedur dan bertengkar di balik telffon hanya dapat menggelengkan kepalanya, karena sudah kebiasaan Zula kalau menerima telfon dari Ryan gak bisa pelan dan halus sama sekali


" Ogah kalau gue jam segini baru datang ke kantor, gue udah mager.... Males ngantuk" jawab Zula enteng karena Ryan memaksanya untuk segera berangkat


" ......." Omelan Ryan di balik telfon


" Iya ya.... Gue kirim ke Email Loe sekarang," jawab Zula dan sambil naik tangga ke kamarnya


Di Jerman, jam 5 pagi Ailza dan Soni baru saja bangun, mereka selalu bersama semenjak pertemuan reuni itu, dan mereka menghabiskan waktu bersama sebelum Ailza resmi jadi istri El


Semua itu atas permintaan Soni, yang mengancam akan melaporkan sendiri dan menggagalkan acara pernikahannya kalau Ailza gak mau


Soni dan Ailza seolah seperti sepasang suami istri, yang tinggal serumah

__ADS_1


Berbeda dengan orang Indonesia yang pastinya sudah jadi buah bibir di kalangan wanita,


Kalau di luar mungkin punya aturan tersendiri mengenai hal itu,


Dengan sama sama masih telanjang bulat, mereka hanya di tutupi olwh selimut, Soni Mulai terbangun dan mengolet


Plek......


Tak sengaja tangannya memegang gunung kembar Ailza dan membuat Ailza terbangun


" Akh......." ucap Ailza kembali mengeluarkan suara yang mengganggu pendengaran Soni


Soni masih memejamkan matanya dan kembali memainkan pucuknya dan Ailza makin menjadi


Soni makin semangat dan makin kemana mana tangan jahilnya,


Hingga olah raga dan peperangan pagi kembali terjadi, di saat sampai puncaknya dan sama sama sudah menjadi satu, sudah masuk ke kandang dan sudah sampai ke titik yang poll nikmat, ponsel Ailza berdering panggilan dari El yang setiap kali istirahat selalu menghubunginya


Ailza meraihnya tanpa Soni yang masih di posisi yang sama tanpa melepas si otong dari kandangnya


" Assalamualaikum sayang..." Ucap El dari sebrang sana


Untung El panggilan biasa, bukan panggilan video


" Bangun sayang.... Sholat subuh dulu gih" ucap El selalu menjalankan rutinitas membangunkan Ailza kalau ada waktu longgar


" Udah bangun sayang.... Ini sedang di rumah sakit, sedang lembuar makanya nafasku ngos ngosan kan" jawab Ailza yang setahu El dia memang sesang praktek di Jerman


" Okey sayang istirahat dulu gih, jangan lupa sholat dan sarapan juga ya" ucap El samgat perhatian


" Siap sayang... Assalamualaikum..." ucap Ailz memutuskan panggilan telfonnya


" Waalaikumsalam... " Jawab El di rumah sakit


Dan pas kebetulan Heny masuk ruangannya , dan mengucapkan salam juga


" Gimana Ada yang bisa saya bantu?" tanya El gak mengulah kedua kalianya


" Begini dokter, di luar ada pasien kritis dan meminta segera di tangani" ucap Heny sopan


El kaget dan segera berdiri dari tempat duduknya

__ADS_1


" Ayo...." Ucap El sembari menggandeng pundak Heny


El menagnggap Heny sebagai temannya, masa lalu tetap masa lalu, tapi itu biar jadi kenangan, dan walaupun kadang perlakuan hamble El sesekali membuat Heny baper dan makin gak bisa melupakan El sama sekali


" Maaf dokter tangannya" ucap Heny sopan


" Udah gak apa apa, Loe temanku, dan Elo sahabatku, anggap aja gue abangmu, dan Elo adekku" jawab El santai dan Heny cukup kaget dan adanrasa sentilan sedikit di hatinya


" Slow Hen Slow.... Dia udah punya tunanganz dan Elo hanya teman dan masa lalunya saja, syukur syukur Elo di anggap teman maupun adek, bukan musuh" Batin Heny menenangkan dirinya sendiri


Hingga El berlari dan sampai di pasien yang sedang di tangani oleh beberapa perawat


" Dokter Falda mana?" tanya El yang seprrskuensi


" Beliau sedang praktek Dokter, banyak pasiennya" jawab salah satu perawat dan El mengangguk


Pasiennya kali ini adalah seorang kakek tua yang sangat lanjut usia, dia salag satu pasien yang sering terkena serangan jantung dadakan, dan Sudah pernah menjalankan oprasi jantung juga beberapa Bulan yang lalu


" Siapkan Alat ini.." ucap El langsung menangani dengan cepat


" Oksigennya menurun, tambah lagi" tambahnya lagi dan Membuat semuanya bergerak cepat


El sangat konsentrasi dalam menangani pasiennya, dan sangat teliti satu sama lain, hingga semua selesai


" Siapkan ruang ICU, karena pasien masih dalam keadaan kritis dan Koma" ucap El pada perawat yang menbantunya


" Dek.... Kamu mau kemana?" tanya El yang melihat Heny hendak mengikuti perawat lainnya


" Saya dok?" jawab Heny menunjuk dirinya sendiri


" Iya.... Sesuai yang gue katakan tadi, Elo adek gue ya, " ucap El dan Heny asal mengangguk


" Mau ikut menyiapkan ruangan dokter" jawab Heny sopan


" Sini aja, tak ajarin yang baik fsn benar saat menangani pasien kritis dan koma seperti ini" ucap El dan Heny menurut


Karena Itu sangat pending dan menjadi ilmu yang berharga dalam masa Coasnya saat ini


El masih menangani lanjutannya dan menerangkan pada Heny tentang penanganannya hingga menciptakan kekompakan antar keduanya


" Sayang.... Kita sudah lama putus bang, dan Abah sudah mau menikah, di sini adalah Impian kita bersama, membesarkan Rumah sakit punya Umi, tapi.. Semua itu hanya rencana belaka, dan kita tidak bisa sama sama seperti yang kita hayalkan seperti dulu, walaupun profesi kita sama" batin Heny saat mendampingi El mengantar pasien ke ruang ICU yang sudah di siapkan, dan mengingat kala El masih bersamanya dan selalu merancang rencana untuk membesarkan rumah sakit ini berdua

__ADS_1


__ADS_2