
" Papa.... Pa..." Teriak Heny pada El yang mulai emosi
El sama sekali gak menoleh pada Heny, dia sangat jengkel, dan males untuk menghadapi sikap egois Heny saat ini
" Maaf ya..." Ucap Heny pada temannya
" Gue gak enak,.. Gue pulang dulu ya, mungkin ini terlalu cepat" Ucap teman yang mau Heny jodohkan dengan El
" Ya udah, gue minta maaf ya, nanti lain kali kalau suamiku udah enakan" Ucap Heny lagi dan akhirnya teman Heny pamit pulang dan di anter Heny sampai Luar
Seperginya teman Heny, Heny kembali ke kamar untuk menemui El yang tentunya sedang ngambek
Henu berfikir mungkin dia bisa kasih pengertian yang lebih agar El bisa membuka hatinya untuk temannya
" Assalamualaikum.." Ucap Heny saat masuk
" Waalaikumsalam.." jawab El singkat karena itu sangat wajib
" Pah Gak boleh gitu lho" ucap Heny lagi sangat lembut
El langsung menatap tajam Heny kembali
" Dia wanita baik baik lho Pah, mau nolong kita" tambah Heny lagi
" Mamah udah gak sayang sama Papah lagi?? Mamah udah bosen sama papah.? Sampe mamah segitunya sama papah?" tanya El ketus
" Tapi" ucap Heny terhenti
" Gak ada tapi tapian, perjuangan cinta kita itu panjang, mamah rela cinta papah ke mamah di bagi sama wanita tadi?? " jawab El makin jengkel pada Heny
Heny sudah mulai mau menangis karena bentakan dan suara tinggi El yang sama sekali tidak pernah di dengar selama jadi suaminya
" Dipikir, otaknya di gunakan untuk mikir" tambah El makin tinggi dan Heny menangis juga akhirnya
" Papah gak pernah tau gimana rasanya jadi mamah, mamah malu pah, mamah putus asa" jawab Heny ikut tinggi suaranya
Dan sama sama tingginya mereka kemudian berantem berat, dengan Heny yang terus meminta untuk El agar menikah lagi
sampai El kehabisan akal mengjadapi Heny yang terus menangis dan memohon pada El
El kalau mau lanjut berantrm juga gak tega, kalau di hadapi sendiri juga makin menjadi dan akhirnya El menelfon uminya
" Assalamualaikum..." Ucap El datar
" Waalaikumsalam... Gimana El?"tanya Jihan dari seberang sama
Heny tak lanjut ngomel tapi masih terdengar isak tangisnya
" Sini Mi, ini menantu Umi gak bisa di omongi" ucap El cepat dan langsung memutus panggilan telfonnya
Jihan yang mendengar tangisan Heny tentu ikut kaget dan grusak grusu
" Ayo kerumah El Bah, lagi ribut kayaknya" Ucap Jihan dadakan
" Ribut apa lagi?" tanya Zain baru dengar
__ADS_1
Pasalnya selama ini El bisa mengatasi Heny kalau lagi putus asa, dan gak pernah dengar dengan masalah mereka lainnya, ini sampai telfon berarti parah
" Ya udah ayo..." jawab Zain sebelum Jihan menjawab
Mereka gerak cepat, dan Al serta anak dan istrinya juga ikut, jadi semuanya ikut begitu juga dengan Zula dan Ryan sudah di telfon sama Al untuk langsung Nyusul
Zula yang lebih dekat tentu lebih cepat datangnyaz karena oanik jadi langsung ke sana, pas di mana Sebelum Ryan masuk kerumah dan bahkan baru parkir suruh putar balik untuk langsung ke rumah El
Sesampainya di sana, Zula dan Ryan langsung masuk, dan terdengar suara tangisan Heny yang masih sangat kenceng
Sedangkan El sudah pindah ke ruang keluarga meninggalkan Heny sendirian di kamar
" Assalamualaikum.." Ucap Zula dan Ryan bareng
" Kumsalam.." jawab El singkat
" Kenapa Bang? Ada apa? Kak Heny nangis gitu?" tanya Zula panik
" Bilangin tuh kakakmu...." Jawab El cuman itu aja
Zula sama Ryan otomatis bingung mau di bilangin gimana toh gak tau masalahnya
" Ada apa kalian?" tanya Zula sebenarnya takut ikut campur masalah keluarga Abangnya itu
" Tanya sendiri sama kakakmu" jawab El ketus dan Ryan melarang Zula untuk tanya dan ikut ikutan lagi
Mereka memilih diam, dan Ryan pamjt sama Zula, untuk ke kamar atas mau mandi udah sangat gerah banget katanya
Ya di setiap rumah mereka masing masing pasti ada kamar untuk saudaranya, dan pasti ada baju mereka yang tertinggal di sana
Zula berusaha mendekat pada Heny yang masih di kamar
Awalnya Ryan melarang, cuman Zula hanya ingin mendiamkan saja
Zula duduk di sebelah Heny dan mengelus serta menenangkan Heny yang masih menangis sesenggukan
Tak lama terdengar suara keluarga Zain dan Jihan datang
" Kenapa ada apa ini?" tanya Zain saat sudah pada duduk di ruang tengah
Zula yang mendengar beranjak dari duduknya dan mengintip ternyata benar
" Mbak kita keluar aja yuk, Abah sama Umi udah datang, kita kesana aja, " Ucap Zula dan Heny mengangguk masih dalam tangisnya
Heny kemudian bangkit dan berdiri jalan di tuntun Zula
" Tanya sendiri sama menantu Abah tuh" Jawab El saat Heny baru saja keluar dari kamar
Semuanya langsung mengarah ke Heny yang kembali menangis keras dan duduk di bawah El
" Maaf Pah, maaf Mamah minta maaf" Ucap Heny jongkok dan bersimpuh di kaki El
" Baru sadar?? Baru minta maaf??" sentak El pada Heny dan yang lain kaget
Untung Bibi sama Alwi langsung minta kebelakang rumah, karena di sana ada tempat bermain mereka
__ADS_1
Ya ada play ground untuk mereka bermain saat berkunjung ke rumah El , dan El menyiapkan semua di mana saat Bibi main, jadi mereka gak lihat peetengkarannya
" Bisa di bicarakan baik baik El, jangan bentak bentak" ucap Zain pada El
Jihan bangkit dan membantu Heny untuk berdiri
" Ya dia ngadi ngadi Bah, okey kita gagal bayo tabung, tapi nanti masih bisa berusaha lagi, dia gak nangis setres berhari hari, minta El untuk nikah lagi, sampe tadi bawa perempuan ke sini, mau di kenalkan pada El, untuk di poligami" jawab El mulai cerita sontak semuanya kaget
" Astagfirullahaladzim...." ucap Semuanya kaget termasuk Ryan yang baru saja duduk di sebelah Zula
" Gak boleh gitu nak,.. Poligami itu menyakitkan" Ucap Jihan memeluk Heny
Heny makin menjadi tangisannya, dan El sudah males berkata kata lagi
" Kalau mau cari jalan surga, Umi sendiri gak mau pilih poligami, " tambah Jihan lagi
" Kamu takut dan putus asa dengan keturunan? Tapi poligami bukan cara yang efektif untuk menyelesaikan masalah itu" tambah Jihan lagi
" Lagian, El, Abah Umi, apa lagi orang tuamu, semua gak nuntut untuk segera memberi keturunan, kami semua sabar menunggu, sabar menerima kapan Allah kasih titipan pada kalian" Ucap Zain mulai angkat suara
" Coba mbak Pikir, Dulu Bang El dekati Zula, mbak udah cemburu, itu mbak masih pacarnya dan bisa di katakan sudah gak ada hubungan mbak masih cemburu kan? Sakit hati kan?? Gimana dengan sekarang, mbak istrinya, yang pasti bang El milik mbak, tapi mbak berikan pada yang lain, sakit gak??" sambung Zula ikut memberi masukan
" Dan leo tau sendiri kan Hen, gimana perjuangan loe, pertahankan El, begitu juga El, perjuangan kalian berdua untuk bisa bersama, masak mau di kasihkan gitu aja" tambah Al lagi
" Nanti kalau seumpama El mau, jadi menikah, terus sama istri kedua punya anak, elo di kesampingkan mau?" tambah Al lagi
Aliza dan Ryan memilih diam, mereka sadar posisi sebagai anak mantu
Heny masih menangis, dia baru sadar akan kesalahannya dan dipikir memang gak mudah
" Kamu baru 3 tahun menikah, di luar sana banyak yang bahkan udah puluhan tahun, " ucap Zain lanjut
" Kalau rindu anak kecil , tuh ada Bibi, ada Alwi, ada Zea, ada tuh Zula juga sedang mengandung, mereka itu ponakan mu, bisa kamu anggap sebagau anak sendiri, yang mana kalian om tante, atau pakde bude mereka, " tambah Jihan
" Iya mbak, Zula malah seneng nanti ada yang bantuin Zula saat sudah lahiran nanti" imbuh Zula yang merasa kasian melihat mereka
Ryan hanya mengangguk dan menyetujui hal itu
" Betul, semua gak harus instan dek, pelan pelan, sabar tawakal dan berusaha" tambah Aliza lagi
Mendengar nasihat dari semuanya membuat Heny melepas pelukannya dan berpindah ke arah El dan langsung memeluknya
" Maaf pah maafin Mamah" Ucap Heny memeluk El
" Jangan di ulangi lagi, Papah sayang mamah" Ucap El juga ikut menangis
Di gak tega melihat istrinya terus terusan menangis, dan dia juga sebenarnya gak tega membentak Heny tadi
" Nah gitu dong... Lanjut yuk lanjut bikin anak" ucap Al seneng kalau menggoda mereka
Semuanya ikut tersenyum dan memeluk istri masing masing...
" Oh ya sayang.... El bodoh, di suruh nikah lahi gak mau, kalau Umi gak nyuruh Babah nikah lagi?" ucap Al pada Aliza tentunya bergurau
" Boleh gak apa apa kalau mau, burung Abang di sembelih" jawab Aliza santai dan tajam
__ADS_1