Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Mimpi sama


__ADS_3

" Jangan dong sayang, Abah belum siap jauh dari kamu" jawab Zain kembali menarik Zula kedalam pelukannya


" Makanya biarkan Zula pilih posisi sendiri" ucap Zula dan Zain akhirnya mengangguk


" Mulai besok Abah enggak berangkt kerja lah, " ucap Zain tiba tiba


" Abah gak tega melihat anak gadis Abah menyanbut kedatangan abah dan karayawan lain di depan sana" ucap Zain lagi dan Zula tersenyum


" Kan Abah besok udah pindah juga ke KDS, gak perlu jauh jauh ke sini" jawab Zula dan Zain tersenyum serta mengelus kepalanya lembut


Setelah itu Zula pamit untuk mulai bertugas, yaitu sebagai petugas resepsionis di sana


Di rumah sakit Jihan dan El sedang berada di ruang meeting, atau ruang pertemuan dan aula Rumah sakit, di mana di sana adalah tempat pertemuan semua dokter dan perawat serta pegawai lainnya


Dan kali ini Jihan akan memperkenalkan El sebagai pemimpin selanjutnya, dan Jihan memilih untuk undur diri dengan kembali ke Rumah mertua dan mengemban tanggung jawabnya


El sudah belajar banyak dari Umi Jihan selama tinggal di Swiss bersama


Dan Tubuh El tidak se cungkring saat masih tinggal sendiri dan jauh dengan Abah dan Uminya


Dia makin terawat dan maki berisi tubuhnya, dengan wajah yang sekarang di tumbuhi bulu halus seperti abahnya, di tambah kegagahannya sebagai seorang dokter manambah karismatik tersendiri


Acara belum di mulai, dan Jihan serta kedua sahabatnya saat ini masih ngobrol, dengan El yang ada di sebelahnya asyik dengan ponselnya sendiri


" Jadi selama 3 tahun loe di Swiss ngapain aja Beb?" tanya Mega pada Jihan


" Ya sebagai ibu rumah tangga biasa sih Beb, beberes rumah, belanja masak, bantuin anak ngerjain tugas, bantuin suami kerja, udah itu itu aja" jawab Jihan santai sambil menunggi semua karayawannya kumpul


" Masak iya anak udah pada dewasa masih di bantuin kerjakan tugas say" Heran Melisa


" Sebenarnya enggak sih say, cuman gue mau aja bantu mereka, selama mereka SD maupun TK gue gak pernah bantuin mereka ngerjain tugas, jadi gak apa apa telat, asal gue gak pernah kehilangan moment itu aja" jawab Jihan dan Melisa hanya tersenyum menanggapi


Karena memang benar adanya di mana Masa lalu Jihan saat anak anaknya masih kecil sangat menyibukkan karena harus menjadi bapak sekaligus ibu bagi anak anaknya

__ADS_1


" Terus anak gadis gue gimana nih? sekarang sama siapa?" tanya Melisa yang tentunya sudah mengetahui tentang Zula


" Pagi ini dia ke Kantor Abahnya , mau melamar kerja juga di sana, tapi entah jadinya gimana nanti, soalnya anaknya merengkel banget kayak gue pas muda, tambah sikap egois abahnya tuh nurun juga sama dia" jawab Jihan menceritakan anak gadisnya


" Debat lah tuh nanti sama Abahnya" saut Mega


" Mana debat, Pak Zain tuh sekarnag lebih sayang ya sama anak anaknya, semua apa kata anaknya di turuti, walaupun gak tega lasti ngalah sama anak kesayangannya itu" saut Melisa membuat Jihan menahan senyum


" Loe ngiri gak sih Beb, maksud gue cemburu gak sama anak gadis loe, yang dulu Pak Zain sepenuhnya untuk loe, dan sekarang ada gadis lain di antara mereka" tanya Mega yang maish sama sifatnya saat masih gadis, dengan pertanyaan yang gak masuk logika gitu


" Elo tuh Meg, masih aja sama dulu " kesal Melisa menonyor kepala Mega lagi


" Salah ya" ucap Mega masih loding


" Salah lah, mana ada orang tua cemburu sama anaknya sendiri" jawab Melisa makin kesal


" Udah udah, gak enak di lihat yang lain," ucap Jihan kembali melerai


" Tapi gimana beb, " ucap Mega masih kepo


" Dan gue kemaren ikut pindah ke Swiss kan karena bang Zain yang gak mau jauh dari anak gadisnya, makanya semua jafi pindah" tambah Jihan lagi


" Ciee.... Bang Zain, abang adek" goda Melisa dan Jihan salah tingkah


" Mengenang masa muda, " jawab Jihan santai membuat mereka tertawa


" Oh ya, Beni sama Heri kan kenal tuh sama Zula, nanti jangan di bilang ya, kalau memang Zula kerja di bagian ping bawah, jangan di tanya aneh aneh aja, anggap aja kayak karyawan lainnya" ucap Jihan agar Mega dan Melisa menyampaikan pada suami masing masing


" Pasti nyamar lagi kan kayak Uminya dulu, kebiasaan keturunan" ucap Melisa membuat mereka mendecak gak heran pada Jihan yang senyam senyum nyengir


Hingga semua dokter sudah berkumpul begitu juga dengan para petugas lainnya yang ada di sana serta puluhan anak magangpun ikut berkumpul


Kini acara sudah di buka dan Jihan juga sudah sepenuhnya memberikan rumah sakit ini pada El yang ada di sebelahnya

__ADS_1


Di sana juga ada Henny yang sedang Coas di rumah sakit Uminya,


Heny sudah menyelesaikan kuliahnya, dia dulu cuman mengambil materi dan Coas seteleh selesai sekripsi, berbeda dengan Jihan dulu yang ambil paket cepat seperti El kemaren


Heny merasa kagum dengan El yang sedari dulu memang sangat cerdas, di tambah sekarang penampilannya yang terlihat sangat berwibawa, Cocok banget sebagai pemimpin rumah sakit ,


Heny masih jomblo hingga sekarang, bahkan El mengira Heny justru sudah menikah setelah 3 tahun lebih dia mengetahui sudah tunangan


El sudah benar benar move on dari Heny, dan berbeda dengan Heny yang masih terus menyimpan kenangan indah saat bersama El dulu


Setelah acara selesai, dan semua bubar El lanjut bertugas, dan di tugaskan oleh Jihan untuk menangani pasien yang akan melakukan tindakan oprasi


Di saat yang bersamaan El di tugaskan bersama dengan Heny yang akan menemaninya di ruang oprasi, bukan hanya mereka saja tapi juga beberapa perawat yang mendampingi mereka


Kini mereka sudah berkumpul di ruangan yang sama tapi tinggal menunggu El untuk breafing nanti


" Assakamualaikum..." ucap El saat masuk


" Waalaikumsalam..." jawab yang ada di sana menyambut El


Saat masuk pandangan El sudah tertuju pada sang mantan, tapi semua sudah jadi mantan, dan hanya perlu di kenang dan saat ini hanya sebagai patner kerja


" Alhamdulillah... gimana kabar sehat semua kan?" tanya El dan mereka menjawab dengan ucapan hamdalah semua


" Okey sebagai tim medis semua harus sehat dong, dan okey sekarang kita mulai breafing dulu ya sebelum melakulan tindakan oprasi " Ucap El versikap sangat profesional


Setelah breafing mereka bersama sama ke ruangan oprasi dan berdoa bersama dengan pasien yang akan di oprasi


Di tengah tindakan oprasi El sangat teliti dan serius, dan El juga memberi ajaran pada Heny yang mendampinginya saat ini


" Gimana bisa, dan silahkan, coba di lanjutkan" ucap El pada Heny dan Heny mengangguk serta melanjutkan apa yang El suruh dengan El yang mengawasinya


Heny sebenarnya baper banget dengan sikap El saat ini yang masih sama lembut seperti dulu

__ADS_1


" Dulu kita punya mimpi dan harapan yang sama, " batin El saat mengamati Heny yang bekerja dengan pelan pelan


" Sebenarnya mimpi ini sudah menjadi nyata, tapi kita tidak bisa bersama" batin Heny yang seolah meneruskan dan berkemistri dengan apa yang El batin


__ADS_2