
Tak lama beberapa menit dengan tingkah drama Aira, yang ceritanya ngambek sama Mamahnya dan hanya mau di gendong papahnya
Jihan dan Bibi datang berdua, karena Zain sedang ada urusan di luar jadi Jihan yang di telfon sama Zula langsung neluncur ke sini
Sekalian dengan Bibi yang sudah pulang dari pondok karena libur beberapa hari
" Assalamualaikum..." Ucap Jihan saat masuk kerumah Zula
" Waalaikumsalam..." jawab Zula menoleh keasal suara
" Tuh Uti... Datang tuh" Ucap Ryan saat melihat Jihan masuk
Zula bersalaman dengan Jihan begitu juga dengan Ryan
" Ya Allah... Cucu Uti, sini sini sama Uti yuk" Ucap Jihan paling gak bisa lihar anak dan cucunya sakit
Jihan mengambil alih Aira dari gendongan papahnya
" Eh.... Om Bibi ikut juga? Pulang dari pondok ya" Ucap Zula saat melihat adek bungsuhnya itu
" Baru siang tadi pulang" jawab Jihan sambil mengelus punggung Aira yang ada di gendongannya
" Weh... Gantengnya kang santri, tos dong" Ucap Ryan sambil menadahkan tangannya
Bibi membalas tosnya dan duduk di sebelah kakaknya
" Adeknya kakak ini, haduh udah bujang aja, gimana ngajinya aman?" tanya Jihan pada Bibi
" Aman lah sangunya aman kok" jawab Jihan dan membuat mereka tertawa
Zula mengajak ngobrol Bibi, dan Ryan lanjut membuka laptopnya sedangkan Jihan masih menggendong cucunya
" Aira udah minum obat belum?" tanya Jihan sambil terus memanjakan cucunya
" Males... Mamah nakal, Aira gak mau bawa rumah sakit, Aira gak mau di suntik" jawab Aira masih lemas di gendongan Utinya
" Yah kok gitu... Gak cepet sembuh dong nanti" ucap Jihan lembut dan Aira tidak menjawab
" Kita ke kamar yuk, sambil bobok cantik , di keloni Uti" ucap Jihan lagi dan Aira menggeleng
Tiba tiba suara mobil masuk kehalaman rumah mereka dan mengklakson keras
" Siapa itu yang datang, kakung apa siapa itu" Ucap Jihan pada Aira dan mengajaknya keluar
Belum sampai luar El dan Heny udah masuk duluan
" Lho... Papi sama mami, " ucap Jihan saat melihat El dan Heny
" Assalamualaikum..." Ucap El dan Heny bareng
" Waalaikumsalam..." jawab Jihan masih menggendong Aira
" Waduh.. Putri papi kenapa ini? Kok lemes gitu" ucap El mengelus Aira
" Iya kenapa ini cantiknya mami, masih demam Mi" sambung Heny sambil menaruh tangannya di kening Aira
" Iya... Priksa dulu coba El, Umi bawa alat tadi" ucap Jihan dan El mengangguk
Mereka masuk kedalam dan menyusul di ruang tengah bareng Bibi dan Zula
" Weh.... Bro.. Pulang bro" sapa El pada Bibi yang sedang Asyik main ponsel
Bibi hanya nyengir dan bersalaman dengan El dan Heny
__ADS_1
" Sehat bro, " tanya El sambil menepuk kaki Bibi
" Bi Khoir Alhamdulillah.. " jawab Bibi pake bahasa arab
" Weeh... Bahasa langsung lain, kebanyakan makan nasi mandi" jawab El dan membuat semuanya tersenyum
" Ini dah boleh keluar kak?" tanya Zula pada Heny
" Mana, ini juga nyolong nyolong" jawab Heny dan Zula ikut tertawa
Tak lama Ryan yang dari Toilet keluar, dan melihat sudah rame
" Weh.... Papi sama Mami datang juga nih Ra..." Ucap Ryan salaman pada El
" Tolong Aira dong Papi, gak mau turun nih dari tadi" Ucap Ryan pada El
" Oh iya... Mana ya mainan Papi nih" jawab El mulai menyelimur Aira
" Di dalam ini Bang" jawab Bibi yang faham
" Good job, kepekaanmu menurun Abang, untung gak nurun bang Al" jawab El dan Bibi kembali nyengir
Ya Aira tentu lebih pintar dong melihat El memakai tetoskop dia sudah mulai was was duluan
" Gak mau.... Gak mau di periksa" ucap Aira dalam gendongan Utinya
" Siapa yang mau periksa? Papi cuman main dikter dokteran sayang, cona lihat" Ucap Jihan dan El langsung berakting memeriksa Bibi dengan menempelkan pada jidat Bibi
" Ha... Isi kepala Om Bibi hanya uang bulanan lancar" ucap El membuat semuanya tertawa
" Coba perut mami Pih" ucap Zula pada El
" Oh iya, adek bayinya bilang apa ya??" ucap El menempelkan pada perut Heny yang sangat besar
" Oh.. Gantian kakak Aira? Okey okey... Coba kakak Aira dulu katanya" ucap El kembali berdiri dan mendekat pada Jihan
" Gak mau.." kekeh Aira
" Hem... Angel Angel" jawab El
" Mamahnya gitu juga dulu kok, udah besar sakit bukannya ke rumah sakit minta ke hotel" jawab Jihan mengulas cerita lama
" Hem... Anaknya gitu di marah marah, " sindir Ryan pada Zula
" Coba Uti, " Ucap El pada Uminya
" Coba sini dari tangan Uti pih" jawab Jihan mengulurkan tangannya
El mulai memeriksa dari telapak tangan, Aira mulai merharikan, dan pelan pelan sampai gak sadar kena di dada Aira dan
" Ye.... Berhasil" ucap Heny dan tau kalau udah selesai memeriksa
" Gimana Bang?" tanya Zula sat set
" Capek paling dia ya, terlalu aktif banget, biar istirahat dulu manja manja dulu, mamahnya libur aja dulu, di rawat anaknya, jangan di ajak berantem terus, pantesan gak mau punya adek, kalau punya adek dia merasa musuhnya bertambah" ucap El sambil meletakkan kembali tetoskopnya di tempat semua dan duduk di sebelah Zula dan Bibi
" Ya.... Libur dulu kerjanya" Ucap El pada Adek kesayangannya
" Iya tuh kak, Bibi aja sekolah mau libur" jawab Bibi dan El mengelus kepalanya
Heny yang mendekat dan mengelus Aira yang ada di gendongan Jihan merasakan sesuatu yang begitu aneh dan..
" Aduh... Duh..." Keluh Heny sayangnya El gak dengar
__ADS_1
" Kenapa nak?" tanya Jihan heran
" Aduh Mi... " ucap Heny merasakan sakit di perutnya
Dan Pyaak....... Air ketuban Heny pecah
" Ya Allah... El... La" kaget Jihan langsung teriak
" Kenapa Mi?" jawab Mereka spontanitas dan berlari ke arah mereka
Jihan memberikan Aira pada Zula dan El langsung faham dan menggendong Heny mau di ajak pulang
" Heh... Di sini aja, gak usah jauh jauh, cek dulu" ucap Jihan mulai ambil sikap
Kemudian Zula memberikan Aira pada Ryan dan ikut membantu menyiapkan apa yang abang dan maminya minta
Untung ada kamar sebelah yang kosong dan sudah tersedia perlengkapan dan tinggal gelar
" Ya Allah... Secepat ini sayang? Gak terasa apa apa?" tanya El penasaran dan Heny hanya menggelengkan kapala
" Gak Pah.. ini lho gak sakit sama sekali, cuman kaget aja," jawab Heny masih tenang padahal El sudah panik
" Mi.. Bawa alat apa aja? Apa kerumah sakit aja biar sekalian lebih lengkap" ucap El pada Jihan
" Ini se ambrek alat El, udah tenang, Heny aja tenang kok" jawab Jihan yang memang harus di hadapi dengan tenang tanpa grusa grusu
" Coba cek dulu Udah pembukaan berapa, Umi bantu Zula dulu siapkan sesuatu" ucap Jihan pada El
" El mulai memakai kaos tangan dan perlahan membuka daleman Heny
" Ayo dong Pah, Kayak pengen mengedan rasanya" Ucap Heny dan El perlahan masuk dan ternyata udah buka lengkap
" Allah ya Karim.." Ucap El yang di beri kemudian istrinya saat melahirkan
" Udah di sini aja ya sayang, takutnya halir di jalan repot" Ucap El langsung bersiap siap
Kini Jihan kembali dengan membawa bak isi air panas, dan di letakkan di nakas sebalah tempat tidur
" Udah buka lengkap Mi" Ucap El memberi tahu
" Gitu mau di bawa ke rumah sakit, belum sampai tempar bersalin udah keluar nanti" jawab Jihan langsung siap siap
" Bismillahirrohmanirrohim..." Ucap Jihan dan El mendampinginya di sebelah
" Ayo kak... Dorong" ucap Jihan dan Heny mengedan pelan
" Heek.... Huuuh....." Heny mengedan sekali dan
" Ooeeek..... Ooeek....." Tangis bayi keluar dengan begitu mudah
" Masyaallah..... Cucu Uti" Ucap Jihan tak kuasa menahan haru
Tapi bukan sampai situ aja, masih ada satu lagi di dalam dan Heny lanjut mengedan lagi
Tak selang lama, cuman 2 menit aja, kembali keluar baby keduanya dan tangisan yang menyaut dengan soadara pertamanya
" Baby twiins " Ucap El pada Anak anaknya dengan tangis harunya dan memeluk Heny
Mendengar tangisan yang pertama tadi Heny sudah menangis sendu dan apa lagi di tangisan selanjutnya yang makin membuatnya menangis keras
" Huuhuuhuu... Sayangnya Mamih" Ucap Heny dengan tangisannya yang semakin gak terkontrol saking bahagianya dengan penantian panjang yang mereka nantikan
Welcome to baby Twiin
__ADS_1