Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Pengen sendiri


__ADS_3

Kini Al El dan Zula serta Aliza sedang berkumpul di depan kamar masing masing di atas kapal pesiar


Al menunjukkan pada Aliza sebelum melakukan kejutan Prank tersebut pada Zain yang masih di kamar dengan Jihan saat ini


" Ini sayang... Seru gak?" tanya Al sambik menunjukkan Kue ulang tahun bergambar Zain dan Rani


" Itu siapa Mas?" tanya Aliza gak faham dengan Rani


" Itu Abah sama Siapa?" tanya Aliza lagi


" Sama mantannya Abah" jawab Al santai


" Mas... Eh... " ucap Aliza langsung melotot


" Kenapa?" tanya Al lagi


" Gak usah lah, ganti aja kuenya, kalian nih" Ucap Aliza lagi justru takut sendiri


" Kenapa sih yang?" tanya Al lagi


" Ini nanti bukan hanya Abah yang kena Prank, Umi juga, gak usah cari gara gara deh, jaga perasaan Umi" ucap Aliza menjelaskan


" Nanti tinggal ledeki aja Uminya kalau cemburu, beres gak jadi marah" jawab Zula santai


" Gue gak ikut lah, gue takut, kalian aja lah, gue gak mau ambil resiko" jawab Aliza seketika mundur


" Yah... Sayang gak seru dong" ucap Al kecewa


" Mas.... Plis, adek gak mau ambil resiko, adek bukan siapa siapa di sini, jadi gak mau, udah kalian aja, gue gak mau tau, udah ya" ucap Aliza sudah ketakutan duluan


" Ya udah... Kita mah mau happy, mau setu seruan aja" jawab Zula yang justu makin gak sabar


Kini Aliza langsung masuk ke kamar, dia sebagai wanita juga gak mau suaminya di prank seperti itu, apa lagi posisi Umi Jihan yang dulu pernah punya trauma berat dan sakit hati yang mendalam, jadi makin takut


" Cemen tuh istri loe bang" ucap El saat melihat Aliza kembali masuk ke kamar


" Dia sebagai menantu kan mungkin gak enak sih El, udah lah, ayo buruan kita bawa ke kamar Abah sama Umi" jawab Al dam mereka bertiga kompak berjalan menuju kamar Jihan dan Zain


Mereka menuruni tangga, karen kamar Jihan dan zain berada di lantai 2, sedangkan mereka semua berada di lantai atas


Di tengah hembusan kencang angin laut mereka menuruni tangga dan sampai di lantai dua depan kamar Abah Uminya


Tok tok tok....


Pintu kamar Zain dan Jihan sudah di ketuk


Mereka masih menutup kuenya yang anteng di dalam box, dan belum kelihatan


" Assalamualaikum..." ucap Mereka kompak dan..


Ceklek... Pintu terbuka yang buka Zain, karena Jihan masih menyusui baby Bibi


" Waalaikumsalam.." jawab Zain sama Jihan barengan

__ADS_1


" Mabruk Alfa mabruk... Alaika mabruk... Mabruk Alfa mabruk Alaika mabruk, mabruk alfa mabruk yaumiladik mabruk.. Mabruk alfa mabruk yaumiladik mabruk..." nyanyian mereka lantunkan untuk Abah Zain dan masih lanjut ke lirik selanjutnya


Umi Jihan tersenyum dan bangkit dari tidurnya karena baby Bibi sudah merem sedari tadi


Jihan kemudian meraih hijabnya dan memakainya serta mendekat pada anak anak dan suaminya yang masih nyanyi lagu milad untuk Abahnya


Jihan makin sumringah dan ikut bertepuk tangan serta menyanyikan doa untuk suami tercintanya yang sudah semakin tua, tapi masih terligat perkasa


" Ayo berdoa dulu dong bah" ucap Zula dan Zain berdoa


Padahal kue tersebut belum di buka dari tutup boxnya


" Jadi gak ada lilin kita tutup aja, nanti di ganti buka tutupnya aja ya" ucap Zula menjelaskan dan Zain hanya tersenyum bahagia karena mendapat kejutan dari anak anaknya


" Ayo sekarang buka tutupnya dong" ucap Jihan paling semangat


" Buka tutupnya buka tutupnya buka tutupnya sekarang juga sekarang juga sekarang juga" tepuk tangan meriah dari mereka semua


Padahal Al El dan Il, sudah sangat deg degan akan apa yang terjadi


Perlahan Zain mulai mengangkat tutup boxnya dan pinggirannya yang tidak di steples langsung kebuka seketika dan..


" Yeeeee....... Yeeee.... Yee...." Heboh Zula Al dan El


Tapi tidak dengan Jihan dan Zain, yang Awalnya Jihan ikut ceria heboh dan girang kini seketika terdiam kaku tanpa ekspresi melihat gambar yang ada di kue tersebut


Sedangkan Zain langsung menatap wajah Jihan yang sudah berubah seketika


Al El Il, sudah melihat hal itu tapi mereka pura pura tidak tau, dan lanjut untuk bernyanyi


Tapi justru membuat Jihan makin mundur , mundur dan terduduk lemas di atas kasurnya


Entah Hati Jihan seolah no koment, dan kembali merasakan rasa sakit di saat meluhat foto Rani, apa lagi foto mesra dengan suaminya


" Ayo Bah..." ucap Zula gak peduli sama Jihan yang sudah menjauh dari mereka


" Kalian apa apaan ini, lihat Umi" Ucap Zain dengan suara pelan


" Ciiee..... Umi cemburu ya..." ucap Al meledek dan gak dapat jawaban sama sekali dari Jihan


" Yah Mi.... Udah tua masak cemburu, Ciee" tambah El lagi ikut meledek padahal El sudah mulai peka dan deg degan rasanya


" Ayo Bah.... Potong kuenya" ucap Zula lagi dan memberikan pisau kue pada Zain


Jihan masih merasanan sakit yang mendalam seolah kejadian 20 tahunan lalu kembali terulang,


Kejadian yang membuat dirinya harus jungkir balik, harus kelihalangan putri keduanya, harus banjir air mata , dan pukulan di hati dan Jiwa yang mendalam kembali dia rasakan


" Mi..... Wah Umi gak seru deh, kok malah jadi cemburu gitu sih" ucap Zula mendekat pada Jihan yang masih terdiam


Sedangkan Zain berdiri mematung di tempat yang sama, dia pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya, dan dia berdoa mudah mudahan Jihan kembali moodnya yang sudah hilang saat ini


" Ayo dong Mi.... Bangu,n potong sama sama kuenya sama Abah, yah... Gak seru dong" Ucap El menyaut

__ADS_1


" Umi Cemen" tambah Al lagi sengaja meledek Uminya


Jihan masih terdiam dan tetesan DERAI AIR MATA kembali meleleh membasahi pipi Jihan


" Karena dia, Umi menderita, karena dia umi gak kenal siang maupun malam, karena dia Umi banjir air mata, dan karena dia Umi kehilangan anak Umi juga" ucap Jihan dengan tatapan lurus kedepan dan Air mata yang makin deras


" Kalian gak pernah menjadi korban darinya, kalian gak pernah tau apa yang Umi rasakan, dan Umi hanya berharap biar umi saja yang merasakan, jangan sampai kalian ikut merasakan" tambah Jihan dan membuat keheningan semuanya yang ada di sana


Al El dan Il seketika merasa bersalah, tencana pranknya otomasit gagal total, yang akan membuat Umi mereka jengkel dan kembali tersenyum ternyata tak seindah dan seseru yang mereka bayangkan


Semua ber tolak belakang, semua bertentangan dan semua hancur serta gagal total


" Kalian yang selalu mengeluh saat kuliah, dengan tugas yang kalian dapatkan dari kampus, tanpa memikirkan beban keadaan rumah, bisa jalan sana sini, punya teman sana sini, beda dengan Yang Umi rasakan, karena dia, Umi gak pernah punya teman laki laki, teman dan patner laki laki hanyalah sebuah mimpi, dan semua karena dia yang gak pernah Umi kenal sama sekali" ucap Jihan masih berlanjut menjelaskan pada anak anaknya betapa sakitnya Uminya


" Hidup Umi gak akan pernah benar di masa itu, semua karena trauma yang Abah kalian derita, Umi yang selalu menjadi korbannya, korban penghinaan perendahan dan menginjak nginjakan harga diri Umi" tambah Jihan masih sembari menangis


" Kalian yang mengerjakan sekripsi di satu jurusan,tanpa di kejar pekerjaan dan tanggung jawab rumah, kalian sering mengeluh pising dan repot minta bantuan pada Umi, itu dulu udah pernah Umi lakukan, kerja, nyusun sekripsi, praktek, ngurus anak, ngurus suami, dan ngurus rumah , serta menjadi detektif, secara bersamaan, karena mencari kebenaran, walaupun akhirnya jalan itu buntu, semua karena siapa? Karena wanita itu" tambah Jihan lagi sambil menatap wajah ke tiga anaknya dengan tangisan Air Mata


" Umi pergi jungkir balik, jempalikan, gak kenal yang namanya jam tidur ataupun jam istirahat, semua Umi perjuangkan demi kalian, demi membesarkan kalian, walaupun Umi di anggap sebagai rampok dan pencuri hasil keringat Umi sendiri, itu karena Apa, karena Abah kalian yang baru selesai menikahi wanita itu" tambah Jihan mulai terang terangan


" Kalian bilang Umi lebay umi cemburu, enggak...! Cuman rasa sakit karenanya Masih Umi rasakan hingga saat ini" tambah Jihan lagi membuat Al El dan Il tertunduk dan duduk di lantai


Sedangkan Zain menunduk dan masih berdiri di tempat yang sama


" 6 tahun lebih, Umi hidup dengan Air mata, DERAI AIR MATA selalu menetes setiap harinya, kalian bayangkan mungkin Air mata itu bisa jadi samudra DERAI AIR MATA kehidupan Umi, " ucap Jihan lagi dengan tangisan yang kembali membuka flesback masa lalunya


" Demi kalian Umi menjaga, karena kamu Al, yang juga pernah di sakiti dan di usir oleh wanita itu, Demi kamu El, yang lahir prematur karena perbuatan wanita itu, dan demi kamu Zula, anak Umi yang seolah menjadi bahan umpetan, yang seolah Umi kubur kamu hidup hidup dari kehidupan, semua karena Umi mau melindungi kalian, Umi mau mempertahankan kalian, Umi mau perjuangkan kalian, kalian harta Umi, kalian yang hanya Umi punya, dan ini yang kalian berikan pada Umi, membuka kembali luka Umi?" Ucap Jihan seolah bertanya pada anak anaknya


" Puluhan tahun Umi trauma, dan bahkan gak pernah mau menginjakkan kaki di butik maupun tempat produksi, karena Umi trauma, dan kalian tau, baby Bibi yang mendamaikan Umi dengan Butik, saat Umi masih hamil baby, tapi kalian?? Kalian yang mungkin sudah pernah dengar cerita gimana penderitaan Umi, kalian yang sudah besar dan sudah tau apa itu rasa sakit hati, tapi kalian justru membuka luka Umi lagi, membuka rasa sakit hati umi lagi, " tambah Jihan seolah marah pada anak anaknya


" Mungkin perjuangan Umi gak berharga di mata kalian, dan mungkin kalian pengen mengenang dan mengenal kembali sosok Ibu tiri dari kalian" tambah Jihan sambil menekan dadanya yang seolah mengkap mengkap


" Enggak Mi.... Enggak... Kami minta maaf" ucap Zula sambil memegang kaki Jihan yang sudah las dan gemeteran


" Kami cuman mau bercanda Mi, kami prank Abah, kami minta maaf" saut El juga merasa bersalah


" Iya Mi... Cuman candaan aja" jawab Al lagi ikut membela dirinya dan yang lainnya serta menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya


" Ini bukan hal lucu yang bisa jadi candaan, itu menyakitkan, " jawab Jihan datar dengan mengelap air matanya kasar


" Umi..." panggil mereka bersamaan


" Keluar gih, Umi mau sendirian" Ucap Jihan melepas tangan ketiga anaknya dari pangkuannya


" Umi..." ucap mereka kaget


" Umi mau sendirian, udah kalian semua keluar, lanjutkan potong kuenya bareng Abah kalian" jawab Jihan lagi dan bangkit dari duduknya


Jihan berdiri dan mereka semua ikut berdiri,


Jihan mendorong ke tiga anaknya untuk keluar dari kamarnya, dan juga dengan Zain yang di mintanya untuk keluar juga


" Udah lanjut aja, maaf Umi gak bisa ikut, Umi lagi mau sendiri" ucap Jihan dan langsung menutup pintu kamarnya dan

__ADS_1


Cetek cetek cetek, Jihan menguncinya dari dalam


__ADS_2