Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Ikut bahagia


__ADS_3

Setelah sholat jum'at Ryan makan bareng Zula, dengan menu soto daging yang di minta sama Ryan tadi


Ya setelah masak tadi mbak Yem pamit pulang karena sudah selesai semua, pas di mana Ryan pulang sholat jum'at tadi


Tapi melihat nasi entah kenapa Zula geli sendiri, dan seolah gak mau dan bahkan mau mutah


" Kenapa sayang?" tanya Ryan heran


" Gak usah pake nasi lah ya bang, geli adek lihatnya" jawab Zula menggidik geli


" Ya udah pake mie mau?? Ini banyak Mienya, " tanya Ryan dan Zula menyetujui


Ryan pun agak heran sebenarnya tapi memang istrinya ini pecinta mie, dan apapun bentuk mienya dia makan semua


Jadi kadang kalau sudah lihat mie males makan nasi


Selesai makan dengan kenyang Zula senderan ke pundak Zain , sampai tertidur siang


Sore menjelang magrib, tanpa angin lewat dan apapun, Zula yang memang masih meriang dan kurang enak badannya tiba tiba lari ke kamar mandi


Dan....


" huueekk.... Huuueeekk....Huuueeek...." Zula muntahin semua isi perutnya


Pas kebetulan Ryan gak ada di kamar karena masih berada di ruang kerjanya untuk melanjutkan kerja tadi pagi


Dan samar samar Ryan mendengar suara aneh dari luar, karena gak di tutup pintunya jadi Ryan kedengaran


" Sayang... Gimana gak ada apa apa kan?" tanya Ryan sambil kerja


Cuman gak ada jawaban dari Zula dan malah kembali terdengar suara aneh yang kurang jelas itu


Ryan penasaran dan bangkit dari duduknya, saat keluar semakin terdengar jelas suara muntahan Zula


" Huuueekk.... Huekk hueekm.." Zula sudah gak tau apa yang mesti keluar, tapi rasa mualnya itu masih ada


" Ya Allah sayang.... " ucap Ryan langsung berlari ke kamar mandi


Ternyata istrinya sudah muntah segitu banyaknya di wastafel


Ryan seketika memijat tengkuknya dan Zula kembali mengeluarkan air sampai cairan kuning terakhir

__ADS_1


Ryan langsung mengelap Zula dan membawanya ke dalam pelukannya


" Kenapa sayang??" tanya Ryan sangat khawatir dan Zula hanya geleng geleng kepala karena dia sendiri juga gak tau apa yang terjadi pada dirinya


" Istirahat dulu ya" Ucap Ryan menggendong Zula dan di baringkan ke tempat tidurnya..


Zula paling benci dengan rasa sakit, paling gak suka, karena dia gak bisa ngapa ngapain juga


Dan kali ini Ryan gak lanjutkan kerjanya lagi, kembali ke ruang kerja untuk beresin kerjaannya setelah itu fokus temani Zula yang terdiam lemes tak berdaya karena sudah habis tenaganya


Di rumah El, Heny dan El sudah siap siap untuk pulang mingguan kerumah Abah Zain dan Umi Jihan


El tadi pulang cepet, karena gak tega melihat istrinya yang sedari habis priksa tadi menangis karena belum berhasil juga programnya


Seharian El menenangkan Heny, memberi kengertian Heny, dan terus menguatkan Heny


Sampai akhirnya Heny kembali tenang dan sudah kembali ke mode santai seperti awal


Kini mereka sudah berada di dalam mobil, dan sudah sempat pergi beli oleh oleh juga untuk keponakannya dan juga adeknya


Paling seneng Zula pada mereka, berharap segera di karuniai momongan yang tampan tampan seperti mereka berdua


" Sudah semua sayang??" tanya El lembut


" Lanjut ya, mau makan dulu gak nih?" tanya El menawarkan Heny


El sudah melajukan mobilnya keluar pekarangan rumahnya


" Enggak lah, nanti Umi udah masak banyak lho bang biasanya" jawab Heny sambil membenahkan seat belt nya


" Payah banget sih, gimana ini bang" tambah Heny kesusahan memakai seat beltnya


El menoleh dan melihat pandangan kedepannya yang jauh dari mobil bahkan gak ada yang melintas


" Mana sayang?" tanya El pada Heny


Tangan El meraih seat belt yang Heny pegangi tapi tak sengaja menyenggol gunung Heny


" Hem.... Modus deh" ucap Heny dan El nyengir


" Sekalian dong mubadzir gak mampir sekalian" jawab El saat memasangka seat belt Heny sambil fokus nyetir

__ADS_1


" Huh..... " Heny mengdengus pelan


" Betul gak?" ucap El sambil meremasnya


" Abang..." Ucap Heny kesal dan El justru tertawa ngakak


" Putar balik lagi yuk" Ucap El lagi


" Ngapain?" ucap Heny


" Jatah dulu lah, upah seharian nenangin orang nangis" jawab El santai


" Nanti malam aja ya sayang.... Di rumah Abah balapan kita bertiga" Ucap Heny faham gimana suaminya


" Siap... tapi katanya mau kerumah bunda, nanti malam" jawab El teringat Ucapan istrinya


" Ya udah di rumah bunda gak apa apa, kan di atas malah gak ada yang ngajak saingan, ngeri kalau denger suara mbak Liza" Jawab Heny yang pernah mendengarnya langsung


" Eleh... Kayak gak bersuara aja" Goda El dan Heny tertawa


" Gitu ngapain ya bang, sampe teriak teriak seperti itu" ucap Heny penasaran


" Haha.... Agresif kayaknya sayang, buktinya hamil lagi kan sekarang, kan kalau hamil hormonnya makin naik, dan tambah agresif" jawab El karena kenyataannya Aliza memang sudah kembali hamil


Bahkan saat ini sudah jalan 4 bulan, karena Aliza memang gak pernah rewel kalau hamil jadi sampe gak tau udah 3 bulan


" Kita yang nunggu mbak Liza yang Hamil" ucap Heny kembali sedih


" Sayang....." ucap El menggenggam tangan Heny


" Semua akan indah di waktu yang tepat, Saat ini belum waktunya untuk kita, kita mungkin di minta untuk memperbaiki kesalahan kesalahan kita dulu, dan Allah memberi waktu banyak untuk kita makin lama pacaran dulu, udah gak perlu di pikir lagi, dan harus semangat ikut seneng dong" ucap El panjanga lebar menyemangati dan memberi pengertian pada Zula


" Nanti bentar lagi Zula yang ada, terus kita kapan??" tambah Heny paling sulit untuk move on kesedihan


" Sedikasihnya Allah aja, malah seneng toh punya ponakan banyak, kita bisa ikut bahagiain mereka, " jawab El tetap santai dan belajar berfikir positif pada semuanya


" Di nimati aja sayang, kita baru 2 tahun menikah, dan itu belum lama, di luar sana masih banyak wanita wanita dan pasangan yang sama seperti kita, bahkan lebih lama dari kita" Ucap El dan Heny mengangguk


" Intinya 1, semangat, gak boleh putus asa, Allah mengiapka makhluk terbaik untuk berada di kandungan Adek, positif semua indah pada waktunya, tawakal, berdoa dan berusaha" jawab El lagi dan Heny mengangguk


" Kalau seumpama Zula udah ada rezeki anak dulu, adek ikut seneng, barang kalu nular, gak boleh iri, itu adeknya Abang adek kamu, juga, kita berjuang sama sama, gak usah dengarkan ucapan orang lain, yang kasih makan kita bukan mereka, yang mengandung bukan mereka, yang penting kita saling menerima, saling menghargai dan saling mencintai, " ucap El terus tanpa lelah menghibur dan memberi pengerian Pada istrinya

__ADS_1


" Terimakasih sudah menerima Adek apa adanya" ucap Heny lembut dan bersandar di bahu El


" Terimakasih kembali sudah berada di sisiku dari dulu sampai saat ini" jawab El lembut dan mengelus kepala Heny


__ADS_2