
Al gelagapan saat mendengar pertanyaan dari salah satu anggotanya, dia tersadar kalau dia saat ini keceplosan
Kalau Zula sampe tau bukan menjadi perdamaikan bagi mereka tapi justru sebalinya ngambek tak terkira
" Ehm...." Al berdehem untuk menetralkan suasana
" Intinya nanti saya usahan, kalau seumpama saya tidak bisa hadir, akan ada yang mewakili saya" jawab Al mengalihkan dan tidak menjawab terang siapa adek perempuannya
Mereka akhinya lega karena Al tetap tanggung jawab untuk menghadiri pengajuan beasiswa seperti biasanya
Acara meeting masih berlanjut dengan pembahasan pembahasan lainnya, dan di jam 2 siang Al baru pulang kerumah lagi
Mobil keluarga Zain juga sudah di antar oleh supir pondok, dan hari ini adalah hari di mana para santri harus sudah kembali,
Ya untuk masuk kembali hari ini, mereka sementara tidak langsung di temui atau bersowan pada Abah Yai, maupun Ibu Nyai, karena semuanya masih di rumah sakit
Dan mereka cukup menemui pengurus yang lebih dulu hadir dan beberapa pengurus yang tetap bertahan tanpa pulang kerumah
Ya sebagian pengurus juga sudah tau mengenai kabar Abah Hasan, yang sempat kritis
Kini Al memarkirkan mobilnya di parkiran seperti biasa, dan Bersamaan dengan mobil Zula yang berhenti di sebelahnya
Ya Zula bawa mobil sendiri dan kembali pulanh untuk mengantarkan mbah Umi, mbah Abah masih bobok dan belum juga membuka matanya
Umi Jihan masih di runah sakit di temani Zain, dan nanti mereka akan pulang saat petang datang dan bergantian dengan El
" Baru pulang Bang?" tanya Zula yang kebetulan Al juga baru turun dari mobilnya
" Iya, loe sama siapa?" tanya Al balik
" Sama mbah Umi, bantuin ya" pinta Zula dan Al mengangguk
Al berjalan kearah pintu di mana Mbah Uminya berada, dan Al menggendong Umi zahra sampai ke kamar beliau
Setelah di baringkan kini Umi Zahra di temani oleh Mbak Cirana, dan istrinya Adam
Dan Zula ke dapur untuk mengambil makanan dan kemudian pindah ke area belakang yang ternyata Al sudah menyusul Baby Bibi dan Aliza di belakang melihat beberpaa saudara mereka yang kembali bermain air di kolam renang
" Baby.... Baby .. Baby...." Ucap Zula saat mendekat pada baby Bibi
Baby Bibi tertawa seolah tau kakaknya yang cantik jelita ini datang dan mendekatnya
Zula menarih minum dan ponsel serta cemilan yang dia bawa di meja yang tak jauh darinya
Kemudian mengambil baby Bibi dari pangkuan Aliza dengan gemas
" Acukulee.... Baby ganteng... Huuh... Gemes kali kakak dek" Ucap Zula paling gemes pada baby Bibi
Tak lama ponselnya berdering panggilan darinEl, Zula menggesernya dan menghidupkan spikernya
" Assalamualaikum..." Ucap El yang berada di kamarnya
" kumsalam... Gimana?" tanya Zula langsung
__ADS_1
" Udah pulang?" tanya El
" Udah nih di bawah, depan kolam gimana?" tanya Zula lagi
" Okey..." jawab El dan memutuskan panggilannya
El kemudian bangkit dan mencoba berniar menyusul adek dan abangnya
" Kesepian tuh anak, malam berjaga sendirian" ucap Al yang tau kalau El pasti capek kerja malam
" Sendiri apanya, Di temani mantan mas" jawab Aliza yang sudah di ceritai oleh El sendiri
Tapi El hanya cerita sekilas saja kalau ada kwannya Heny, bukan tentang dirinya yang di tolak Heny, gengsi dong sama kakak ipar kok
" Masak iya? Sama Heny?" tanya Al balik dan Aliza mengangguk
" Wah pendekatan dong" ucap Zula ikut senang kalau Abangnya senang
Tak lama El datang dan duduk di sebelah Zula dan bahkan mepet serta menyandarkan kepalanya pada Punggung Zula
" Iya bang?" tanya Zula langsung pada El
El langsung menegakkan tubuhnya dan pindah posisi bersandar pada sandaran sofa
" Kenapa? Apanya?" tanya El belum faham
" Kerja di temani mantan dong, seru nih" jawab Al sambil melahap cemilan Zula
" Iya.." jawab El singkat
" Gak semudah itu kali La" jawab El dan membuat yang lain mengerutkan keningnya kompak
" Cinta pertama itu memang sulit di lupakan, dan sulit menerima kembali juga" jawab El membuka ceritanya
El kemudian bercerita apa adanya bahkan semuanya tentang kejadian semalam,
Bahkan El cerita tentang diringa yang menyesali perbuatannya pada Heny yang begitu tulus mencintainya bahkan masih setia sampai sekarang
" Haduh.... Di belakang hanya tinggal" Ucap Zula dan Al menyaut dengan..
" Penyesalan.." ucap Al menyaut
" Kalau di depan di namakan?" sambing Zula lagi
" Pendaftaran" jawab Aliza dan Al kompak lalu di iringi gelak tawa mereka
" Ya sepertinya Abang harus kembali berjuang, untuk Mendapatkan JODOH DALAM ISTIKHAROH, " jawab Zula sambil menepuk pundak El
" Semangat abang... Ayo semangat, dapatkan kakak baru untuk baby... Biar banyak yang menyayangi baby" ucap Zula mewakili baby Bibi
Tak lama dark obrolan mereka Abah Umi ikut datang dan duduk di jejeran sofa yang sama
" Assalamualaikum.." Ucap Jihan dan Zain menghampiri mereka
__ADS_1
" Waalaikumsalam...." jawab mereka ke arah suara
Abah dan Umi langsung duduk dan Umi mendekat pada Zula terlebih dahulu
" Assalamualaikum baby... Baby Bibi, Putra Umi, mana senyumnya, mana gantengnya, ayo neh dulu, udah lapet belum" ucap Jihan pada baby Bibi yang seolah mengerti dengan panggilan Uminya
Baby Bibi tersenyum manis saat tangan Umi Jihan hendak mengambilnya
" Kok udah pulang, El masih di rumah, siapa yang jaga Mi?" tanya El kaget dengan kedatangan Umi
" Dokter banyak El gak usah bingung, dua jam lagi kamu berangkat kan" jawab Zain dan El mengangguk
Jihan kini duduk di sebelah Zain, dengan memangku baby Bibi yang sudah tau waktunya Nen
Jihan pelan pelan memuka kancingnya dan memberi ASI pada baby Bibi
" Tadi ASI umi kenceng banget, lupa bawa pompaan, ya udah Umi nitip sana dokter Refandi aja, biar di awasi sampe sift mu datang" Jawab Jihan menjelaskan dan el mengangguk
" Gimana Al, rapat tadi? Ada apa katanya?" tanya Zain yang sesekali memantau kerjaan Al tentang pendidikan
" Itu pengajuan berkas, yang belum selesai mau di antar apa online, ya secara kita sudah lama kerja sama masak gak percaya, tak jawab online seperti biasa" jawab Al dan yang lain mendengarkan
" Tapi biasanya beberapa bulan kemudian harus ada yang menghadiri Lho Al, " jawab Jihan yang faham betul karena pernah mengerjakan juga
" Ya iya Mi, pas Aliza udah hamil 8 bulan, enggak lah kalau mau ninggal, gak sebentar di sana lho" jawab Al mulai bercerita
" Terus gimana siapa yang mau di ajukan?" tanya Zain lagi
" Tadi Al keceplosan, dan mengajukan Zula" jawab Al lagi
" Kok bisa Ula, keceplosan apaan loe tadi bang? Jangan bilang loe bilang sama mereka kalau gue adek loe" jawab Zula mulai sengit
" Sorry La, gue gak bilang dan gak sebut nama Elo La, santai aja jangan marah marah" jawab Al sudah menduga kalau Zula gak pernah terima
" Lagian kenapa sih, mau sampe kapan juga kali, " saut El heran sama adek perempuannya
" Ya gue belum siap Lho Bang, jangan maksa deh, nanti kan ada waktunya tersendiri, gue tuh mau santai santai dulu, loe pikir jadi badalnya Abah Enak" jawab Zula yang enggan di banggakan apa lagi di agung agungkan
Terlebih dia masih pengen pengalaman dulu dari terendah sampai di titik di mana dia berada di posisi yang tepat dan siap membuka
" Ula malu punya Abah dan Umi seperti kami?" tanya Zain pelan
" Ya gak gitu kali bah, udah lah, Ula bukan sosok yang suka bawa nama atau latar belakang untuk menaikkan drajat Zula, udah lah ... Plis deh, ikuti alur Zula, biar pengalaman dari dasar" jawab Zula masih kekeh
" Dari dasar apaan, orang kerja sebentar langsung jadi sekertaris atasan" Cibir Al lagi
" Ya Abah yang suruh, " jawab Zula lagi
" Lagian Enak tau La, di kenal sebagai putri Abah" jawab Al lagi
" Apanya yang enak?" sengkal Zula
" Di hormati dan di hargai banyak orang, di segani juga, dan jabatannya naik seketika" jawab Al bercanda dan memancing emosi Zula pastinya
__ADS_1
" Gue bukan orang yang gila hormat dan jabatan" jawab Zula langsung ketus nada bicaranya