
Di dalam kamar, Jihan dan Zain masih saling diam, entah mengapa flasback yang anak anaknya berikan seolah kembali nyata
Jihan melihat keadaan Zain kembali menangis, dan rasanya tangisannya gak bisa di hentikan sama sekali
Rasa sakitnya kembali muncul di kala mengingat ke mesraan Zain dan Rani di cover kue tadi
Zain mendekat pada Jihan, dan dia sendiri melihat Jihan yang terus menangis makin tidak tega
Zain gak mau banyak bicara lagi, dia semakin mendekat dan langsung mendekap tubuh Jihan yang mungil itu
Zain gak peduli dengan penolakan Jihan saat ini, kalau sudah seperti ini Zain gak mau bicara lagi, gak mau bertanya dan tidak mau mengeluarkan suara lagi
Jihan makin sesenggukan dan mulai menyerah untuk menolak dekapan Zain saat ini
" Jangan sakiti hati Umi lagi Abah, Jangan sakiti Umi lagi, " Ucap Jihan yang kini sudah melemah
" Gak akan sayang, Abah gak akan sakiti hati Umi lagi, Abah minta maaf, Abah dulu salah, Abah dulu jahat, " jawab Zain yang masih erat memeluk Jihan
" Umi udah gak sanggup untuk berjuang seperti dulu lagi, Umi udah gak kuat Bah, Umi udah kapok merasakan sakit hati lagi" tambah Jihan dengan suara lirih dan isakan tangis yang menyertainya
Zain justru makin gak tega melihat Jihan yang kembali ber DERAI AIR MATA , satu katapun tidak terucap dari bibir Zain untuk menjawab ucapan Jihan, hanya gelengan kepala dan tetesan air mata penyesalan terdalam sebagai jawaban untuk Jihan
Jihan begitu menderita mungkin di kala itu, Zain mengingat semuanya tentang perlakuannya pada Jihan, seperti yang Jihan ungkapkan
Jihan gak pernah bebas dengan teman temannya, Jihan yang selalu mendengar perkataan kasar dari Zain, yang selalu menjadi bahan amukan dari trama Zain di masa itu
Zain yang dulu seolah menjadikan Jihan sebagai sampah, sampah yang seolah di buang dan tidak ada baiknya sama sekali
DERAI AIR MATA yang sudah lama menghilang dan tidak pernah dia lihat kini kembali menetes di hadapannya dengan istrinya yang penuh kesakitan dan ketakutan dalam hatinya
4 tahun lalu, trauma mendalam Jihan terungkap, yang selama lebih dsri 15 tahun tidak di ketahui oleh Zain, semua terungkap saat berjumpa dengan Zula, saat mengenalkan siapa Zula sebenarnya
__ADS_1
Zain seolah menjadi orang terbodoh sedunia karena tidak menyadari hal itu, dan sekarang dia takut trauma itu kembali kambuh, di mana saat ini Jihan baru saja sembuh dari baby Bluse
" Umi gak kuat bah.. .. Umi gak kuat kalau harus menderita lagi" tangisan Jihan masih terdengar di telinganya
Dan perlahan Jihan mulai kehilangan kesadaran, karena tekanan batinnya yang kembali terulang dan datang menghampiri perasaannya
" Sayang... Sayang... Sayang" Panik Zain saat menyadari Jihan yang sudah tidak sadarkan diri
Tangisan Zain semakin menjadi dan terus mendekap Jihan yang hilang kesadaran
Zain teringat akan pesan pesan dari Jihan, untuk menangani orang yang tidak sadarkan diri
Zain melakukan sesuai ajaran Jihan, dengan membaringkan Jihan secara perlahan, dan memijat serta memberi minyak telon dan sejenisnya,
Tapi setelah melakukan hal itu Jihan sama sekali tidak bangun lagi, dan Zain sangat panik tapi mencoba untuk tenang, dan terus menggenggam tangan Jihan dengan erat
Zain gak mau memanggil El dan yang lain, justru makin membuat runyam, di sini saatnya dia berdua saja, saatnya mejelaskan dan menenangkan istrinya
Tak lama lagi Jihan kembali siuman, dan Zain kembali mendekapnya
Zain hanya tersenyum dan mengangguk dengan posisi yang masih sama mendekapnya
Jihan kembali teringat dan kembali menangis lagi, kambali tersendu sendu lagi dan Zain makin gak tega lagi melihatnya dan langsung mencekal mukanya dengan kedua tangan Zain, dan menatapnya serius di saat Jihan agak tenang
" Sayang..... Lihat Abah" Ucap Zain sambil menatapnya
" Umi percaya kan sama Abah?" Tanya Zain dan Jihan tidak menjawab karena masih sesenggukan
" Umi sayang kan sama Abah?" tanya Zain lagi dan Jihan akhirnya mengangguk
" Abah sekarang, kemaren dulu dan seterusnya ini cuman Milik Umi, " tambah Zain lagi dan Jihan hanya terdiam
__ADS_1
" Abah satu satunya milik Umi, dan Abah sudah janji gak akan sakiti Umi lagi, Abah sayang sama Umi, Abah takut kehilangan Umi lagi, Abah gak mau membuat Umi sakit apa lagi menderita seperti dulu lagi" jawab Zain meyakinkan Jihan yang sepertinya masih ada rasa trauma
Jihan terdiam tak menjawab hanya isakan tangisnya yang masih terdengar oleh Zain
Wajah Jihan menunduk ke bawah, tidak membalas tatapan Zain lagi
" Anak anak Semua bangga sama Umi, cinta sama Umi, bahagia sama Umi, karena Umi adalah pahlawan mereka, Umi itu super hiro mereka" Tambah Zain mulai pelan pelan menjelaskan pada Jihan
" Enggak Bah, Umi gak ada apa apanya bagi mereka, " bantah Jihan seolah tidak percaya
" Mereka dendam sama Umi, karena Umi mereka bertengkar, karena Umi mereka terpisah, karena Umi mereka tidak saling mengenal" jawab Jihan kembali teringat pertama perkenalan Zula
" Bukan... Mereka anak anak yang sholeh sholehah, mereka kompak, mereka rukun, dan saling menjaga satu sama lain, karena mereka saling mendukung dan saling menyayangi" jawab Zain lagi agar Jihan tidak berfikiran yang aneh aneh
" Mereka tidak pernah menganggap perjuangan Umi, mereka ingin kenal dengan Rani" jawab Jihan kembali menangis saat menyebut nama Rani
" Anggap dia sudah meninggal, gak usah di sebut kalau hanya membuat Umi menangis" jawab Zain lagi dan Jihan tidak mendengarkan hal itu
" Anak anak hanya mau membuat gurauan, candaan dan Prank untuk Umi, Plis Mi, jangan kembali seperti dulu lagi, kita semua udah kumpul bersama, harus kembali bahagia, jangan seperti ini lagi, Abah takut" ucap Zain yang sudah pindah posisi memeluk Jihan
" Abah takut kehilangan Umi lagi, kita sudah punya baby lagi Mi, plis jangan seperti ini lagi, ayo kembali bahagia, Abah gak bisa melihat Umi ber DERAI AIR MATA LAGI" tambah Zain makin meyakinkan Jihan lagi
Jihan tidak menjawab sama sekali, dan cukup lama, hampir setengah jam Jihan terdiam di isakan tangisnya, sampai akhirnya isakan tangis tersebut hilang dan Zain melepas dekapannya dan kembali menatap Jihan lagi
" Jangan nangis lagi, Kita udah bersama, tak perlu di takutkan lagi, kita sama sama selamanya, sampai akhir hayat nanti" ucap Zain sambil mengelus kepala Jihan
Jihan sama sekali tidak menjawab dan tetap terdiam,
" Semua itu Prank sayang, mereka hanya ingin barmain main saja, tau reaksi Abag sama Umi gimana, " tambah Zain lagi
" Mereka kemana?" tanya Jihan lagi
__ADS_1
" Ke pulau komodo sayang, kita masih di kapal, mereka aja yang turun, sama baby" jawab Zain mulai gembira di saat Jihan kembali bicara
" Umi mau prank Balik mereka" jawab Jihan lagi yang sangat kesal di buat tangisan oleh anak anaknya