Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Jodohkan


__ADS_3

" Loe gak percaya La, El, ini lho ide kalian, gue ngikut saran kalian, dan ternyata gue jatuh cinta sama dia beneran" jawab Al kembali terus terang


" Eleh bilang aja gak mau kami langkahi" jawab El mencibir


" Iya bener, makanya gue mau nikah duluan , kan gue orangnya gercep sat set, tanpa pacaran, langsung nikah" jawab Al santai


" Tapi Abah Umi, udah merestui?" tanya Zula masih kepikiran


" Udah baby, Restu orang tua prioritas utama, dan Abang udah bilang sama Umi Abah" jawab AL menjelaskan


" Terus Abah Umi gimana?" tanya El lagi Dan ..


Flas Back On


Di malam yang sukup sunyi, tepatnya di pertiga malam beberapa waktu lalu


Al hendak kebawah, untuk mengambil minum di bawah, karena di dalam kamarnya habis


Padahal semua kebutuhan snack dan minum biasanya tercukupi, dan terpenuhi , karena di sana ada kulkasnya juga, mungkin karena tukang galonnya belum datang pikir Al,


Padahal di bawah ada depot air minum pesantren, yang setiap hari di isi mobil tangki air dari pegunungan langsung untuk sumber minuman para santri


Setelah mengambil minum, Al kembali ke atas dan melewati kamar Uminya di lantai dua,


Pintu kamarnya terbuka, dan Al yang sedari kemaren mencari waktu yang tepat akhirnye belok, mungkin jam jam segini cukup tenang dan cukup tepat waktunya untuk menyampaikan pada Umi dan Abahnya


" Assalamualaikum..." ucap Al sambil menginguk ke dalam


Di dalam Abah Dan Uminya sedang duduk sambil memegang Al Qur'an masing masing, karena habis kiyamul lail


" Waalaikumsalam.." jawab Jihan menoleh ka arah pintu yang cukup jauh, karena kamarnya yang begitu lebar


" El... , kok tumben tengah malam ke kamar Abah sama Umi" tanya Jihan menaruh Qur'annya di nakas sebelahnya


" Al ambil minum tadi dari bawah" jawab Al santai sembari memegangi botol yang dia ambil dari bawah


" Kan ada kulkas nak di kamar" jawab Zain juga melakukan hal yang sama dengan Jihan

__ADS_1


" Iya mungkin kang galon belum sempet naruh dan cek di kamar Al bah" jawab Al sambil duduk di ranjang abah Uminya


" Kok pintu gak di tutup, untung gak lagi kikak kikuk" ucap Al sembari tersenyum


" Hahaha..." Tawa Zain dan Jihan kompak.


Mereka kemudian basa basi dan saling membahas tentang perkembangan sekolah kampus dan perusahaan juga


Kemudian Al mengambil nafas sejenak untuk menetralkan rasa gugupnya dan siap untuk bertanya


" Bah Mi..." ucap Al Tiba tiba


" Hem... Kenapa nak? Ada yang mau kamu omomgkan?" Tanya Zain yang tau gelagat Al yang gak biasanya datang kepadanya


" Heem... Gimana? Ada yang perlu di sampaikan apa?" Saut Jihan gantian


" Abah Umi tau kan Aliza, sekertaris Al, sekaligus Teman Ula, "ucap Al bermaksud tanya


" Kenapa? Kamu suka sama dia?" Tanya Jihan sudah bisa nebak


Tapi Al tidak menjawab maupun mengangguk, walaupun hal tersebut benar apa yang di katakan umi Jihan


" Dia sopan, baik, manis, gitu yang abah tau, kan Abah baru kenal beberapa bulan ini, tapi ingat Al, cantiknya masih cantikan Umi" jawab Zain yang gak mak tersaingi pasangannya dengan pasangan anak anaknya


" Wah ya iya dong, umi siapa dulu" jawab Jihan songong dan udah menjadi keviasaan sejak sekolah dulu


" Kalau menurut Umi gimana?" Tanya Al tidak mananggapi gurauan Uminya


" Sejak kecilnya Ula, Umi udah kenal dia, seperti yang Ula katakan, dia satu satunya orang yang sama sekali tidak berfikir negatif tentang Ula, dia terlihat dari keluarga sederhana, tapi Umi suka dengan gaya dia yang apa adanya, tulus saat menjalankan sesuatu, berteman dengan Ula pun begitu, " ucap Jihan memberi nilai positif dan plus pada Aliza


" Dari kemaren setelah kamu putus dari Helend, Abah sama Umi udah membicarakan ini, dan berharap kamu juga menjadi jodoh Aliza, bahkan kalau kamu gak ada ketertarikan Abah akan jodohkan juga Al, masak iya mau di langkahi Adek adekmu" sambung Zain yang justru malah sudah melangkah dan berencana jauh tentang hal tersebut


" Kalau gitu kenapa Abah tadi beri penilaiannya cuman itu doang" jawab Al karena menurutnya kurang lengkap penilaian Zain


" Abah cuman mau tau, sejauh mana nanti kamu tanya tanya soal Aliza, eh.. Umi yang biasanya bulet malah to the poin" jawab Zain langsung mendapat pukulan di pahanya dari Jihan


" Mana mbulet, Umi juga kasih penilaian ajantadi bah, abah aja yang gak sabaran, langsung bilang rencana kita, orang Al mau minta restu" jawab Jihan gak terima dan Al justru tersenyum

__ADS_1


Ternyata kedua orang tuanya justru mendukung sepenuhnya bahkan malah mau menjodohkan mereka juga


" Jadi Abah Umi setuju? Kalau Al suka sama Aliza?" Tanya Al girang


" Tapi bentar, Umi mau tau, apa yang membuatmu suka pada Liza.?" Tanya Jihan ingin tau dan mengintrogasi


Al terdiam dan tersenyum menanggapi ucapan Uminya


" Hem.. Gini lho mi bah, Al tuh pengen mencari pasangan yang seperti umi, yang bisa mengerti situasi dan kondisi kesibukan Al," ucap Al terhenti


" Maksudnya?" tanya Zain lagi


" Umi kan bisa mengerti kondisi dan kesibukan abah, seperti Al saat ini kan juga menggantikan Abah, harus sering keliar kota setiap harinya, dan bahkan sampai waktu yang tidam di tentukan, " jawab Al mejelaskan


" Mana ya... Umi mau mengerti, drama dulu kalau mau di tinggal pergi" sindir Zain kembali nostalgia masa lalu yang Jihan selalu menangis saat di tinggal Zain ke liar negri


" Tapi kan akhirnya boleh Bah, tapi kalau cuman di sini sini aja, di luar kota sini Umi gak pake drama lho, yang drama tuh kalau di tinggal ke luar negri trs lama, dan pulang pulang umi di marahin habis habisan, itu yang bikin Umi males di tinggal, kalau akhirnya Abah nanti salah faham dengan Umi, untuk Umi orangnya tuh sabarnya sepanjang jalan kereta api, gak putus putus, kalau enggak, udah depresi lagi abahmu" jawab Jihan nyerocos dan malah curhat,


" Aliza juga sosok seperti itu, Al yang Moodie tapi dia selalu sabar menanggapi Al, dengan sikapnya yang seperti itu, lama lama Al ada ketertarikan Mi, dan Al mau melamarnya" jawab Al salut dengan Aliza


" Kalau mau melamar, lamar lah nak, Abah Umi merestui, jangan lama lama, tapi tidak juga terburu buru, kalau bisa sebeluk lamaran El, kamu udah nikah dulu, walaupun cuman ijab qobul, " ucap Zain lembut memberi restu pada anak pertamanya


" Kecepeten dong bah, Al lho tinggal sebulan lagi" jawab Al bingung


" Eh... Abah tuh, dulu malam jumpa Umi Hataman, pagi Umi abah telfon, siang silaturrahim kesana, lusanya lamaran sama nikah, kalau mau ngikutin jejak abah seperti itu dong, jangan takut" jawab Zain memberi motifasi


" Bener Mi?" tanya Al pada Jihan


" Bener dong, Umi Umur 16 tahun El, di nikahi Abahmu, masih bocil" jawab Jihan bercerita


" 16 Tahun? ya Allah bah, melanggar Hukum bah, anak di bawah Umur" ucap Al pada Abahnya


" Murid sendiri lagi" saut Jihan


" Gak apa apa, yang penting halal" jawab Zain santai


" Terus gimana malam pertamanya, rasanya gimana mi, di tiduri sama guru sendiri?" tanya Al spontan dan konyol

__ADS_1


Flas back Off


__ADS_2