
Zula yang berpakaian kaos panjang, yang di masukkan ke rok plisketnya, serta menggunakan hijab instan yang mempunya pet yang polos dan menutupi bagian dada itu terlihat anggun dan cantik
Di tambah kulit bersih dan putihnya menambah kecerahan pada dirinya, menjadi pusat perhatian para pengunjung pasar yang hendak masuk kearea pasar
El yang mengenakan sarung dan kaos putih polos yang juga di masukkan ke dalam sarung juga memunculkan ketampanannya dengan gaya santrinya
Di tambah brewok tipos seperti Abah Zain yang makin membuat para wanita terkesima seolah melihat pak Yai, di tambah lagi peci yang berbahan kain berwarna coklat menutupi kepalanya dengan rambut yang bagian depan nyembul ke depan
Tangan mereka sama sekali tidak terlepas, di awal masuk pasar Zula masih biasa saja, karena matanya masih melihat beberapa kapal yang masih terparkir rapi
Saat masuk banyak pedagang lesehan yang menjajakan berbagai sayuran seperti yang El omongkan sebelumnya
" Itu sayur bang, di mana penjual ikannya?" tanya Zula lagi
" Ada di dalam, ayo lah" jawab El sambil menarik tangan El
Zula menggandeng tangan El lebih erat, makin masuk makin ada rasa ilfeel pada dirinya
Gak tau kenapa tiba tiba seperti itu, nelihat para pedagang yang sembarangan menaruh dagangannya
Buka sok higenis, secara dia baru pertama berkunjung ke sini, dan melihat hal itu cukup ilfeel karena terlihat jorok,
Sayuean segar yang hanya di alasi karung lusuh di dasarkan di setiap pintu masuk
Di tambah bau bau Amis yang menyengat di setiap jalannya makin terasa
" Masak gitu ya bang, gak di taruh meja apa gimana" ucap Zula berbisik
" Mana Bau lagi" Ucap Zula lagi
" Udah diem, kalau kamu ngomong terus baunya masuk kemulutmu" jawab El langsung membuat Zula diam tanpa kata
Takut bau amis dan campur aduk seperti itu masuk ke mulutnya, padahal saat ini mulut dan hidungnya sama sama di tutup masker
El masih berjalan melewati genangan air yang berwarna hitam karena saking keruhnya
Zula sama sekali tidak berkata, dan bahkan sesekali nahan nafas, dan fokus pada jalanan yang sangat becek itu
" Tau gitu gue bawa sepatu boot" batin Zula yang sesekali menjinjitkan kakinya
" Apa gak sekalian ikut ke sini, " tambahnya makin kesal
Dari semalam Abah Uminya udah memastikan, dan seolah gak yakin dengan keinginan Zula yang mau kepasar ikan sendiri
El dan Al bahkan sudah menahan tawa, awalnya mau mengatakan tapi Umi Jihan sengaja melarang, biar anak perempuannya tau juga gimana keadaan pasar
Tak lama setelah melewati jalan yang cukup membuat Zula menahan nafas, kini mereka sampai di surganya ikan
Di sana banyak pedagang ikan yang mendasarkan ikannya di tampah, mulai dari kepiting, cumi cumi, kerang, udang, dan berbagai ikan yang banyak jenisnya
El masih terus berjalan dan Zula semakin tidak tahan kalau harus melewati genangan dan beceknya jalan tersebut
" Bang... Kemana lagi itu ada jangan jauh jauh" Ucap Jihan dengan cara ngomong gak kurang jelas
Secara dia irit dengan membuka mulutnya di balik masker, karena teringat ucapan El
" Sana aja, makin banyak" jawab El santai dan menggenggam tangan Zula yang masih melingkar di lengannya
El berhenti di salah satu tukang becak yang berjasa mengangkut ikan ikan yang di beli oleh para pedagang,
Ya salah satunya dari pegawai restonya juga, yang mungkin ada di sana juga
" Maaf pak, boleh minta tolong?" tanya El pada bapak tersebut
" Boleh pak Ustadz" jawab Tukang becak tersebut ramah
" Kwkwkwkwkw" Tawa Zula secara tiba tiba
__ADS_1
Lucu banget kalau kakaknya di panggil ustadz, walau memang sebenarnya terkadang jadi ustadz di pondoknya, tapi kan lucu bagi Zula
" Maaf pak, bukan ustadz dia, lagi nyamar aja" jawab Zula yang lupa dengan keberadaannya
" you say all this stench goes into your mouth, you know Zula ( Loe ngomong semua bau ini masuk mulutmu lho La) " Ucap El menggunakan bahasa Inggris biar gak menyinggung bapak tukang ojek
Zula kembali diam dan tahan nafas karena sadar kembali
" Iya pak, saya bukan pak ustadz kebetulan habis subuhan langsung berangkat jadi masih pake saru g dan peci" jawab El sopan dan bapak tersebur mengangguk
" Gini pak, boleh saya minta tolong bapak untuk pilihakan ikan ikan yang segar? Sekalian bantu bawa" ucap El menyampaikan maksudnya
Karena dia sendiri tidak tau apa nama ikan dan gimana milihnya, apa lagi harga harganya takut kedlosor walaupun bagi mereka gak masalah
" Oh boleh Us, Maaf, mas, di sini okan seger semua" jawab bapak tukang becak
" Mau cari apa?" tanya bapak itu lagi
" Berbagai ikan dan seafood pak" saut Zula gak bisa kalau diam terus
Mereka kini mengikuti bapak bapak itu kesalah satu pwnjual yang bahkan jualnya secara emberan pokoknya poll banyak
Zula makin gak tahan karena makin twlihat lumuh, ya maklum namanya tempat ikan, bukan tempat emas
" Ini mas Udang mau?" tanya bapak tersebut ramah dan berhenti di salah satu penjual udang
Di ember terlihat udang yang cukup besar besar, dan se ember penuh
" Silahkan mas, mau berapa kilo?" tanya Penjual ramah
" Sekilonya berapa buk?" tanya Zula
" Murah mbak Ayu, cuman 80 ribu saja, ini udang bago, enak dia, besar besar kayak gini" jawabnya sambil promosi
" Kalau semua berapa?" tanya Zula lagi
"Murah banget, di super market mbak Aliza beli 300 ribu" jawab Zula berbisik
" Tak timbang dulu ya mbak" jawab Pedagang dan Zula mengangguk
" Ini ada 7 kilo mbk, 80.000×7\= 560.000, 550.000 gak apa apa" jawab Pedagang memberi discound
" 500.000 saja buk, di beli semu kok ya" saut tukang becak membantu
" Yo wes lah, gak opo opo" jawabnya pake bahasa jawa
Tanpa bertanya kembali El langsung membayarnya dengan uangnya
Tau kalau Zula gak punya banyak cash, dan El tentu sama, cuman tadi sempat embil dulu dan di masukkan ke kantong plastik yang ada di kepalanya
Zula hanya melirih dan melotot kemudiN menggelengkan kepalanya melihat tingkah abangnya
Zula tam sengaja melihat lobster yang cuman beberala biji saja di belakamg pedagang tersebut
" Buk, itu lobsternya di jual juga?" tanya Zula lagi sambil menunjuk ke arah lobster
" Oh... Itu? Cuman sedikit dek, makanya gak di keluarin, rencana mau di masak sendiri" jawab pedagang iti sambil membungkus udangnya
" Adeknya mau ?" tanya penjual itu lagi dan Zula mengangguk
" Berapa buk?" tanya Zula sopan
" 200.000 Mau gak dek? Cuman 4 ekor" jawab Pedagang itu lagi
" Iya mau buk" jawab El cepat karena hem... Sangat murah bagi mereka
" maaf buk, udangnya sisihka sekilo ya, di plastik lain aja" Ucap Zula lagi
__ADS_1
" Untuk apa?" tanya El heran
" Nanti mampir tempat Mbah Aris dulu, lama gak kesana" jawab Zula akhirnya di setujui oleh El
Setelah transaksi selesai merek pindah ke salah satu penjual kepiting
Beberapa kali bapak tukang becak membantu memilihkan yang yang terbaik yang besar dan bertelur, karena banyak banger dagingnya
Gak kira kira semua yang bapak itu pilihkan El dan Zula beli, kesukaan Abah Uminya juga
Beberapa pedagang di ampiri El dan Zula hingga terkumpul beberapa macam seafood dan juga ikan ikan segar lainnya
Setelah semua siap, bahkan Zula yang saking asyiknya memilih dan mendengar harga seafood jauh dari yang dia tahu, dia terlupa di tempat yang membuatnya ilfeel
Dan saking bahagianya dia tersadar saat tukang becak sedang membantu El memasukkan ke dalam bok besarnya, Alhamdulillah cukup cuman tinggal punya Aris saja yang belum bertempat
" Walah cuci kaki di mana ya" gumam Zula celingak celinguk
Zula meluhat ada cucian kaki dan tangan di teras puskesmas dan akhirnya kesana kemudian mencuci bersih kaki dan tangannya
Padahal tangannya gak kotor cuman sekalian aja
" Laa.. Punya Mbah Aris gimana? Gak muat nih" ucap El lagi
" Taruh atas aja ya, bentar doang" tambah El
" Enggak lah, bau, ada kotak lagi gak?: tanya Zula lagi
" Mbak mau beli kotak? Di depan situ ada" jawab tukang becak yang masih menunggu
" Sana beli, mereka gak bisa terima pake kartu kan" jawab Zula dan akhrinya El memveli kotak ikan lagi
Setelah selesai mereka menemui tukang becak tersebut
" Berapa bapak?" tanya El ramah
" 30 ribu saja mas ini mas pelanggan pertama, untuk pembuka" jawab bapak tersebut sopan
" Bang..." Ucap Zula mengkode
El tentu tau dan gak mungkin sudah di bantu segitu banyaknya cuman di kasih 30 saja, sesangkan sudah menemani dirinyalebih dari 20 menit
El memberikan beberapa lembar uang berwarna mereh, dan membuat bapak tersebut sumringah tapi takut
" Mas kebanyakan" ucap Bapak tersebut malah mengenolak
" Gak apa apa bapak, rezeki bapak" jawab Zula sopan dan tersenyum manis karena sudah membuka maskernya
" Ya Allah... Mimpi apa saya" ucap bapak itu sangat bersyukur
Zula mengambil 3 lembar lagi dari tangan El dan memberikan lagi pada bapak itu
" Ini untuk beli ikan ya pak, tadi gak di belikan sekalian, bapak beli sendiri aja sesuai yang bapak suka" ucap Zula sembari memberikan uang itu pada bapak
" Gak usah mbak, ini udah kebanyakan"
" Jangan di tolak ya Pak, ini rezeki bapak" jawab Zula sopan kemudian mereka pamit untuk melanjutkan perjalanan
" Ya Allah.... Becek becekan ngangkut ikan seperti itu masak cuman 30 ribu ya bang, kalau Ula di kasih 3 juta aja ogah" ucap Zula yang memang hidupnya dari dulu serba ada
" Makanya bersyukur, banyak orang yang susah payah cari makan La, Bukan seperti kita apa lagi Abah Umi kita santai di rumah uang datang sendiri" jawab El dan Zula mengangguk
Apapun pekerjaan kita seberapapun rezeki kita harus kita syukuri, dan Yarzukuhu minthaitsu laa yah tasib
Rezeki bisa datang lapan aja ,dan kadang datang tak terduga
Seperti kisah bapak tukang becak, dia gak menduga kalau hari ini bertemu dengan El dan Zula yang memberi rezeki lebih untuknya
__ADS_1