Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Cucu mbah Umi


__ADS_3

Ayah Heny otomatis kaget, dari awal cerita El Heny yang mendatangi ruangan El itu sudah cukup mengagetkan Ayah dan bundanya, apa lagi ucapan El barusan yang cukup mengagetkan Karena ingin berjuang mempertahankan cintanya dan Heny


" Terus terang Ayah Bunda, El selama ini khawatir tentang keadaan Heny, di sisi lain saya gak enak karena Heny sudah manjadi milik orang lain, di sisi lain, saya juga khawatir dengan keadaan Heny yang begitu terpaksa, " Ucap El lagi dan Ayah dan Bundanya penuh pertimbangan


Gak semudah itu melepas dan mengiyakan, karena anak ya sudah di ikat dengan pak lurah alias orang nomer 1 di desa tersebut, jadi urusannya dengan bukan orang sembarangan


Belum sempat ayah Heny menjawab El sudah dapat telfon dari Al untuk segera pulang sekaligus bawa beberapa alat medis karena Aliza sudah mulai kontraksi


" Maaf ayah bunda.. El mohon, untuk segera di pertimbangkan lagi, semua terserah ayah dan bunda, tapi El hanya berharap kalau ayah dan bunda bisa mengerti dan mementingkan keadaan Heny, dan masa depan Heny juga, karena pak Lurah bukan selamanya jadi lurah" Ucap El sangat memohon dan minta agar ayah dan bunda Heny bisa mempertimbangkan


" El permisi dulu ya Bunda ayah, kakak ipar saya mau melahirkan saya di minta segera pulang, untuk segera mengantar peralatan medis dari rumah sakit" Ucap El pamit dan mereka hanya mengangguk mengiyakan tanpa berkata


Karena pikiran mereka sudah bimbang banget, di sisi lain mikir akibarnya dan pengaruh dari kegagalan Heny dengan pak Lurah, tapi di sisi lain Mikirin kondisi Heny dan masa depan Heny


Kalau bersama El, sudah tentu masa depan Heny terjamin dan kuliahnya tidak sia sia pendidikannya karena sudah ada rumah sakit


El kini sudah berada di mobil, dari kemaren memang Uminya selalu bilang untuk membawa peralatan lengkap dan canggih untuk persiapan kakaknya melahirkan


Karena Kalau peralatan Umi Jihan masih kurang lengkap yang di rumah, dan sekarang kan juga ada alat baru dan makin canggih juga jadi Jihan meminta itu


Di kamar Aliza masih menahan rasa sakit kontraksi dari semalaman, dan makin kesini rasanya makin terasa


Al gak lepas dari Aliza dan selalu siap siaga di sebelahnya,


Aliza terus di genggam tangannya Oleh Al, dan Sesekali Jihan yang menemani dan mengecek keadaan Aliza


" Mi... Coba cek lagi dong, udah buka berapa?" tanya Al lagi


" Tadi kan Udah Al, ya nanti 3 jam lagi gak boleh sering sering" jawab Jihan pada Al


Terakhir Jihan mengecek masih buka 2 tapi Aliza semakin gak tahan lagi dan makin kesini makin sering kontraksinya


Tak lama El datang dengan membawa box seteril yang berisi beberapa alat medis miliknya


Melihat kondisi kakak iparnya itu sudah sering El lihat dari para pasien pasien yang gagal pembukaan


Alias baru buka beberapa ternyata pinggul sempit dan harus oprasi, dan bisa merasakan 2 kali pengorbanan


" Udah buka berapa Mi?" tanya El sambil meletakkan box seteril di atas meja rias kakak iparnya


" Tadi Umi Cek baru dua" jawab Jihan santai dan masih mendampingi Aliza


El santai dan mendekat pada Aliza dan Al,


" Permisi bentar ya mbak" Ucap El sopan

__ADS_1


" Mau loe apain?" kesal Al langsung menyekak El


" Gue cek dulu, " jawab El santai dan mendekatkan tangannya ke perut Aliza


Al sudah kesal duluan melihat tingkah santai adeknya itu, tapi dia dokter dan mungkin bisa tau juga


" Oh... Semangat mbak" Ucap El setelah memegang singkat perut Aliza dari balik dasternya


" Gimana?" tanya Al panik


" Paling nanti pagi habis subuh " jawab El singkat dan santai


" Gak usah ngadi ngadi loe El, masak mau nunggu sampai pagi nanti, kelamaan" marah Al pada El


Aliza sendiri sudah sedih dan seolah gak sanggup kalau harus nunggu sampai pagi,


Rasanya makin nano nano, dan makin kesini makin sakit banget


" Lha jadi? Mau langsung oprasi apa gimana? Kalau gak mau lama?" jawab El santai malah menantang Al


" Enggak... Gue udah sakit kayak gini El, kalau bisa normal gak mau oprasi mbak" jawab Aliza membantah, dia tau kalau oprasi sakitnya akan dobel karena setelah oprasi masih harus nahan sakit yang cukup lama


" Insyaallah normal, tapi harus sabar harus di nikmati ya, ini kodrat seorang wanita, dan ini perjuangan seorang ibu, semangat Kamu bisa nak" Ucap Jihan menyemangati Aliza


" Umi apa merasakan seperti ini juga?" tanya Aliza sambil menahan rasa sakit


" Aliza gak kuat Mi, Aliza sakit, Aliza kapok" jawab Aliza menggenggam tangan Jihan


" Gak boleh bilang seperti itu nak, ayo semangat" Ucap Jihan masih terus menyemangati


" Udah sekali aja ya Mas, Adek gak kuat" Ucap Aliza lagi gak pandang di sana ada El juga dan seolah gak malu lagi


" Eleh.. Kapok cukup sekali, nanti jadinya selusin" cibir El pada Aliza dan langsung di pelototi sama Al


" Slow bro, libur seminggu elo kejang kejang" jawab El bercanda dan langsung di lempar guling sama Al


" Mbak Liza semangat dong, ayo bisa ayo bisa, habis melahirkan udah langsung lega mbak, apa lagi kalau lihat babynya hilang rasa sakitnya " Tambah El menyemangati Aliza


" Hilang rasa sakitnya dan Bikin lagi deh" tambahnya makin bercanda dan langsung pergi sebelum di cekek sama Calon bapak dari keponakannya itu


Semalaman Al dan Aliza sama sekali tidak tidur, begitu juga dengan Jihan, sebenarnya Jihan sangat santai tapi melihat Al dan Aliza yang begitu gelisah dia gak tau harus bilang apa lagi


Di minta santai slow di nikmati juga mereka sama aja, kalau Aliza kontraksi Al makin panik dan terus memanggil Jihan yang berpindah tidur di kamar Zula


Karena Zula sedang ada tugas keluar kota lagi sama Ryan jadi dia gak di rumah, bahkan sudah seminggu pergi dan kabarnya pulangnya besok

__ADS_1


Zain sekarang makin mempercayai Zula dan Ryan untuk mengurus semuanya, dan selain itu Zain juga mau mendekatkan keduanya juga yang berharap mereka berjodoh dan bisa meneruskan perusahaannya


Jihan sholat subuh terdahulu, dan saat sholat dia mendengar teriakan teriakan Aliza yang semakin keras dan menangis hingga dia gak sempat untuk berdzikir lagi karena sangat begitu keras teriakan Aliza


Jihan yang masih menggunakan mukena langsung berjalan keluar dan meninggalkan baby Bibi


Jihan langsung mengambil sarung tangan dari atas meja rias Aliza, dan langsung membuka dan memeriksanya


" Sudah buka lengkap Al, segera panggil El dan minta bantuan untuk menyiapkan semuanya, Umi ganti baju dulu" Ucap Jihan dan Al semakin panik


Langsung ke kamar El dan membangunkan El secara paksa, dan El dalam keadaan masih ngantuk langsung ke kamar Al


" Loe gendong kak Liza dulu, " Ucap El masih lesu


" Gendong gimana dia mau lahiran El" bingung Al


" Ini mau lahiran di bawah apa di atas?" tanya El lagi


" Di bawah aja" ucap Jihan dari kamar Zula


El langsung mengambil karpet dan lain sebagainya untuk mempersipkan semuanya, sedangkan Al masih bingung dan terus menyemangati Aliza yang terus berkontraksi


" Umi udah" Teriak El lagi


Jihan sudah berpakaian lengkap dan pindah ke kamar Al dengan begitu tenang


" Kalian ini tenang banget sepertinya" Protes Al yang sudah capek dan panik


" Jadi suruh ngapain? Ikut panik juga? Terus siapa yang nangani mbak Liza kalau semua panik?" bantah El kesal juga sama Al


" Udah.. Sana kekamar Zula, adeknya tidur temani takut gelundung" jawab Jihan masih tetap santai dan tenang


El pub keluar dan menutup pintu kamar Al, dan Jihan juga menguncinya dari dalam


" Sini turukan Aliza" Ucap Jihan dan sigap Al mengikuti dan membaringkan Aliza di tempat yang El sudah siapkan


El sudah menyiapkan semuanya bahkan beberapa alat medis juga dan air panas yang di panaskan otomatis di alat yang El bawa kemaren


Semua sudah lengkap dan tersedia bahkan untuk membersihkan bayinya dan pakaiannya juga sudah El sediakan di sana biar Uminya gak repot lari lari dan repot mencari


" Al, duduh di belakang Aliza ya, pegang kuat tangannya dan beri kekuatan cinta pada Aliza" Ucap Jihan dan Al menurut


Aliza mulai siap siap dan mengikuto arahan Jihan, Al melihat langsung pengorbanan istrinya yang melahirkan buah hatinya


Dia sudah ikut menangis di saat Aliza sudah mulai berjuang dan mengedan, sehingga tangisan keduanya makin pecag saat tangis dari baby yang barusan lahir kedunia di tangan Mbah Uminya sendiri

__ADS_1


" Masyallah Walhamdulillah ... Cucu mbah Umi, " Ucap Jihan saat pertama kali mengangkat cucu pertamanya


__ADS_2