Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Harus Berani Capek


__ADS_3

Waktu terus berjalan, dan saat ini waktu sudah menjelang Isya', Zula sudah mulai jenuh dan bosan apa lagi cuman ada Ryan saja di sana


" Ini gak ada kopi apa es teh gitu kek, gini amat kerjanya, mulai jam 4 tadi lho, sampe jam segini belum ada istirahat" omel Zula karena gak ada cemilan atau minuman tersedia


" Loe tau kan, ini udah malam, para pekerja juga udah pada pulang, bagian OB juga udah pada pulang istirahat" jawab Ryan santai masih berkutat dengan laptopnya


" Kalau udah pada pulang kenapa saya masih di pekerjakan pak, Brak..." ucap Zula kesal dan ngamuk sampai gebrak meja


Ryan kaget dan jumbul, mendengar Zula yang mungkin sudah sangat emosi karena di pekerjakan di hari libur


" Okey saya salah pak Ryan yang terhormat, kemaren saya tidak kembali bekerja dan pagi tadi saya tidak datang untuk bekerja, tapi bukan berarti saya enak enakan di rumah mak, " ucap Zula sudah hilang kesabaran


" Umi saya sekarang di rawat di Rumah sakit, saya di sana untuk menunggunya, hingga saya terlupa akan mobil saya sendiri yang masih ter tinggal di parkiran kantor" tambah Zula lagi cuman sebagai alasan


Karena sebenarnya dia memang enak enak tidur di ruangan uminya, bukan sepenuhnya jagain uminya juga, justru cuman numpang tidur dan makan saja di rumah sakit


Sekalian aja karena dia merasa di kerjain oleh Ryan di malam minggu dia sekalian ber drama seolah Ryan sudah tega padanya karena pas malam minggu malah di suruh kerja


Ryan terdiam dan tidak berkata apa apa, dia justru merasa bersalah karena tidak menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya pada Zula


" Tidak semua yang ada di pikiran bapak itu sama dengan kenyataan, okey saya izin mager, karena saya tidak ingin terlihat menderita dan di kasiani orang" tambah Zula lagi dan kembali duduk karena dia tadi berdiri habis gebrak meja


Ryan masih terdiam dan mematung, dia gak tau harus minta maaf atau gimana, secara dia sendiri gengsi dong kalau harus minta maaf sama Zula, dan akhirnya Ryan terdiam dan lanjut bekerja dengan pikiran yang masih merasa bersalah


Lama kelamaa Zula justru merasa di cueki oleh Ryan, padahal Ryan masih berfikir dan merasa bersalah karena doa sudah memaksa Zula, tapi bingung mau bilang gimana mau ngomong apa sama Zula

__ADS_1


Dan mau gak mau Zula drama lagi, karena dia sudah merasa bosan dengan perasaan gabut dan males mikir, karena tadinya mau healing mau jalan jalan makan malam sepuasnya dengan kedua abangnya ini malah di suruh kerja


" Hiks....Hiks...." isak tangis kembali Zula keluarkan


Bukan tangis buatan, tapi tangis beneran, karena Zula sangat kecewa banget dengan Ryan, yang tega padanya, ada aja cowok setegah Ryan itu,


Dia selama sama Abahnya gak pernah di pekerjakan seberat ini, sampai malam begini, lha udah waktunya di sita, udah males mikir masih suruh kerja


Yang tadinya semangat mau cepet rampung semua ambyar karena kegabutan yang di paksakan untuk bekerja dan berfikir


Ryan tentu langsung menoleh ke Arah Zula yang terlihat masih menangis dengan terum memandang laptop


Sifat ketidak tegaan Ryan langsung tertegur, karena Ryan sebenarnya sosok orang yang gak tegaan, cuman sama Zula aja karena Zula yang berani dan sering mencibirnya apa lagi kalau ngomong gak pernah di fikir dulu asal nyeplos membuatnya sama sekali hilang ke pekaam dan tega sama Zula


Ryan berjalan ke arah Zula dan mendekat ke arah Zula yang sudah menundukkan kepalanya di meja kerjanya


Karena Zula tadi kerja di merja Ryan, sedangkan Ryan kerja di meja sofa


" Kamu kalau mau pulang gak apa apa, kalau mau nungguin Umimu di rumah sakit" ucap Ryan di sebelah Zula dengan lembut


Zula masih menangis dan terdiam tak menjawab Ryan sama sekali, dia sudah sangat jengkel dengan Ryan yang mengganggu mood boosternya,


Yang sudah kebayang Healing di paksa kerja, udah hancur rencananya dengan Abangnya kali ini, udah ambyar juga pikirannya


" Udah gak apa apa, apa mau saya antar sampai bawah?" ucap Ryan lembut karena sangat merasa bersalah

__ADS_1


Zula masih terisak dang enggan menampakkan wajahnya pada Ryan


" Ini tinggal dulu aja, lanjut besok lagi" ucap Ryan lagi dan Zula masih tetap di posisi yang sama


" Haduh gimana sih ini, kok gue jadi bikin anak orang nangis" ucap Ryan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Di sisi lain, Zain yang sedari tadi pantengin ponselnya untuk menunggu CCTV Zula sudah hilang kesabaran


Tadinsemoet tertawa karena Zula yang membantah pada Ryan, tapi melihat Zula menangis seperti itu Zain berubah jadi uring uringan


" Abah Apaan sih, Udah biarin itu drama anak cewekmu seperti itu tuh, berdrama" ucap Jihan yang melarang Zain untuk menyusul Zula


" Tapi dia nangis Lho Umi, gimana sih Umi ini, anak Umi nangis lihat nih" ucap Zain sambil memperlihatkan Zula yang masih menundukkan kepalanya dan di sandarkan di meja dengan muka tertutup


" Iya Umi tau, Tapi gak usah lebay gitu ngapa sih, biar dia belajar tanggung jawab, atas apa kesalahan dia karena kerja seenaknya, bener pak Ryan, kalau ada tanggungan pekerjaan, izin juga dengan alasan yang tepat, kalau cuman mager aja itu bukan alasan, sukses itu harus berani capek, dan melawan males, kalau males malesan seperti itu gimana mau sukses" jawab Jihan justru mengomel yang jelas pada Zain


" Kok jadi Abah sih yang kena omel" ucap Zain setelah ken omel dari Jihan


" Abah dulu mendapatkan lerusahaan itu, bekerja di perusahaan itu selalu berkorban ninggalin Umi lho bah, kita selalu LDR lama, bahkan Umi pernah abah bohongi untuk bisa pergi, dan Umi, mengembangkan dan membersarkan perusahaan itu juga bukan hal mudah, menggantikan posisi Abah harus pergi ke sana kemari dalam keadaan Hamil, wajar kalau anak kita harus tanggung jawab seperti itu, karena untuk menjadi pemimpin dan sukses itu perlu proses, jangan bentar bentar di manja, Abah udah gak bantu dia diam aja, dukung dan doain, itu resiko Zula dalam bekerja" tambah Jihan makin ngomel, dan mau gak mau Zain diam hanya mendengarkan saja


Ryan masih berdiri di sebelah Zula, dan terus merayu Zula untuk diam dari tangisannya, dan meminta Zula untuk segera bangkit untuk pulang


" Udah okey gue minta maaf Ula, gak seharusnya gue seperti ini sama Elo, udah ayo pulang gue anter Elo ke rumah sakit, Gue mau jenguk Umi Loe juga, " ucap Ryan akhirny minta maaf


Zula seketika bangkit dong denger ucapan Ryan yang mau jenguk Uminya

__ADS_1


__ADS_2