
Ting..... Saat Papi Ailza sedang telfonan dengan El, tiba tiba ada pesan masuk dari Soni
" Saya terbang ke Jerman sekarang Om, jemput Ailza, Om dan Tante, " begitu kiranya pesan yang Soni kirim
Papi Ailza berfikir sejenak, dan akan menyampaikan hal itu nanti langsung di hadapan keluarga Zain, biar makin jelas
" Alhamdulillah papi sehat El, hemm.. Maaf papi gak jadi mau ngomong apa, besok aja kalau udah sampai Indonesia papi ngomongnya " ucap Papi Ailza pada El
" Oh begitu okey Papi, di tunggu kedatangannya di Indonesia ya Pi, sehat sehat untuk papi dan semuanya" jawab El mendoakan
" Okey siap,.. Sampau jumpa di Indonesia ya El, Assalamualaikum..." ucap Papi Ailza menutup panggilannya
" Waalaikumsalam wr wb" jawab El di seberang sana
Selepas panggilan terputus perasaan El semakin gundah dan gak bisa di artikan kembali apa yang dia rasakan seperti ini
Kepekaan dia gak bisa di bohongi, apa lagi perasaannya, yang selalu peka terhadap apapun
" Ada apa sih?" batin El mencoba menteralkan perasaannya
" Huh... Perasaan gue kenapa makin begini ya" ucap El menghembuskan nafas kasarnya
" Tau ah..." kesal El mulai hilang moodnya
El kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, dengan perasaan yang makin gundah
Berbeda dengan Jihan maupun Zain yang bisa profesional saat bekerja, El justru sebaliknya kalau sudah gundah dan bad mood, dia gak bisa berfikir panjang lagi
Bahkan dia memilih free untuk beberapa saat sampai perasaannya hilang
Dia gak mau ambil resiko untuk menangani pasien, karena di takutkan akan menjadi resiko besar bagi pasien yang di tanganinya
" Huh..... Huh.... Kenapa sih? Gini amat" batin El makin gak karuan
El kemudian mengambil ganggang telfonnya dan menghubungi pihak yang bersangkutan dengan jadwalnya
" Assalamualaikum selamat siang dokter ada yang bisa kami bantu?" tanya sang petugas yang bersangkutan
" Waalaikumsalam... Tolong kosongkan jadwal saya sampai saya mengabari kembali" ucap El meminta persetujuan
" Baik dokter" jawab sang petugas tanggap
" Terimakasih wassalamualaikum" ucap El sebelum menutup telfonnya
__ADS_1
" Sama sama dokter terimakasih kembali, waalaikum salam" jawab sang petugas di lantai paling bawah
Setelah telfon sang petugas El kemudian telfon Zula yang ada di kantor, dan kebetulan saat ini adalah jam pulang kantor, sebenernya belum sih, dan kurang sekitar 1 jaman lagi
Tapi El berfikir dengan perasaannya seperti ini, dia gak mau kalau ambil resiko berat untuk mengendarai mobil sendirian, jadi dia bermaksud meminta bantuan Zula untuk menjemputnya
" Assalamualaikum... Iya bang gimana?" jawab Zula saat panggilan terhubung dengan dirinya yang sedang berkutat dengan laptopnya
" Waalaikumsalam.. Loe kerjanya masih lama gak La?" jawab El bertanya balik
" Tumben, kenapa ? Mau ngajak makan?" tanya Zula di seberang sana
" Makan mulu, perasaan Abang gak enak nih, pulang yuk, abang males nyetir sendiri" jawab El apa adanya dan Zula menghentikan kerjaannya seketika
Gimana tidak, jauh dari kata kata itu yang sama sekali gak pernah dia dengar, terakhir saat pertama kali Zula mengenal El sebagai abangnya, karena di cueki Heny sebab Heny punya tunangan, tapi pada nyatanya tidak,
Dan kali ini, lagi lagi dia berperasaan tidak enak, dan Zula juga berfikir dan bingung ada apa dengan abangnya
" Kenapa? Kok tumben, lama lho Ula gak denger abang ngeluh seperti ini" ucap Zula mulai mengintrogasi
" Abang sendiri gak tau, apa yang sebenarnya terjadi, udah lah, cepetan jemput abang sekarang" ucap El sudah sangat gundah
" Eh.. Jangan gue bisa di gantung tuh sama Ryan 99" ucap Zula yang pastinya resikonya sama Si Ryan
" Muuuaaach love you" ucap Zula kemudian mematikan,
Tau dia kalau abangnya udah minra jemput nanti dari pada ngomel di ponsel kayak Uminya yang suka ngomel makin gak rampung kerjaannya
Dan El juga tau kalau Adeknya yang kadang suka kumat males dan rajinnya itu, gak ada konsistensi dalam kerjaannya itu, saat ini sedang rajin rajinnya, dan tau kalau dia suka dapat omelan dan hukuman dari atasannya itu
Tapi saat ini dia lagi butuh teman, untuk segera menemani kegundahannya dan El langsung menghubungi Ryan secara pribadi
" Assalamualaikum brow, " jawab Ryan saat terhubung
" Waalaikumsalam... Suruh Zula pulang sekarang brow, kalau enggak loe gue pecat" ucap El langsung mematikan panggilannya
Spontan Ryan langsung kaget dong, dan kalau udah kayak gitu apa lagi bilang pecat, secara anak pemilim perusahaan ngewel dong, hanya karena biarkan bocil tetap bekerja
" Nurut aja deh, " ucap Ryan ketakutan dan langsung berjalan ke ruangan Zula
Tok tok tok..
Ryan mengetuk pintu sebelum masuk, walaupun kadang pas kesel sama Zula asal nyelong aja, tapi saat ini tidak sedang kesal dan dalam kesadaran normal
__ADS_1
" Masuk" jawab Zula dari dalam
" Assalamualaikum" ucap Ryan jutek
" Kumsalam..." jawab Zula melirik sedikit dan lanjut kerja
" Pulang sekarang cepet" ucap Ryan lagi dan Zula langsung mendongak
" Loe gak sedang ngigo kan pak Ryan yang terhormat?" tanya Zula sambil menatap aneh pada Ryan
" Gue gak mau kehilangan pekerjaan Zula, gau gak mau di pecat" jawab Ryan dan Zula langsung mengerti
Zula menyipitkan matanya dan menatap aneh pada Ryan, serta mengembangkan senyum jahilnya
" Tapi gue masih mau bekerja pak Ryan, gue lagi rajin nih jangan di ganggu, apa lagi suruh pulang" jawab Zula ngeyel
" Gue gak mau kehilangan pekerjaan Zula, " ucap Ryan justru emosi
" Gak apa apa pak, saya malah seneng gak punya atasan lagi kayaka bapak" jawab Zula makin mengerjai Ryan yang sudah kalang kabut sepertinya
Soalnya bukan lebai ya, Ryan baru kali ini mendengar El sedatar itu apa lagi sampe mengatakan pecat setegas itu, jadi wanti wanti untuk dirinya sendiri
Ryan yang sudah kesal, mendekat pada Zula, dan memberesi semua perkengkapan Zula sampai di bantu untuk di masukkan ke dalam tasnya segala
Zula menahan tawa melihat perlakuan Ryan kali ini, sampe segitu takutnya dia sama ancaman El yang pastinya sudah Zula tebak
" Nih... Cepet sana pulang, apa mau gue gendong sampe lantai dasar sekalian?" ucap Ryan sambil memberikan tasnya pada Zula
" Hem.... Boleh sih, biar lebih cepet sampai bawah, dan gak capek jalan" jawab Zula malah menantang
Karena Zula merasa Ryan gak akan pernah mau menggendong dirinya sebagai musuh bebuyutannya, apa lagi sampai bawah dan menghabiskan banyak tenaga
Dan Benar Ryan merasa menyesal dengan ucapannya, karena itu gak mungkin dia lakukan, karena belum pernah yang namanya gendong cewek yang belum mukhrim
" Kalau gak gue duduk lagi ya pak, saya masih rajin nih pak, dan saya tau bapak pasti tidak akan lakukan hal itu" jawab Zula makin menantang di tambah cibiran oleh Zula
Ryan gak mau pikir panjang dan....
" Huuuaaaaaaaaaa.......Kyaaaa pak... Turunkan" teriak Zula ketakutan sendiri saat Ryan sudah menggendongnya
Pikir Ryan, di gak nyentuh kulit Zula dan, gak ada sy*****at atau N*****u sama Zula, demi pekerjaan dan harga diri tentunya
Maaf ya sahabat, author beberpaa hari up nya kadang telat dan cuman 1,
__ADS_1
Ceritanya author beberapa hari ini cuman jadi penghuni kamar, alias tepar, mau nulis banyak banyak gak ada energi, dan pikirnya ikut mletoy juga 🙏🙏🙏🙏