
Kedua kakak Aliza tiba tiba kaget, apa lagi mendengar ucapan Al mempunyai tujuan tertentu untuk datang kemari
Aliza yang tau maksud tujuan Al, terdiam dan menunduk kan kepalanya, dia haru campur sedih, di mana dirinya di lamar oleh orang yang istimewa cuman kedua orang tuanya sudah tidak ada
" Begini mas Mbak,... Saya datang kemari pertama untuk silaturrahmi, yang kedua saya Muhammad Haidar Al Musthofa, mau meminta izin dan meminta restu pada mas Maupun mbak, sebagai wali dari dek Liza, untuk saya melamar Dek Aliza Qumaira, " ucap Al dengan tegas dan lantang menyampaikan maksud dan tujuannya untuk melamar Aliza
Kakak kakaknya makin syok mendengar ungkapan Al, yang jauh dari pikirannya, jauh dari bayangannya malah
Kedatangan tamu seperti Al itu sudah hal istimewa, apa lagi datang untuk melamar adek satu satunya
Mereka masih sama sama terdiam dan belum menjawab, bingung mau ngomong apa, secara mereka sadar kalau keluarga mereka jauh dari derajat keluarga Musthofa
" Gimana mbak Mas? Saya tadi sudah berbicara dengan dek Aliza, soal ini, dan Alhamdulillah, saya tadi di terima, dan sekarang giliran saya untuk meminta restu pada mas dan mbak sekalian" tambah Al karena gak sabar menunggu jawaban dari kakak kakak Aliza
Fahran dan furkon saling pandang, dan saling senggol menyenggol, untuk memberi jawaban
" Begini pak Al, Silaturaahim Pak Al, saya ucapkan ahlan wasahlan bihudurikum, dan seperti ini apa adanya keadaan keluarga kami" ucap Farhan terhenti dan Al sudah kalang kabut pikirannya karena takut di tolak
" Untuk mengenai restu dan lamaran, jujur saja pak Al, kami ini orang apa adanya, dan bahkan tidak mempunyai apa apa, apa lagi Aliza itu cuman punya kami, kedua orang tua kami sudah tidak ada lagi" tambah Farhan lagi dan Al makin dag dig dug der
" Dan jujur saya, kami merasa jauh levelnya dengan keluarga Pak Al, dan kami merasa gak pantas kalau kami masuk di keluarga pak Al," jawab Farhan lagi
" Bahkan kami merasa apa ini mimpi ya" sambung Furkon kakak kedua Aliza
Al menanggapi dengan senyuman, dan tetap tenang walaupun hatu gemeteran dengan jawaban yang masih menggantung
__ADS_1
" Enggak mas, enggak mimpi, ini nyata, terus terang, selama 7 bulan saya di dampingi Aliza sebagai Sekertaris saya, saya merasa nyaman mas mbak, dek Liza ini luar biasa, dalam menghadapi sikap sayang yang moodi, tresno jalaran songko kulino kata pepatah jawa, saya tidak menjalin hubungan pacaran dengan dek Liza selama ini, saya baru saja sore tadi mengungkapkan perasaan saya pada Dek Liza, dan berharap di terima, tapi bukan sampe situ saja, untuk menjadikan beliau sebagai istri saya juga masih ada step bay stepnya, " ucap Al terhenti untuk mengambil nafas terlebih dahulu
" Yang pertama Aman, saya sudah di terima walaupun tadi sempat ada penolakan seperti yang mas dan mbak Ucapkan, tapi maaf itu bukan yang pertama, bahkan ada step by step sebekunya yang menurut saya cukup panjang, " tambah Al lagi dan semuanya masih mendengarkan cerita Al
" Karena sebelum saya mengungkapkan perasaan saya pada Dek Liza, saya yang sudah ada perasaan kembali meminta petunjuk dari Allah, melalui sholat istikharoh, Alhamdulillah jawaban sesuai yang saya inginkan, bertemu dek Liza di sebuah mimpi indah saya, " tambah Al membuat Aliza dan kakak kakanya tersenyum senang dan lega
" Setelah itu saya makin mantap, untuk melamar dek Liza, tapi ada kedua orang tua saya yang meski saya mintai restu juga, abah dan Umi, kemudian saya mencoba ngobrop dengan Abah dan Umi, karena beliau juga sudah mengenal dek Liza, karena dulu dek Liza itu kakak anggapan dari adek saya, Nazula, sama sama satu pesantren" tambah Al lagi
" Jadi saya mencoba berbicara pada abah dan Umi, mengenai perasaan saya pada dek liza, Alhamdulillah beliau memberi restu kalau memang dek Liza yang terbaik untuk saya, jadi abah umi tidak pernah keberatan tentang harta dan martabat seseorang mas mbak, jadi gak perlu khawatir, kita semua sama di mata Allah, dan bahkan saya sendiri ingin mencari istri yang juga bisa menerima saya apa adanya, yang legowo dengan pekerjaan dan acara saya setiap harinya, dan saya yakin dek Liza orangnya, yang mungkin sudah mengerti saya, sudah siap mendampingi saya, dan tau siapa saya sebenarnya" jawab Al makin panjang ceritanya
" Saya mohon beri kami restu untuk melanjutkan hubungan kami ini ke jenjang yang lebih serius, yaitu ke sebuah ijab qobul pernikahan" tambah Al dengan penuh permohonan
Aliza terharu dan bahkan menitikkan air mata dengan kepala yang terus menunduk ke bawah
" Alhamdulillah ya Allah.... Terimakasih banyak mas Mbak" ucap Al kembali bersalaman dengan kedua kakak Aliza
Begitu bahagianya seorang Al Musthofa melamar gadis sederhana seperti Aliza,
Keluarga Zain, bukan kemewahan yang di cari, tapi ketenangan dan justru hidup sederhana bagi mereka itu lebih nikmat
" Sama sama pak Al, bimbing dan jaga adek kami nanti ya" jawab Furkon yang menitipkan adek perempuannya
" Siap mas Siap, pasti saya jaga debgan sebaik baiknya" jawab Al sangat antusias
" Dan maaf mas, ini cincin pengikat saya, saya belum berani memasangkan langsung, karena kami belum makhrom, jadi minta tolong ya mas di pakaikanke dek Zula" ucap Al sembari memberikan cincin permata yang semalan dia beli untuk Aliza
__ADS_1
Semuanya tersenyum dan bahkan tertawa dengan sifat Al yang terlihat licu dan antusias banget dapat melamar Aliza saat ini
" Oh.. iya mas, siap" jawabnya mengambil cincin yang ada di kotak perhiasannya
Kemudian Farhan sebagai kakak pertama memakaikan langsung ke jari manis adeknya
Aliza dan Farhan tak bisa menahan haru, gak terasa adek perempuannya sekarang sudah di boking dengan pria mapan seperti Al
Keduanya saling berpelukan, dan saling ber DERAI AIR MATA keharuan, dengan apa yang terjadi malam ini , sampai mereka tidak bisa berkata kata lagi, hingga keduanya saling melepas pelukannya dan kembali ke tempat semula
" Sekali lagi terimakasih banyak ya Mas, dan mohon maaf banget, Abah dan Umi tidak bisa langsung ikut kemari, beliau baru saja pagi tadi pergi ke Turki" ucap Al untuk meminta maaf
" Gak apa apa pak Ali, mungkin pak kyai dan bu nyai, masih ada urusan bisnis ya" jawab kakak ipar Aliza
" Oh.. Enggak mbak, sekarang bisnisnya udah lepas tangan beliau, jadi di handel sama saya dan adek perempuan saya" jawab Al karena memang sekarang al yang handel untuk membantu Zula
" Kebetulan Umi saya sekarang itu lagi hamil lagi, dan agak rewel ngidamnya masyaallah aneh aneh, besok jangan gitu ya dek " ucap Al bergurau dan kembali mencair tidak sekaku tadi
" Ceritanya cuman pengen makan kebab dan minum kopi di Turki, masyaallah, pikir saya makin tua makin ada aja yang di inginkan" tambah Al makin membuat bahan tertawaan
" Orang ada yang untuk berangkat kesana kok pak Al, jadi mudah," saut kakak ipar Aliza yang kedua
" Fadhol dari Allah mbak, yang memberi segalanya" jawab Al dengan rasa tasyakur dan bukan membanggakan harta abahnya, karena semua ini dari Allah SWT
Mereka lanjut ngobrol lagi dan membahas acara selanjutnya karena Al pengannya memang sat set
__ADS_1