Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Mengakhiri hidup


__ADS_3

Kini El dan Ailza sudah berada di sofa ruang tengah, mereka hanya berdua saja, mereka duduk berhadapan dengan Ailza yang sama sekali tidak berani menatap El,


Sedangkan El, sedari tadi terus menatap Ailza dengan tatapan penuh kekecewaan


" Aku minta maaf El" ucap Ailza lirih


El sama sekali tidak menjawab dan terus menatap Ailza


" El, aku minta maaf" ucap Ailza lagi dan kini menggenggam tangan El


El segera menepisnya dan menjauhkan tangannua dari genggaman tangan Ailza


" Yang ada di pikiran kamu tuh apa Ail? " Tanya El datar


Ailza tidak menjawab sama sekali, dan hanya menangis dan terus menangis


Keduanya tentu bercakapan dengan bahasa Inggris, sesuai yang mereka gunakan setiap hari


" Kamu gak pernah mikir? Apa gak pernah ingat sama aku saat kamu melakukan hal terlarang seperti itu?" tanya El lagi dan Ailza masih terdiam tidak menjawab


" Hiks... Hiks... Hiks...." Isakan tangis Ailza semakin menjadi dan semakin terdengar dengan tangisan penyesalan


" Kamu memang udah gak peduli sama Aku Ail, kamu dengan leluasa dan semudah itu melakukan hal terlarang, padahal kamu tau, kamu udah punya tunangan, sudah punya kekasih, dan di belakangku kamu mudah melakukan hal itu" ucap El dengan pandangan lurus ke depan


" Aku sayang kamu El" ucap Ailza dengan tangisan dan kembali meraih tangan El


" Bohong... Kalau kamu sayang sama aku, gak seharusnya kamu lakukan hal itu, sampai kamu mengandung seperti itu, dan itu artinya kamu gak bisa menjaga kepercayaanku, " jawab El cepat dan gak mau di bantah lagi


" Aku khilaf El" jawab Ailza


" Khilafnya sampe berapa bulan?" bentak El dan Ailza terdiam karena kaget


Saking kerasnya bentakan El, membuat Soni dan yang lain lari ke adah Ailza dan El yang berada di ruang tengah


" Semua udah selesai, dan bawa dia pergi dari rumah ini" ucap El kemudian pergi meninggalkan mereka semua dan naik ke arah tangga


El sudah sangat kecewa banget dengan Ailza, dan gak peduli bagaimana pandangan orang tua Ailza mengenani dirinya yang terlihat gak sopan dengan sikap emosinya

__ADS_1


Secara dia merasa di permainkan kepercayaannya pada mereka, dan merasa bodo amat dengan pandangan siapapun yang melihat dirinya saat ini,


" El...... El...... El....... Aku sayang sama kamu El huhuhuhu....... El.... Hiks.. Hiks..." tangisan Ailza kembali pecah saat El sudah murka dan pergi meninggalkannya


" El... Aku minta maaf...... El...." panggil Ailza lagi dan Maminya langsung menghampiri


" Sudah sudah, nasi sudah menjadi bubur, keputusan juga sudah di bulatkan, kalian tidak berjodoh" ucap Mami Ailza sembari menangis


' Sudah sekarang kita pulang, ya.." ucap Soni ikut menenengkan


Sedangkan masalah ganti rugi juga sudah di sepakati bersama saat El dan Ailza tadi ngobrol berdua, dan itu artinya Pihak Soni sudah ganti rugi semuanya, dengan langsung di bayar kontan persiapannya dan tinggal mereka yang meneruskan


" Sekali lagi kami minta maaf yang sebesar besarnya ya pak Zain, kami harap silatur rahmi kita tetap terjalin dengan baik" ucap Papi Ailza lagi pada Zain


" Insyaallah.... Jodoh rezeki ajal, itu tidak ada yang tau pak, mungkin El dan Ailza tidak berjodoh , dan mudah mudahan dengan adanya kejadian seperti ini bisa jadi pelajaran kita untuk makin hati hati, untuk menjaga apa yang Allah titipkan kepada kita, apa lagi anak, " jawab Zain lagi dan ramah


Jihan sama sekali gak berkomentar apa apa, pikieannya makin gak karuan, di tambah dia yang sempat mengalami baby bluse di tambah kejadian seperti ini seolah mengingatkan bagaimana rasanya saat dulu dia di hianati oleh Zain pada masa itu


" Kalau gitu kami permisi dulu" ucap Papi Ailza pamit


Anak laki laki kebanggaannya, yang dulu di pertahankan kini harus tau rasanya di hianati oleh calon istri sendiri


Dan Jihan langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar El, sedangkan Hanya Zain dan Al yang ikut mengantar keluarga Ailza sampe depan


Karena Aliza kini sedang menjaga baby Bibi yang sedang tertidur di kamarnya sendirian


Zula ikut Uminya menghampiri El yang berada di kamarnya, dan ternyata El sudah kalang kabut dan hendak pergi meninggalkan rumah juga


" Mau kemana?" tanya Jihan lirih saat melihat beberapa koper yang sudah di masuki beberapa baju secara berantakan


El tidak menjawab dan masih melanjutkan aktifitasnya, dengan sembarangan


El yang rapi, bersih kini menjadikan kamarnyanseperti kapal pecah yang gak beraturan, akibat depresinya


El kini ke bagian alat medisnya, dia melihat gunting dan pisau yang snagat tajam, dan membolak balikkan di depannya sendiri sambil tersenyum sinis


" El... " Panggil Jihan lagi dan gak di pedulikan oleh El

__ADS_1


" Abang... Jangan lakukan itu bang" teriak Zula yang sama gak di pedulikan oleh El


" Lepas gak" ucap Jihan mengancam


El masih terdiam dan tidak peduli sama sekali, dan masih mengasah pisau tajam untuk oprasi itu, dan


" Praaannkk......... "


Jihan meminta dan membanting pisau tersebut hingga terlempar di lantai


" Umi apa apaan sih, biarkan El lakukan itu Umi, El gak ada gunanya lagi hidup di sini, kalau El hanya di buat permainan, perasaan El hanya di buat mainan saja sama wanita itu" ucap El makin murka pada Jihan yang justru menggagalkan ambisinya


" Apa dengan kamu melakukan hal itu akan membuat hidupmu berarti?? " Bantah Jihan lagi


Dan tibalah Al sama Zain yang juga menghampiri El di kamarnya


" Umi gak tau apa yang El rasakan, Umi gak pernah tau apa yang El rasakan saat ini Umi, Umi gak tau itu" Jawab El sambil menangis frustasi


" Kamu bilang Umi gak pernah tau? Dan Umi gak tau apa yang kamu rasakan El?" tanya Jihan datar dan mendekat pada El yang menangis Frustasi


" Kamu sama dia itu masih calon, belum suami istri, dan apa yang kamu rasaka saat ini tidak ada apa apanya dengan apa yang Umi rasakan dulu, " tambah Jihan kembali menatap El makin lekat


" Yang kamu rasakan saat ini udah Umi rasakan El, di mana Umi di sakiti suami Umi sendiri, di hina dan di rendahkan di depan orang lain, dengan kesalahan yang gak pernah Umi perbuat, kamu tau gimana rasanya? Sehingga kamu bilang Umi gak tau apa yang kamu rasakan saat ini,?" tambah Jihan lagi makin murka pada El


" Abahmu sendiri, Suami Umi sendiri bukan orang lain apa lagi cuman sekedar calon pendamping, ini Abahmu sendiri, yang membela wanita lain dan menghina istrinya, Umi sakit, sampai saat ini sakit kalau ingat itu El" tambah Jihan makin membentak dan mengeluarkan semuanya


Zain yang dengar tentu gak bisa apa apa, hanya bisa diam dan bertunduk, karena apa yang di katakan Jihan memang benar adanya


Sengaja biar El tau, yang merasaka kesakitan bukan dia aja, saat dia sakit Uminya juga ikut sakit, tapi justru dia malah seenaknya berkata seperti itu


" Kalau Umi dulu di suruh milih, umi juga milih mati aja El, Tapi Umi ada kamu, ada bang Al yang perlu umi perjuangkan, Umi gak mau menyerah hanya karena seorang pelakor yang ganggu hidup dan perjuangan Umi, Dan sekarang, kamu yang ingin mengakhiri hidup hanya karena wanita yang menyakiti hatimu, ?" tanya Jihan tajam dan El terdiam seribu bahasa


" Kamu yang dulu Umi pertahankan, Umi perjuangkan, sampai di titik darah penghabisan, kamu nangis Umi ikut nangis El, kami sakit, hati Umi ikut sakit, dan sekarang kamu gak pernah mikir perjuangan Umi untuk kamu, hingga sampai di titik kesuksesanmu saat ini , dan dengan mudah kamu mau mengakhiri hidupmu hanya karena wanita yang menghianatimu, ?" tanya Jihan dengan DERAI AIR MATA yang kembali berkucuran


" Sekarang Umi tanya, kamu sayang sama Umi, apa sayang sama wanita tadi?" tanya Jihan yang ogah menyebut nama Ailza lagi


El tidak menjawab dan seketika memeluk Umi Jihan yang ada di hadapannya, karena benar kata Uminya, dan pelajaran berharga banget apa yang pernah Uminya jalani selama ini

__ADS_1


__ADS_2