
El tidak menjawab dan justri tertawa ngakak, kalau sama sama pilih santri di pondonya juga banyak tinggal nunjuk aja ajak nikah jadi
Lha ini malah pakdenya menawarkan diri, padahal dia sendiri lagi memikirkan tentang mimpi bertemu gadis di waktu itu
" Kok malah tertawa sih El" ucap Fani heran
" Ya gimana gak tertawa lho Bude, kalau sama sama milih santri, di rumah juga banyak, tinggal nunjuk ajak nikah pasti mau, siapa sih yang nolak seorang El Musthofa" jawab El songong
" Porr sombong kamu El, kayak Abahmu jaman dulu " jawab Fani kesal
" Ya bener gak Pakde? Kira kira pakde orang lain, bukan sodara, punya anak gadis, mau gak punya mantu kayak El?" tanya El bercanda
" Ya iya dong, ssecara, ngaji bisa, kitab bisa, hafidz, dokter, rumah sakit ada, jaminan gak habis sampai turun temurun, terjamin," jawab Hamzah yang kepancing ucapan El
" Tuh kan bude, pakde aja mau punya mantu kayak El, apa lagi yang lain, secara lho, pakde anak tunggal warisan semua jatuh ke pakde, di Indo di Arab, semua ada, gimana coba, sultan aja mau sama El" ucap El pada Fani yang melitotkan matanya sejak suaminya berucap
" Iya ya .... Tapi Bude kan punya anak gadis toh El, adeknya Aira, boleh lho yuk jadi manti Bude" Ucap Fani menawarka anaknya sendiri
" Boleg dong, kan Bude cewek sodara bapakmu cowok, anak bude gak perlu wali dari keluarga Abahmu, bisa lah... Yuk mau" ucap Fani malah tertarik sendiri
Ya... Sebuah saudara, sepupu itu bisa menjadi lain makhrom dan boleh di nikahi, di kala anak perempuan tersebut adalah anak dari tunggal perempuan, yang sekiranya kalau sudah tidak ada wali mereka juga tidak bisa menjadi wali nikahnya
Contoh, seperti Anak Fani dan Zain, Fani punya anak perempuan Aira, dan Zain punya El, mereka bisa menikah, karena saat Hamzah tidak ada, dari pihak keluarga Fani tidak ada yang bisa menjadi wali, karena apapun itu yang bisa menjadi wali adalah saudara kandungnya, dan saudara ayahnya
Berbeda dengan Zain dan Baha' mereka sama sama laki laki, di saat Putri Baha' mau menikah, dan tidak ada wali, contok Abng dan Abah mereka sudah tidak ada, makan Zain bisa menjadi wali nikahnya, begitu juga dengan Anak Zain, seperti El dan Al
Dan begitu juga sebaliknya, makanya kalau antara anak Zain dan Baha' tidak bisa menjadi besan kalau Fani dan Zain boleh boleh saja
__ADS_1
Orang tua jaman dahulu sering kali menjodohkan saudaranya, dengan alasan biar makin raket persaudaraannya, tapi dengan seperti itu mereka tidak tau kalau dengan orang lain justru akan menambah saudara baru
Orang dulu selalu berkata, makan gak makan yang penting kumpul, seolah anaknya harus ada di dekatnya gak boleh jauh jaih, bahkan dapat orang jauh seolah rasanya berat
Dan lagi lagi mereka juga gak sadar, padahal saat ini kalau kumpuk kita butuh makan, dan makan.? Harus kita cari di mana rezki yang harus kita jemput
Rizki harus di jemput ya sodara sodara, di mana tempat Allah manruh rezeki untuk kita, tanpa di jemput rizki tidak datang dengan sendirinya, kecuali Allah yang memberi ke istimewaan dengan rezeki yang tak terduga duga,
Yaszukuhu mint haitsu laa yahtasib, rezeki datang tak terduga, cuman kita sebagai manusia yang di beri nikmat sehat masak cuman mau ngandeli minta haitsu laa yahtasib juga, berusaha dong bangkit dan dapatkan apa yang kita harapkan
Salam semangat pejuang receh sepertiku...
" Enggak bude, El masih pengen jadi Pobakan bude pakde aja, gak mau jadi mantunya, repot" jawab El santai tapi justru mereka mengerutkan keningnya
" Repot gimana?" tanya Fani heran
" Emang kenapa dengan anak orang biasa bude? Umi orang biasa bude, tapi kan Umi luar biasa Bude, " jawab El membela Uminya
" Iya sih.. Maksudnya kalau bude gitu El" jawab Fani lagi
" Ya jangan gitu terus dong bude, bude udah salah itu, Kalau prinsip abah dan Umi gak pernah melarang pilihan saya, dan anak anaknya yang lain, bahkan dulu mantan bang Al, itu muallaf lho bude, begitu juga dengan mantan tunangan El kemaren, mereka muallaf, bukam terlahir dari orang islami apa lagi seorang kyai, " tambah El membantah pemikiran Fani
" Tapi Abah Umi gak pernah melarang dan bahkan keberatan, mereka mendukung penuh mana yang terbaik untuk anak anaknya, bahkan gak pilih pilih sama sekali, dan percaya sama kami anak anaknya, soalnya kalau pemikiran kami semua, semua manusia itu sama, kalau seumpama jodoh kita bukan sanat keturunan kyai, dan kita bisa merubah dan menjadikan istri bahkan keluarganya, kalau untuk El ya Bude, El cowok jadi Istri, menjadikan ornag itu lebih baik, lebih taat kan kita yang dapat pahala, seolah ikut menyebarkan dan mengajarkan agama dengan orang lain, betul gak?" tambah El memberi alasan dengan bantahan Fani
" Berbeda dengan putra kyai dapat putri kyai juga, sama sama sudah bisa nanti akhirnya saingan makin repot" tambah El lagi
" Ya bukan gitu juga El, tapi yang sebelumnya tadi , iya kalau kita bisa mengajak keluarga istrimu contohnya, tapi kalau tidak bisa gimana? Dan kamu yang terjerumus ikut mereka kan juga bahaya" Bantah Fani lagi
__ADS_1
" Ya itu kan tergantung mereka yang mengendalikan n*****u, tugas kita sebagai seorang santri putra mbah Yai ikut juga dong memperjuangkan, harus bisa gimana caranya, kalau ada kendala anggap aja suatu cobaan, kan gitu, keturunan Kyai , insyaallah dia berjiwa pejuang" jawab El membuat Fani terdiam gak bisa bantah lagi
Dirumah Jihan kini Jihan sudah mandi ganti baju, dan Baby Bibi juga sudah tidur dengan Zain yang ikut merem dengan ngelonin baby Bibi
Jihan terasa lapar dan keluar kamar mau ke arah daput barang kali ada makanan di kulkas, untuk ganjal perut
Tapi ternyata Al dan Aliza masih berada di ruang tengah, dan mereka sama sekali belum tidur dan bahkan belum masuk kamar
" Lho Bang... Kak, gak tidur?" tanya Jihan pada mereka
" Masih mau nonton film Mi, " jawab Al sambil menonton Film
" Di kamar juga ada tv kali bang, pindah sana, " jawab Jihan lagi karena kasian melihat Aliza yang sepertinya sudah capek
" Tv mana? Kamar Al lho di tempati mbak Aisy" jawab Al lagi karena Aisyah tau tau udah menempatkan anak anaknya di sana
" Masak? Lha kan kamu pulang duluan, kenapa gak langsunf ke kamar aja tadi?" tanya Jihan balik dan mendekat padanya
" Duluan apaan, terakhir Mi, kan bareng El sama Zula juga, El udah pesan sama mereka jangan tempati kamarnyaz begitu juga dengan Ula, lha Al lupa Mi, hangus deh, mana sanak pranak mereka makin banyak lagi" jawab Al mengeluh dan Jihan tertawa
" Gak apa apa Mi, kami di sini aja gak apa apa, nyaman kok mi, sofanya empuk lagi" jawab Aliza santai dan sudah tiduran di sofa
" Yah jangan dong sayang, kasian babynya, pindah yuk... Ke kamar El apa Zula gitu, Zula lho ngawani Umi, kamarnya kosong sekarang" jawab Jihan gak tega sama Aliza yang sedang hamil
" Apa iya?? Wah gak jelas tuh anak, gitu aja diem" jawab Al baru sadar
" Apaan sih Al, kamu aja yang kurang peka, El juga di RS, Mbok di telfon, kalau gak pulang bilang mau di pake dulu, kayak orang susah gitu sih" jawab Jihan kesal sama Al yang gak mau berusaha untuk istrinya
__ADS_1
" Huh... Lama lama Umi jual otakmu, encer saat di kampus aja" jawab Jihan kesal dan menonyor kepala Al lalu pergi