
Esok harinya mereka langsung mulai kepekerjaan masing masing, karena tujuan utama mereka memang bekerja
Hari pertama kerja slow respon dan tanpa hambatan maupun masalah apapun, karena Zula dan Ryan berjumpa dengan kolega lainnya, soal Maul belum jadwalnya berjumpa
Masih dengan anak buah mereka yang berkerja di perusahaan Zain yang berdiri di sana dan masih menanggapi pekerja lainnya juga
Sampai di minggu kedua, itu artinya mereka sudah di Turky selama 14 hari, atau 2 minggu Fine semua lancar sesuai rencana dan tanpa hambatan
Peningkatan kinerja makin maju dan makin membesar perusahaannya bahkan bonus untuk para karyawan sudah di berikan juga karena sudah bekerja dengan baik
Hari ini adalah jadwal Dimana Zula dan Ryan akan bertemu dengan perusahaan milik keluarga Maul
Perasaan Zula dipaksa untuk bisa dan bertahan, di paksa untuk tetap kuat, dia berjumpa dengan perusahaan Maul, dan 1 perusahaan pagi yang bekerja sama
Karena perusahaan ini bekerja sama dengan 3 perusahaan, dan asetnya milik 3 perusahaan , 60 % Milik Zain, 20 %milik keluarga Maul, dan 20 % Milik perusahaan lain
" Loe kalau gak bisa dan gak kuat udah di rumah aja jangan di paksa, " Ucap Ryan pada Zula
Zula terdiam tanpa berkata, ingin rasanya dia bilang okey, tapi dia gak mau menyerah dalam berusaha harus profesional
" Kita datang keperusahaan Maul, lho La, okey kalau di lain tempat kita berkumpul dengan banyak orang, dan bukan di perusahaan Maul, maupun punya Maul juga, ini khusus kita ke sana, loe kuat gak?" tanya Ryan dan Zula masih terdiam
Ryan menunggu jawaban Zula yang sudah tergantung, Zula gak mau membohongi dirinya sendiri, tapi dia juga berfikir kalau ini mau sampai kapan
" La..." tanya Ryan lembut
" Bismillah.. Gue berusaha Pak, gue gak mau nyerah, gue hrus kalahkan emosional dari sikap profesional gue" jawab Zula tegas dan tetap berusaha
" Okey... Kalau loe gak kuat bilang sama gue, " Ucap Ryan dan Zula mengangguk
Mobil mereka akhirnya sampai di lobi perusahaan Maul, pas turun tak sengaja Zula melihat istri Maul yang bersama ibunda Maul
Rasanya kangen denga pelukan mantan ibu calon mertuanya itu, tapi Mustahil dia sadar dia siapa,
Ya Dari jauh Zula melihat Ibunda Maul menggandeng Istri Maul yang terlihat mulai membuncit perutnya
Dalam arti Sudah hamil dong, ya namanya cinta terbawa karena kebiasaan
7 Bulan mereka menikah dan Aufi sekarang sudah mau jalan 5 bulan kehamilannya
Mau gak mau Maul tentu makin gak bisa melepas Aufi, karena ada darah dagingnya di sana
Rasa nikmat sekali ia rasakan, dan ingin lagi lagi dan lagi, lagian sudah basah nyebur aja sekalian
Walaupun bayangan Zula selalu melintas dan hadir dalam mimpinya tapi yang ada Aufi apa boleh buat
Dan keluarga Maulana Mulai akur dan mulai bahagia apa lagi di tambah kehadiran jabang bayi dalam rahim Aufi
" Gue bisa gue kuat" Ucap Zula dan Ryan faham itu
__ADS_1
" Bisa ya.... Kuat ya... " Ucap Ryan dan Zula mengangguk
Kini Zula berjalan beriringan dengan terus menguatkan hatinya, dia terlihat begitu berwibawa banget, apa lagi perwakilan dari perusahaan abahnya yang pastinya sangat berpengaruh besar dengan perusahaan mereka
Semua karyawan menyapa dengan menundukkan kepalanya,
Ini kali pertama Zula masuk perusahaan Maul, impian Maul dan keluarga untuk selalu bekerja sama mungkin bisa di bilang ini adalah keberuntungan mereka ,karena rasa baik hati Zula dan juga Umi Jihan kala itu
" Pak Ryan bu Zula, silahkan kami antar ke ruang meeting" ucap Salah satu pegawai mereka dan Zula mengangguk
" Terimakasih" Ucap Zula ramah walau hatinya sudah berantakan
Gak karuan kegugupan tetap dia tahan, hingga akhirny sampai di lantai paling atas dan siap mengikuti meeting
Mereka duduk di kursi yang berdampingan, perusahaan ini di pegang oleh Maul, saat mereka tau kalau Aufi sudah hamil, dan jatuh ke cucu satu satunya jadi yang kendalikan Maul, abinya hanya memantau saja
Zula duduk di kursi paling pinggir karena biar lebih dekat dan enak saat persentasi nanti , dan Ryan duduk di sebelahnya
Di sana sudah ada banyak karyawan inti dari perusahaan Maul, dan beberapa perwakilan dari perusahaan yang satunya lagi
Tak lama datang ayah Maul dan juga Maul masuk ke ruangan tersebut
" Assalamualaikum" Ucap mereka dan semua berdiri dan menyambutnya
Zula sama sekali tidak mengangkat wajahnya dan hatinya sudah gak karuan apa lagi melihat Aufi atau istri Maul yang sudah hamil secepat itu makin nyut nyutan perasaannya
Karena takut melihat wajah Zula yang mungkin kembali marah dan menangis, dia gak kuat, sayang masih sangat sayang, tapi apa boleh buat, dia sudah salah, dan jadi bubur yang sudah basi
" Okey meeting akan segera kita mulai" Ucap salah satu staf di perusahaan Maul
Zula masih menundukkan kepalanya dan tangannya satu di atas satu di bawa, jaraknya yang begitu dekat dengan Maul membuatnya harus makin ekstra menahan rasa sakit
Membayangkan saja sakit , apa lagi saat ini di hadapannya, berkali kali lipat rasa sakitnya
Ryan memerhatikan dari balik hijab sepertinya sudah mulai basah, karena keringat dingin yang Zula tahan
Kini mungkin Zula sudah hilang fokus dengan persentase yang di sampaikan oleh perusahaan satunya lagi, Ryanpun sudah gak fokus juga di saat melohat keadaan Zula
" Loe okey?" tanya Ryan dan Zula mengangguk tanpa menoleh
Ryan masih ketar ketir, apa lagi tatapan Maulana juga sama kurang fokus karena memerhatikan Zula terus yang hanya menunduk tanpa mengangkatnya
Perasaannya berperang dengan hati yang sudah gonduk dan pengen menangis, menurutnya Maul sekarang penghianat besar yang paling jahat yang pernah dia kenal
Persebtase demi persentase sudah di sampaikan, dan sudah satu jam lebih Zula menahan, Ryan makin khawatir, apa lagi keringat sudah mulai menbasahi tangan Zula yang sudah beralih ke pucuk jasnya
Beberapa kali Ryan tanya Zula selaly bilang okey dan mengangguk dan kali ini
" Sudah gak usah di tahan lagi, gue tau" Bisik Ryan pada Zula
__ADS_1
" Gue nyerah" jawab Zula lirih,
Dan Ryan langsung berdiri sebelum persentasenya dia sama sekali belum di sampaikan
"Maaf, sebentar" Ucap Ryan dan pandangan semua langsung tertuju padanya
" Sebelum berlanjut mohon maaf saya potong, boleh saya meminta 1 ruangan kosong " Tanya Ryan karena kepikiran Zula
" Boleh pak silahkan" Ucap Salah satu staf yang bertugas untuk menyiapkan keperluan Claen
" Terimakasih" Ucap Ryan dan membantu Zula berdiri
" Saya permisi sebentar dan nanti saya kembali lagi" Ucap Ryan sambil membantu Zula berjalan
Pandangan Maul dan abinya langsung pada sosok Zula yang terus menunduk dan saat ini di gandeng dengan Ryan
" Zula" Panggil Maul tapi Zula sama sekali gak bergeming
" Di sini dulu, dia butuh waktu" jawab Abi Maul dan Maul mengangguk
" Ini gara gara Maul kan Bi" Ucap Maul dan Abinya hanya bisa mengangguk saja
Ya gimana lagi, semua sudah terlanjur, Abinya juga gak bisa apa apa, mau di bela juga memang salah, dari awal dia sebagai orang tua kurang tegas pada anak dan juga orang tuanya atau kakeknya Maul
Dan dia juga gak menganggap Zula lebay, dan membawa masalah pribadi ke sini, saat ini perusahaan Zula masih bekerja sama dengan perusahaannya saja sudah syukur, dan selanjutnya mereka juga harus siap siap kalau sampai akhirnya harus di robohkan,saat kontrak kerja sama yang harus berakhir
Di ruangan yang sudah di sediakan Zula mulai nangis sejadi jadinya, dan Ryan masih berusaha menengakan Zula yang sangat sakit banget
Bahkan sampai hampir menyerah , dan lebih dari setengah jam Zula akhirnya berhenti dan agak tenang
" Gue akhiri kerja sama saat ini La" Ucap Ryan saat Zula sudah mulai tenang
" Pikirkan lagi, tentang pinaltynya" Ucap Zula dan Ryan hanya mengangguk
" Loe di sini jangan kemana mana, gue selesaikan dulu" ucap Ryan sudah gondok banget harinya ini
Zula sering seperti ini, tapi hari ini yang sangat parah, bahkan dia sendiri hampir menyerah
Ryan kembali keruangan dan mengambil alih tugas Zula untuk di persentasikan
Ryan cukup profesional walaupun dia juga agak kepikiran dengan Zula tadi
Tepuk tangan cukup meriah dari para claen nya dan cukup membuat Ryan puas, ya walaupun nanti Ryan akan melepas setidaknya perusahaan yang satu masih ingin bergabung dengannya dan melepas kerjasama dengan perusahaan Maul
Ryan duduk kembali dan mulai mengeluarkan surat pengunduran diri dan pemutusan kontrak kerja sama
Sengaja sudah Ryan buat dan Ryan persiapkan, untuk jaga jaga kalau Zula memang gak bisa dan masih sama, dia siap mengajukan
" Sebelumnya saya mohon maaf, karena persentasi saya tadi saya tunjukkan pada PT, Khair, kalau memang masih berkenan bekerjasama dengan perusahaan kami, karena untuk saat ini, dan detik ini, saya sebagai wakil dari PT. Musthofa, ingin mengakhiri kontrak kerja sama dengan PT. Lana" ucap Ryan to the poin tanpa basa basi
__ADS_1