
Heny masih menangis dan seolah gak mau di tinggal oleh El, apa lagi kata udahan yang barusan El ucapkan menjadi tusuk duri tajam di hatinya
Heny terus menggeleng dan menangis tersendu sendu, sampe sesak sesengukan
" Aku gak mau" Ucap Heny nangis lagi dan terus memegangi lutut dan sarung El
Heny sangat sakit di saat kebahagiaannya baru datang menemano beberapa minggu kini harus redup lagi karena perjodohan yang harus dia terima
" Aku juga gak mau sayang.. Tapi gimana lagi? Ayah sudah menerima lamarannya sebelum aku datang, mungkinnsaat aku datang lebih awal aku bisa mancegahnya, Aku sendiri sakit harus kembali menerima kegagalan cinta" jawab El kini menguatkan Heny dan memegang kedua pundak Heny
" Di sini Mungkin Allah mempunyai rencana lain, bukan aku gak mau berjuang, aku gak ada hak dan kewajiban untuk menentang kebijakan dan ke putusan ayah sama bunda sayang, " Ucap El yang akhirnya ikut lolos air matanya
Betapa pahitnya perasaannya bahkan ludahnya ikut merasakan pahit juga, sehingga ditelen sakit banget
" Percayalah, jodoh gak akan kemana, kamu tau kan gimana perpisahan kita dulu, Allah mempunyai cara lain untuk mempertemukan kita lagi, dan allah mempunya rencana lain untuk kita juga" jawab El lagi dan terus memberi pengertian pada Heny
El gak mau menjadi konpor dalam keharmonisan keluarga,
" Kamu bahagia, aku juga ikut bahagia" ucap El lagi
" Hormati ayah bunda, sayangi mereka, hargai keputusannya, walau pahit, jangan sakiti hati mereka, merea itu prioritas kita, gantungan hidup kita, tanpa mereka kita juga tidak ada" tambah El membuat Heny menunduk dan ikut mendengarkan apa yang El sampainya
Memang semua yang El katakan benar, dia bukan siapa siapa, dan harus siap menerima apa yang menjadi kebijakannya
Karena Orang tuanya gak pernah luput darinya, semuanya karena orang tuanya, dia gak bisa sampai seperti ini kalau tidak ada orang tuanya
" Kamu tenang aja, aku gak apa apa, aku belajar banyak dari kamu yang mencoba ikhlas di saat aku menjadi milik orang lain," ucap El menyemangati Heny
" Kamu juga ya, harus semangat, harus kuat, hormati calon suamimu, senggaknya kalau kamu gak cinta, hormati dia sebagai kepala desamu, pimpinanmu, dan kelak akan menjadi surgamu, " tambah El dan Heny kembali nangis
El ingin memeluknya dan menguatkannya, tapi Heny sudah jadi milik orang lain, dia gak bisa ngapa ngapain
" Semangat.... Harus ikhlas harus kuat, aku pulang ya ... Jaga kesehatan" Ucap El lagi dan akhirnya Heny mengangguk
Heny meminta El untuk menunggu karena mau memanggil ayah dan bundanya dulu
Tak lama Ayah dan Bundanya keluar menemui El dengan membawa kantong besar, atau oleh oleh dari lamaran Heny tadi
" Kok sebentar nak El" Ucap Bunda Heny ramah
" Iya bunda... Udah siang, El pamit dulu ya" Ucap El bersalaman pada ayahnya terlebih dahulu
" Maafkan ayah ya nak, kalau ada salah" Ucap Ayah El menyadarinya pasti ada sesuatu sampe Heny menangis begitu, di tambah mata El yang sedikit memerah dengan beberapa kali mengusap hidungnya juga
" El juga sebaliknya yah, kalau El ada sama sama Ayah dan Bunda" jawab El sopan
__ADS_1
" ini untuk cangkingan bawa pulang ya nak El, sikit oleh oleh dari Heny" Ucap Bunda Heny pada El
" Masyaallah repot repot Bunda" jawab El gak anak
" Cuman sedikit nak, salam balik juga untuk Umi sama Abah ya" Ucap Bunda Heny dan El tersenyum dan mengangguk
" Insyaallaj bunda, mari saya permisi dulu" Ucap El sopan seolah tidak apa apa
Ya begitulah pengajaran hidup rukun yang luar biasa, saling memahami dan saling mengerti
Dendam tidak perlu, karena akan menjadi virus dalam kehidupan,
Cinta damai, itu yang selalu di terapkan dan manjadi wejangan Jihan pada anak anaknya
" Assalamualaikum.." ucap El saat keluar dan berjalan ke mobilnya
Kini El sudah berada di mobil membunyikan klaksonnya dan melambaikan tangannya
Heny kembali menangis saat masuk ke dalam rumah, bahkan nangisnya semakin kencang, gimana dia merasakan ketidak adilan
" Maafkan Ayah sama bunda nak, tapi ini yang terbaik untuk kamu" ucap Bunda Heny mendekat padanya
" Kita tidak sederajat sama keluarga Al Musthofa, kita sadar diri nak, bertahun tahun kamu menyimpan rasa harapan pada orang yang menjadi milik orang lain, sakit kamu rasakan sendiri, lebih baik berteman saja dari pada makin sakit hati" ucap Ayahnya yang belumntau sebenarnya walaupun sudah terasa
" Ya silaturrahmi kan? Kalian berteman, kalian bersaudara, tempat satu kerja" jawab Bundanya yang belum faham
" Bunda tau, kamu nangis sama El karena mau bercerita kan, mau curhat kalau kamu di jodohkan, karena seperti yang sering kamu ceritakan, dia milik orang lain, dan kalian berteman, katamu sudah ikhlas nak" jawab Bundanya karena yang dia ketahui memang begitu adanya
" Bukan yah .. Bukan Bund..." Ucap Heny sembari menangis
" Lha jadi?" tanya mereka kompak
" Heny udah kembali sama El, kita sudah balikan lagi, kita sudah bersama lagi Bunda, dia ke sini mau minta restu sama ayah sama bunda, untuk hubungan kami" jawab Heny sambil menangis
" Ya Allah ya robbi" ucap keduanya kaget
Kaget karena udah menyakiti hati seseorang secara langsung bahkan di depan mata lagi
Ya tau betapa kecewanya El saat tadi, walaupun Heny dulu pernah di sakiti, tapi mereka sudah membuang dan mengubur memori tersebut
Di tambah lagi, mereka gak mau berbalik untuk menyakiti, atau sengaja membalas, tapi hukum alam sudah otomatis memberi balasan
Di sepanjang jalan El selalu temenung tentang apa yang di lihat pada hari ini, rasanya sakit banget
Zula yang baru selesai telfon sama Maulana cukup kaget dan kasian melihat chat abangnya
__ADS_1
Begitu juga dengan Al dan Aliza yang kaget dengan fotonya, awalnya di kira prank dari El, tapi saat melihat fotonya ikut merasakan sakit kembali
Mereka bahkan sampai buru buru mau pulang, kalau Al sih cuek, tapi Aliza dia cukup prihatin belum lama dia sakit hari karena di bohongi calonnya
Lha sekarang kambali sakit hati saat melihat cinta pertamanya di lamar di depan matanya langsung
" Begitu banget sih nasib perjalanan cinta El ya Mas" Ucap Aliza saat sudah di dalam mobil
" Ya gimana? Memang begitu takdirnya" jawab Al santai
Bahkan Zula berkali kali melihat ke balkon sambil memantau mobil Abangnya datang, mau langsung di papak dengan kesedihan pastinya
Tak lama terlihat mobil Al yang masuk, dan dia mau langsung turun karena mau ngobrolin hal itu
Saat Al masuk rumah pas Zula juga sampai lantai bawah, untung tamu barusan pulang jadi gak ada yang melihat dan mendengar kehebohan mereka
Tak lama mobil El masuk pekarang rumahnya
" Tuh tuh... Ayo siap siap" Ucap Zula antusias dengan masih menggendong baby Bibi
" Ada apa sih?" tanya Zain kepo dan tidak di jawab karena El sudah datang dengan wajah yang berbeda jauh dari saat mau berangkat
" Assalamualaikum.." Ucap El saat masuk dengan mententeng kresek berisi oleh oleh lamaran Heny
" Waalaikumsalam..." Jawab semuanya dan El langsung duduk di tengah mereka
" Nih Mi.." Ucap El menyodorkan kresek tersebut
" Apaan ini?" tanya Jihan
" Oleh oleh lamaran sang pacar" jawab Al suka banget kalau meledek
" Mas Ih..." ucap Aliza menyenggol Al
" Ceritanya dia habis jadi saksi tunangan pacarnya Mi" tambah Al lagi gak kapot di sikut Aliza
Zain sama Jihan saling tatap dan
" Hahahahaha.. Jadi ini tadi jadi tamu rak di undang di acara tunangan pacar?" ucap Zain tertawa yang di ikuti Jihan
" Jadi ini oleh olehnya dari sang pacar?Masyaallah .. Ayo ayo di buka bareng bareng, sedep berkatnya orang lamaran tuh" sambung Jihan sengaja meledek
" Kok Umi gitu sih" ucap El gak terima
" Makanya konsisten, jangan plin plan, katanya mau menyendiri dulu, bebas dulu, plinplan sih jadi buru buru, " jawab Jihan yang mambalikkan ucapan El kala itu saat di suruh sat set gak mau
__ADS_1