
El terdiam dan Zula makin terisak tangisnya, gak tau apa dia harus kembali ke dunia pahitnya lagi, di tambah Abah Uminya yang akan mempunya bayi lagi, mungkin perhatiannya juga akan tersita juga
Bayangan Zula justru semakin memanjang dan menjauh, dia belum siap untuk menerima itu, dia belum siap untuk kembali di hidup penuh kesepian dan kurangnya kasih sayang
" Abang kok diam, jawab Bang El, apa abang juga akan sibuk dengan keluarga abang sendiri, dan gak mengenal Zula lagi?" tanya Zula lagi dan El masih terdiam,
Jujur El gak bisa jawab, karena El gak tau nanti gimana keadaan rumah tangganya, apa dia juga akan masih bisa tinggal terus di Indonesia dan mendampingi adeknya dan kumpul bersama keluarganya, apa akan tinggal di luar negri seperti sedia kala saat menimba Ilmu
" Okey.. Berarti semua akan berubah, dan Okey, gue juga harus siap kembali ke dunia sepi seperti sedia kala," Ucap Zula lagi pas dengan kedatangan Zain dan Jihan yang ikut menyusulnya
Zain sangat Khawatir dengan Zula dan kedua abangnya yang gak kunjung kembali, hingga akhirnya mereka menyusul
Zula berdiri dan maju ke pagar balkon yang ada di depannya
" Abah Umi, Mungkin nanti akan sibuk dengan adek bayi, Zula bahagia dengan kehadiran adek bayi, tapi apa nanti justru membuat Abah Umi akan sibuk sendiri dengan adek bayi, dan Kalian, Bang Al sudah mulai punya dunia sendiri, Abang nanti sudah mau lamaran, dan bentar lagi punya keluarga, sibuk dengan istri dan keluarga barunya" tambah Zula mulai berkata
Al, El, Jihan dan Zain , Saling tatap dan saling mendengarkan ucapan Aliza yang makin melangkah jauh ucapannya
" Gue mungkin bisa seperti kalian dan langsung bisa menikah punya keluarga sendiri, karena gue juga punya tunangan, tapi gue belum siap, gue masih ingin menikmati hidup baruku yang lengkap dengan adanya kalian semua yang selalu ada di sampingku, menghiburku dan mengisi serta merubah hidup sepiku ke kehidupan yang terang benderang" tambah Zula lagi membuat Hati Jihan terasa teriris dan merasakan gimana sakit hatinya putrinya yang dulu sepi karena dirinya
" Tapi ya wes gimana lagi, hidup kalian bukan untuk gue aja, gue gak harua egois, gue harus siap menerima kedatangan kakak kakak ipar gue, dan gue harus siap berbagi kasih sayang kepada mereka dan calon adek gue juga, dan gue juga harus siap kembali ke sepian di saat kalian sibuk dengan keluarga kalian masing masing, " tambah Zula dengan DERAI AIR MATA yang semakin deras
" Hiks...... Hiks..." isak tangisnya terdengar jelas di kedua orang tua dan abangnya
" Dan Gue harus siap kembali jadi orang asing lagi, dalam pahitnya kehidupan gue yang dulu" ucap Zula mengakhiri kata katanya
Mereka berempat berjalan perlahan dan mendekat pada Zula dengan sama sama memeluk Zula dari belakang Zula
__ADS_1
" Putri Abah, gak akan pernah sendiri lagi, Abah gak akan pernah rela Putri Abah kembali sendiri dalam pahitnya kehidupan" ucap Zain makin membuat Zula menangis keras
" Putri Abah udah bahagia, dan selamanya harus tetap bahagia" tambah Zain dengan tangisan yang sedari tadi menghujani hati dan matanya
" Abah...." panggil Zula emmbalas pelukan Zain
" Zula gak sendiri Nak, Zula ada Abah, Ada Umi," ucap Zain lagi yang sudah gak mau mengulang kesalahannya dulu
Al dan El masih terdiam membisu, mereka gak tau harus berucap seperti apa, begitu beratnya menjadi adeknya yang sudah trauma merasakan pahitnya kehidupan
" Kita semua akan selalu bersama Il Putri Umi, Umi minta maaf sudah pernah membuatmu berada di dalam pahitnya kehidupan, Umi dan Abah akan selalu ada Untuk Il, Umi abah akan bersamamu terus nak" ucap Jihan mengelus lengan Zula yang sedang di peluk erat abahnya
" Putri Abah Gak boleh berfikir seperti itu lagi, itu semua gak akan terjadi sayang, kita semua akan selalu bersama, kita semua akan sama sama sampai kapanpun itu, Abah gak rela anak abah hidup jauh dari Abah, cukup dulu masa lalu aja, Abah hidup dari kalian, seterusnya Abah gak akan pernah mau sayang, kalian ini harta abah, " ucap Zain merangkul semua anak anaknya dan mereka saling berpelukan
" Sebesar apapun perusahaan Abah, Gak ada bandingannya dengan kalian, harga mati Abah" ucap Zain lagi membuat semuanya terisak tangis dalam pelukan hangatnya
" Abah Umi akan selalu menyangi Ula, walaupun nanti ada baby yang lahir nak, Baby ini adek Ula, saudara Ula, penyejuk Ula, penghilang capek saat Ula pulang kerja, " Ucap Zain sambil mengelus perut Jihan, tanpa melepas rangkulan pada Zula juga
" Jangan tinggalkan Ula ya Bah, sayangi Ula, Seperti Abah menyayangi Umi" ucap Zula dan Zain mengangguk dan mengusap air mata Zula
Mereka kembali berpelukan hingga saling menangis dan lanjut tersenyum dan tertawa bersama
" Cuman gara gara Elo bang, semua jadi begini" ucap El di sela tawa mereka
" Kenapa takut kehilangan kasih sayang Abang Abang dan Abah Abah?" tanya Al mengusap kepala Zula
" Adeknya Abang Adeknya Abang, sini" ucap Al memeluk Zula
__ADS_1
" Maaf ya, Abang gak bermaksud begitu sayang, Maafkan Abang ya" ucap Al pada Zula yang masih di dekapnya
" Bohong..." jawab Zula mencubit Al
" Udah punya istri Lupa adeknya, sibuk buat anak, apa salahnya sih tersenyum kek, muka datar jawabnya pun datar" tambah Zula kembali ngomel
" Ya maklum La, namanya orang kelaperan, Abang laper belum makan, datang datang loe hadang, samvut kek dengan makanan, 24 jam Abang belum makan La" jawab Al karena efek kelaperan dan memper erat pelukannya pada Zula
" Kelon terus sampe lupa makan kok" jawab El yang faham
" Namanya pengantin baru" jawab Zain santai dan faham akan hal itu
" Dulu Abah apa begitu?" tanya Al penasaran
Karena dia sempet berfikir apa dirinya aja yang haus akan hal itu, dan intinya ketagihan selingga gak mau lama lama jedanya
" Sama lah sampe sekarang, " jawab Jihan santai sambil menyindir Zain
" Dulu Abah jarang tidur di rumah, milih di hotel biar bebas" jawab Zain santai tanpa satir
" Sampe bikin rumah tengah sawah agar gak ada yang ganggu" saut Jihan apa adanya
Bukan berarti buka aib, anaknya sudah pada besar dan bentar lagi juga akan menikah, dari pada tanya ke orang lain dan membuka prifasi pada orang lain, Zain dan Jihan sekalian menjelaskan biar sama sama tau, tanpa cerita ke orang lain,
Kalau sama orang tua insyaallah aman, dan itu prinsip Jihan dan Zain
" Loe besok sama El" ucap AL pada El
__ADS_1
" Kan... " ujar Zula mulai cemburu dan geli sebenarnya
" Rumah Abah di tengah sawah yang mana? Biar Zula kalau kesepian biar sekalian di tempat yang sepi" ucap Zula lagi membuat mereka sama sama tertawa dan merangkul putri yang lagi sensitif ini