Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Penerus


__ADS_3

Kini Zula dan El sedang ke ATM untuk mengambil uang untuk para santri ndalem, sesuai nominal apa yang Abahnya perintahkan, bahkan lebih


Kini setelah mengambil uang Zula meminta untuk jajan di pinggir jalan


Ya di bulan romadhon, bulan yang pernuh berkah ini memang banyak mendatangkan rezeki,


Seperti saat inu banyak yang berjualan di pinggir jalan, yang manjajakan makanannya, yang lumayan menggoda bagi para kaum muslim yang berpuasa


Apa lagi jam segini pada pegawai pabrik yang baru pulang juga mampir dan ikut mengeroyok pedagang yang berdasaran di sana


Setelah membeli beberapa makanan, bahkan sangat buanyak, uang dari Abah Zain saja sampe habis dan minta tambah El dan kini mereka waktunya pulang karena sudah jam 5 sore, sebentar lagi magrib belum mandi juga, karena tadi mampir sholat asar di masjid karena perginya pas menjelang asar


Sesampainya di rumah, Zula langsung duduk di meja makan, dan ikut menyiapkan jajanannya di meja makan yang pastinya memenuhi mejanya


Sedangkan El menemui Abahnya dan membagi perangklop untuk para santrk ndalem


" Jam berapa sekarang mbak Atik?" tanya Zula ramah


" Jam 5 lebih ini neng, sebentar lagi magrib, " jawab Atik sambil menyiapkan buka puasa


" Mandi Laa" Ucap Jihan sambil turun dari tangga


" Jam berapa mbak?" tanya Zulq karena tadi terganggu sama Uminya


" Jam 5 lebih neng" jawab Atik sopan


" Waduh... bentar lagi, wah gue tau nih obat agar gak bosen nunggu magrib tiba" ucap Zula happy sendiri


" Apa?" tanya Jihan sambil gendong baby Bibi


" Jalan jalan sambil cari jajan" jawab Zula dan Jihan tertawa karena mangingatkannya pada Mega diasa mudanya


" Ya udah Mbak Atik, ini nanti bawa ya mbak, untuk mbak dan mbak Ndalem lainnya, kalau di bagi semua santri gak cukup," ucap Zula sambil berjalan ke arah tangga


" Makasih neng..." Jawab Atik ramah


" Oh ya.. Ini juga nanti di bagi sama kang ndalem lainnya ya mbak, dari Abah, seminggu kalian udah ngerepotin banget, sampe nanti 7 hari Umi sama Abah" ucap Jihan yang sudah menerima uang dari Zain

__ADS_1


" Ya Allah Umi, gak usah Umi, makasih banyak, kami semua seneng bisa ngalaf barokah di ndalem" jawab Atik singkan


" Gak apa apa, ini rezeki mbak Atik dan yang lain, kami juga seneng di bantu" jawab Jihan dan Akhirnya Atik menerima


" Gak banyak ya mbak, untuk beli sabun aja" ucap Jihan lagi


" Trimakasih banyak Umi" jawab Atik sampe berkali kali salaman pada Jihan


Magrib telah datang, Pengajian sore di isi oleh Al, karena Zain rasanya masih gimana gitu jadi hati ini di badali oleh Al


Al sendiri yang tidak ikut buka bersama, karena dia harus lanjut untuk menjadi imam di masjid,


Dan anggota keluarga juga tidak langsung makan, tentunya masih minum dan makan makanan yang manis untuk membatalkan puasa


Tapi tidak untuk Zula, seolah kalap dengan semua makanan yang dia beli, makanan yang memenuhi meja makan


" Masyaallah habis ini nanti La?" tanya Fani yang sudah berkumpul di sana


" Hem... Kalau gak habis bantuin makan ya bude" Jawab Zula santai


" Ini nih, titisan Umi Jihan, waktu masih muda, hem... Semua makanan di jalan di beli, " Ucap Zain sambil mengelus pundak Zula


Selanjutnya mereka jamaah sholat magrib di ruang tengah lantai bawah, yang sejak sore tadi udah di pasang karpet sama santri ndalem untuk persiapan kirim doa ke Mbah Abah dan mbah Umi


" Assalamualaikum..." Ucap Al saat masuk dan mereka masih berdzikir


" Eh masih sholat" Ucap Al dan mendekat pada sosok baby Mungil yang ada di sebelah Uminya


" Ikut sholat ikut jamaah ini?" ucap Al dan mengambil baby Bibi


"AAOOO...." jawab baby Bibi seolah mengerti


" Udah buka puasa belum?" tanya Al dan memangku baby Bibi


" Aaooo" Jawab baby Bibi lagi


" Udah pake apa,? Pake nen? Nennya lauk apa? " Ucap Al lagi dan Baby Bibi seolah terus menjawab dan malah ngajak ngobrol

__ADS_1


Setelah selesai sholat berjamaah, mereka lanjut makan dan berbuka puasa, bersama sama kembali ke meja makan, beby Bibi di taruh di stroler dan mengemut jarinya


" Weh... Ini pasti jajanan Ula" Ucap Al udah bisa menebak


" Apa bu Mil?" tanya Al lagi


" Bu Mil mana doyan jajan, orang suaminya pelit" saut El dan di acungi jempol sama Zula


" Enak aja... Aku pelit sayang? Enggak kan?" jawab Al gak terima dan malah bertanya sama Aliza


" Enggak.. Kamu baik banget, besok sebelum lebaran ajak ke butik lagi ya" jawab Aliza malah kesempatan


" Jangan kebutik, gue yang bangkrut dia gak bayar kok" Bantah Zula membuat keramaian tersendiri


Memang kekompakan anak anak Zain tiada duanya, mereka sering saling meledek dan saling mencela cuman sekedar lewat saja, dan hanya sekedar gurauan tanpa ada yang tersakiti


Begitu juga dengan Aliza yang sering berkumpul jadi kebawa gurauan mereka


" Rame kan Mas mbak? Ya tiap hari begini, kalau gak saling bantah saling ledek, " ucap Jihan gak heran pada Anak anaknya


" Nanti kalau gak ada suaranya, kalau gak tidur kumpul ghibah sekamar" tambah Zain yang apal


" Tapi kalau pagi sepi banget ya Han, secara mereka pada kerja, tinggal kalian bertiga kan, 4 sama Bibi" jawab Fani ya memang keluarga pembisnis ya begini


" Ya begitu mbak," jawab Jihan sambil lanjut makan


" Oh ya ngomongin soal kerja, Ula nanti pagi berangkat kerja ya Mi Bah, " ucap Zula yang merasa sepi


" Gak sekalian nunggu 7 harinya mbah Abah Sama mbah Umi ndok?" tanya Cirana lembut


" Gimana ya Bude, bukannya Ula mau melupakan beliau, cuman rasanya tuh kalau di rumah aja gak ada kegiatan, Zula jadi teringat terus sama mbah Abah, dan mbah Umi, apa lagi hari hari sebelum kepergian beliau, banyak banget cerita dan motifasi yang di sampaikan pada Ula, entah lah, rasanya kebawa terus kalau harus di rumah" jawab Zula yang paling nyesek kalau mengingat mbahnya


Ya bagaimana pun juga Zula yang merawat dan menemani sebelum kepergiannya


" Zain Jihan, Abah sama Umi sudah pulang dan kembali sowan ke Allah, pesantren masjid ini tinggalan Abah sama Umi, kami gak bisa bantu apa apa, dan kami pasrahkan ini semua untuk kami, tolong di lestarikan, kalau sekolah sudah sejak lama kamu pegang , dan sekarang di lanjutkan Al, " Ucap Baha' memulai pembicaraan tentang peninggalan Abah Hasan dan Umi Zahra


Ya bagaimanapun dia sebagai yang tertua gak mungkin akan diam saja tanpa akat pada adek adeknya

__ADS_1


__ADS_2