
El tanpa bada basi langsung ikut berdiri dan mencegah Zula yang hendak pergi
" Gak usah ngambek gitu, " Ucap El saat sudah mencekal tangan Zula
" Habisnya kalian gak tau aja adeknya kayak apa?" jawab Zula marah
" Ya Sorry, Abang minta maaf La" Ucap Al sadar akan kesalahannya
" Kita cuman bercanda lho, baperan banget sih" Ucap El langsung mendekap Zula
Zula sekarang ini jauh lebih cengeng, sedikit sedikit nangis saat di peluk abangnya, mungkin karena dia masih terbawa rasa sakit yang dia alami atas penghianatan dari Maul beberapa bulan lalu
" Sakit bang.." Ucap Zula dan El terus menenangkan kalau dia bukan sendirian
El dan Al sadar kalau sakit hati yang cewek rasakan berbeda dengan sakit hati yang pernah mereka rasakan, walaupun penghianatannua sama
Contoh gak lain dari Umi mereka sendiri, rela menyembunyikan Zula waktu itu di kala dia ada rasa trauma yang mwndalam, dan sakit hati yang masih terasa hingga saat ini
" Kita pulang" Ucap El yang masih memeluk Zula
" Abang Bayar dulu lah" Ucap Al dan di angguki El
" Sekalian Ula biar sama Gue aja, telfon petugas kantor untuk ngambil di sini" Ucap El dan di acungi jempol oleh Al yang sudah berjalan ke kasir
El pulang dengan terus menggandeng adek perempuannya, barusan dia menenangkan Heny, sekarang giliran adeknya yang rewel
Memang perempuan perlu perhatian khusus dan kita harus peka kalau gak mau terlewatkan
Di mobil El terus mendekap Zula, bahkan sambil menyetir Zula terus dia dekap di dadanya
Zula masih menangis di sepanjang perjalanan, bayangan rasa sakit yang Maul torehkan terus terbayang di pikirannya dan membuat air matanya terus berjatuhan membasahi pipi dan kemeja abangnya
Sampai di rumah Zula masih keadaan seperti itu, dan El gak pikir panjang, dia keluar dengan menggendong Zula yang mana di ketahui oleh Jihan
Jihan langsung mengikutinya dengan menggendong baby Bibi, untung masih sepi karena malam ini jadwal ngaji bareng Abah Zain jadi semua santri harus ikut tanpa terkecuali
El menggendong sampai ke kamarnya, dan terus mendekapnya dan mengelus punggungnya sampai di atas kasurpun masih sama posisinya
Jihan meminta penjelasan dan El memberi jawaban lewat kode, dan Jihan langsung faham, karena ini bukan pertama kalinya
Zula terkadang tiba tiba seharian tanpa keluar kamar, dan kadang ceria, masih seting begitu dan menangis sedih menyendiri kalau ingat sakitnya hati
__ADS_1
Upaya keluarganya sudah di sampaikan, mau apa dan kemana, cuman Zula sama sekali tidak mau dan hanya ingin giat bekerja,
Tapi saat capek seperti ini bila terjngat langsung seolah drop dan rasa sakit kembali muncul bersamaan dengan bayangan menyakitkan
Aliza masih ikut ngaji di aula pondok, Al tak lama menyusulnya dan Kedatangannya Jihan kini memberikan Baby Bibi pada Al
" Sini gantian Umi" Ucap Jihan pada El
El mengangguk dan Jihan mendekat sebagai penopang tubuh Zula yang sangat dingin, isakan masih terdengar jelas di sana
Jihan memeluk erat anak gadisnya itu, dia tahu rasanya jadi Zula, karena dia pernah mengalami sendiri di hianati oleh suami sendiri
" Anak Umi... Putri Umi satu satunya itu harus kuat, Umi bisa kuat mempertahankan kalian semua, sampai detik ini, " Ucap Jihan dalam pelukannya dengan Zula
" Bertahun tahun umi menjalani hidup hanya dengan kekuatan dari kalian saja, tanpa dukungan dan penyemangat yang lain, kalian dalam keadaan sehat dan aktif itu menjadi penyemangat hidup Umi, " Ucap Jihan lagi dengan tetesan air mata
Tidak ada ibu yang kuat melihat anaknya tersakiti, tidak ada ibu yang rela melihat anaknya terus menangis kesakitan seperti saat ini
" Umi kuat, dan Umi yakin kalian semua juga kuat menghadapi cobaan hidup untuk menemukan pasangan yang tepat" tambah Jihan lagi
Biasanya kalau Zula seperti itu Zain yang selalu mendampingi, Jihan terkadang repot, dan tau sendiri Zain paling heboh kalau anak perempuannya menangis
Sampai akhirnya cukup lama Zula terhenti menangis dan agak tenang karena mendapat semangat dari keluarga yang selalu ada untuknya
Suasana makin adem dan Baru Zain datang menghampiri mereka ke kamar Zula
" Kenapa lagi?" tanya Zain cepat
" Gak usah heboh gak enak di dengar yang lain" jawab Jihan karena kalau Zain begitu pasti akan makin geger
Zain terdiam di kala Umi Jihan sudah melototkan matanya,
Mereka lanjut ngobrol dan bercerita satu sama lain, hingga membuat Zula kembali lega dan tertidur
Keesokan harinya Zula enggan berangkat ke kantor, karena entah dia sendiri bingung dengan dirinya yang begitu rapuh banget
Sebelum keluarganya mengetahui di bisa kuat, tapi saat ini dia begitu rapuh dan lemah banget hanya karena terbayang masa lalunya
" Assalamualaikum" Ucap Zula dia yang sedang menelfon Ryan
" Waalaikumsalam.. Gimana Tie?" tanya Ryan yang sudah menganggap Zula seperti temannya sendiri ya mameng teman cuman sekarang konsepnya berbeda
__ADS_1
Zula lebih menghargai dirinya jadi dirinya juga balik menghargai Zula
" Gua gak berangkat ya hari ini" Ucap Zula pada Ryan
" Elo gak apa apa kan? lemes gitu suaranya, jangan di pikir lagi Lho La, ayo have fun, jangan gitu terus loe bisa, yok bisa yok " ucap Ryan menyemangati Zula
Karen Ryan juga sering kali mendapati Zula yang tiba tiba menangis seperti itu
" Okey okey, tapi gue gak berangkat dulu hari ini ya, gak apa kan?" jawab Zula lembut
" Okey gak apa apa, Loe istirahat dulu, gak usah di paksa" jawab Ryan pengertian pada Zula
Setelah menelfon Ryan tak lama Umi Jihan datang dengan membawa baby Bibi yang baru bangun belum mandi
" Assalamualaikum kakak Ula" Ucap Jihan mewakili Baby Bibi
" Waalaikumsalam Baby" Jawab Zula sambil tersenyum tipis
Zula mengambil alih baby Bibi dari gendongan Jihan,
" Kakak.. Ayo dong semangat, masak gini aja" Ucap Jihan mewakili baby Bibi
Zula tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil memandangi wajah imut baby Bibi
" Mi..." panggil Zula tanpa menoleh ke arah Uminya
" Ula apa ada gangguan mental ya Mi,? Masak Ula selalu seperti ini, Ula gak mau Mi, Ula mau jadi Ula yang selalu kuat, tapi ternyata Ula rapuh " Ucap Zula yang bahkan hanpir menyerah dengen kondisinya yang sangat sensitif seperti ini
" Abang El yang sama sama di hianati gak sampe seperti Ula Lho Mi, apa Ula perlu ke dokter Mi?" tanya Zula lagi
" Sakit hati ada levelnya kak, laki laki dan perempuan tidak sama, laki laki cenderung masa bodoh dan mencari perempuan atau oengganti dengan cepat sebagai pelampiasan, tapi kita? Sebagai wanita bukan hal mudah untuk menghapus kesalahan orang lain, dan tidak mudah menjadikan orang lain sebagai pelampiasan, kakak hanya btuh waktu, 20 tahun Umi merasakan hal itu, dan sampai saat ini Umi masih terasa, perasaan itu akan hilang di saat kakak menemukan orang yang tepat, laki laki yang benar benar tulus dan mengerti keadaan kakak" Ucap Jihan memberi wejangan pada Zula dan Zula mengangguk mengerti
" mandi yuk..... Belum mandi kan? Bau kecut" Ucap Zula pada baby Bibi
Zula sudah sering memandikan baby Bibi, apa lagi sekarang makin tampan dan menggemaskan itu
Zula menggendong baby Bibi ke kamar mandinya dan segera di mandikan
visual baby Bibi
__ADS_1