
Zula dan Aliza masih di sana, sedangkan Al masih di luar mengarahkan serta mencari mobil yang bisa membawa istri dan adeknya
" La, coba cari makan dulu ndok, Umi laper banget ini, kasian adeknya ASI nya kurang seger" ucap Jihan pada Zula
" Dari kantin mau?" tanya Zula balik
" Gak apa apa lah" jawab Jihan cepat
" Di kantin juga makanannya enak enak kali La, gue kalau istirahat makannya di sana" jawab El membelanya
" Dia gak pernah makan di kantin paling El" saut Baha' lagi
" Penuh pakde, males Ula, online cepet, jam 11 pesen datang tinggal makan" jawab Zula yang gak mau ribet
" Ya udah sekalian pakde bude, mbah kakak Abang, ya.. mobilnya kan masih antri toh, gantian" ucap Jihan menyuruh Zula lagi
" Iya lah.. Anak cucu Fani menuh menuhin" ucap Baha' bergurau
" Gak apa dong mas, orang yang ngasih makan aja bukan kamu, malah Zain " jawab Fani santai membela anaknya yang selaku di ledek Baha' kebanyakan
" Utang loe Fan sama Zain, berapa puluh juta coba tadi" ucap Baha' lagi
" Bukan puluhan kali Mas, tapi ratusan dong," jawab Hamzah lagi
" Nah Fan... Hayo bayar, enaknya aja" saut Baha' berdebat dengan adeknya
Kalau bukan adek kandungnya Baha' juga jarang berdebat apa lagi ikut ngungkit
" Apaan sih... Orang yang belikan tiket aja gak keberatan, Mas Baha' syirik aja, " jawab Fani kesal sendiri
" Lagian uang segitu.. Zain gak kurang kurang mas, keuntungan sehari sisa, ya kan La" ucap Fani pada Zula yang hanya tersenyum
Karena Zula tadi tidak jadi ke kantin dan memilih memesan melalui telfon yang dia minta pada El
Secara El juga begitu seringnya kalau makan siang selalu pesan memalalui telfon dan nanti di antar
Selang beberapa menit Al datang untuk menjemput istri dan adek adeknya
" Assalamualaikum..." Ucap Al saat masuk
" Waalaikumsalam.." jawab semuanya
" Ayo itu mobilnya udah datang keburu magrib" ucap Al pada yang lain
__ADS_1
Zula dan Aliza berdiri, karena mereka juga udah gerah panas mau mandi ganti baju juga
" Ayo baby.. Pulang dulu mandi dulu nanti sini lagi" ucap Aliza pada baby Bibi yang masih nen
Baby Bibi seolah tau dan langsung menoleh pada asal suara kakak ipar kesayangannya
" Ih langsung noleh, tau sama kakak ya" ucap Jihan lagi dan baby Bibi tersenyum dan kembali nen lagi
Jihan memakai penutup cuman baby Bibi yang di lihat Aliza dari atas tutupnya
" Udah biarin di sini gak apa apa mbak, mbak Liza kalau mau pulang istirahat jangan capek capek, Umi stanbay di sini kok" jawab Jihan santai dan kasian kalau Aliza jadi ngurus adeknya lagi
" El mau pulang gak?" tanya Jihan lada El yang sedang berada di sebelah Umi Zahra
" Terus yang jaga?" tanya El yang tidak mendengar ucapan Uminya
" Umi di sini nanti, kamu pulang mandi ganti baju, nanti balik lagi ke sini sama Ula" jawab Jihan yang masih membutuhkan Zula
Zula menunjuk tubuhnya sendiri memibta penjelasan
El bangkit dan berdiri di sebelah Zula
" Nanti bawakan perlengkapan baby, sama baju ganti Umi nak, di koper kotor semua, kamu campur sih sama yang basah" jawab Jihan dan Zula nyengir
" Butik loe buanyak... Gak usah bingung" jawab El sambil menarik tangan Zula
Dan mereka akhirnya pamit untuk pulang duluan, dan tak lupa bersalaman pada semuanya dan..
" Assalamualaikum..." ucap mereka saat keluar dari pintu ruangan
" Waalaikumsalam.." jawab mereka semua kompak
Kini tinggal Umi Zahra dan ketiga anak dan menantunya
Mereka lanjut mengobrol berbincang mengenai sakit abah, dan kelanjutannya bagaimana,
Jihan yang menangani pun menjawab semuanya, dan ikut membahas persiapak kedepannya
Sebagai anak, mereka tidak lupa akab kewajiban mereka terhadap orang tuanya,
Walaupun sudah jadi orang tua juga, sudah jadi nenek kakek juga, tapi mereka juga masih menjadi seorang anak yang masih mempunyai orang tua yang harus mereka jaga
Musyawaroh mereka twrhenti di saat pintu kembali di ketuk karena ada yang mengantar makanan untuk mereka
__ADS_1
Ya makanan yang mereka pesan datang, dan mereka lanjut makan terlebih dahulu karena semuanya lapar
Bahkan jatah untuk Al El Il dan juga Aliza habis di makan oleh Jihan Zain dan juga Baha'
Umi Zahra juga di suapi oleh Cirana istri Baha' dengan menu makan yang berbeda
Karena Umi sudah mulai menghindari makanan makanan tertentu
Yang mana saat ini di siapkan oleh pihak rumah sakit untuk Umi dan Abah Hasan
Setelah makan pas waktu adzan magrib, dan mereka lanjut sholat berjamaah di ruangan tersebut dan lanjut doa bersama
Setelah sholat Jihan menitipkan baby Bibi pada Cirana, karena Zain ingin menjenguk Abah Hasan
Jihan mendampingi Zain agar melihat kondisi Abah Hasan di dalam sana
Zain mengenakan pakaian steril masker serta penutup kepala juga, bahkan sampai plastik untuk alas kaki juga di pakaikan
Ketat memang, harus ketat untuk kebaikan bersama
Saat masuk, di sana ada salah satu perawat yang mengawasi dan menunggu Abah Hasan,
Jihan mengangguk pada perawat tersebut
Dan Kini Zain duduk di kursi yang di siapkan di sebelah Abah Hasan
" Assalamualaikum abah" ucap Zain lembut dan mencium tangan Abah Hasan
" Abah cepet bangun ya, sehat kembali, Abah pengen lihat kan cucu pertama Zain dan Jihan, anak Al bah, anaknya Aliza" ucap Zain seolah membisik tapi tetesan air matanya mulai mengalir
" Abah masih banyak santri lho Bah, yang menanti Abah, hanya Abah yang istiqomah menemani dan mengaji dengan para santri" imbuhnya lagi dan Jihan yang berdiri ikut menangis
Melihat hal itu dan mendengar ucapan Zain, bayangan di saat Zain koma kembali melintas di pelupuk matanya
Dia yang merawatnya, dia juga yang menemaninya, dan di peluk saat istirahat, di ajak ngobrol setiap harinya
Di ceritankan soal anak dan calon buah hatinya, di semangati sendiri tanpa ada yang menjawab sama sekali
7 Bulan hal itu di lakukan, penuh kasoh sayang dan harapan bisa hidup bersama sampai tua saat ini, walau badai menghadang mereka Alhamdulillah Allah mempersatukan kembali
Jihan mengelus pundak suaminya, yang masih ngajak ngobrol Abahnya, dan menyenangati Abahnya serta berkali kali mengucapkan doa untuk kesembuhan abahnya
Jihan yang sudah meneteskan air mata kini air matanya mengenahi pundak Zain, dan Zain terasa itu, Zain meraih salha satu tangan Jihan yang ada di kedua pundaknya kemudian menciumnya
__ADS_1
" Abah Bangga kan, punya menantu seperti Jihan, yang sanggup menangani Abah, Abah bangun dong, nanti di rawat sama Jihan lagi, di obati sama El juga, " ucap Zain lagi dan Jihan meletakkan kepalanya di pundak Zain sambil menangis sesenggukan