
" Hahaha Kenapa takut?" tanya Al pada Jihan malah ngetawain
" Menurutmu??? " bantah Jihan kesal
" Masak bu dokter takut, biasa aja kali" Jawab Al menutup pintunya kembali dan berjalan menemani Uminya
" Umi merinding Al, sepi" jawab Jihan kini gantian pegangan ke tangan Al
" Lha tadi ke sini sendirian" jawab Al masih setia menemani Uminya
" Lari, masak bawa adek mau lari, mencelat gimana adekmu" jawab Jihan dan Al masih tertawa
Sebagai anak laki laki dia juga wajib melindungi Uminya, Al terus mengajaknya ngobrol hingga sampai di depan kamar Uminya
Di sepanjang jalan Jihan bercerita tentang Abahnya yang cukup sedih banget, ya sebagai Umi siapa lagi yang mau di ajak cerita kalau Bukan Anak dan suaminya, apa lagi Al anak pertama yang di mana tempat keluh kesah Jihan,
Walau kadang ke dewasaan Al masih di bawah El, tapi Al juga punya kelebihan, yang pastinya tak di miliki oleh El
Al ikut masuk dan melihat keadaan Abahnya yang kini masih terbaring sembarangan
" Kasian Abah Ya Mi, harus kehilangan Mbah Abah sama mbah Umi secara bersamaan" ucap Al melihat kondisi Abahnya
Jihan hanya tersenyum dan meletakkan pelan baby Bibi di sebelah Abahnya
" Ya udah, Umi istirahat ya, Al balik ke kamar, Umi capek dari kemaren gak tidur kan, Aliza juga sendirian" ucap Al sebelum pamit dan Jihan mengangguk
Ke esokan harinya aktifitas sudah berjalan seperti biasa, beda dengan Jihan dan El yang setiap pagi selalu mengecek mertua atau nenek kakeknya kali ini berbeda, beliau berdua sudah tidak ada
Zula yang selalu membantunya juga termenung, Al yang selalu membantu atau sekedar menjenguk juga merasa melongo
Hingga kini Al El dan Zula, serta Jihan kumpul di kamar abah Hasan Dan Umi Zahra
" Indah banget akhir hayat mbah Ya Mi" ucap Zula sambil mata yang sudah berkaca kaca
" Masyaallah banget, selain kompak dalam ibadah di dunia, beliau juga kompak saat kembali menghadap Allah SWT" jawab Jihan dan mereka mengangguk
" Mereka JODOH DUNIA AKHIRAT, mudah mudahan kalian juga menemukan jodoh dan hanya maut yang bisa memisahkan, seperti mbah Abah sama mbah Umi" jawab Jihan dan Di aminkan keduanya
Siang harinya anak anak dari Baha' dan Fani sudah pada pulang, karena mereka punya santri yang perlu di perhatikan juga
Sedangkan Fani dan Hamzah, serta Baha' dan Cirana, tetap di sana sampai menunggu selesai 7 hari
__ADS_1
Mobil pengantar sudah berada di halaman, para santri Ndalem juga masih sibuk untuk mempersiapkan pengajian malam nanti
Walaupun sudah di pesan, cuman untuk suguhan mereka juga harus memindahkan ke piring piring, dan untuk buka puasa keluarga Ndalem juga perlu di masak walaupun gak sebanyak sebelumnya
" Alhamdulillah... Perusuh pulang" Ucap salah satu santri ndalem
" Hus.... Gak boleh ngomong gitu" Ucap Atik mengingatkan
" Habisnya kesal gue mbak sama keluarga Bu Fani, apa lagi Mbak Aisy itu, masyaallah kalau merintah gak kira kira, biar pulang dia gak banyak perintah" jawab santri tersebut yang cukup kesal sama Aisyah yang seenaknya.
Jihan yang tuan rumah aja gak pernah memerintah seperti itu, lha dia, tamu jauh kenal juga enggak tau tau ini itu semua suruh ngerjain
" Iya sih... Biar pulang aja" jawab lainnya lagi dan malah menjadi bahan ghibahan orang tersebut
Di luar semua mobil sudah berjalan, tentu fasilitas semua kendaraan dari Zain, ya tanpa modal tentunya dan dapat uang saku lagi
" Bah... Mi..." Ucap Zula menadahkan tangannya
" Kenapa?" tanya Zain heran dan Jihan mengerutkan keningnya
" Samu dong, mereka dapat saku masak Zula gak" jawab Zula menaik turunkan alisnya
" Kurang uang jajanmu?" tanya Jihan gemes lihat tingkah anak perempuannnya itu
" Nih.... Untuk anak Abah" jawab Zain memberikan blak cart lagi lada Zula
" Enggak Ah... Apaan kartu lagi, cash lho bah" jawab Zula menolak
" Sini untuk Abang Aja kalau loe gak mau" jawab Al menyerobot
" Ih.... Malu lah bang, udah punya istri masak nodong Abah juga" ledek Zula dan Aliza di belakangnya hanya tersenyum faham dengan kelakuan suaminya
" Untuk calon Cucu ya Bah" jawab Al mengatas namakan calon buah hatinya
" Apa lah curang" jawab Zula dan Al tersenyum sambil memeletkan lidahnya
" Apaan sih? Rebutan apa?" tanya El baru gabung
" Nih... Jangan ngiri ya, untuk calon cucu makanya nikah dulu" jawab Al pamer blak cart pada El
" Eh sorry babang, gue udah ada sendiri, non limit" jawab El sombong secara pak dokter ya gajinya lebih besar
__ADS_1
" Nah loe ngapain La?" tanya El belum faham karena Zula masih menadahkan tangannya pada Zain
" Astagfirullah.... Ambil sendiri di ATM ya nak, yang cash cuman ini doang, " Ucap Zain sambil memperlihatkan uang 2 lembar berwarna merah
" Sini gak apa apa, cukup kok buat beli siomay di depan masjid" jawab Zula langsung mengambilnya
" Ck.. Loe tuh pelit apa eman sih La, perasaan dari dulu jarang pegang cash" ucap El yang gak pernah tau kalau adeknya pengang uang cash
" Ya males aja bang, ribet bawanya, " jawab Zula yang merasa ribet bawa uang cash
" Betul..." jawab Jihan membela Zula
" Sini Al... Cucu Umi belum lahir, besok aja, " ucap Jihan pada Al dan meminta kartunya kembali dan di tertawakan banyak orang di sana
" Ambil uang gih, beberapa, untuk mbak dan kang Ndalem, kayaknya mereka capek sudah seminggu masak banyak, nyuci banyak, kasih lah berapa untuk beli sabun" ucap Jihan merasa kasian pada santri yang mengabdi pada mereka
" Iya Mi, apa lagi keluarga mbak Aisy ya Allah kayak ratu" ucap Aliza keceplosan karena dia yang sering bantu jadi tau keluh kesah santri ndalem
Aliza menutup mulutnya dan celingak celinguk barang kali ada Fani atau Hamzah di sana
Anak anak Baha' mah tau, karena Cirana atau Adam yang pernah di sana juga di ajari dan mengambil hikmah dari kesederhanaan Dari Zain sama Jihan yang gak mau tergantung pada santri ndalem
" Udah gak apa apa, mereka udah pada masuk kok" jawab Jihan yang faham dengan ucapan Aliza
" Ada Oomnya Lho Mi" ucap Zain sambil tersenyum
" Sok lapor sana... Kami gak takut, paling gak ada kawan setelah ini" jawab Jihan santai dan di angguki sama anak dan menantunya
" Hahaha.. Ya gak lah, iya nih El ambil dulu, nanti temui abah, ini kartunya, kantor tutup gak bisa kalau minta cash" jawab Zain sambil memberikan kartu ATM pada El
" Cus.. La.. Ayo kita halan halan dan jajan pinggir jalan" ucap El mengajak Zula yang langsung otw
" Mau ikut gak?" tanya El pada Al dan langsung mereka bertiga yang ikut
Aliza enggak di rumah aja, mau bantu santri ndalem yang sedang repot
Dan kemudian pada masuk ke dalam untuk kembali beraktifitas
" Mbak... Nanti makannya di ruang makan sini saja ya, gak usah di bawa ke atas, kasian capek naik turun terus" Ucap Jihan yang menghapiri para santri ndalem
" Baik Umi," jawab mbak Atik yang paling senior
__ADS_1
" kalau mau lesehan ya di bawah aja gak apa apa, gak usah di bawa ke atas, nanti biar Al yang gelar karpet di ruang tengah" tambah Jihan dan mereka tersenyum mengiyakan
Karena selama ini 3 kali sehari makan semua di lantai dua, mereka yang capek masak harus menyiapkan semuanya ke atas semua demi ngalaf barokah mbah Yai