Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Temani Mbah


__ADS_3

Kini Zain berkali kali mencoum tangan Jihan yang di genggamnya, istri satu satunya, yang selalu sabar menghadapinya


Yang selalu ada untuknya dan keluarganya, yang selalu menjadi orang utamanya yang selalu peduli


Kepedulian Zain semua berawal dari Jihan, yang ikut memikirkan semua keluarganya,


Karena Jihan selalu bilang pada Zain sejak dulu dulu, sebelum mempunyai Al bahkan di masa dia masih di pondok masih berada di bangku sekolah


Mengetahui Zain yang paling sukses di antara keluarganya, satu satunya anak yang di beri rezeki lebih Oleh Allah


Jihan selalu mengingatkan, kalau sedekah di manapun dari dulu sampai saat ini selalu Zain berikan, mulai dari pembangunan masjid dan pesantren, sebelum kenal Jihan dia selalu mengeluarkan sebagai amal jariahnya


Tapi setelah mengenal dan bahkan menikah dengan Jihan, Jihan sangat mendukung di tambah Rezeqi dan jabatan semakin meningkat


Jihan selalu bilang pada Zain


" Abang.... Abang adalah salah satunya anak, bahkan orang yang lebih dari saudara saudara Abang, dalam materi rezeki, bahkan apapun itu Alhamdulillah Allah memberi Abang Lebih dari pada saudara saudara Abang lainnya " ucap Jihan kala itu


" Begitu juga dengan Adek, Adek hanyalah istri yang bisa di katakan gandul sama Abang, semua ngikut abang dari segi apapun, dan Abang selalu minta sama Adek agar kita selalu sama sama dalam hal apapun" tambah Jihan lagi dan hal itu selalu di ingat sampai saat ini


Kata kata dari bibir manis milik istri kesayangannya, yang selalu ada untuknya


" Abang suami adek, jadi Abang pula anak dan juga saudara dari keluarga Adek" tambah Jihan dengan kelembutan


" Di saat anggota keluarga kita dalam kesulitan, mari sama sama kita bantu, mari sama sama kita sokong selagi kita masih mampu untuk membantu dan menyokong, karena kalau mereka tidak menoleh kepada kita mau noleh sama siapa,? Kalaupun ada yang di toleh, lebih baik sama kita yang saudaranya sendiri, dan tidak merepotkan orang lain" tambah Jihan lagi yang sangat mengharukan


Anak di usia muda sudah dia milik atau nikahi, pemikirannya jauh lebih dewasa dari pada dirinya yang umurnya terpaut jaig yaitu 14 tahun lebih tua


Setelah itu, memang benar Zain sat set dalam masalah keluarga,


Di saat Kakung Jihan meninggal di Mekkah, Zain orang yang sangat ligat untuk menanganinya dan menyusulnya


Di saat Seperti ini, dia yang di beri kemudahan oleh Allah, banyak kenalan yang juga mudah untuk di mintai peryolongan, makan dia lah yang harus sat set menanganinya


Seperti yang Jihan katakan, " selagi kita bisa ayo sama sama, adek gak pernah akan keberatan selagi itu bisa memberi manfaat bagi siapapun


" Udah yuk... Gantian yang lain, kasian sudah pada nunggu " ucap Jihan lirih dan Zain mengangguk


Jihan yang mulanya di belakang Zain kini sudah pindah ke depan Zain, dengan lembut mengusap pipi brewok Zain yang di banjiri air mata


Zain bangkit dan merangkul pundak Jihan, lalu menggandengnya keluar


Di luar ruangan Baha' dan Cirana sudah menunggu, dan sudah mengenakan baju steril juga


" Lama banget... Gerah nih pake baju dobel dobel" ucap Baha' yang sudah sedari tadi menunggu


" Gerah apaan, di rumah sakir ini gak pernah ada yang kegerahan, kedinginan ada, lihat bawahmu AC" Jawab Zain gak terima


Katena fasilitas di rumah sakit miliknya, terlebih di bagian khusus keluarga itu sangat istimewa

__ADS_1


Bisa di katakan kalau hotel itu sudah bintang Lima, semua ruanga ber AC, bahkan sampai lorong yang tertutup seperti ini dan lorong lorong lainnya, karena semua lorong tertutup


Kalaupun adan aut door, itu juga sudah di tutup dengan Kaca sehingga semua tidak ada yang sampe tidak nyaman


Baha' melihat kebawah, ternyata di bawahnya memang ada lobang udara yang cukup dingin


" Masih kegerahan" cibir Zain dan Baha' tersenyum kikuk dan langsung masuk ke ruangan Abah Zain


Jihan tidak mendampingi karena sudah ada perawat yang menjaga di dalam


Sesaat kemudian saat Jihan dan Zain sudah melepas pakaian sterilnya, El dan Zula datang dengan membawa pakaian yang Jihan minta sebelumnya


" Umi habis ini mau pulang?" tanya El yang barusan duduk di sebelah Umi Zahra yang sedang menunggu giliran masuk


" Enggak lah, Umi tidur di RS aja, nanti di sini apa di rungan kamu juga bisa" jawab Jihan yang mengelap baby Bibi dengan tissu basah


Tadinya mau di mandiin tapi udah malah kasian, bukan takut dingin tau gimana, toh ada air hangat juga, tapi kalau mandi malah gak baik untuk pertumbuhan tulang


" Gimana tadi orang rumah? Udah ada yang nyiapin makan belum?" tanya Jihan karena dia tidak sempat untuk menelfon apa lagi mempersiapkan


" Udah aman, pada main main rame rumahnya, " jawab El santai


" Ya iya dong siapa dulu yang nyiapin Abah" jawab Zain membanggakan dirinya sendiri


Kini Baha' sudah kembali ke ruangan dan Fani serta Hamzah sudah masuk ke ruangan


Baha' matanya juga memerah karena gak bisa di pungkiri pasti akan nangis walaupun dia seolah orang yang gak bisa nangis


" Habis ini Umi" ucap Baha' sambil melepas pakaian sterilnya


" Mbah Umi mau masuk?" tanya Zula pada Umi Zahra


" Iya nak, Umi pengen lihat kondisi Abah" jawab Umi Zahra pada Zula


Secara sosok yang laki laki yang lebih dari 70 tahun menemani hidupnya, tanpa adanya permasalahan apapun


Selalu rukun, damai tanpa ada pertengkaran apa lagi perselisihan sengit seperti Zain dan Jihan dulu


" Nanti Ula temani ya" ucap Zula pada Umi Zahra ,dan beliau mengangguk


" Kakak Ula pake baju steril dong, kalau gitu " jawab Jihan sambil menggandikan baju Baby Bibi


" Okey yang mana? " tanya Zula lagi


" Tuh" jawab El menunjuk salah satu plastik yang ada di sebelahnya


" Hehe iya" jawab Zula lalu mengambilnya


" Sekalian punya mbah Umi, bantu pake El" ucap Jihan lagi dan Zula memberikan pada El

__ADS_1


El menerima dan membantu Umi Zahra untuk memakaikan baju steril


Setelah di pakaikan pada Umi Zahra, Kini El juga ikut memakainya


" Kamu ikut juga El, ?" tanya Baha' karena setahunya cukup 2 orang saja


El mengangguk tapi Baha' malah mengerutkan keningnya


" Katanya cuman 2 orang yang boleh masuk Han, El sama siapa?" tanya Baha' pada Jihan


" Sendiri juga berani El Pakde" jawab El santai dan melanjutkan memakai semuanya


" Ya kalau bertiga juga gak masalah Mas, Kan El bukan sebagai pengunjung, El nanti yang memeriksa, dokternya" saut Zain lagi


" Alah sok tau loe Zain" Ucap Baha' seolah gak percaya


" Orang kalay ada dokter masuk semua suruh keluar kok" imbuhnya lagi


" Iya nanti El sendiri, berani" jawab El karena kalau udah berurusan sama pakdek kepo nya udah repot makin panjang debatnya


Nurun tuh sama si Zula yang sering debat sama si Ryan


Dan tak lama Fani masuk di gandeng Hamzah dengan Fani yang masih sesenggukan karena tangisannya


Baru ketemu Umi Zahra aja udah nangis apa lagi langsung ke Abah Hasan yang sedang di dalam dengan penuh pasangan kabel yang lalu lalang di tubuhnya


Kini Zain bangkit dan memindahkan Umi Zahra ke kursi roda, Setelah itu Zula keluar mendorongnya dan kembali masuk ke pintu yang ada di sebelahnya


Sesampainya di dalam, Umi Zahra tanpa aba aba menitikkan air mata


" Assalamualaikum mbah Abah" ucap Zula mencium tangan Abah Hasan


" Bah.... Umi datang Bah.... Umi aja sehat Bah,... Abah juga harus sehat ya Bah..." Ucap Umi Zahra lirih dan mencium tangan Abah Hasan


Abah Hasan selalu memberi semabgat pada Umi Zahra yang saat ini sangat lemah juga,


Bahkan bisa di katakan lebih lemah Umi Zahra di bandingkan Abah Hasan, tapi saat ini kenyataan mengatakan berbeda, justru Abah Hasan yang lemah tak berdaya


" Abah udah janji kan sama Umi, mau sama sama, sampai maut menjemput kita juga sama sama, " ucap Umi Zahra yang seolah sudah janji sehidup semati sama Abah Hasan


" Mbah Umi .. Mbah Umi gak boleh bilang begitu, mbah Abah pasti akan segera sembuh, kan mbah Umi sama mbah Abah mau lihat cucu cantik jelitanya menikah nanti" ucap Zula pada Umi Zahra yang makin menangis


Zula menggenggam tangan Abah Hasan dan Juga Umi Zahra,


" Mbah Abah sama Mbah Umi, belum lama menemani Zula mbah, Zula masih pengen mendapat kasih sayang sama seperti cucu cucu mbah lainnya, mbah Abah sama mbah Umi pasti akan sembuh, akan kembali menemani Zula, akan makan bareng Zula juga" Ucap Zula lembut dan makin membuat Umi Zahra menangis


Dan tanpa di sadari Zula dan Umi Zahra, Tetesan air mata menetes dari mata Abah Hasan yang seolah mengerti permohonan Zula


" Besok besok libur kerja dulu ya Nak, temani mbah Abah sama mbah Umi terus, kita ngaji sama sama, bobok sama mbah Abah dan mbah Umi lagi ya nak, temani kami, sama Umimu" Ucap Umi Zahra meminta pada Zula dan Zula langsung menganggukkan kepalanya cepat

__ADS_1


Dia yang baru mengenal nenek kakeknya seolah tidak bisa menolak, apa lagi melewatkan moment tersebut


" Seminggu aja nak, mbah Umi minta temani kami" ucap Umi Zahra dengan sangat


__ADS_2