Perjalanan Cinta 3 Saudara

Perjalanan Cinta 3 Saudara
Sudah Pindah


__ADS_3

Ryan menggendong Zula untuk naik ke lantai dua kamarnya, Ryan akan memberikan sensasi yang berbeda untuk Zula malam ini


Apa lagi di rumah sendiri kan, udah malem tambah hujan hujan suasananya makin membuat mereka menikmatinya


" Abang berat gak gendong Adek?" tanya Zula khawatir glundung


" Enggak Adek kan mungil" jawab Ryan lembut


Sesampainya di kamar Ryan dan Zula mulai wudhu sholat dulu dan berdoa dulu, biat cetak umat rosulullah semoga di beri keturunan yang sholeh sholehah


Zula sudah tinggal CD BR, Ryan pun hanya boxer saja, Mulai dari ujung bawah sampai ke ujung atas


Zula mulai bisa merasakan panas hangat nikmat di aliran darahnya


Ciuman yang lembut dan merembet membuatnya hanya bisa ngolet dan bersuara lirih


Sampai atas Ryan mengemut dan menggigit kecil telinga Zula, dan kembali ke Bibir cantiknya


Mulai memainkannya dengan lembut, tangannya gak mau anteng keduanya main di bawah dan di gunung


Zula mulai gak bisa anteng kakinya spontan bergerak sendiri, dengan tangan yang melingkar di pinggang Ryan


Sudah polos los dan mulus lus, membuat Ryan makin gak terkendali


Keinginannya untuk bermain makin buas, dan terus memberi kelembutan pada sentuhannya


" heeeehhh Huuuuh..." suara hembusan nafas Zula yang mulai gak terkontrol


Kini Ryan kembali ke bawah, dengan ciuman yang cukup panas


Hingga sampai di tempat ter istimewa baginya, di mana akhir akhir ini membuatnya betah di kamar dan berdua dengan Zula


Pijatan lembut Ryan berikan di sela selanya, dan jarinya main dengan kacang kecil sampai Zula makin gak karuan


Cukup lama, Ryan bermain hingga sampai puncak Zula dan ingin segera di isi


Ryan makin bersemangat membuat Zula makin meminta, dan sentuhan Ryan membuat Zula gak sabar ingin di isi segera


Saking kesal dan gak sabarnya, Zula bangun dan melepas sendiri boxer Ryan dan menarik Ryan dalam pelukannya hingga keduanya terjatuh


Ryan tersenyum dan sebenarnya ini yang di inginkan istrinya yang agresif,


Dan perlahan Ryan mengisi pelan pelan kandang istimewa dengan begitu menikmati Zula dan Ryan sampai merem melek


Dan gerakan maju mundur cantik juga mereka lantunkan, dan sampai akhir semburan lahar di dalam


Lemes gemulai tak berdaya membuat mereka tertidur hingga menjelang subuh


Pagi harinya Zula dan Ryan beres beres rumah, ya bukan semua isi rumah sih, cuman kamar aja, sesekali walaupun gak pernah namanya anak sultan jadi semua udah ada yang beresin

__ADS_1


Tapi biasanya sarapan pagi Ryan memang masak sendiri, dan buat sarapan sendiri sebelum ke kantor


" Bi..." Panggil Ryan dan Zula gak noleh sama sekali ya karena bukan panggilannya sih


" Bi..." panggil Ryan lagi yang mana Zula masih mengganti seprai karena bekas kebanjiran semalam


" Siapa sih yang di panggil ba.. Bi.. Bu ..be ..bo" jawab Zula kesal sendiri


" Maaf sayang... Bi itu maksudnya kamu, Habibi..." Ucap Ryan sambil memeluk Zula dari belakang


" Oh... Bilang dong jangan babibubebo aja" jawab Zula lanjut


Ryan tersenyum dan mencium leher Zula


" Sarapan yuk" ajak Ryan


" Pake apa?" kaget Zula


" Maunya pake apa?" tanya Ryan lembut


" Eh.... Adek gak bisa masak sayang... Tau lah" jawab Zula bingung


" Abang yang masak, mau rendang sisaan semalam.?" tanya Ryan lagi


" Tinggal di panasin aja?" tanya Zula bingung


" Ya udah Adek lanjut aja, Abang turun siapin sarapan" Ucap Ryan dan Zula mengangguk


Zula memang jarang ganti seprai sendiri, dari kecil, dulu pas di pondok kadang ada yang minta mau bersihkan kamar dia karena merasa berhutang budi karena kebaikan Zula


Dan kadang Zula meminta nanti di kasih bayaran, jadi kebawa sampai besar berumah tangga,


Gak rugi sih, dan gak nyesel juga, ya senggaknya panggil orang untuk bagi bagi rezeki juga


Cukup lama banget gantinya hingga Zula turun menghampiri Ryan yang sedang memasak


" Sayang..." Ucap Zula panggil Ryan yang sedang jadi koki ganteng


" Iya sayang" jawab Ryan sambil membolak balikkan spatulanya


Zula berjalan menghampiri Ryan dan memeluk pinggang Ryan


" Maaf ya, punya istri pemalas, dan gak bisa masak" ucap Zula mendekap penggang Ryan


Ryan tersenyum dan membawa Zula dalam dekapannya tak lupa memberi kecupan manis juga pada kening Zula


" Abang gak pernah minta adek harus bisa masak, Abang berada dj dekat adek rasanya bahagia banget, adem kayak gak ada beban hidup" jawab Ryan sambil menatap lembut Zula


Zula hanya tersenyum dan menatapnya lembuat

__ADS_1


" Harum banget sih boleh nyicip gak?" tanya Zula sepertinya sudah lapar


" Boleh dong,... Bentar" jawab Ryan meraih cendok di sebelahnya


" Ini coba dulu" Ucap Ryan memberikan sendok pada Zula


Zula mengambilnya langsung memakannya dan . .


" Eh.. Sayang... Panas kan " ucap Ryan telat karena udah masuk mulut dan Zula kepanasan


" Hah.. Hah.." Zula meniup niupkan mulutnya


" Minum dulu, sayang" Ucap Ryan memberikan minum.pada Zula


" Enak banget tapi panas" Ucap Zula dan Ryan mengelus kepala istrinya dan setelah itu mereka sarapan sebelum pergi ke kantor


Hari ini dia harus pulang ke KDS, karena Abah Zain sudah telfon mulu kangen sama anak wedoknya


_____________


Hari hari sudah di lewati ....


Dan hari ini Zula dan Ryan waktunya pindahan, yang mana seminggu yang lalu El yang resmi pindah jadi orang perum permata elit,


Dan Zula sudah pindah jadi orang perum Green sutra


Semuanya sampai di sana, abang dan kakaknya ikut semua mengantarkan Zula


Mereka sudah masuk sedari tadi dan kini kumpul di gazebo belakang rumah sambil nungguin anak anak mainan


" Gak nyangka ya Bah, rumah ini kok di tempati Zula lagi" Ucap Jihan membuka suara


" Emang dulu Zula pernah tinggal di sini?" tanya Zula belum tau cerita itu


" Pernah dong, dulu pas kamu masih sama mbak Della, Umi kuliah di inggris kan tinggalnya di sini La" jawab Jihan teringat pada waktu itu


Zula mengangguk karena memang rumah ini sangat bersejarah dan gonta ganti yang nempati


" Rumah ini tuh banyak banget kenangan Abah sama Umi, mulai sedih gembira, emosi, amukan semua ada" Tambah Jihan mengenang


Zain menoleh dan menatapnya, sambil mengelus pundak Jihan lembut


" Emang apaan aja Mi?" tanya Al


" Semuanya, di sini Umi banyak belajar dari sebuah kenangan, uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, dan yang lebih dari segalanya yaitu pengalaman dan juga ilmu, biar bisa dapat uang" ucap Jihan kembali mengenang pahitnya kalau manisnya masih selalu di terapkan tapi pahitnya susah di hilangkan


" Abah punya trauma besar, dan Umi faham itu, dan Umi gak berani berkata dan gak berani membantah semua karena uang, karena jabatan dan harta yang kita punya" ucap Jihan lagi


" Itulah kehidupan sekarang, makanya umi harus bisa segera lulus biar umi dapat ilmu, dapat kerjaan, dan bisa bangkit sendiri, makanya kalian semua kan sudah belajar tinggi, kakak Aliza sudah keja juga bantuin Al di kampus, dan kalian semua, biar apa, saat laki laki menyakiti kita bisa bangkit sendiri" tambah Jihan teringat Ryan yang begitu banyak fans, sedangkan Zula tidak boleh di dekati Fansnya ( Season 1)

__ADS_1


" Apa abah dulu kayak gitu mi? Enggak ah" ucap Zain terlupa karena Jihan gak penah membahas itu


" Lupa kan?? Gitu lah laki laki" jawab Jihan membuat mereka tertawa dan laki laki protes


__ADS_2