
Ryan menggendong Zula untuk naik ke lantai dua kamarnya, Ryan akan memberikan sensasi yang berbeda untuk Zula malam ini
Apa lagi di rumah sendiri kan, udah malem tambah hujan hujan suasananya makin membuat mereka menikmatinya
" Abang berat gak gendong Adek?" tanya Zula khawatir glundung
" Enggak Adek kan mungil" jawab Ryan lembut
Sesampainya di kamar Ryan dan Zula mulai wudhu sholat dulu dan berdoa dulu, biat cetak umat rosulullah semoga di beri keturunan yang sholeh sholehah
Zula sudah tinggal CD BR, Ryan pun hanya boxer saja, Mulai dari ujung bawah sampai ke ujung atas
Zula mulai bisa merasakan panas hangat nikmat di aliran darahnya
Ciuman yang lembut dan merembet membuatnya hanya bisa ngolet dan bersuara lirih
Sampai atas Ryan mengemut dan menggigit kecil telinga Zula, dan kembali ke Bibir cantiknya
Mulai memainkannya dengan lembut, tangannya gak mau anteng keduanya main di bawah dan di gunung
Zula mulai gak bisa anteng kakinya spontan bergerak sendiri, dengan tangan yang melingkar di pinggang Ryan
Sudah polos los dan mulus lus, membuat Ryan makin gak terkendali
Keinginannya untuk bermain makin buas, dan terus memberi kelembutan pada sentuhannya
" heeeehhh Huuuuh..." suara hembusan nafas Zula yang mulai gak terkontrol
Kini Ryan kembali ke bawah, dengan ciuman yang cukup panas
Hingga sampai di tempat ter istimewa baginya, di mana akhir akhir ini membuatnya betah di kamar dan berdua dengan Zula
Pijatan lembut Ryan berikan di sela selanya, dan jarinya main dengan kacang kecil sampai Zula makin gak karuan
Cukup lama, Ryan bermain hingga sampai puncak Zula dan ingin segera di isi
Ryan makin bersemangat membuat Zula makin meminta, dan sentuhan Ryan membuat Zula gak sabar ingin di isi segera
Saking kesal dan gak sabarnya, Zula bangun dan melepas sendiri boxer Ryan dan menarik Ryan dalam pelukannya hingga keduanya terjatuh
Ryan tersenyum dan sebenarnya ini yang di inginkan istrinya yang agresif,
Dan perlahan Ryan mengisi pelan pelan kandang istimewa dengan begitu menikmati Zula dan Ryan sampai merem melek
Dan gerakan maju mundur cantik juga mereka lantunkan, dan sampai akhir semburan lahar di dalam
Lemes gemulai tak berdaya membuat mereka tertidur hingga menjelang subuh
Pagi harinya Zula dan Ryan beres beres rumah, ya bukan semua isi rumah sih, cuman kamar aja, sesekali walaupun gak pernah namanya anak sultan jadi semua udah ada yang beresin
__ADS_1
Tapi biasanya sarapan pagi Ryan memang masak sendiri, dan buat sarapan sendiri sebelum ke kantor
" Bi..." Panggil Ryan dan Zula gak noleh sama sekali ya karena bukan panggilannya sih
" Bi..." panggil Ryan lagi yang mana Zula masih mengganti seprai karena bekas kebanjiran semalam
" Siapa sih yang di panggil ba.. Bi.. Bu ..be ..bo" jawab Zula kesal sendiri
" Maaf sayang... Bi itu maksudnya kamu, Habibi..." Ucap Ryan sambil memeluk Zula dari belakang
" Oh... Bilang dong jangan babibubebo aja" jawab Zula lanjut
Ryan tersenyum dan mencium leher Zula
" Sarapan yuk" ajak Ryan
" Pake apa?" kaget Zula
" Maunya pake apa?" tanya Ryan lembut
" Eh.... Adek gak bisa masak sayang... Tau lah" jawab Zula bingung
" Abang yang masak, mau rendang sisaan semalam.?" tanya Ryan lagi
" Tinggal di panasin aja?" tanya Zula bingung
" Ya udah Adek lanjut aja, Abang turun siapin sarapan" Ucap Ryan dan Zula mengangguk
Zula memang jarang ganti seprai sendiri, dari kecil, dulu pas di pondok kadang ada yang minta mau bersihkan kamar dia karena merasa berhutang budi karena kebaikan Zula
Dan kadang Zula meminta nanti di kasih bayaran, jadi kebawa sampai besar berumah tangga,
Gak rugi sih, dan gak nyesel juga, ya senggaknya panggil orang untuk bagi bagi rezeki juga
Cukup lama banget gantinya hingga Zula turun menghampiri Ryan yang sedang memasak
" Sayang..." Ucap Zula panggil Ryan yang sedang jadi koki ganteng
" Iya sayang" jawab Ryan sambil membolak balikkan spatulanya
Zula berjalan menghampiri Ryan dan memeluk pinggang Ryan
" Maaf ya, punya istri pemalas, dan gak bisa masak" ucap Zula mendekap penggang Ryan
Ryan tersenyum dan membawa Zula dalam dekapannya tak lupa memberi kecupan manis juga pada kening Zula
" Abang gak pernah minta adek harus bisa masak, Abang berada dj dekat adek rasanya bahagia banget, adem kayak gak ada beban hidup" jawab Ryan sambil menatap lembut Zula
Zula hanya tersenyum dan menatapnya lembuat
__ADS_1
" Harum banget sih boleh nyicip gak?" tanya Zula sepertinya sudah lapar
" Boleh dong,... Bentar" jawab Ryan meraih cendok di sebelahnya
" Ini coba dulu" Ucap Ryan memberikan sendok pada Zula
Zula mengambilnya langsung memakannya dan . .
" Eh.. Sayang... Panas kan " ucap Ryan telat karena udah masuk mulut dan Zula kepanasan
" Hah.. Hah.." Zula meniup niupkan mulutnya
" Minum dulu, sayang" Ucap Ryan memberikan minum.pada Zula
" Enak banget tapi panas" Ucap Zula dan Ryan mengelus kepala istrinya dan setelah itu mereka sarapan sebelum pergi ke kantor
Hari ini dia harus pulang ke KDS, karena Abah Zain sudah telfon mulu kangen sama anak wedoknya
_____________
Hari hari sudah di lewati ....
Dan hari ini Zula dan Ryan waktunya pindahan, yang mana seminggu yang lalu El yang resmi pindah jadi orang perum permata elit,
Dan Zula sudah pindah jadi orang perum Green sutra
Semuanya sampai di sana, abang dan kakaknya ikut semua mengantarkan Zula
Mereka sudah masuk sedari tadi dan kini kumpul di gazebo belakang rumah sambil nungguin anak anak mainan
" Gak nyangka ya Bah, rumah ini kok di tempati Zula lagi" Ucap Jihan membuka suara
" Emang dulu Zula pernah tinggal di sini?" tanya Zula belum tau cerita itu
" Pernah dong, dulu pas kamu masih sama mbak Della, Umi kuliah di inggris kan tinggalnya di sini La" jawab Jihan teringat pada waktu itu
Zula mengangguk karena memang rumah ini sangat bersejarah dan gonta ganti yang nempati
" Rumah ini tuh banyak banget kenangan Abah sama Umi, mulai sedih gembira, emosi, amukan semua ada" Tambah Jihan mengenang
Zain menoleh dan menatapnya, sambil mengelus pundak Jihan lembut
" Emang apaan aja Mi?" tanya Al
" Semuanya, di sini Umi banyak belajar dari sebuah kenangan, uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang, dan yang lebih dari segalanya yaitu pengalaman dan juga ilmu, biar bisa dapat uang" ucap Jihan kembali mengenang pahitnya kalau manisnya masih selalu di terapkan tapi pahitnya susah di hilangkan
" Abah punya trauma besar, dan Umi faham itu, dan Umi gak berani berkata dan gak berani membantah semua karena uang, karena jabatan dan harta yang kita punya" ucap Jihan lagi
" Itulah kehidupan sekarang, makanya umi harus bisa segera lulus biar umi dapat ilmu, dapat kerjaan, dan bisa bangkit sendiri, makanya kalian semua kan sudah belajar tinggi, kakak Aliza sudah keja juga bantuin Al di kampus, dan kalian semua, biar apa, saat laki laki menyakiti kita bisa bangkit sendiri" tambah Jihan teringat Ryan yang begitu banyak fans, sedangkan Zula tidak boleh di dekati Fansnya ( Season 1)
__ADS_1
" Apa abah dulu kayak gitu mi? Enggak ah" ucap Zain terlupa karena Jihan gak penah membahas itu
" Lupa kan?? Gitu lah laki laki" jawab Jihan membuat mereka tertawa dan laki laki protes