
Di luar kamar El dan Zula makin menggidik ngeri dengan suara horor Al di telfon tadi
" Hih.... Kelakuan Abangmu La, gak ada akhlak" ucap El pada Zula
" Abangmu, loe abangku" bantah Zula menolak
" Ogah gue punya Abang seperti itu" jawab El kesal dan gak jadi masuk kamar, takut kerasukan nantinya
Kini mereka berdua kembali turun ke lantai bawah, karena enggan kalau harus di atas terus dan mendengar suara horor yang menghantui pikirannya
" Abang Loe" Ucap El sambil mwnuruni tangga
" Elo.. Ogah gue" bantah Zula lagi
" Abangnya Bibi" jawab Mereka kompak karena melihat baby Bibi yang sudah mandi dan wangi di gendongan Jihan
Zula berlari menghampiri Bibi dan langsung mengambil dari gendongan Uminya
" Baby Bibi kak... Aku udah mandi kak, Udah wangi kak, mau bobok lagi ya, mau bobok tama kakak ya" ucap Zula mengajak ngomong baby bibi yang di gendongannya
" Udaj tadi belanja ikannya?" tanya Jihan pada mereka
" Udah tuh.. Ada di bawah" jawab El santai
" Gimana La, ke pasar ikan? Mau lagi? Biar jadi distributor ikan nanti" Ucap Jihan senyan senyum meledek anak perempuannya itu
" Boleh karo distributor tapi Ula bosnya, ogah kalau masuk pasar situ lagi" jawab Zula gak mau sama sekali dan kembali fokus pada adeknya
" Iya kan? Pasarnya jorok, amis, becek.." jawab Zula sambil menatap baby Bibi yang senyam senyum
" Tadi katamu indah, seger bauknya, lha kok berubah, tadi aja borong dia Mi, buanyak belinya untuk kasih makan sekalian para santri" jawab El membolak balikkan fakta
" Eh... Jangan putar balik fakta ya, " kesal Zula membantah
" mana? Bener kan Loe tadi borong" jawab El lagi
" tapi gue gak bilang indah dan seger ya, ngaco deh" kesal Zula dan El tertawa ngakak
" Udah ah... Sana panggil mbak Liza sekalian, katanya mau bantuin tadi" ucap Jihan membuat Zula dan El saling pandang
" Lagi piknik ke angkasa gak boleh di ganggu" ucap mereka kompak Dan Jihan malah mengerutkan kepalanya
__ADS_1
" Udah ah... Umi sana ke bawah aja, baby biar sama kami" ucap Zula yang masih menguyel nguyel adeknya
Jihan akhirnya kebawah dan membantu menyiapkan apa anak anak dan saudaranya butuhkan nanti
" Eh.. Kamu dari pasar udah mandi belum?" tanya Jihan baru teringat kalau Zula gendong adeknya
" Udah mandi tempat mbah Aris tadi" jawab Zula yang memang tadi ikut numpang mandi
Karena gak tahan bau yang menempel dan juga gatel gatel kakinya akhirnya Zula numpang mandi, begitu juga dengan El yang sama sama membersihkan diri sebelum sarapan
" Bawa baju ganti?" tany Jihan membuat mereka nyengir
" Eleh.. Beli ya di butik dekat kali itu" tabak Jihan dan langsung di acungi jempol
Jihan tentu bisa menebak kalau mereka juga gak mau ambil pusing masalah pakaian, karena di sana juga ada salag satu butik lebih tepatnya toko baju yang tak jauh dari rumah aris dan mega
" Mbahnya gimana kabarnya?" tanya Jihan gak jadi turun
" Alhamdulillah masih sama" jawab El santai dan Jihan spontan memukulnya
" Ya bener kan Mi? Gimana sih? Maksud El kan gak menurun kondisinya masih baik seperti biasanya" Bantah El gak di jawab oleh Jihan
Zula berjalan dengan menggendong baby Bibi ke kamarnya dan El enggan berangkat kerumah sakit memilih untuk mengambil alat medis di ruang kerja uminya,
Setelah mengambil El keluar dan menghampiri kakeknya dan neneknya yang ternyata sedang di jemur oleh Jihan,
Baru saja, saat Jihan turun langsung meminta kang santri untuk membantu membawa mbah abah sama mbah umi
" Mau priksa?" tanya Jihan saat berpapasan dengan El
" Iya , El ambil alat dari tempat kerja umi" jawab El lagi
" Nanti kembalikan lagi" jawab Jihan dan El mengacungi jempol
Kini Jihan kembali ke dapur dan mepihat sudah ada mbak Fatim dan beberapa bawahannya, bukan bawahan sih penerusnya berada di bagian belakang lagi
Sedang royongan membersihak ikan dan beberapa belanjaan Zula tadi
" Masyaallah... Banyak banget mbak Fatim" ucap Jihan menghampirinya
Sikap tawaduk para santri langsung di tonjolkan, begitulah para santri yang sangat tawaduk sama bu nyai, dulu Jihan juga seperti itu, sekarang menjadi bu nyai juga di perlakukan seperti itu
__ADS_1
" Iya mbak Jihan, neng Zula kalap kata Gus El, katanya lebih murah dari pada di super market" jawab Fatim paling dekol kalau masalah seperti ini
" Perlu ayam gak ya mbak? Apa daging aja?" tanya Jihan pada Fatim
" Gek usah lah mbak, ini udah banyak" jawab Fatim lagi
" Kayak mas Baha' gak makan seafood, dan yang sepuh sepuh tuh gimana?" tanya Jihan lagi memikirkan yang kolestrol
" Oalah... Gimana ya mbak, kalau menurut mbak Jihan mana yang sekiranya bisa di makan? Dikulkas ada apa aja?" tanya mbak senior yang sekarang badannya sudah mengembang berkali kali lipat jauh dari zaman Zain masih bujang
" Gimana ya mbak? Itu ikan apa? Tuna ya kayaknya?" ucap Jihan saat meouhat beberapa ikan yang bergujur besar
" Iya itu tuna mbak boleh?" tanya Fatim balik
" Boleh, nanti di bakar aja gak apa apa, jangan di gule ya, apa lagi yang pake minyak minyak, jangan, kalau di pepes boleh lah, " jawab Jihan yang menurutnya cukup aman kandungan kolestrol pada ikan tuna untuk sodara iparnya
" Baik mbak.. Ada lagi?" tanya Fatim
" Udah itu aja gak apa apa, mana tau mau ngicip mereka kalau pusing kumat biar di obatin aja, " jawab Jihan yang pada akhirnya menyerah dan mengalah mengobati karena saat kumpul seperti ini tidak bisa membedakan juga
" Mau di bantuin? " Tanya Jihan lagi
" Gak usah mbak, udah bisa ini nanti" jawab Jihan lagi dan mengangguk seeta tersenyum
Jihan pindah kembali ke dapur ternyata banyak santri yang menbantu mengupas bumbunya dan Jihan tersenyum dan mendekati serta menyapa mereka
" Mau Umi bantu?" ucap Jihan ramah
" Gak usah, Umi, biar kami aja" jawab salah satu santrinya sopan
" Gak apa apa, ya"ucap Jihan tapi mereka tetap menolak
Tak lama Aliza datang menghampiri dengan wajah seger dan cantik
" Umi.." Ucap Aliza menyapa Uminya
" Lho kok udah turun" ucap Jihan kaget
" Iya kata Zula ikannya udah datang makanya Liza turun, mana tau mau masak masak" Jawab Aliza sopan dan ramah
" Tadi kata El, sama Ula .." Ucap Jihan terhenti dan kemudian berbisik pada Aliza
__ADS_1
" Abahnya lagi nengoin dedeknya?" ucap Jihan berbisik di telinga Aliza